Pelajaran hidup

1501 Kata
"Sakura, kenapa kamu sudah di sini pagi-pagi?" tanya Bu Reina yang baru saja bangun dan keluar dari kamar tamu untuk mengambil segelas air putih. "Bu Reina, aku akan tinggal bersama dua wanita hebat seperti kalian," ucap Sakura dengan penuh semangat. Bu Reina hampir tersedak mendengar ucapan Sakura yang terdengar berlebihan. Princess Aluna Lucky hanya tersenyum melihat reaksi Bu Reina. "Duduklah, Sakura. Bu Reina belum sepenuhnya sadar," kata Princess Aluna Lucky. "Baiklah, aku membawakan kalian sarapan. Aluna, kamu harus banyak makan. Ini aku masak sendiri dengan penuh perjuangan," ujar Sakura sambil tersenyum. "Terima kasih, Sakura," ucap Princess Aluna Lucky dengan tulus. Sakura membuka bekal yang dibawanya dan menyuapi Aluna. "Hmm, enak sekali rasanya. Dengan satu suapan, aku merasa tenagaku terisi kembali dan ingin segera beraktivitas seperti biasa," puji Princess Aluna Lucky. Tiba-tiba, Oliver masuk membawa sebuket bunga dan bingung melihat Sakura ada di sana. "Sakura, kenapa kamu ada di sini?" tanya Oliver dengan rasa heran. "Mulai sekarang, aku akan tinggal bersama Aluna untuk menjaga kesehatannya dan kewarasan kami," jawab Sakura dengan tegas. "Maksudmu?" tanya Oliver sambil masuk dan menutup pintu, lalu menyerahkan bunga itu pada Princess Aluna Lucky. Princess Aluna Lucky tersenyum senang melihat Oliver membawa bunga untuknya. Dia menerima bunga dengan penuh rasa terima kasih. "Terima kasih, Oliver. Bunga ini sangat indah," ucap Princess Aluna Lucky sambil memandang bunga dengan penuh kebahagiaan. Oliver melihat Sakura dengan tatapan heran. "Sakura, apa maksudmu dengan tinggal bersama Aluna?" Sakura menjawab dengan mantap, "Aku ingin mendukung Aluna dalam perjalanan kesehatannya. Aku akan berada di sampingnya untuk menjaga kesehatannya dan memberikan dukungan yang dia butuhkan." "Ya, itu lebih baik daripada kamu terus membuatku malu," ucap oliver richie dengan nada kesal. "Malu kenapa?" tanya Sakura bingung. "Papa sudah tahu hubunganmu dengan Adrian masih berlanjut setelah kamu menikah denganku. Papa menyuruhku membereskan urusan kalian dalam diam," ungkap Oliver dengan rasa kecewa. "Aku sudah tidak ada hubungan dengan Adrian. Saat ini, aku hanya ingin menjaga kewarasan mentalku," jelas Sakura dengan tegas. Oliver memperhatikan tangan Sakura dan melihat beberapa sayatan yang membuatnya ragu. "Ada apa dengan tanganmu?" tanya Oliver sambil meraih tangan Sakura. "Jangan pura-pura peduli padaku! Aku muak dengan sikap kalian, kakak beradik," ucap Sakura sambil menghempaskan tangan Oliver. "Aluna, Terima kasih sudah menampung sampahku," ujar Oliver richie dengan tawa yang mengisi seluruh ruangan, sehingga Liliana Gerald terbangun dari tidurnya. Liliana Gerald terbangun dari tidurnya dan mendapati suasana yang tegang di ruangan. Dia melihat Sakura yang terlihat sedih dan Oliver yang tampak marah. "Liliana, maafkan aku jika aku mengganggu tidurmu," ucap Oliver dengan suara yang masih terdengar penuh emosi. Liliana mencoba memahami situasi dan dengan lembut berkata, "Tidak apa-apa, Oliver. Apa yang terjadi?" Sakura menatap Liliana dengan mata yang penuh air mata. "Liliana, aku muak dengan sikap Oliver dan keluarganya . Mereka terus membuatku merasa malu dan tidak dihargai." Liliana mendekati Sakura dengan penuh kepedulian. "Sakura, aku tahu ini sulit bagimu. Tapi mari kita mencoba untuk tenang dan berbicara dengan baik-baik. Apa yang sebenarnya terjadi?" "Aku kemari untuk menjaga Aluna karena dia sedang mengandung anakku. Aku juga ingin fokus dengan hal lain daripada berada di rumah bersama Oliver dan kedua adik kembarnya. Mereka semua membuatku tertekan dengan sifat mereka yang berubah-ubah. Papa mertuaku juga sudah tahu hubunganku yang masih berlanjut dengan Adrian, meskipun aku sudah menikahi Oliver. Tapi kini, aku ingin fokus menjaga kewarasan mentalku," ucap Sakura dengan suara penuh penjelasan. Oliver mendengarkan dengan serius. "Pegang kata-katamu, Sakura. Aku sudah cukup lelah mengurus kedua adik kembarku. Sekarang, aku harus mengurus dirimu. Aku akan mendukungmu jika memang itu yang kamu inginkan. Aku juga tidak perlu sakit kepala memikirkan kalian." Sakura mengangguk, merasa lega mendengar dukungan dari Oliver. "Terima kasih, Oliver. Aku tahu ini tidak mudah bagimu. Kita harus mencari cara untuk menjaga kesehatiannya dan menjaga kebahagiaan keluarga kita." Liliana memasuki ruangan dan mendengar percakapan mereka. Dia merasa sedih melihat situasi yang rumit ini. "Apakah hubungan percintaan dalam pernikahan selalu serumit ini? Lagian, kenapa kalian harus berantem di depan Aluna? Ini merusak mentalnya, apalagi dia sedang mengandung anak kalian." Oliver merasa menyesal. "Kamu benar, Liliana. Aku minta maaf atas kegaduhan ini. Kami harus lebih bijaksana dan menjaga keharmonisan rumah tangga kita." "Liliana, bersiaplah dan ajak Sakura untuk membeli sarapan. Pak Oliver Richie, terima kasih atas perhatian Anda kepada Aluna. Kami sangat menghargainya," ucap Bu Reina dengan penuh pengertian. Liliana mengangguk dan mengajak Sakura masuk ke dalam kamar tamu. Dia berjanji untuk membantu Sakura menyelesaikan masalah ini dengan baik. Bu Reina menyiapkan teh manis hangat dan beberapa cemilan untuk Oliver. "Terima kasih, Bu Reina," ucap Oliver sambil menyeruput teh manis hangat dan memakan beberapa cemilan kue yang disajikan oleh Bu Reina. "Liliana, terima kasih sudah mendengarkan dan memberikan dukungan padaku. Aku benar-benar merasa terbebani dengan situasi ini," ucap Sakura dengan suara yang penuh rasa terima kasih. Liliana tersenyum lembut. "Tidak perlu mengucapkan terima kasih, Sakura. Kita adalah teman dan keluarga. Aku selalu siap mendengarkan dan berada di sampingmu." Sakura menghela nafas lega. "Aku berharap kita bisa menemukan jalan keluar yang baik untuk semua pihak. Aku tidak ingin merusak hubungan dengan Oliver dan Aluna, tapi aku juga harus menjaga kesehatanku sendiri." Liliana mengangguk, memahami perasaan Sakura. "Kita akan mencari solusi yang terbaik, Sakura. Kita harus berbicara dengan jujur dan terbuka kepada mereka, agar mereka bisa memahami perasaanmu." Selesai Liliana Gerald berganti pakaian, membilas muka, dan menggosok giginya, mereka berdua pergi membeli sarapan di sekitar rumah sakit. "Kamu mau makan apa, Sakura?" tanya Liliana sambil memandang menu di warung makan. "Aku ingin lontong, dan beberapa gorengan juga terlihat menggoda, Liliana," jawab Sakura dengan penuh keinginan. "Baiklah, kita akan beli lontong untuk kita dan nasi gurih untuk mereka bertiga," ujar Liliana sambil memesan makanan. Mereka kembali ke ruangan dan makan sarapan bersama dengan tenang. Suasana menjadi lebih harmonis setelah perdebatan sebelumnya. "Terima kasih sarapannya. Aku akan pergi ke perusahaan. Sakura, jangan buat masalah lagi jika memang kamu mau tinggal dengan Aluna," kata Oliver dengan serius. Sakura hanya mengangguk, perasaannya sudah lebih baik sekarang. Kata-kata Oliver tidak lagi mengintimidasi dirinya. Setelah Oliver pergi, Aluna melihat Bu Reina, Sakura, dan Liliana Gerald melanjutkan makan sarapan dengan tenang dan tersenyum. "Keluarga kita bertambah lagi, Bu Reina," ucap Aluna dengan senyuman bahagia. "Hmm, iya Aluna. Sekarang sudah ada Sakura," ujar Bu Riana dengan penuh kehangatan. "Ternyata usaha yang Papa dan Mama jalankan bisa membuat orang asing menjadi keluarga kita, ya," ucap Aluna dengan perasaan syukur. "Iya, Aluna. Kamu sudah merasa lebih baik?" tanya Liliana dengan penuh perhatian. "Ya, sudah lebih baik. Kurasa kita sudah bisa pulang ke rumah hari ini," jawab Aluna dengan rasa lega. Dokter masuk ke dalam ruangan untuk melakukan kunjungan pada Princess Aluna Lucky. "Bagaimana, Aluna? Masih mual muntah?" tanya dokter sambil memeriksa perutnya dengan menggunakan stetoskop. "Sudah tidak, Dokter. Dari semalam perlahan makanan sudah bisa masuk ke dalam mulutku dan aku sudah tidak merasa mual," jawab Aluna dengan senyuman. "Kalau begitu, kamu sudah bisa pulang. Saya akan meresepkan beberapa vitamin dan obat mual untukmu. Jangan lupa minum s**u hamil juga untuk memenuhi gizi kehamilanmu," ucap dokter dengan ramah. Princess aluna lucky tersenyum lega mendengar perkataan dokter. Dia merasa senang bahwa kondisinya sudah membaik dan dia bisa segera pulang ke rumah. "Terima kasih, Dokter. Saya sangat berterima kasih atas perawatan dan perhatian yang telah diberikan," ucap Aluna dengan rasa syukur. Dokter mengangguk. "Senang mendengarnya, Aluna. Jaga kesehatanmu dengan baik dan jangan ragu untuk datang ke klinik jika ada keluhan atau pertanyaan." Princess aluna lucky dan liliana gerald, sakura dan bu reina yang sudah dianggap keluarganya mengucapkan terima kasih kepada dokter dan mempersiapkan diri untuk pulang. Mereka membayar tagihan rumah sakit dan mengucapkan selamat tinggal kepada staf yang telah merawat Aluna dengan baik. Saat mereka tiba di rumah, suasana penuh kebahagiaan menyambut mereka. Aluna merasa bahagia bisa kembali ke lingkungan yang nyaman dan hangat. "Rumah kita selalu memberikan kenyamanan dan kehangatan, bukan hanya tempat tinggal," ucap Bu Reina dengan senyuman. Princess aluna lucky setuju sambil menggenggam tangan Sakura. "Kamu sudah menjadi bagian dari keluarga kami, Sakura. Aku berterima kasih atas dukunganmu dan kehadiranmu selama ini." Sakura tersenyum dan merasa bahagia bisa menjadi bagian dari keluarga Aluna. "Sama-sama, Aluna. Aku senang bisa membantu dan mendukungmu. Kita akan melewati segala rintangan bersama-sama." Liliana mengamati kebersamaan mereka dengan senyuman. "Keluarga tidak hanya ditentukan oleh ikatan darah, tetapi juga oleh cinta dan dukungan yang kita berikan satu sama lain. Kita adalah keluarga yang kuat." "Aluna, sekarang kamu tidak perlu khawatir soal makanan. Ada aku dan Bu Reina yang akan berkreasi dengan menu makananmu," ucap Sakura dengan senyuman. Princess Aluna Lucky tersenyum dan menatap Sakura dan Bu Reina dengan penuh rasa terima kasih. Dia merasa beruntung memiliki dua koki handal di rumahnya. "Aku iri padamu, Princess Aluna Lucky. Ada dua koki yang handal memasak di rumahmu. Bolehkah aku datang ke rumahmu untuk menikmati makan bersama kalian?" tanya Liliana Gerald dengan penuh harap. "Tentu saja!" jawab Bu Reina dan Sakura hampir bersamaan. Mereka semua tertawa bersama. Mereka merasa senang dengan kebersamaan dan kehangatan yang ada di antara mereka. Tiba-tiba, ada ketukan di pintu. Mereka saling memandang satu sama lain, tidak mengharapkan kedatangan tamu yang tidak diundang untuk mengganggu suasana liburan mereka di rumah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN