Do Not Resuscitate (DNR)

1559 Kata
"Kamu anak dari mereka?" tanya seorang dokter. "Bagaimana keadaan kedua orangtua saya, dokter?" tanya Princess Aluna Lucky dengan cemas. "Kecelakaannya cukup parah, kondisi mereka kritis. Terdapat banyak luka patah di ekstremitas keduanya dan perdarahan di organ perut. Kami sedang mencoba berkonsultasi dengan bagian ortopedi dan bedah abdomen," jelas dokter dengan serius. Tiba-tiba, kedua orangtua Aluna mengalami henti jantung, dan alat vital mereka tidak stabil. Monitor vital sign menunjukkan garis lurus. Para dokter segera berkerumun di sekitar orangtua Aluna. Princess Aluna Lucky mendekati mereka dengan wajah marah. "Kenapa kalian tidak melakukan resusitasi pada mereka?" ujarnya sambil menggenggam kerah para dokter. "Itu adalah pesan dari mereka, 'do not resuscitate' (DNR), untuk tidak melakukan resusitasi jantung paru ketika mereka mengalami henti jantung," jawab dokter sambil menunduk dan menangis. "Papa... Mama..." tangis Princess Aluna Lucky pecah, dan dia memeluk kedua orangtuanya yang sudah terbaring tanpa nyawa di atas tempat tidur. Perawat dengan lembut menutup tubuh kedua orangtua Princess Aluna Lucky, sementara para dokter memberitahukan waktu kematian mereka. Liliana Gerald memeluk Princess Aluna Lucky, menjauhkannya dari tempat tidur kedua orangtuanya. "Papa, Mllama, kenapa kalian meninggalkan Aluna sendiri? Kenapa kalian memilih DNR? Sejak kapan kalian merencanakan semua ini?" tanya Princess Aluna Lucky dengan sedih. Dokter menunjukkan berkas dokumen dari kedua orangtuanya yang menandatangani persetujuan donor organ. "Dokter Bobby juga menandatangani persetujuan donor organ," kata dokter sambil menunjukkan berkas dokumen itu. Kedua orangtua Aluna telah menyatakan bahwa jika suatu saat mereka berada di ambang kematian, mereka tidak ingin dilakukan resusitasi dan bersedia menjadi donor organ bagi mereka yang membutuhkannya. Ini adalah momen yang penuh emosi dan sulit bagi Princess Aluna Lucky dan Liliana Gerald. Mereka harus menghadapi kenyataan kehilangan orangtua Aluna, sambil mencoba memahami keputusan yang telah mereka buat. Princess Aluna Lucky dan Liliana Gerald merasa terpukul oleh kehilangan yang mendalam. Mereka saling menguatkan dan memberi dukungan satu sama lain dalam menghadapi masa-masa sulit ini. Setelah proses pemakaman orangtua Aluna, Princess Aluna Lucky dan Liliana Gerald menghabiskan waktu bersama untuk berbagi kenangan indah tentang kedua orangtua Aluna. Mereka tertawa dan menangis bersama, mengingat momen-momen bahagia yang pernah mereka lewati bersama. Meskipun kehilangan begitu besar, Princess Aluna Lucky dan Liliana Gerald berusaha untuk tetap menjalani hidup dengan semangat yang tinggi. Mereka berjanji untuk menjaga warisan dan nilai-nilai yang telah ditanamkan oleh orangtua Aluna. Princess Aluna Lucky juga memutuskan untuk melanjutkan studinya dengan tekad yang kuat. Dia ingin menghormati orangtuanya dengan meraih kesuksesan dalam bidang yang mereka selalu dukung. Liliana Gerald menjadi teman yang setia bagi Princess Aluna Lucky. Dia selalu ada di sampingnya, memberikan dukungan dan kekuatan dalam setiap langkah perjalanan hidup mereka. "Tinggallah bersamaku, Aluna," ujar Liliana Gerald melihat Princess Aluna Lucky yang terlihat tidak bersemangat. "Tidak, Liliana. Aku ingin tinggal di rumahku sendiri. Mereka pasti masih ada di sana selama 100 hari setelah kematian mereka," jawab Princess Aluna Lucky. "Baiklah, kalau itu yang kamu inginkan. Hubungi aku setiap saat jika kamu mengalami masalah," kata Liliana Gerald dengan penuh perhatian. Lalu malam itu, Princess Aluna Lucky akan tidur di kamarnya seperti biasanya, namun tiba-tiba terdengar suara ketukan dari lantai rumah mereka. Awalnya, Princess Aluna Lucky mengira itu hanya suara angin. Namun, suara ketukan itu semakin jelas dan terus terdengar. Princess Aluna Lucky pun turun ke bawah ke ruang kerja papanya. Suara ketukan semakin terdengar nyata dari balik lemari buku papanya. Dengan rasa penasaran, Princess Aluna Lucky menempelkan telinganya pada lemari itu. Tanpa sengaja, lemari itu terbelah menjadi dua bagian dan terlihat sebuah pintu berwarna putih dengan papan bertuliskan "Yang tidak berkepentingan dilarang masuk." Princess Aluna Lucky berusaha membuka pintu itu, namun ternyata terkunci. Dia semakin penasaran dan mulai membongkar laci meja papanya. Di dalamnya, dia menemukan kunci yang cukup unik dan berhasil membuka pintu tersebut. Setelah pintu terbuka, dia memasuki ruangan tersebut. Di dalamnya tidak ada siapa-siapa, hanya terdapat ruangan yang menyerupai sebuah apartemen. Ada tempat tidur, dapur, ruang santai, ruang spa, dan di sudut ruangan terdapat sebuah kamar lagi. Princess Aluna Lucky membuka pintu kamar tersebut. Kamar itu ternyata adalah kamar operasi dengan alat-alat operasi yang lengkap. Ada juga ruang bayi dengan inkubator. "Tempat apa ini? Kenapa Papa Mama tidak pernah menceritakannya padaku?" batin Princess Aluna Lucky dalam hati, penuh tanda tanya. Princess Aluna Lucky merasa bingung dan penasaran dengan temuan yang ada di dalam ruangan tersembunyi tersebut. Dia mulai menjelajahi setiap sudut ruangan dengan hati-hati, mencoba mencari petunjuk atau penjelasan tentang apa yang sebenarnya terjadi. Saat dia melihat ruang bayi dengan inkubator, hatinya terasa berdebar-debar. Pikirannya melayang ke masa lalu, mengingat bagaimana dia selalu merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh orangtuanya. Kini, temuan ini semakin memperkuat perasaannya tersebut. Princess Aluna Lucky memutuskan untuk melanjutkan eksplorasinya. Dia memasuki kamar operasi dan melihat alat-alat yang lengkap di sana. Pikirannya dipenuhi dengan spekulasi dan pertanyaan yang tak terjawab. Apa yang orangtuanya lakukan di ruangan ini? Mengapa mereka tidak pernah membagikan rahasia ini padanya? Di tengah kebingungannya, Princess Aluna Lucky merasa ada sesuatu yang mencurigakan. Dia melihat sebuah laci kecil di sudut ruangan yang terlihat berbeda dari yang lainnya. Dengan hati-hati, dia membuka laci tersebut dan menemukan sejumlah dokumen penting. Dokumen itu berisi detail para wanita hamil dengan identitas para pasangan yang mengambil anak yang lahir dari mereka. Lalu handphone di laci itu pun berdering dan princess aluna lucky memgangkat nya dengan penasaran. "Jasa sewa rahim?" ujar suara laki- laki yang terdengar tidak asing di telinga nya Princess Aluna Lucky terdiam sesaat , jantung nya memompa dengan kencang mendengar kata jasa sewa rahim. "Halo, dengan jasa sewa rahim?" tanya laki- laki itu lagi "Ya dengan layanan jasa sewa rahim, ada yang perlu dibantu?" princess aluna lucky menjawab untuk menelusuri bisnis oramgtua nya yang disembunyikan darinya selama ini. "Saya akan membayar 1 triliun bila anda bisa mencarikan seorang wanita yang mau rahim nya disewakan untuk mengandung anak saya dan istri saya." Mendengar jumlah yang ditawarkan laki- laki tersebut, princess aluna lucky semakin tertarik untuk melanjutkan bisnis almarhum orangtuanya. "Silahkan , dengan bapak siapa dan nama istri nya serta kapan bisa bertemu nya?" "Saya oliver richie, nama istri saya callista sakura, kapan anda siap nya." "Baiklah nanti saya akan hubungi kembali bila sudah menemukan wanita yang rahim nya akan kalian sewa." Princess aluna lucky mengakhiri telepon dengan oliver richie. Tidak berapa lama, princess aluna lucky baru saja akan keluar dari ruangan tersebut, namun handphone itu kembali berdering, dan dia mengangkatnya "Aluna." ujar seorang perempuan dengan nada lembut "Siapa ini?" tanya Princess Aluna Lucky terkejut. "Ini Bu Reina, asisten kedua orangtuamu. Sudah saatnya kamu melanjutkan bisnis kedua orangtuamu. Besok, Ibu akan datang ke rumah untuk menjelaskan detailnya padamu. Sekarang tidurlah dan selalu bawalah handphone ini," ujar Bu Reina. Princess Aluna Lucky pergi ke kamarnya dengan ratusan bahkan ribuan pikiran yang berkecamuk tentang usaha yang dijalankan kedua orangtuanya yang penuh kejutan. Esok paginya, dia terlambat bangun karena tidak ada yang membangunkannya. Syukurlah, Liliana Gerald meneleponnya berulang kali dan berhasil membangunkannya. Setelah Princess Aluna Lucky selesai mandi dan bersiap turun ke bawah, dia melihat meja makan yang kosong dan merasa sedih. Tin tin tin... Lalu, klakson mobil Liliana Gerald membuatnya tersadar, dan dia pun pergi ke kampus. "Kamu pasti belum sarapan, kan?" tanya Liliana Gerald. "Hmmmm," jawab Princess Aluna Lucky. "Sama, aku juga. Baiklah, kita akan membeli nasi gurih dekat kampus," kata Liliana Gerald. Mereka berhenti di warung dekat kampus mereka untuk membeli sarapan. "Turut berduka cita ya," ujar ibu yang berjualan nasi gurih. "Lho, ibu tahu darimana?" tanya Liliana Gerald. "Seisi kampus sudah tahu tentang kecelakaan yang dialami oleh kedua orangtua Aluna. Jadi, ibu mendengarnya juga dari anak-anak yang biasa makan di warung ibu," jelas ibu penjual nasi gurih. "Terima kasih ya, ibu," ujar Princess Aluna Lucky sambil menyantap beberapa suap nasi gurihnya, lalu tidak melanjutkannya lagi. "Kenapa tidak dihabiskan? Nanti nasinya menangis, lho," goda Liliana Gerald. "Aku sudah kenyang," jawab Princess Aluna Lucky dengan wajah sedih. Setelah membayar sarapan mereka, mereka pergi ke kampus dan masuk ke dalam ruang kuliah mereka. "Aku turut berduka cita ya, Aluna," ujar Ronald Weasley sambil memberikan sebuah kotak coklat padanya. "Untuk apa ini?" tanya Princess Aluna Lucky. "Katanya, coklat mengandung hormon serotonin yang membuat kita bahagia," jelas Ronald Weasley dengan senyum. "Terima kasih ya," ucap Princess Aluna Lucky. "Ini semua karma mu, Aluna. Kenapa kamu selalu menyakiti semua orang dengan kata-katamu?" salah seorang mahasiswi mendekatinya dan mengatai Princess Aluna Lucky. "Kinara, lancang sekali kamu," ujar Liliana Gerald. "Ini saatnya kamu introspeksi diri," lanjut mahasiswi lain. "Celine, Aluna sedang berduka kehilangan kedua orangtuanya," sela mahasiswi lainnya. "Ini pelajaran agar tidak arogan dan sombong. Tuhan menarik semua kebahagiaanmu dalam sehari, kan?" mulai banyak mahasiswi lain yang ikut menghujat Princess Aluna Lucky dengan berbagai kata-kata yang menyakitkan. "Kamu kira dengan uang orangtuamu, lantas kamu bisa membeli setiap orang?" tanya Bernard dengan sinis. "Bernard, bahkan kamu juga ikut-ikutan?" sahut Liliana Gerald, siap memukul laki-laki itu dengan tangannya. "Maafkan aku, apa yang bisa kubuat untuk membuat kalian memaafkanku?" Princess Aluna Lucky berlutut memohon pada Kinara, Celine, bernard serta para mahasiswa lain yang berada di belakang mereka. "Aluna," ujar Liliana Gerald, berusaha membuat Princess Aluna Lucky berdiri. Princess Aluna Lucky mengangkat kepalanya dan melihat Kinara, celine , bernard dan mahasiswa lain dengan mata penuh harap. Dia merasa bersalah atas kata-katanya yang menyakiti orang lain, terutama teman-teman dekatnya. " aku benar-benar menyesal. Aku tidak bermaksud menyakiti siapapun. Aku tahu bahwa uang dan kekayaan tidak bisa membeli segalanya, termasuk rasa hormat dan persahabatan. Aku berjanji akan belajar dari kesalahan ini dan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik," ucap Princess Aluna Lucky dengan tulus.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN