Kinara dan Celine melihat ekspresi penyesalan di wajah Princess Aluna Lucky. Mereka mempertimbangkan kata-kata Aluna dengan hati yang terbuka.
"Aluna, kata-kata yang kamu ucapkan sangat menyakitkan. Tapi aku melihat kesungguhanmu dalam meminta maaf," ujar Kinara dengan suara lembut.
"Kami akan memberikanmu kesempatan untuk memperbaiki diri dan membuktikan bahwa kamu bisa berubah. Tapi kamu harus benar-benar berkomitmen untuk mengubah sikapmu," tambah Celine.
Princess Aluna Lucky merasa lega mendengar kata-kata tersebut. Dia berjanji untuk belajar dari kesalahannya dan berusaha memperbaiki hubungannya dengan teman-temannya.
"Maafkan kami juga, Aluna. Turut berduka cita. Kami tahu tidak pantas menghujatmu ketika kamu butuh dukungan," ucap Celine sambil memeluk Princess Aluna Lucky, diikuti oleh Kinara dan mahasiswi lainnya.
Liliana Gerald yang melihat keadaan itu pun meneteskan air mata. Akhirnya, dia tidak perlu terus mendampingi Princess Aluna Lucky, karena sekarang temannya sudah banyak.
"Anak-anak, apa yang kalian lakukan? Kembali ke tempat duduk kalian, kita akan memulai pelajaran hari ini," ujar dosen kimia saat memasuki ruang kuliah.
Sepulang kuliah, Princess Aluna Lucky langsung kabur dan naik taksi pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah, seorang wanita cantik berdiri di depan pintu rumahnya.
"Kamu siapa?" tanya Princess Aluna Lucky.
"Kamu pasti Aluna ya. Sudah lama ibu tidak kemari, mengingat kedua orangtuamu," ujar Bu Reina.
"Bu Reina?" tanya Princess Aluna Lucky memastikan, lalu membuka pintu rumah dan mempersilahkan ibu itu masuk ke dalam rumah.
"Aluna, ibu turut berduka cita atas meninggalnya kedua orangtuamu." Bu Reina memeluk Princess Aluna Lucky dan menepuk punggungnya, dan Princess Aluna Lucky kembali meneteskan air matanya.
"Kini Aluna sebatang kara," ujar Princess Aluna Lucky terbata-bata.
"Hapus air matamu, Aluna. Kini ada ibu yang akan tinggal bersamamu sebagai amanah kedua orangtuamu."
Mereka berdua duduk di sofa ruang tamu.
"Bagaimana ibu mengenal kedua orangtuaku?"
"Ibu adalah orang pertama yang menyewakan rahimnya pada kedua orangtuamu, Aluna."
"Saat kamu masih di kandungan, Bu Gelora, ibu sudah bekerja di sini sebagai asisten rumah tangga. Lalu suatu saat, datanglah kedua orangtua berusia 40 tahun yang memohon pertolongan pada Pak Bobby untuk mencari wanita yang bersedia mengandung menggantikan istrinya."
"Lalu?"
"Lalu, ibu kebetulan mendengar percakapan mereka. Saat kedua orangtua itu pulang, ibu bilang ibu bersedia menyewakan rahimnya untuk membantu kedua orangtua itu."
Lalu di situlah mulai usaha ini, dari mulut ke mulut kami membantu para pengantin yang belum memiliki keturunan untuk melahirkan seorang anak di rumah tangga mereka.
"Lalu saat ibu melahirkan anak itu, ibu pergi dari rumah keluargamu agar melupakan anak itu. Ibu tidak berusaha mencari anak itu, karena ibu juga dibayar dengan jumlah yang tidak sedikit untuk melahirkan anak itu dengan sehat."
"Apakah ibu sudah menikah?"
"Ibu belum menikah, Aluna. Siapa yang mau menerima seorang wanita yang sudah pernah melahirkan tanpa status menikah? Pasti orang akan berpikiran negatif."
"Apakah ibu menyesal dengan keputusan itu?"
"Tidak, Aluna. Ibu bahagia melihat senyum kedua orangtua itu ketika mendapat kabar bahwa ada yang mau mengandung anak mereka."
"Oh iya, Aluna lupa memberitahu ibu."
"Kenapa itu?"
"Semalam ada yang menelepon dan mencari wanita untuk menggantikan istrinya dalam mengandung."
"Apakah kamu menanyakan identitasnya?"
"Ya, Bu. Namanya Richie dan istrinya Sakura. Nominal yang ditawarkan sebesar 1 triliun."
"Wah, jumlah yang cukup besar. Pasti mereka sudah kehilangan harapan. Kapan kita akan berjumpa dengan mereka?"
"Ketika kita sudah menemukan wanita yang bersedia mengandung anak mereka."
"Baiklah, sebentar." Bu Reina pergi ke ruangan rahasia tempat Princess Aluna Lucky menemukan usaha jasa sewa rahim ini.
"Apa yang ibu cari?" tanya Princess Aluna Lucky dengan rasa penasaran.
"Ini." Bu Reina menunjukkan sebuah buku.
"Buku apa itu, Bu?"
"Ini adalah buku para wanita yang bersedia menyewakan rahimnya dengan bayaran 100 juta setiap mengandung satu anak. Jumlah tersebut belum termasuk paket vitamin perawatan dan biaya melahirkan."
"Bagaimana bisa ada daftar wanita seperti itu?"
"Inilah dunia, Aluna. Uang bisa menjadi segalanya, meskipun kadang-kadang bisa menjatuhkan atau membantu."
"Sudah berapa banyak wanita yang menyewakan rahimnya, Bu?"
"Sudah sekitar 30 lebih, Aluna. Setiap wanita yang sudah melahirkan satu anak, akan diberikan barcode di perutnya sebagai tanda bahwa dia sudah pernah menyewakan rahimnya."
"Banyak pasangan yang tertolong berkat usaha kita ini. Sayangnya, para wanita yang sudah pernah menyewakan rahimnya belum tentu menjalani hidup yang bahagia."
"Ini dia, Lavender. Wanita ini kemarin memohon pada ibu untuk dikenalkan pada kedua orangtuamu setelah mendengar kisah ibu."
Setelah Bu Reina menelepon wanita itu, mereka pun membuat janji temu dengan klien pertama yang menawarkan jumlah yang fantastis.
"Halo, ini Pak Richie?"
"Kami telah menemukan seorang wanita yang bersedia menyewakan rahimnya untuk mengandung anak bagi Anda. Kapan Anda berdua memiliki waktu untuk membahas prosesnya?"
"Anda dapat datang langsung ke perusahaan saya yang bernama Richierich. Silakan beritahu sekretaris bahwa Anda memiliki janji temu dengan saya."
"Baiklah. Sampai jumpa nanti di perusahaan Anda, Pak."
Bu Reina menutup teleponnya dan tersenyum padaku.
"Sepertinya dia adalah CEO sebuah perusahaan, Aluna. Besok kita akan pergi ke sana untuk menjelaskan prosedurnya."
"Bagaimana prosesnya, Bu?"
"Pertama-tama, kita akan melakukan pemeriksaan kualitas s****a dan ovum pasangan klien kita, kemudian melakukan teknik IVF atau in vitro fertilisasi. Tentunya, Aluna sudah tahu tentang ini, atau bayi tabung, sehingga janin tidak akan memiliki hubungan DNA dengan si ibu yang menyewakan rahimnya karena itu adalah s****a ayah dan ovum ibunya."
"Dulu biayanya 100 juta menjadi ibu pengganti, sekarang sudah mengalami kenaikan menjadi 200 juta."
"Hmmm, baiklah, Bu. Ayo kita istirahat. Aluna sudah mengantuk. Bu, Ibu bisa tidur dengan saya atau bisa tidur di kamar tamu."
"Sebaiknya malam ini ibu tidur dengan Aluna. Sudahkah makan malam, Aluna?"
"Sejak Papa dan Mama meninggal, Aluna hidup sendiri dan makan tidak teratur."
"Sekarang, anggaplah ibu sebagai pengganti orangtua. Seandainya dulu orangtua aluna tidak membantu ibu, mungkin ibu juga sudah tidak tiada."
"Kenapa begitu, Bu?"
"Orangtua ibu hidup dalam kemiskinan dan hanya berjualan bakso bakar, dan kami 8 bersaudara. Kadang-kadang, untuk makan sehari saja, kami hanya bisa makan secuil bersama-sama. Suatu hari, ibu tidak tahan dan lari dari rumah, dan ibu bertemu dengan orangtua aluna di pasar dekat rumah ibu. Ibu memohon untuk diterima bekerja apa saja. Saat itu, ibu berusia 16 tahun, dan mereka menerima ibu sebagai asisten rumah tangga."
"Syukurlah Aluna bisa bertemu dengan ibu, Bu. Jadi, Aluna tidak tinggal sendirian di rumah yang begitu besar."
"aluna, ibu akan memasak makan malam untuk aluna."
Bu Reina melihat isi kulkas dan mengeluarkan ikan pare dan sayur labu. Bu Reina memasak ikan pare dengan tauco dan menumis sayur labu.
"Ini seperti masakan Mama."
"ibu belajar banyak dari orangtua aluna tentang cara memasak dan hal-hal lainnya. Bahkan, ibu dulu dikuliahkan jurusan akuntansi."
"Oh ya?"
"Mulai besok, ibu akan memasak untuk aluna."
"Terima kasih, Bu Reina."
Setelah selesai makan, Bu Reina dan Princess Aluna Lucky pergi ke kamar, membersihkan diri, dan kemudian tidur.
******
Keesokan harinya, Aluna terbangun dengan semangat. Dia bergabung dengan Bu Reina di dapur, yang sedang sibuk mempersiapkan sarapan.
"Ibu sedang memasak apa untuk sarapan?" tanya Aluna.
"Ibu sedang memasak pancake. Kamu suka pancake, Aluna? Dulu orangtua mu sering memasak pancake untuk sarapan," jawab Bu Reina.
"Wah, tampaknya enak sekali," kata Aluna dengan senyum.
"Hari ini kamu tidak punya jadwal kuliah kan?" tanya Bu Reina.
"Tidak, Bu. Hari ini kami kosong. Bukankah kita akan bertemu dengan Pak Richie?" tanya Aluna.
"Hampir saja ibu lupa," kata Bu Reina sambil tertawa.
Mereka berdua pun sarapan bersama dengan penuh keceriaan.
"Aluna, mandilah. Ibu akan mandi di kamar tamu. Sebagian pakaian ibu sudah aku letakkan di sana," kata Bu Reina sambil menunjuk ke arah kamar tamu.
Setelah mereka berdua siap, Bu Reina memanaskan mesin mobil sport miliknya.
"Kamu bisa menyetir, Aluna?" tanya Bu Reina.
"Tidak bisa, Bu. Selama ini pergi ke kampus, aku selalu pergi bersama Liliana Gerald, teman baikku," jawab Aluna.
"Nanti aluna belajar dengan ibu, lalu kita akan mendapatkan SIMmu dan membeli mobil untukmu," kata Bu Reina dengan penuh semangat.
"Yes!" ucap Aluna dengan antusias.
"Ya, doakan saja semoga program jasa sewa rahim klien kita lancar, Aluna," kata Bu Reina dengan harapan.
Mereka berdua pun pergi ke perusahaan yang disebut oleh klien mereka.
"Wah, perusahaan yang cukup besar," kata Princess Aluna Lucky sambil berjalan menyusuri bangunan perusahaan itu.
Perusahaan itu ternyata bergerak di bidang teknologi komputer dan cukup terkemuka di dunia.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya resepsionis perusahaan dengan ramah.
"Kami memiliki janji temu dengan Pak Oliver Richie," kata Bu Reina kepada resepsionis.
"Baik, sebentar. Biar saya tanya dulu," ujar resepsionis sambil mengangkat telepon ke sekretaris Pak Oliver Richie.
Setelah menerima konfirmasi dari sekretaris, mereka diperbolehkan naik ke kantor Pak Oliver Richie yang berada di puncak perusahaan dengan menggunakan lift.
"Aku deg-degan, Bu," ujar Princess Aluna Lucky sambil menggenggam erat tangan Bu Reina.
"Ibu juga," kata Bu Reina sambil tersenyum.
Sesampainya mereka di depan kantor Pak Oliver Richie, sekretaris menyambut mereka dengan senyuman dan mengantar mereka masuk ke dalam kantor.
"Kamu..." ujar Pak Oliver Richie ketika mereka masuk ke dalam kantornya.
"Kamu kenal dia, Aluna?" tanya Bu Reina sambil melihat ekspresi terkejut dari CEO Oliver Richie yang ternyata masih sangat muda, seumuran dengan Princess Aluna Lucky.
Princess Aluna Lucky menggelengkan kepalanya.
"Kamu tidak ingat sama aku, Aluna? Aku Oliver Richie yang dulu kamu tolak mentah-mentah dan kamu permalukan di depan umum saat masih sekolah dulu," kata Pak Oliver Richie dengan nada mengejek.
"Pantas saja suaramu terdengar tidak asing," ucap Aluna sambil mengingat.
"Jadi ini usahamu sekarang?" tanya Oliver Richie dengan senyuman mengejek.
"Ini adalah usaha yang mulia," jawab Princess Aluna Lucky dengan tegas.
"Baiklah, mari kita duduk dan bicarakan soal bisnis kita," kata Bu Reina untuk menengahi pembicaraan antara klien dan Princess Aluna Lucky.
"Ini adalah dokumen kontrak kita, Pak Oliver. Silakan baca terlebih dahulu," kata Bu Reina sambil menyerahkan dokumen tersebut.
"Pokoknya, mari kita langsung ke intinya," tambah oliver richie dengan tegas.