bc

Rumah yang kita Bangun

book_age18+
33
IKUTI
1K
BACA
family
kickass heroine
drama
like
intro-logo
Uraian

Lima tahun Amira melarikan diri dari masa lalunya, membangun karir cemerlang sebagai arsitek di Jakarta dan meninggalkan luka yang tak pernah sembuh di Bandung. Ketika telepon dari adiknya membawa kabar tentang ayahnya yang terkena stroke, ia terpaksa kembali ke rumah keluarga—tempat rahasia dan kebohongan yang membuatnya pergi dulu terungkap.Di tengah proyek penting yang menjadi pertaruhan karirnya, Amira harus menghadapi kebenaran yang selama ini ia hindari. Bahwa hubungan ayahnya dengan wanita lain tidak sesederhana pengkhianatan seperti yang ia kira. Bahwa ibunya selalu tahu dan memilih bertahan dengan alasan yang lebih rumit dari sekadar kewajiban. Bahwa ada saudara perempuan yang tidak pernah ia temui—yang mungkin bisa ia selamatkan jika ia tidak terlalu cepat menghakimi."RUMAH YANG KITA BANGUN" adalah kisah tentang kembali pulang, tentang memaafkan dan dimaafkan, tentang menemukan kembali makna keluarga di tengah kerumitan hubungan manusia. Kisah tentang seorang wanita yang harus meruntuhkan fondasi lama yang rapuh untuk membangun kembali rumah yang lebih kokoh—bukan hanya secara fisik, tapi juga dalam hatinya.

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1
Amira menatap jendela taksi yang berembun. Hujan Bandung mengetuk-ngetuk kaca dengan irama yang anehnya familiar, seperti ingatan yang telah lama tersimpan dalam otot. Genangan air di pinggir jalan memantulkan cahaya lampu jalan yang kekuningan—warna yang sama dengan lampu ruang tengah rumah keluarganya dulu. Sopir taksi menyalakan wiper, mengusir bulir-bulir air yang terus berjatuhan, dan Amira ikut mengusap embun di dalam kaca dengan telapak tangannya. Ada sesuatu yang menyesakkan tentang kembali ke kota ini setelah lima tahun pergi. "Mbak arsitek ya?" tanya sopir taksi tiba-tiba, memecah keheningan. Amira tersenyum tipis, matanya masih menyusuri jalanan yang mulai tak asing. "Iya, Pak." "Keliatan dari cara Mbak merhatiin bangunan-bangunan. Beda sama penumpang lain." Mungkin memang begitu, pikir Amira. Bahkan saat pikiran dan hatinya sedang kalut, matanya tetap mencari-cari bentuk, struktur, dan ruang. Mungkin inilah cara dirinya menciptakan jarak—dengan melihat dunia sebagai rangkaian garis dan sudut, bukan sebagai tempat yang penuh kenangan dan rasa sakit. Telepon dari Adara, adiknya, datang saat Amira sedang mempresentasikan desain terbarunya di kantor arsitektur tempatnya bekerja di Jakarta. Layar ponsel bergetar di atas meja, nama Adara muncul setelah entah berapa tahun tidak saling menghubungi. Seketika Amira tahu sesuatu telah terjadi. Adara tidak pernah menelepon tanpa alasan. "Ayah stroke," kata Adara dengan suara datar di seberang sana. "Parah. Kalau mau lihat kondisinya, pulang sekarang." Pulang. Kata itu terasa asing di lidahnya. Lima tahun ia menghindari tempat itu, menolak undangan Lebaran, mengarang alasan proyek yang tak bisa ditinggalkan, hingga akhirnya keluarganya berhenti meminta. Dan kini, kata itu—pulang—menariknya kembali seperti gravitasi yang tak bisa dilawan. Rumah keluarga Amira muncul di tikungan jalan, masih berdiri kokoh meski cat temboknya mulai mengelupas di beberapa bagian. Pagar hitam yang dulu sering ia panjat saat terlambat pulang masih sama. Pohon mangga di halaman depan telah tumbuh lebih tinggi, cabang-cabangnya menjulur melewati pagar, seolah berusaha meraih dunia luar. "Di sini ya, Mbak?" tanya sopir taksi. Amira menelan ludah. "Iya, Pak. Di sini." Taksi berhenti. Amira turun dengan tas ransel dan koper kecil berisi pakaian yang disiapkan terburu-buru. Hujan telah reda, meninggalkan jejak basah di jalanan dan aroma tanah yang menyeruak tajam. Bau yang sangat khas Bandung. Bau yang mengaktifkan memori masa kecilnya—berlarian di halaman saat gerimis, membuat perahu kertas di selokan depan rumah, tawa ayahnya yang dalam dan hangat. Ayah. Tenggorokan Amira tercekat. Bagaimana keadaannya sekarang? Lima tahun tanpa bicara langsung, hanya kabar seadanya lewat ibu atau pembantu yang sesekali menelepon. Lima tahun menyimpan amarah dan luka yang tak pernah dibicarakan, lima tahun membiarkan jarak tumbuh seperti tembok tak kasat mata. Pintu rumah terbuka sebelum Amira mengetuk. Adara berdiri di ambang pintu, tubuhnya lebih kurus dari yang Amira ingat, rambutnya yang dulu selalu panjang kini dipotong pendek sebahu. Matanya, yang identik dengan mata Amira—warisan dari ayah mereka—tampak lelah dan sedikit sembab. "Lama sekali," kata Adara. Dua kata yang mengandung ribuan makna. Lama sekali kau datang. Lama sekali kau pergi. Lama sekali kita tidak bertemu. "Macet," jawab Amira singkat, meski keduanya tahu bukan itu yang dimaksud Adara. Mereka berdiri canggung selama beberapa detik yang terasa seperti berabad-abad, sebelum Adara minggir dari pintu, memberi jalan pada kakaknya untuk masuk. Tidak ada pelukan, tidak ada air mata reuni. Hanya kesenyapan yang terasa berat dan sarat makna. Rumah itu masih sama namun juga berbeda. Furnitur masih di tempat yang sama, foto-foto keluarga masih tergantung di dinding, namun ada sesuatu yang berubah. Mungkin cahayanya. Mungkin auranya. Atau mungkin Amira yang berubah, melihat rumah masa kecilnya dengan mata orang dewasa yang telah lama pergi. "Ibu di kamar Ayah," ujar Adara, menunjuk ke arah tangga. "Lantai atas. Kamar yang dulu." Amira mengangguk, meletakan tasnya di sofa. Ia berjalan menuju tangga, setiap langkahnya terasa berat, seakan lantai rumah ini terbuat dari magnet yang menarik kakinya ke bawah. Ia berhenti sejenak di anak tangga ketiga, merasakan tekstur kayu di bawah telapak tangannya. Berapa kali ia telah menaiki dan menuruni tangga ini dulu? Ribuan? Jutaan? "Dia menunggumu," kata Adara pelan dari belakang. Kata-kata itu menusuk Amira lebih dalam dari yang ia kira. Siapa yang menunggu? Ayah? Ibu? Atau rumah ini sendiri? Amira menarik napas dalam-dalam, lalu melangkah naik. Kembali ke rumah yang telah lama ia tinggalkan. Kembali pada luka yang belum sembuh. Kembali pada awal sebuah akhir—atau mungkin, akhir dari sebuah awal.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.9K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.9K
bc

TERNODA

read
198.9K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
41.0K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.6K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
62.4K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook