Bab 2

651 Kata
Anak tangga terakhir berderit pelan saat Amira menginjaknya. Suara itu, seperti keluhan tua dari kayu yang telah menanggung beban puluhan tahun, mengirim gelombang nostalgia ke dalam dadanya. Dulu ia dan Adara selalu melompati anak tangga ini, trik kecil untuk menghindari bunyi pengkhianat yang bisa membangunkan ayah mereka saat pulang terlambat. Di lorong lantai dua, Amira melangkah perlahan. Aroma obat yang tajam bercampur dengan wangi kayu putih samar-samar mengambang di udara—kombinasi yang terasa asing sekaligus menakutkan. Dari celah pintu kamar ayahnya yang setengah terbuka, ia bisa mendengar denting logam pelan dan gumaman suara wanita yang ia kenali sebagai suara ibunya. Pintu berderit ketika Amira mendorongnya. Kamar yang dulu dikenal sebagai wilayah pribadi ayahnya kini lebih menyerupai ruang rawat mini. Ranjang yang biasanya rapi dengan seprai bermotif batik sederhana telah diganti dengan ranjang rumah sakit. Meja kerja ayahnya yang selalu penuh buku dan kertas kini menjadi tempat berbagai obat-obatan dan peralatan medis. Dan di atas ranjang itu, berbaring sosok yang hampir tidak ia kenali. "Amira," suara ibunya, Hapsari, menyentak kesadarannya. Wanita itu berdiri dari kursi di samping ranjang, rambut hitamnya yang kini dipenuhi uban disanggul sederhana. Wajahnya terlihat lelah dengan kerutan yang lebih dalam dari yang Amira ingat. "Bu," gumam Amira, masih terpaku pada sosok di ranjang. Ayahnya, Prasetyo, dulu adalah pria dengan postur tegap dan suara yang bisa mengisi ruangan. Kini ia terbaring dengan tubuh yang tampak mengecil, kulit wajahnya menggantung longgar seperti pakaian yang kebesaran. Sisi kiri tubuhnya terlihat kaku, bibirnya sedikit tertarik ke satu sisi. Matanya—mata yang sama dengan milik Amira—setengah terbuka, bergerak pelan ke arahnya. "Dia bisa mendengarmu," kata ibunya, kembali duduk dan menggenggam tangan Prasetyo. "Dokter bilang kesadarannya baik, hanya belum bisa bicara banyak." Amira melangkah mendekat, kaki-kakinya terasa seperti terseret di lantai kayu yang dingin. Ia duduk di tepi ranjang, merasakan pegas kasur yang melesak di bawah beratnya. "Ayah," katanya, suaranya serak. "Ini Amira." Mata ayahnya melebar sedikit. Sudut bibirnya yang tidak terpengaruh stroke berkedut ke atas, membentuk senyum tipis. Tangannya yang masih berfungsi bergerak lemah, meraih ke arahnya. Amira menggenggam tangan itu—tangan yang dulu mengajarinya menggambar, yang membangunkannya pagi-pagi untuk salat Subuh, yang selalu hangat dan kuat. Kini terasa kurus dan rapuh di dalam genggamannya, pembuluh darah biru menonjol di bawah kulit yang menipis. "Mi... ra," suara ayahnya terdengar serak dan terpotong, namun matanya memancarkan pengertian penuh. Sesuatu dalam d**a Amira seperti retak. Lima tahun ia menghindari, melarikan diri, membangun kehidupan baru jauh dari rumah ini. Lima tahun menyimpan amarah yang kini terasa kecil dan tidak penting di hadapan kerapuhan ayahnya. "Dia terus menanyakanmu," kata ibunya, suaranya datar namun Amira bisa menangkap tusukan halus di sana. "Setiap kali sadar, namamu yang pertama disebutnya." Amira tidak menjawab. Ia menatap wajah ayahnya yang berubah, mencari-cari jejak pria yang ia kenal dulu. Di balik perubahan fisik itu, matanya masih sama—mata yang selalu melihat jauh ke depan, yang bisa membaca Amira seperti buku terbuka. "Kalian perlu bicara berdua," ibunya bangkit, merapikan selimut Prasetyo dengan gerakan yang telah menjadi kebiasaan. "Aku akan siapkan kamarmu. Masih kamar yang dulu." Pintu menutup pelan di belakang ibunya, meninggalkan Amira sendiri dengan ayahnya dan keheningan yang sarat akan kata-kata tak terucap. Di luar, langit Bandung mulai gelap. Sinar lampu jalan menerobos melalui tirai jendela yang setengah tertutup, menciptakan pola-pola cahaya keemasan di lantai. "Maaf," bisik Amira, entah kepada siapa—ayahnya, ibunya, atau dirinya sendiri. Ayahnya menggenggam tangannya lebih erat, seolah mengerti. Mata mereka bertemu dalam pengertian yang melebihi kata-kata. Ada beribu pertanyaan yang ingin Amira tanyakan, beribu penjelasan yang ingin ia berikan. Namun semuanya tersekat di tenggorokan, tertahan oleh simpul yang belum siap ia urai. Di tengah keheningan itu, ia mendengar suara Adara di lantai bawah, menjawab telepon dengan nada profesional—suara orang dewasa yang entah sejak kapan menggantikan suara adik kecilnya yang dulu sering merengek minta digendong. Waktu telah mengubah mereka semua, pikir Amira. Waktu dan pilihan-pilihan yang tidak bisa ditarik kembali.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN