Kamar lamanya masih persis seperti yang ditinggalkannya. Dinding biru pucat dengan rak buku yang penuh sketsa dan maket-maket miniatur. Meja belajar kayu jati yang permukaannya masih menyimpan goresan-goresan pensil tak sengaja. Tempat tidur yang seprainya berbau pengharum pelembut pakaian yang sama—aroma bunga melati yang selalu digunakan ibunya.
Amira meletakkan kopernya di sudut ruangan dan membuka jendela. Udara malam Bandung yang sejuk menyusup masuk, membawa aroma tanah basah dan bunga kenanga dari pekarangan tetangga. Ia menghirup dalam-dalam, merasakan nostalgia yang menusuk tajam seperti jarum kecil di dadanya.
"Ibu tidak mengubah apa-apa," suara Adara muncul dari ambang pintu. Ia bersandar di kusen, kedua tangan terlipat di d**a. "Seperti museum kecil. Kadang aku melihatnya masuk ke sini, membersihkan debu, lalu duduk di tepi ranjangmu selama berjam-jam."
Amira tidak menjawab. Ia memandang keluar jendela, ke arah pohon flamboyan di halaman belakang yang dulu sering ia panjat. Batangnya kini lebih besar, lebih tua, dengan cabang-cabang yang menjulur lebih tinggi.
"Dia tidak pernah mengatakannya," lanjut Adara, "tapi dia merindukanmu. Kami semua merindukanmu."
Ada nada menuduh dalam suara adiknya yang membuat Amira berbalik. "Aku... punya alasan."
"Lima tahun, Mira." Adara menggelengkan kepala. "Lima tahun tanpa pulang. Tanpa bertanya kabar langsung. Bahkan saat Nenek meninggal, kau hanya datang untuk pemakaman, lalu langsung pergi."
"Bukannya kau mengerti kenapa aku pergi?" Amira merasakan dinding pertahanan yang selama ini dibangunnya mulai naik.
"Aku mengerti kau marah pada Ayah. Tapi Ibu? Aku? Apa salah kami sampai kau juga menghilang dari hidup kami?"
Pertanyaan itu menggantung di udara seperti kabut pagi yang pekat. Amira mengalihkan pandangan, tidak siap menjawabnya. Tidak di malam pertamanya kembali.
"Lupakan." Adara menghela napas. "Ibu memasak soto. Turunlah kalau kau lapar."
Langkah Adara menjauh di koridor, meninggalkan Amira dalam keheningan kamarnya. Ia duduk di tepi ranjang, menatap nakas di sampingnya. Sebuah foto berbingkai kayu masih berdiri di sana—foto empat orang yang tersenyum lebar di depan Gedung Sate. Mereka semua tampak bahagia. Keluarga yang utuh. Ia ingat hari itu, ulang tahun Adara yang ke-15. Tepat setahun sebelum segalanya berubah.
Ponselnya berdering, memecah keheningan. Nama "Dimas" berkedip-kedip di layar—bosnya di firma arsitektur Jakarta.
"Halo?" jawab Amira, suaranya berubah profesional secara otomatis.
"Amira, bagaimana kabar ayahmu?" suara Dimas terdengar simpatik, tapi Amira bisa mendengar urgensi di baliknya.
"Masih belum bisa bicara banyak, tapi dokter bilang ada harapan pemulihan."
"Syukurlah. Dengar, aku tidak ingin mengganggumu di saat seperti ini, tapi klien Menteng sangat ngotot dengan revisi desainnya. Menurutmu, berapa lama kau akan di Bandung?"
Amira memejamkan mata. Proyek Menteng—rumah mewah dengan konsep neo-tropical yang menjadi pertaruhan karirnya. Hari-hari terakhir ini ia telah menenggelamkan diri dalam revisi demi revisi untuk memuaskan klien yang perfeksionis.
"Aku... belum tahu." Jawabnya ragu. "Kondisi Ayah masih tidak stabil."
Hening sejenak di ujung lain telepon. "Baiklah. Aku mengerti. Mungkin kau bisa bekerja jarak jauh? Setidaknya untuk revisi yang kritis. Tenggat waktunya minggu depan."
"Akan kuusahakan," jawab Amira, tidak yakin bagaimana ia akan menyeimbangkan semua ini.
Setelah telepon ditutup, Amira menatap langit-langit kamarnya. Garis-garis retak halus yang dulu sering ia tatap saat tidak bisa tidur masih di sana, membentuk pola yang familiar. Dulu ia sering membayangkan peta dunia dari retakan-retakan itu, merencanakan tempat-tempat yang ingin dikunjunginya suatu hari nanti.
Kini ia telah mengunjungi beberapa tempat itu. Paris. Singapura. Hong Kong. Semua untuk pekerjaan. Semua jauh dari rumah ini.
Dari lantai bawah, terdengar denting piring dan sendok, disusul aroma soto yang menguar ke seluruh rumah. Perut Amira berbunyi mengingatkan bahwa ia belum makan sejak pagi. Dengan berat, ia bangun dan melangkah ke luar kamar.
Di dapur, ibunya sedang menuang kuah soto ke mangkuk. Gerakan tangannya yang cekatan dan efisien, tidak berubah sejak dulu. Adara duduk di meja makan, sibuk dengan laptopnya.
"Duduk," kata ibunya tanpa menoleh. "Kau pasti lapar."
Amira duduk di kursi yang dulu selalu ditempatinya. Adara melirik sekilas, lalu kembali fokus pada pekerjaannya. Keheningan yang canggung mengambang di antara mereka bertiga, hanya diisi oleh suara kuah yang dituang dan denting sendok di mangkuk.
"Bagaimana Jakarta?" tanya ibunya, meletakkan semangkuk soto di hadapan Amira. Pertanyaan sederhana, tapi terasa seperti jembatan rapuh yang mencoba menghubungkan lima tahun kekosongan.
"Baik," jawab Amira pendek, lalu menyadari betapa tidak memadainya kata itu. "Sibuk. Proyek-proyek banyak, firma kami berkembang."
Ibunya mengangguk, duduk di kursinya sendiri. "Dan kau sendiri? Sehat?"
Ada sesuatu dalam cara ibunya bertanya yang membuat tenggorokan Amira tercekat. Bukan pertanyaan "apa kabar" basa-basi, tapi kekhawatiran tulus seorang ibu yang begitu lama tidak melihat anaknya.
"Sehat," jawabnya, mencoba tersenyum. "Hanya... lelah kadang-kadang."
"Tentu saja lelah," kata Adara tanpa mengalihkan pandangan dari laptopnya. "Kau bahkan tidak punya waktu untuk menelepon keluargamu."
"Adara," suara ibunya terdengar lelah. "Tidak sekarang."
Amira mengaduk sotonya, aroma rempah yang familiar menghangatkan wajahnya. Ini masakan yang selalu ia rindukan diam-diam di Jakarta, saat malam-malam sendirian di apartemennya. Tidak ada warung soto di Jakarta yang terasa seperti masakan ibunya.
"Ayah kena stroke saat sedang di perpustakaan kampus," kata ibunya pelan, memecah keheningan. "Dua minggu lalu. Rekan-rekannya yang membawanya ke rumah sakit."
Amira mengangkat wajahnya. "Ayah masih mengajar?"
"Seharusnya sudah pensiun tahun lalu," ibunya menatap kosong ke mangkuknya. "Tapi dia tidak mau. Masih mengajar dua kelas. Katanya untuk mengisi waktu."
Ada sesuatu dalam cara ibunya mengatakannya yang membuat Amira merasa bersalah. Bayangan ayahnya di ruang kelas, berbicara dengan semangat tentang literatur klasik Indonesia, masih jelas dalam ingatannya. Dulu saat kecil, Amira sering diajak ke kampus, duduk diam di sudut kelas mendengarkan ayahnya bercerita tentang Pramoedya dan Chairil Anwar dengan suara yang membuat kata-kata menjadi hidup.
"Dokter bilang apa?" tanya Amira, mencoba mengenyahkan bayangan itu dari kepalanya.
"Butuh waktu untuk pulih. Mungkin beberapa bulan. Terapi wicara, fisioterapi." Ibunya menghela napas. "Kami bergiliran menjaganya. Adara pagi sampai siang, aku siang sampai malam."
Adara akhirnya menutup laptopnya. "Aku harus mengambil cuti dari kantor. Setengah hari saja, jadi masih bisa bekerja setengah hari sisanya. Ibu juga harus izin dari sekolah."
"Ibu masih mengajar?" tanya Amira, terkejut. Ibunya sudah hampir 60 tahun.
"Tentu saja," jawab ibunya, ada ketegasan dalam suaranya. "Murid-murid masih membutuhkanku."
Hening lagi. Amira menyuap sotonya perlahan, merasakan rempah dan kenangan yang bercampur dalam setiap suapan. Ia melirik jam dinding—hampir tengah malam. Jakarta yang bising dan terang terasa sangat jauh dari rumah sunyi ini.
"Kau akan tinggal berapa lama?" tanya ibunya, suaranya hati-hati.
Pertanyaan sederhana, tapi menggantung di udara seperti parang yang siap jatuh. Berapa lama? Amira sendiri tidak tahu. Ada proyek yang menunggu di Jakarta. Ada tenggat waktu. Ada kehidupan yang telah ia bangun jauh dari rumah ini. Tapi ada juga ayahnya yang terbaring di atas, dan ibunya yang terlihat lebih tua dari yang seharusnya, dan adiknya yang menatapnya dengan mata yang menuntut jawaban.
"Aku..." Amira menelan ludah. "Entahlah, Bu. Aku harus melihat bagaimana perkembangannya."
Jawaban diplomatis. Jawaban yang tidak menjanjikan apa-apa, tidak menutup kemungkinan untuk pergi lagi.
Adara mendengus pelan, bangkit dari kursinya. "Aku tidur duluan. Besok harus bangun pagi untuk jaga Ayah."
Tinggallah Amira dan ibunya dalam keheningan yang hanya diisi oleh detak jam dinding. Di luar, hujan mulai turun lagi, lembut mengetuk atap rumah seperti jemari yang tidak sabar.