Pagi merayap masuk melalui celah tirai, menyentuh wajah Amira dengan kehangatan yang ragu-ragu. Ia terjaga sejak subuh, menatap langit-langit kamar dalam keremangan. Tidurnya semalam terputus-putus, dipenuhi mimpi-mimpi yang lebih menyerupai kepingan ingatan—ayahnya berdiri di teras belakang membaca puisi, ibunya mengeringkan rambut Adara kecil setelah mandi, dan dirinya sendiri duduk di tangga menggambar rumah-rumah khayal.
Suara azan subuh dari masjid di ujung kompleks tadi sempat membuatnya tersentak bangun. Di Jakarta, azan dari masjid terdekat selalu teredam oleh dinding apartemen dan dengung pendingin udara. Di sini, suaranya jernih dan menembus jendela kayu yang tipis, membangunkan kenangan lama tentang pagi-pagi dingin saat ayahnya mengetuk pintu kamarnya, mengajaknya salat berjamaah.
Cahaya matahari kini semakin terang, membentuk pola-pola keemasan di lantai kayu yang sudah aus. Dari luar terdengar kicauan burung gereja yang bersarang di talang atap. Suara daun ditiup angin. Derit gerbang tetangga yang dibuka. Kehidupan yang berjalan seperti biasa, tidak peduli pada badai dalam dirinya.
Telepon genggamnya bergetar. Pesan dari Reza, koleganya di firma arsitektur.
"*Brief* dari klien Menteng sudah berubah lagi. Dimas panik. Kapan kau kembali?"
Amira menghela napas panjang. Dalam sekejap, dunia Jakarta yang penuh tenggat waktu dan ekspektasi menyusup masuk ke ruang masa kecilnya. Dua dunia yang kini berbenturan, memaksanya hidup di keduanya sekaligus.
Ia bangkit dari tempat tidur, merenggangkan tubuh yang kaku karena tidur di kasur yang terlalu empuk—kasur yang menyimpan lekuk tubuhnya dari masa remaja. Cermin di lemari pakaian memantulkan bayangan wanita yang tampak lelah, dengan lingkaran gelap samar di bawah mata. Amira menyentuh wajahnya sendiri, merasakan garis-garis halus di sudut mata yang tidak ada lima tahun lalu. Waktu memang tidak pernah berhenti, bahkan saat kita mencoba membeku dalam kemarahan.
Di lantai bawah terdengar langkah kaki yang dikenalnya—langkah cepat dan ringan Adara. Suara air mengalir dari keran. Denting peralatan dapur. Bunyi-bunyi pagi yang familiar tapi terasa asing sekaligus.
Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, Amira turun ke lantai bawah. Di dapur, Adara sudah rapi dengan blus kerja berwarna marun dan celana hitam. Rambutnya diikat tinggi—gaya yang tidak pernah Amira lihat pada adiknya dulu.
"Pagi," sapa Amira, suaranya masih serak.
Adara mengangguk singkat tanpa menoleh, sibuk menuang air ke dalam termos kecil. "Aku sudah buatkan bubur untuk Ayah. Di kompor masih panas."
"Terima kasih."
Keheningan yang kaku mengambang di antara mereka. Dulu, dapur ini selalu penuh tawa dan obrolan. Bahkan pertengkaran pun terasa lebih hidup daripada kesunyian dingin ini.
"Aku harus ke kantor setelah mengurus Ayah pagi ini," Adara melanjutkan, memasukkan beberapa wadah plastik ke dalam tas. "Ibu sedang ke pasar, nanti dia pulang sekitar jam sembilan. Kau..." ia ragu sejenak, "bisa jaga Ayah saat kami pergi?"
Pertanyaan itu sederhana, tapi Amira menangkap keraguan di dalamnya. Keraguan apakah ia bisa dipercaya, apakah ia tidak akan menghilang seperti dulu.
"Tentu," jawab Amira. "Aku juga ada pekerjaan yang harus dikerjakan, tapi bisa kulakukan sambil menjaga Ayah."
Adara akhirnya menatapnya. "Kau benar-benar akan tinggal? Atau hanya sampai Ayah sedikit membaik, lalu pergi lagi?"
Pertanyaan itu menusuk tepat ke pusat ketakutan Amira sendiri. Berapa lama ia akan tinggal? Bagaimana dengan proyeknya? Bagaimana dengan kehidupan yang telah ia bangun jauh dari rumah ini dan kenangannya?
"Aku tidak tahu, Dara," jawabnya jujur. "Tapi aku di sini sekarang."
Adara tersenyum tipis, senyum yang tidak mencapai matanya. "Itu selalu jadi masalahnya, kan? Kau tidak pernah tahu. Atau mungkin tidak mau tahu."
Sebelum Amira bisa menjawab, Adara sudah berbalik dan melangkah ke tangga. "Aku akan memandikan Ayah dulu. Bisa tolong siapkan buburnya di mangkuk?"
Sepeninggal Adara, Amira berdiri diam di tengah dapur. Ia menatap pot-pot tanaman jendela—tanaman yang sama yang ditanam ibunya bertahun-tahun lalu. Lidah buaya. Sirih. Jahe. Semua masih hidup, dirawat dengan telaten. Tidak seperti tanaman di apartemennya yang selalu layu sebelum sempat tumbuh.
Ia mengambil mangkuk dari lemari, menuang bubur dari panci. Aromanya menguar, mengingatkan pada pagi-pagi sakit sewaktu kecil, saat ibunya membuatkan bubur dengan telur setengah matang. Amira menatap bubur di hadapannya. Sederhana, tanpa hiasan, tanpa pretense. Seperti kasih sayang keluarganya yang ia tinggalkan—sederhana, tanpa syarat, tapi ia terlalu buta untuk melihatnya.
Langkah berat menaiki tangga teras membuat Amira menoleh. Ibunya muncul dengan dua kantong belanjaan, wajahnya berkeringat tapi tetap tersenyum melihat Amira di dapur.
"Sudah bangun," kata ibunya, meletakkan belanjaannya di meja. "Tidur nyenyak?"
"Lumayan," bohong Amira. "Bu, biar kubantu."
Ia mengambil alih kantong belanjaan, mengeluarkan isinya satu per satu. Sayuran segar. Ikan. Tahu. Tempe. Bahan-bahan masakan sederhana yang menjadi menu sehari-hari keluarga mereka dulu.
"Ibu mau masak apa?"
"Pepes ikan," jawab ibunya singkat. "Ayahmu suka itu. Meskipun sekarang harus dihaluskan dulu supaya gampang ditelan."
Ada sesuatu dalam cara ibunya menyebut 'ayahmu', bukan 'ayah kita' atau 'Pras', seperti yang biasa ia lakukan dulu—seolah ingin mengingatkan Amira akan hubungan darah yang tak bisa diingkarinya.
"Bu," Amira memulai, tangannya berhenti memilah sayuran. "Maaf aku tidak pulang selama ini."
Ibunya terdiam sejenak, tangannya yang mulai berkeriput mengelus permukaan meja. "Tidak apa-apa. Kau punya hidupmu sendiri di Jakarta."
"Bukan begitu, Bu..." Amira mencoba mencari kata-kata yang tepat, tapi semua terasa tidak cukup.
"Sudahlah," potong ibunya lembut. "Yang penting kau di sini sekarang. Ayahmu bahagia melihatmu."
Obrolan mereka terputus oleh suara langkah Adara yang turun dari tangga. "Ayah sudah bersih. Bubur sudah siap?"
"Sudah," Amira mengangkat nampan berisi semangkuk bubur dan segelas air.
"Biar aku yang bawa," kata Adara cepat, mengambil alih nampan. "Kau belum tahu cara memberinya makan."
Ada rasa tidak nyaman yang mencubit Amira mendengar kata-kata adiknya. Memang benar, ia tidak tahu cara merawat ayahnya dalam kondisi seperti ini. Ia tidak ada di sini saat penyakit itu pertama kali menyerang, saat mereka harus belajar dari perawat bagaimana memandikan tubuh yang setengah lumpuh, bagaimana menyuapi seseorang yang kesulitan menelan.
"Aku akan belajar," kata Amira pelan.
Adara menatapnya sejenak, lalu mengangguk. "Kalau begitu, ikut aku."
Mereka berdua naik ke kamar ayahnya. Prasetyo kini duduk bersandar pada tumpukan bantal, tubuhnya yang kurus dibalut piama berwarna biru tua—piama yang Amira ingat selalu menjadi favorit ayahnya. Rambutnya yang sudah memutih seluruhnya disisir rapi ke belakang. Mata lelaki itu melebar saat melihat Amira mengikuti Adara.
"Pagi, Yah," sapa Amira, duduk di tepi ranjang.
"Pa... gi," balas ayahnya, suaranya masih terdengar serak dan terbata, tapi matanya berbinar. Tangan kanannya yang masih berfungsi baik terulur, menyentuh pipi Amira dengan kelembutan yang membuat dadanya sesak.
"Lihat cara aku menyuapinya," kata Adara, meletakkan nampan di meja samping ranjang. "Harus pelan-pelan. Pastikan dia menelan sepenuhnya sebelum suapan berikutnya."
Amira memperhatikan dengan seksama bagaimana Adara menyuapi ayah mereka—kesabaran dalam setiap gerakan, kehatian-hatian saat mengelap sudut bibir yang basah, cara ia berbicara dengan nada normal meski harus mengulang beberapa kali karena ayah mereka lambat merespons.
"Nanti... Mira... yang... suapi," kata Prasetyo tiba-tiba di antara suapan.
Adara berhenti, menatap ayahnya, lalu ke Amira. Ada sebersit rasa terluka di matanya yang coba ia sembunyikan dengan cepat. "Tentu, Yah. Mira akan menyuapi Ayah nanti siang."
Setelah selesai makan, Adara membantu ayahnya minum obat dan memastikan ia nyaman. "Aku harus ke kantor sekarang," katanya, merapikan nampan. "Mira akan menemani Ayah."
Prasetyo mengangguk lemah, matanya tak lepas dari Amira, seolah takut ia akan menghilang jika ia berkedip.
Setelah Adara turun, Amira duduk di kursi samping ranjang. Keheningan yang canggung mengambang di antara mereka—ayah dan anak yang lima tahun tidak berbicara, kini terpaksa berhadapan dalam situasi paling rentan.
"Proyek... apa... sekarang?" tanya ayahnya perlahan, setiap kata adalah perjuangan.
Amira tersenyum tipis. Pertanyaan tentang pekerjaan—tipikal ayahnya yang selalu mendorong karir dan pendidikannya. "Rumah di Menteng. Klien yang sulit. Banyak revisi."
"Kau... pasti... bisa."
Tiga kata sederhana yang membuat tenggorokan Amira tercekat. Kepercayaan tanpa syarat, dukungan tanpa pertanyaan—hal yang selalu ia dapatkan dari ayahnya sejak kecil. Bahkan setelah semua yang terjadi, setelah lima tahun absen tanpa kabar yang jelas, kepercayaan itu masih ada.
"Terima kasih, Yah," bisiknya.
Ayahnya menatapnya lekat, mata tuanya yang jernih seolah menerobos ke dalam jiwanya. "Maaf."
Satu kata yang menghantam Amira seperti gelombang. Maaf untuk apa? Untuk apa yang terjadi lima tahun lalu? Untuk rahasia yang akhirnya terbongkar dan mengoyak keluarga mereka? Atau untuk keadaannya sekarang, terbaring sakit dan memaksa Amira kembali menghadapi masa lalu?
"Tidak, Yah. Jangan bicara dulu," kata Amira cepat, tidak siap menghadapi percakapan ini. "Istirahatlah."
Prasetyo menggeleng pelan, bersikeras. "Aku... harus... bicara." Ia berhenti, mengumpulkan tenaga. "Aku... salah. Sangat... salah."
Air mata menggenang di pelupuk mata ayahnya, mengalir perlahan menuruni pipi yang kini tirus. Amira merasakan hatinya seperti diremas. Ia mengambil tisu di nakas, mengusap air mata itu dengan lembut.
"Nanti saja, Yah. Kalau Ayah sudah lebih kuat," bisiknya.
Prasetyo menggenggam tangannya, kuat di luar dugaan untuk orang dalam kondisinya. "Tidak... tahu... berapa... lama... lagi."
Kata-kata itu menusuk Amira seperti belati. Kematian—bayang-bayang yang selama ini ia hindari. Mungkin inilah alasan sebenarnya ia menjauh. Bukan hanya kemarahan atas rahasia yang terbongkar, tapi ketakutan akan kehilangan. Jika ia tidak dekat, maka rasa sakit kehilangan mungkin tidak akan sedalam—kebohongan yang ia tanamkan pada dirinya sendiri.
"Ayah akan sembuh," kata Amira tegas, lebih untuk meyakinkan dirinya sendiri. "Ayah kuat."
Prasetyo tersenyum tipis, senyum yang Amira kenali—senyum yang sama saat ia tahu Amira berbohong tentang nilai ujiannya dulu. Senyum yang mengatakan *aku tahu lebih banyak dari yang kau kira*.
"Aku... mau... kau... mengerti," lanjut Prasetyo dengan susah payah. "Sebelum... terlambat."
Pintu kamar terbuka sebelum percakapan bisa berlanjut. Ibunya masuk membawa segelas air putih segar. "Sudah minum obat?" tanyanya pada Prasetyo, yang menjawab dengan anggukan lemah.
Amira menggunakan kesempatan ini untuk mundur, menjaga jarak dari percakapan yang belum siap ia hadapi. "Bu, aku harus mengecek email sebentar. Ada revisi desain yang harus kulihat."
Ibunya mengangguk, mengambil alih posisi Amira di samping ranjang. "Pergilah. Aku yang akan menemani ayahmu."
Di ambang pintu, Amira berhenti sejenak, menatap punggung ibunya yang terlihat lebih kecil dari yang ia ingat. Wanita itu duduk dengan postur yang tegak, seperti yang selalu diajarkannya pada Amira dan Adara—*duduk tegak, jangan bungkuk, perlihatkan kau punya harga diri.* Di ranjang, ayahnya menatap ke arah jendela, ke pohon flamboyan yang daunnya menari-nari ditiup angin pagi.
Keduanya terlihat begitu rapuh dan begitu kuat sekaligus—dua orang yang telah melalui badai kehidupan bersama, masih bertahan meski tidak sempurna. Dua orang yang pernah ia percayai sepenuhnya, sampai hari ketika kepercayaan itu hancur berkeping-keping.
Amira melangkah ke kamarnya, menutup pintu perlahan. Ia mengeluarkan laptop dari tasnya, membuka email, mencoba fokus pada revisi desain yang menunggu. Tapi pikirannya terus melayang pada kata-kata ayahnya.
*Aku... salah. Sangat... salah.*
*Aku... mau... kau... mengerti. Sebelum... terlambat.*
Di luar, langit Bandung mulai tertutup awan kelabu. Angin bertiup lebih kencang, menggoyangkan dahan pohon flamboyan dengan kasar. Beberapa kelopak bunga merah terlepas, melayang-layang sebelum jatuh ke tanah—seperti rahasia keluarganya yang perlahan-lahan mulai terungkap, satu kelopak pada satu waktu.