Bab 5

1991 Kata
Hujan turun seperti tirai abu-abu di luar jendela. Amira menatap tetesan yang berlomba-lomba meluncur di kaca, membentuk anak sungai kecil yang berkelok-kelok—seperti jalan hidupnya yang tak pernah lurus. Laptopnya terbuka di pangkuan, layarnya menampilkan gambar tiga dimensi rumah Menteng yang harus direvisi. Jemarinya mengetuk-ngetuk sisi laptop, gelisah. Sudah dua jam ia duduk di kursi kayu dekat jendela kamarnya, tapi pikirannya menolak untuk fokus. Dari lantai bawah terdengar dentingan panci. Aroma kunyit dan serai mengambang naik, menembus celah ventilasi kamar. Ibunya sedang memasak—mungkin pepes ikan yang tadi pagi disebutkannya. Suara radio samar-samar terdengar, siaran langganan ibunya yang selalu diputar saat memasak. Lagu keroncong lama, nyanyian Waljinah yang melantun lembut tentang rindu dan perpisahan. Amira menutup laptopnya perlahan. Pekerjaannya tak bergerak maju. Bayangan kata-kata ayahnya tadi pagi terus bergema dalam benaknya: *Aku... salah. Sangat... salah.* Apa sebenarnya yang ingin ayahnya bicarakan? Apa yang begitu penting hingga harus disampaikan meski lidahnya kelu dan tubuhnya lemah? Lima tahun ia menghindari percakapan ini, dan kini ketika kesempatan itu datang, ia justru melarikan diri lagi. Seperti benang kusut yang tak berani disentuh, takut malah semakin rumit. Telepon genggamnya bergetar di meja. Nama Dimas berkedip di layar. "Halo," jawabnya, berusaha terdengar profesional. "Amira, maaf mengganggu. Klien menelepon lagi." Suara Dimas terdengar tegang. "Mereka ingin bertemu langsung untuk membahas revisi. Mereka tanya kapan kau kembali ke Jakarta." Amira memejamkan mata. "Aku tidak bisa meninggalkan Bandung sekarang, Dimas. Ayahku masih—" "Aku tahu. Maaf." Dimas menyela dengan nada penuh pengertian yang dibuat-buat. "Tapi ini klien besar. Mereka mungkin akan pindah ke firma lain kalau kita tidak bisa memenuhi keinginan mereka." Panas menjalar di d**a Amira. "Berikan telepon mereka padaku. Biar kujelaskan situasinya." "Sudah kucoba. Mereka tetap ingin bertemu langsung." Jeda sejenak. "Bagaimana kalau kau pulang hanya dua hari? Bertemu mereka, finalisasi desain, lalu kembali ke Bandung. Aku bisa mengatur jadwalnya." Pulang. Lagi-lagi kata itu. Jakarta adalah 'pulang' dalam konteks karirnya. Bandung adalah 'pulang' dalam konteks keluarganya. Dua rumah yang menariknya ke arah berbeda. Dua identitas yang berkelahi dalam dirinya. "Akan kupikirkan," jawabnya akhirnya. "Beri aku waktu sampai besok." Setelah menutup telepon, Amira berdiri dekat jendela, menatap halaman belakang yang kuyup. Pohon flamboyan berdiri tegak menerima cambukan hujan. Dulu, saat kecil, ia dan Adara sering berlarian di bawahnya, menangkap kelopak bunga merah yang berjatuhan seperti konfeti. Ibunya akan berteriak dari dapur, melarang mereka kehujanan. Ayahnya akan tertawa, membiarkan mereka basah sebentar sebelum menyuruh masuk. Kenangan itu kini terasa seperti film lama yang warnanya telah pudar—masih bisa dikenali, tapi kehilangan keceriaannya. Ketukan di pintu menyentaknya kembali ke kenyataan. "Masuk," ucapnya. Ibunya muncul di ambang pintu, mengenakan daster warna ungu tua yang sudah memudar—daster yang sama yang ia ingat dipakai ibunya bertahun-tahun lalu. "Makan siang sudah siap. Turunlah." "Bu," Amira memulai, jemarinya mencengkeram tepi meja. "Ada yang mau kutanyakan." Ibunya terdiam, menunggu. "Apa yang sebenarnya ingin dibicarakan Ayah? Kenapa dia terus minta maaf?" Kerutan di wajah ibunya semakin dalam. Ia menghela napas panjang, lalu melangkah masuk dan menutup pintu. "Ayahmu selalu merasa bersalah sejak kau pergi. Dia merasa dialah yang membuatmu menjauh." "Memang dia, kan?" kata Amira, suaranya bergetar tanpa bisa ia kendalikan. "Dia yang berbohong. Dia yang menyembunyikan semuanya." Ibunya duduk di tepi ranjang, tangannya mengusap seprai dengan gerakan melingkar yang tidak sadar—kebiasaan saat ia sedang mencari kata-kata. "Kita semua punya kesalahan, Mira. Tidak ada yang sempurna." "Ini bukan tentang kesempurnaan, Bu. Ini tentang kejujuran. Tentang kepercayaan." Hening sejenak. Dari luar, suara hujan semakin deras, memukul-mukul atap dengan tidak sabar. "Kau masih marah," ujar ibunya, bukan pertanyaan. "Tentu saja aku masih marah!" Nada suara Amira meninggi, lalu ia segera mengendalikan diri, takut ayahnya mendengar dari kamar sebelah. "Bagaimana aku tidak marah? Seluruh hidupku dibangun di atas kebohongan." Ibunya menatapnya dengan mata yang lelah, mata yang telah menyaksikan terlalu banyak badai kehidupan. "Tidak seluruhnya kebohongan, Mira. Kasih sayang kami padamu tidak pernah bohong. Pengorbanan kami tidak pernah bohong." Amira menggigit bibir, mencoba menahan luapan emosi yang mengancam akan pecah. "Aku perlu waktu, Bu." "Lima tahun belum cukup?" Suara ibunya lembut tapi menusuk. "Berapa lama lagi kau butuhkan untuk memaafkan?" Pertanyaan itu mengambang di udara seperti aroma masakan ibunya—tak bisa dihindari, menusuk ke dalam kesadaran Amira. Berapa lama? Ia sendiri tidak tahu. "Aku... tidak siap membicarakannya sekarang," gumamnya. Ibunya mengangguk pelan, bangkit dari ranjang. "Tidak apa-apa. Tapi ingat, Mira, waktu kita tidak tak terbatas. Ayahmu..." suaranya tercekat, "...mungkin tidak punya banyak waktu lagi." Pintu tertutup di belakang ibunya, meninggalkan Amira dalam keheningan yang menyesakkan. Kata-kata ibunya menggema dalam kepalanya. *Waktu kita tidak tak terbatas*. Selama lima tahun ia bersembunyi di Jakarta, membangun tembok pelindung antara dirinya dan luka masa lalu. Lima tahun berpura-pura keluarganya tidak ada, selain sebagai kenangan yang ia simpan rapat-rapat di sudut tergelap hatinya. Kini, tembok itu mulai retak. Karena penyakit ayahnya. Karena pandangan terluka Adara. Karena kerutan baru di wajah ibunya. Karena waktu yang terus berjalan tanpa peduli pada luka yang belum sembuh. Meja kerjanya yang lama berdiri di sudut kamar, tertutup tumpukan kertas dan buku-buku lama. Terdorong oleh dorongan yang tidak sepenuhnya ia pahami, Amira melangkah ke sana, menyingkirkan debu yang menyelimuti permukaannya. Laci paling bawah meja itu selalu menjadi tempat ia menyimpan rahasia kecilnya—buku harian, surat-surat, dan barang-barang pribadi yang tidak ingin dilihat siapapun. Dengan tangan sedikit gemetar, ia membuka laci itu. Masih di sana, kotak kayu berukir yang dihadiahkan ayahnya pada ulang tahunnya yang ke-15. Di dalamnya tersimpan tumpukan surat dan foto-foto lama. Diambilnya satu amplop berwarna coklat muda yang sudah menguning di tepian. Alamat pengirim dari Yogyakarta, dengan nama yang asing namun sekaligus familiar: Ratna Dewanti. Nafasnya tercekat. Lima tahun lalu, nama ini mengubah seluruh hidupnya. Membongkar rahasia yang selama ini tersembunyi rapat dalam keluarganya. Mengubah bagaimana ia memandang dirinya sendiri, ayahnya, ibunya, dan seluruh masa kecilnya. Amplop itu masih tertutup rapat. Tidak seperti amplop pertama yang datang lima tahun lalu, yang ia buka dengan penasaran tanpa tahu isinya akan menghancurkan segalanya. Amplop ini datang sebulan setelah ia pindah ke Jakarta, dikirim lewat alamat kantornya. Ia tidak pernah memiliki keberanian untuk membukanya. Hujan di luar semakin deras, memukul-mukul atap seperti jemari tidak sabar yang mengetuk pintu. Amira memasukkan kembali amplop itu ke dalam kotak, menutupnya rapat-rapat, lalu mendorong laci hingga tertutup. Belum. Ia belum siap menghadapi kebenaran lain yang mungkin tersembunyi di dalamnya. Ponselnya bergetar lagi. Kali ini pesan dari Reza. "*Deadline* proyek dimajukan. Klien ingin presentasi final minggu depan. Dimas hampir gila. Tolong segera konfirmasi kapan kau kembali." Amira mendesah, memasukkan ponsel ke dalam saku. Pesan itu seperti tali yang menariknya kembali ke dunia lain—dunia di mana ia adalah Amira sang arsitek berbakat, bukan Amira si anak yang terluka. Dunia di mana ia memiliki kendali, di mana setiap garis yang ia gambar memiliki tujuan dan makna yang jelas. Dunia yang jauh lebih sederhana daripada rumah penuh kenangan ini. Dari lantai bawah, suara ibunya memanggil untuk makan siang. Amira memejamkan mata sejenak, menarik napas dalam-dalam, lalu melangkah ke pintu. Setiap langkah terasa berat, seperti menuruni tangga yang tak berujung. Di meja makan, Adara sudah duduk dengan mata tertuju pada ponselnya. Ibunya sibuk menata piring dan mangkuk. Sementara kursi di ujung meja—kursi ayahnya—berdiri kosong seperti kehadiran tak kasatmata yang membayangi mereka bertiga. "Aku akan menyuapi Ayah dulu," kata ibunya, mengisi piring kecil dengan nasi dan pepes ikan yang sudah dihaluskan. "Biar aku saja, Bu," Amira mendengar dirinya berkata, setengah terkejut oleh tawarannya sendiri. "Ayah tadi bilang ingin aku yang menyuapinya." Ibunya tampak terkejut, tapi segera mengangguk. "Baiklah. Hati-hati, jangan terlalu banyak sekaligus." Amira mengambil piring dari tangan ibunya dan naik ke lantai atas. Jantungnya berdegup kencang. Ia tahu, dengan menawarkan diri menyuapi ayahnya, ia membuka pintu pada percakapan yang tadi pagi berusaha ia hindari. Tapi mungkin, setelah lima tahun melarikan diri, sudah waktunya ia berhenti berlari. Pintu kamar ayahnya setengah terbuka. Prasetyo terbaring dengan mata terpejam, tapi Amira tahu ia tidak tidur. Ia mengenali kerutan kecil di antara alis ayahnya—tanda bahwa pikirannya sedang aktif bekerja, mungkin mencerna kata-kata atau kenangan. "Ayah," panggilnya lembut. "Makan siang." Mata Prasetyo terbuka perlahan, wajahnya seketika berubah cerah melihat Amira yang membawa piring. Senyum tipis mengembang di bibirnya yang sedikit tertarik ke satu sisi—senyum yang terasa menyakitkan untuk dilihat, perpaduan antara kebahagiaan dan ketidakberdayaan. "Mira..." ucapnya, suaranya seperti bisikan angin yang hampir tak terdengar. "Iya, Yah. Aku yang akan menyuapi Ayah hari ini." Amira duduk di tepi ranjang, mengaduk-aduk pepes ikan yang sudah dihaluskan. Aroma serai dan daun kemangi yang khas menguap dari piring, mengingatkannya pada makan siang keluarga mereka dulu—makan siang yang selalu ditunggu-tunggu ayahnya setelah seharian mengajar. Dengan hati-hati ia menyendok makanan, menyuapkannya ke mulut ayahnya yang sedikit terbuka. Prasetyo mengunyah perlahan, kesulitan, tapi matanya memancarkan rasa syukur yang membuat Amira harus menelan gumpalan di tenggorokannya sendiri. "Enak?" tanyanya, mengulurkan tisu untuk menyeka sudut bibir ayahnya yang basah. Prasetyo mengangguk. Untuk beberapa suapan berikutnya, mereka tenggelam dalam keheningan yang hanya diisi oleh suara hujan di luar dan detak jam dinding tua yang sejak dulu menggantung di kamar ini. "Kita... perlu... bicara," ucap ayahnya tiba-tiba di antara dua suapan. Amira menghentikan gerakannya. Tangannya yang memegang sendok sedikit gemetar. Inilah saat yang ia takuti. Inilah momen yang selama lima tahun ia hindari. "Tentang apa, Yah?" tanyanya, pura-pura tidak mengerti. "Ratna." Satu kata itu meluncur dari bibir ayahnya dengan jelas, tanpa terbata-bata, seolah nama itu memiliki kekuatan untuk mengatasi kelumpuhan sementara tubuhnya. Amira merasakan bulu kuduknya meremang. Ratna Dewanti. Nama yang tertulis di amplop dalam laci mejanya. Nama yang mengubah hidupnya. "Aku tidak mau membahasnya sekarang, Yah," gumamnya, kembali menyendok makanan. "Mira," ayahnya menggenggam tangannya, menghentikan gerakan sendok. "Aku... mungkin... tidak... punya... banyak... waktu." "Jangan bicara seperti itu," kata Amira tegas. "Ayah akan sembuh." Prasetyo menggeleng lemah. "Dengarkan... aku. Sekali... ini... saja." Hujan di luar semakin deras, memukul-mukul atap dan jendela seperti genderang perang. Kilat menyambar, diikuti gemuruh guntur yang menggetarkan kaca jendela. Badai—baik di luar maupun di dalam hati Amira. Ia meletakkan piring di nakas, tak lagi pura-pura fokus pada kegiatan menyuapi. Wajahnya terasa panas, campuran antara marah, sedih, dan takut. "Apa yang ingin Ayah katakan tentang wanita itu?" "Dia... bukan... orang... jahat," kata Prasetyo perlahan. "Dia... hanya... korban... sepertimu." "Korban?" Amira mendengus pahit. "Dia adalah wanita yang telah tidur dengan suami orang, Yah. Dengan ayahku. Bagaimana dia bisa jadi korban?" Prasetyo memejamkan mata, seolah kesakitan mendengar kata-kata Amira. Ketika matanya kembali terbuka, ada kesedihan mendalam di sana yang membuat Amira ingin memalingkan wajah. "Bukan... seperti... itu," ucapnya. "Semua... lebih... rumit." Amira bangkit dari tepi ranjang, berjalan ke jendela. Di luar, pohon flamboyan menari-nari liar diterjang angin dan hujan. Beberapa kelopak bunganya yang merah rontok, tersapu air, mengalir di tanah seperti darah yang terbilas. "Apa yang lebih rumit dari seorang ayah yang ternyata punya anak lain di luar nikah?" bisiknya, lebih pada dirinya sendiri. Tapi Prasetyo mendengarnya. "Kau... belum... baca... surat... nya?" Amira berbalik, menatap ayahnya dengan terkejut. "Bagaimana Ayah tahu tentang surat itu?" "Ratna... bilang... padaku," jawab Prasetyo. "Dia... mengirim... padamu... lewat... kantormu." Tenggorokan Amira tercekat. Lima tahun ia menyimpan surat itu, tidak berani membukanya, tidak berani menghadapi kebenaran lain yang mungkin lebih menyakitkan. "Kenapa Ayah tidak bilang dari dulu?" tanyanya, suaranya bergetar. "Kau... menghilang," jawab Prasetyo sederhana, kata-kata yang menusuk Amira seperti belati. Benar, ia yang menghilang. Ia yang memutuskan kontak. Ia yang melarikan diri dari kenyataan yang terlalu menyakitkan untuk dihadapi. "Bacalah... surat... itu," lanjut ayahnya. "Kau... perlu... tahu... semuanya." Amira mendekati ranjang lagi, mengambil piring yang tadi diletakkannya. "Sebaiknya Ayah menghabiskan makan siang dulu. Kita bisa bicara lagi nanti." Prasetyo menggeleng, keras kepala seperti yang selalu Amira ingat. "Janji... padaku. Kau... akan... baca... surat... itu." Amira menatap mata ayahnya yang memohon. Ada ketakutan di sana—ketakutan akan waktu yang semakin menipis, akan kesempatan yang mungkin tak akan datang lagi. "Aku janji," bisiknya akhirnya. Di luar, hujan mulai mereda, menetes-netes pelan dari tepi atap. Sinar matahari malu-malu mengintip dari celah awan, menciptakan pelangi samar di kejauhan. Seolah alam pun memberi isyarat bahwa setelah badai, selalu ada kesempatan untuk kejelasan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN