Bab 19

1416 Kata
Setahun berlalu sejak gazebo peringatan Sekar berdiri kokoh di bawah naungan flamboyan. Musim berganti seperti halaman buku yang dibalik angin, membawa perubahan yang meresap perlahan bagai air ke dalam tanah kering. Pagi itu, Amira berdiri di beranda studio arsitekturnya yang kini telah berkembang. Dinding-dinding putih kini dipenuhi sketsa dan maket, cermin dari mimpi-mimpi yang tak lagi ditahan. Sinar mentari pagi menerobos jendela-jendela tinggi, memantul pada permukaan meja gambar dari kayu jati yang mengilat keemasan. Di sudut ruangan, tiga orang asistennya sibuk membungkuk di atas kertas biru bergaris-garis teknik—sarjana muda arsitektur yang datang dengan mata berbinar, haus akan pengetahuan dan pengalaman. Persis seperti dirinya dulu. "Bu Amira," panggil Laras, asisten termudanya. "Revisi untuk perpustakaan kota sudah selesai." Amira mengangguk, menerima gulungan kertas besar yang disodorkan. Jemarinya yang lentik membuka gulungan itu, mata terlatihnya menyusuri setiap garis dan lengkungan dengan teliti. "Bagus," gumamnya. "Tapi perbaiki lagi pencahayaan di sayap timur. Gunakan lebih banyak lubang cahaya alami." Laras mencatat dengan seksama. Matanya memancarkan kekaguman yang tak bisa disembunyikan—kekaguman pada perempuan yang dalam setahun berhasil membangun nama di kancah arsitektur nasional tanpa mengorbankan nilai-nilai kemanusiaan dalam rancangannya. Telepon di meja berdering nyaring. Amira melangkah mendekat, mengangkat gagang telepon hitam klasik yang sengaja dipilihnya sebagai sentuhan nostalgia di tengah teknologi digital studionya. "Studio Sekar, selamat pagi." Nama itu—Sekar—kini terasa wajar meluncur dari bibirnya. Nama untuk studio yang dipilih dengan kesadaran penuh akan makna dan beban yang diembannya. Setiap proyek yang keluar dari tempat ini membawa serpihan jiwa adik yang tak pernah ditemuinya, terjalin dalam setiap garis dan ruang yang dirancang dengan penuh pertimbangan. "Ah, Pak Mahendra," senyum mengembang di wajahnya. "Ya, saya baru saja akan menghubungi Bapak. Rumahnya sudah siap ditempati sepenuhnya minggu depan." Proyek Menteng—proyek yang hampir ditinggalkannya setahun lalu—kini telah mencapai titik akhir. Rumah megah bergaya tropis modern itu telah berdiri dengan anggun di antara pepohonan rindang, memadukan keterbukaan dan privasi dalam harmoni yang sempurna. Seperti hidupnya kini. "Tentu, saya akan hadir dalam peresmiannya," Amira menutup pembicaraan. Ia meletakkan gagang telepon, menatap keluar jendela studionya yang terbuka lebar. Kota Bandung terbentang di bawahnya, atap-atap rumah dan gedung-gedung berjajar seperti teka-teki tiga dimensi. Di kejauhan, gunung-gunung biru berbaris dalam pelukan kabut tipis. Sudah setahun. Setahun sejak pertemuan penuh makna di gazebo. Setahun sejak air mata mereka bercampur dalam kesedihan dan kelegaan yang tak terucapkan. Setahun sejak keluarganya menemukan bentuk baru—bentuk yang tak biasa, bentuk yang tak masuk dalam kotak-kotak konvensional, namun terasa begitu pas, begitu benar. Ratna kini resmi menjadi bagian dari kehidupan mereka. Setiap dua bulan, wanita itu datang dari Yogyakarta, membawa cerita-cerita baru, puisi-puisi segar, dan kehangatan yang menyusup ke setiap sudut rumah bergenting merah. Kedatangannya selalu disambut tawa renyah Prasetyo, masakan istimewa Hapsari, dan pelukan erat Amira dan Adara. Tak ada lagi kecanggungan, tak ada lagi rahasia yang menggantung berat di udara. Suara ketukan di pintu mengalihkan perhatiannya. "Masuk," ucapnya tanpa menoleh. "Maaf mengganggu, Bu," Toni, sopir studio muncul dengan senyum sopan. "Mobil sudah siap. Kita berangkat ke rumah sekarang?" Amira mengangguk, melirik arloji di pergelangan tangannya. Hampir tengah hari—waktunya makan siang keluarga, ritual mingguan yang tak pernah dilewatkannya lagi. Ia meraih tas dan jasnya, memberi beberapa instruksi terakhir pada asistennya sebelum melangkah keluar. Jalanan Bandung dipenuhi kendaraan dan pejalan kaki. Tukang jualan meneriakkan dagangannya, klakson bersahutan membentuk simfoni kota yang akrab di telinga. Mobil melaju perlahan, berbelok ke arah kompleks perumahan yang tak berubah banyak sejak masa kecilnya. Pohon-pohon rindang masih berdiri kokoh di sepanjang jalan, meski beberapa telah tumbang digantikan yang baru. Rumah bergenting merah menyambut dengan pintu terbuka lebar. Dari kejauhan, Amira bisa melihat ayahnya duduk di beranda depan, tidak lagi dengan tongkat, tubuhnya kembali tegap meski usia telah meninggalkan jejaknya dalam uban yang memutih sempurna. Di sampingnya, Hapsari dan Ratna tampak berbincang hangat, sesekali tertawa bersama seperti sahabat lama. Dan mereka memang sahabat lama—sekaligus lebih dari itu, ikatan yang tak bisa dijelaskan dalam kata-kata sederhana. "Akhirnya datang juga," sambut Prasetyo saat Amira melangkah masuk ke halaman. "Hampir saja kami mulai makan tanpa menunggumu." "Maaf, Ayah," Amira mencium pipi ayahnya yang keriput. "Pekerjaan menggunung di studio." "Selalu begitu alasannya," goda Ratna, bangkit untuk memeluknya. "Persis seperti ayahmu dulu, tenggelam dalam pekerjaan sampai lupa waktu." "Buah jatuh memang tak jauh dari pohonnya," Hapsari tersenyum, mengelus rambut putrinya dengan sayang. "Ayo masuk, makanannya sudah siap. Adara sudah menunggu di dalam." Meja makan keluarga penuh dengan hidangan—nasi putih mengepul, semur daging yang menguarkan aroma kayu manis dan pala, sayur lodeh dengan santan kental, sambal terasi, dan perkedel kentang yang garing di luar lembut di dalam. Aroma yang menyatu dalam kenangan masa kecil, aroma yang dulu sempat ia tinggalkan. "Bagaimana studionya hari ini?" tanya Adara sambil mengambilkan nasi untuk Ratna. "Sibuk seperti biasa," Amira menyendok sayur lodeh ke piringnya. "Proyek perpustakaan kota banyak revisi. Tapi proyek Menteng sudah selesai. Minggu depan peresmiannya." "Kau sudah jauh melangkah," ucap Prasetyo, matanya memancarkan kebanggaan yang tak dibuat-buat. "Dari melarikan diri menjadi membangun kembali." Kata-kata sederhana namun menusuk tepat ke inti. Amira tersenyum tipis, mengangguk pelan. Ya, ia memang telah jauh melangkah. Dari gadis yang melarikan diri dari luka, menjadi wanita yang menghadapi dan mengubah luka itu menjadi kekuatan. Makan siang berlangsung hangat dengan obrolan yang mengalir bebas. Ratna bercerita tentang mahasiswa-mahasiswanya di Yogya, Adara tentang proyek barunya di kantor, Hapsari tentang murid-murid SD-nya yang menggemaskan. Prasetyo kebanyakan mendengarkan, sesekali menimpali dengan komentar bijak yang selalu tepat sasaran. Usai makan, mereka berkumpul di gazebo peringatan Sekar yang kini dinaungi rimbun bunga flamboyan. Pohon itu semakin tinggi dalam setahun, menghasilkan teduh sempurna di tengah hari, dan hujan kelopak merah saat angin bertiup kencang. Lantai gazebo selalu dipenuhi kelopak merah—seperti permadani alami yang terus diperbarui alam, mengingatkan bahwa keindahan bisa lahir dari yang berguguran. "Minggu depan tepat setahun," ucap Ratna pelan, tangannya membelai foto Sekar di tengah gazebo. "Setahun sejak surat terakhirnya kita baca bersama." Mereka terdiam, masing-masing tenggelam dalam pikiran sendiri. Setahun sejak akhirnya keluarga mereka menemukan bentuknya yang utuh. Setahun berlalu dengan cepat namun membawa perubahan yang dalam. "Aku ingin membuat pengumuman," ucap Amira tiba-tiba, menarik napas dalam. "Setelah proyek perpustakaan kota selesai, aku berencana mengajukan diri untuk merancang rumah singgah bagi anak-anak penderita leukemia." Keheningan sesaat, lalu Ratna adalah yang pertama bereaksi. Matanya berkaca-kaca, tangannya menggenggam jemari Amira. "Sekar akan sangat bangga." "Aku ingin diberi nama 'Rumah Sekar'," lanjut Amira, suaranya sedikit bergetar. "Tempat anak-anak bisa merasakan rumah sesungguhnya selama menjalani pengobatan. Dengan banyak jendela besar dan teras luas, persis seperti impian Sekar." Air mata Hapsari jatuh tanpa suara. Prasetyo merangkul pundak istrinya, matanya pun berkaca-kaca. Adara tersenyum lembut, mengangguk mantap. "Idemu sempurna," ucap Prasetyo. "Mengubah kehilangan menjadi harapan bagi yang lain." Angin berhembus lembut, membawa aroma tanah dan rumput basah. Kelopak-kelopak flamboyan kembali berguguran, menari-nari di udara sebelum mendarat lembut di sekitar mereka—seperti doa-doa yang dikirim dari alam, seperti restu dari jiwa yang tak terlihat namun selalu hadir. Malam merangkak turun saat akhirnya Amira berpamitan pulang. Proyek menunggu, tenggat waktu mengejar. Namun kali ini, ia tidak lagi terjebak dalam pusaran kerja tanpa henti. Ia telah menemukan keseimbangan—antara ambisi dan kasih sayang, antara pencapaian dan kehadiran yang bermakna. "Hati-hati di jalan," pesan Hapsari, memeluknya erat di beranda. "Jangan lupa istirahat cukup." "Tenang, Bu," Amira tersenyum, mencium pipi ibunya. "Aku selalu ingat pesanmu." Mobil melaju perlahan meninggalkan pekarangan. Dari kaca spion, Amira masih bisa melihat keluarganya berdiri di beranda—ayahnya yang kembali sehat, ibunya yang selalu tegar, Ratna yang akhirnya menemukan tempat dalam lingkaran mereka, dan Adara yang menjadi pengikat tak terpisahkan di antara mereka semua. Langit malam Bandung bertabur bintang, bulan separuh mengintip malu-malu dari balik awan tipis. Jalanan kota mulai lenggang, lampu-lampu jalan menerangi aspal yang basah setelah gerimis sore tadi. Mobil berbelok menuju studio Amira yang masih menyala lampunya—mungkin asistennya masih bekerja mengejar tenggat waktu, persis seperti yang dulu sering dilakukannya. Tapi malam ini ia tidak akan lembur. Malam ini ia akan pulang ke apartemen barunya, membuka jendela lebar-lebar, membiarkan angin malam Bandung membelai wajahnya, dan mungkin menulis beberapa ide untuk Rumah Sekar yang akan dirancangnya. Ia akan tidur dengan perasaan damai, tahu bahwa besok ia akan bangun untuk membangun lagi—bukan hanya bangunan fisik, tapi juga hubungan-hubungan yang sempat retak. Karena itulah yang dilakukan seorang arsitek sejati. Membangun dan membangun kembali. Merancang ruang yang tidak hanya untuk berlindung, tapi untuk hidup sepenuhnya. Menciptakan rumah yang tidak hanya terdiri dari kayu dan batu, tapi dari kenangan dan harapan. Rumah yang kita bangun—bukan dengan tangan, tapi dengan hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN