Lima musim berganti. Lima kali bunga flamboyan berguguran, menciptakan hujan kelopak merah di atas gazebo peringatan. Lima tahun sejak luka terdalam keluarga Prasetyo terungkap dan perlahan merajut diri menjadi tapestri kehidupan yang lebih kaya, lebih utuh.
Pagi merayapi "Rumah Sekar" dengan cahaya keemasan yang lembut. Bangunan dua lantai bercat putih gading itu berdiri menghadap timur, menyambut matahari dengan jendela-jendela lebar yang menelan cahaya tanpa takut. Bukan sekadar gedung, bukan hanya rangkaian bata dan kayu, tapi manifestasi materi dari cinta yang tak sempat terucap, dari pertemuan yang tak pernah terwujud.
Amira melangkah perlahan di koridor lantai dua, jemarinya menyusuri dinding yang dihiasi lukisan-lukisan anak. Cat air berceceran membentuk matahari, rumah, dan figur-figur sederhana dengan senyum lebar—hasil karya pasien-pasien kecil yang menemukan kebebasan berekspresi di tengah pertarungan melawan sel-sel darah yang memberontak dalam tubuh mereka.
"Bu Amira!" suara cempreng memanggilnya dari salah satu kamar. Gadis kecil berkepala botak dengan selang infus menancap di tangan mungilnya melambai dari ranjang. "Lihat, aku bisa melukis kupu-kupu!"
Amira mendekat, berjongkok di samping ranjang. Kertas gambar di pangkuan Nisa dipenuhi goresan warna-warni membentuk sayap-sayap lebar yang hampir memenuhi halaman.
"Cantik sekali," puji Amira, mengusap kepala anak itu dengan lembut. "Warnanya mirip kupu-kupu yang hinggap di taman kita kemarin."
"Iya! Yang oranye dengan bintik-bintik hitam itu!" Nisa tertawa, tawa yang menular seperti cahaya, membuat Amira ikut tersenyum. "Kata Bu Dokter, kalau kupu-kupu suka datang ke tempat tertentu, berarti tempat itu penuh cinta."
Tenggorokan Amira tercekat. Dari mulut anak-anak, kebenaran terdalam sering meluncur tanpa beban.
Rumah Sekar memang dibangun dengan cinta—dari fondasi hingga atapnya. Tiga tahun yang lalu, tanah di pinggiran Bandung ini hanyalah lahan kosong dengan beberapa pohon tua. Kini, menjadi tempat perlindungan bagi puluhan anak pengidap leukemia yang membutuhkan rumah kedua selama menjalani pengobatan panjang.
"Bu Amira," panggil Nisa lagi, suaranya merendah menjadi bisikan. "Aku boleh tanya sesuatu?"
"Tentu saja, sayang."
"Sekar itu siapa? Kok namanya ada dimana-mana?"
Pertanyaan polos yang menghujam tepat ke jantung. Amira menarik napas panjang, memilih kata-kata dengan hati-hati. "Sekar adalah adikku. Adik yang sangat istimewa."
"Dia juga sakit seperti aku?"
"Ya. Dia juga berjuang melawan leukemia, sama sepertimu."
"Apa dia sembuh?"
Senyap merayap sejenak. Di luar jendela, daun-daun berdesir ditiup angin, menciptakan bisikan yang terdengar seperti jawaban dari alam.
"Sekar pergi sebelum kami sempat bertemu," jawab Amira akhirnya, kejujuran yang tak lagi menyakitkan. "Tapi dia meninggalkan banyak cinta untuk dibagikan. Rumah ini adalah caraku membagi cinta itu."
Nisa mengangguk seolah memahami konsep yang terlalu besar untuk anak seusianya. Tangannya yang kecil meraih tangan Amira, meremasnya lembut. "Kalau begitu, Sekar pasti senang sekali melihat rumah ini dari surga."
Air mata menggenang di pelupuk mata Amira, namun tidak jatuh. Bukan air mata kesedihan, melainkan haru yang meluap seperti mata air yang akhirnya menemukan jalan keluar setelah lama terpendam di perut bumi.
"Ya, Nisa. Aku yakin dia sangat senang."
Dering telepon memecah keheningan. Amira bangkit, mengusap rambut Nisa sekali lagi sebelum melangkah keluar. Koridor rumah singgah dialiri cahaya dari jendela-jendela tinggi di setiap sisi, menciptakan pola cahaya yang menari di lantai kayu.
"Bu Amira," salah seorang perawat menghampirinya, "Ada telepon dari rumah. Ayah mencari ibu."
"Terima kasih, Mbak Tari."
Di ruang staf, Amira mengangkat telepon dengan hati berdebar. Ayahnya jarang menelepon ke Rumah Sekar kecuali ada hal penting.
"Ayah? Ada apa?"
"Mira," suara Prasetyo terdengar bergetar. "Bisa pulang sekarang? Ratna... Ratna tiba-tiba kolaps tadi pagi."
Dunia Amira seakan berhenti berputar. Napasnya tertahan di tenggorokan. "Apa? Bagaimana bisa? Bukannya Tante Ratna baru tiba dari Yogya kemarin?"
"Dokter masih memeriksanya. Tampaknya serangan jantung ringan. Tapi dia... dia terus menyebut namamu dan Sekar."
Jantung Amira berdentum kencang. Tujuh tahun sejak ia kembali ke Bandung, lima tahun sejak keluarga mereka menemukan bentuk utuhnya, semuanya terasa begitu rapuh tiba-tiba.
"Aku segera pulang, Ayah."
Langit Bandung menggantung kelabu saat Amira melaju di jalanan kota. Awan tebal berarak rendah, membawa ancaman hujan yang tak kunjung turun—seperti kesedihan yang mengambang tanpa menemukan jalan keluar. Kecemasannya menebal seperti kabut, merayapi setiap sudut pikiran.
Ratna, wanita yang dulu dibencinya tanpa pernah ia kenal, kini menjadi sosok yang tak tergantikan dalam hidupnya. Pertemuan mereka di Yogya lima tahun lalu membuka pintu pemahaman yang selama ini tertutup rapat. Melalui Ratna, ia mengenal Sekar lebih dalam. Melalui Ratna pula, ia memahami bentuk cinta yang melampaui definisi sempit masyarakat.
Mobil berbelok memasuki halaman rumah bergenting merah. Jantung Amira mencelos melihat ambulans terparkir di depan. Tidak lagi. Tidak seperti dulu saat ia baru kembali dan mengira ayahnya telah pergi.
Ia bergegas masuk, menemukan ibunya dan Adara duduk tegang di ruang tamu. Wajah keduanya pucat, mata mereka sembab.
"Bu, bagaimana Tante Ratna?" tanyanya terengah.
"Dokter masih di dalam," jawab Hapsari, suaranya serak. "Ayahmu menemani."
Amira menjatuhkan diri di sofa, seluruh tenaganya seakan tersedot keluar. Adara meraih tangannya, meremasnya lembut—dukungan tanpa kata yang menguatkan. Mereka duduk dalam keheningan yang mencekam, hanya denting jam dinding yang terdengar seperti detak jantung rumah yang cemas.
Pintu kamar tamu terbuka. Seorang dokter keluar diikuti Prasetyo yang wajahnya diliputi kelelahan.
"Bagaimana, Dok?" Amira bangkit, tak mampu menahan kecemasannya.
"Serangan jantung ringan," dokter menjawab tenang. "Kondisinya sudah stabil, tapi perlu istirahat total beberapa hari. Usianya tidak muda lagi, jangan sampai terlalu banyak aktivitas."
Kelegaan mengalir seperti air bah, mengikis kecemasan yang menggumpal di d**a Amira. "Boleh kami menemuinya?"
"Tentu, tapi jangan terlalu lama. Dia butuh istirahat."
Kamar tamu yang selalu ditempati Ratna saat berkunjung kini terasa berbeda. Tirai jendela ditutup separuh, menciptakan remang yang menenangkan. Ratna berbaring di ranjang, wajahnya pucat namun matanya terbuka, memancarkan kekuatan yang tak pernah pudar meski tubuhnya lemah.
"Ah, akhirnya datang juga arsitek kita," sapanya, berusaha tersenyum. "Maaf membuat kalian khawatir."
Amira mendekat, duduk di tepi ranjang. Tangannya menggenggam jemari Ratna yang kini berkeriput dan berbintik-bintik usia. "Tante tidak boleh menakut-nakuti kami seperti ini."
"Tiba-tiba saja dadaku sesak," Ratna menjelaskan, suaranya lemah namun jernih. "Saat melihat foto-foto Sekar di gazebo. Mungkin... mungkin waktuku sudah tidak banyak lagi."
"Jangan bicara seperti itu," Hapsari menyela, duduk di sisi ranjang yang lain. Tangannya mengusap lembut rambut Ratna yang kini memutih sepenuhnya.
"Kita harus realistis, Hap," Ratna tersenyum tipis. "Kita sudah tidak muda lagi. Dan aku... aku punya permintaan untuk Amira."
Amira mendekat, jantungnya kembali berdegup kencang. "Apa itu, Tante?"
"Aku ingin dimakamkan di samping Sekar," bisik Ratna. "Dan aku ingin kau yang merancang nisanku. Buatlah seindah mungkin, seperti kau membuat gazebo itu."
Air mata yang sedari tadi ditahan Amira akhirnya luruh. Tubuhnya bergetar menahan isakan. "Tante masih akan hidup lama. Masih banyak yang harus Tante lihat. Rumah Sekar baru beroperasi tiga tahun, masih banyak anak-anak yang ingin bertemu Tante..."
Ratna mengangkat tangannya yang lemah, menyeka air mata Amira. "Aku tidak akan pergi besok, sayang. Tapi kita harus siap, bukan? Hidup adalah proses melepaskan."
Hujan akhirnya turun di luar, mengetuk-ngetuk genting dengan ritme yang familiar. Langit yang sedari tadi menahan tangis kini membiarkan airnya jatuh bebas, seperti jiwa yang akhirnya menemukan kedamaian dalam kejujuran.
Malam merayap seperti tinta hitam yang diteteskan ke atas kertas putih. Ratna tertidur, dipayungi pengawasan dokter yang memutuskan menginap untuk memantau kondisinya. Keluarga Prasetyo berkumpul di gazebo peringatan Sekar yang kini menjadi pusat gravitasi rumah mereka.
Di bawah naungan atap kayu, ditemani derasnya hujan yang menciptakan tirai air di sekeliling mereka, mereka duduk melingkar. Lilin-lilin kecil dinyalakan, menciptakan lingkaran cahaya keemasan yang bergoyang-goyang ditiup angin.
"Aneh," gumam Amira, menatap foto Sekar di tengah gazebo. "Dulu kita berkumpul di sini untuk membaca surat terakhirnya. Kini kita kembali berkumpul, ketakutan akan kehilangan lagi."
"Hidup memang lingkaran yang terus berputar," Prasetyo menyahut, suaranya dalam dan bijak meski usia telah meninggalkan jejak kelelahan di dalamnya. "Kita lahir, kita tumbuh, kita mencintai, kita kehilangan, kita sembuh, lalu kita kehilangan lagi."
"Tapi kita tidak pernah benar-benar kehilangan, kan?" Adara menyela. "Sekar tidak pernah benar-benar pergi. Buktinya, kehadirannya justru yang membawa kita kembali bersama."
Hapsari mengangguk, matanya menatap api lilin yang menari-nari. "Dan Ratna... dia akan selalu menjadi bagian dari kita, apapun yang terjadi."
Amira menatap keluarganya satu per satu—ayahnya yang kini kembali sehat meski usia semakin menorehkan garis-garis di wajahnya, ibunya yang tetap tegar seperti pohon yang menantang badai, Adara yang tumbuh menjadi perempuan bijak dengan kelembutan yang menenangkan. Dan secara tak kasat mata, kehadiran Sekar dan Ratna mengisi ruang di antara mereka—ikatan tak terlihat yang menyatukan kepingan-kepingan keluarga yang sempat retak.
"Kita akan baik-baik saja," bisik Amira, lebih kepada dirinya sendiri. "Kita sudah melewati yang terburuk. Kita sudah belajar menghadapi alih-alih melarikan diri."
Di luar, hujan mulai mereda. Rintik-rintik yang semula deras kini melembut menjadi gerimis, lalu tetes-tetes terakhir yang jatuh dari dedaunan. Angin bertiup lembut, membawa aroma tanah basah dan rumput yang menyegarkan—aroma kehidupan yang terus bergerak maju meski setelah badai terhebat.
Bulan menyembul malu-malu dari balik awan yang berarak, mencurahkan cahaya perak ke atas gazebo. Kelopak-kelopak flamboyan yang basah berkilauan tertimpa cahaya, menciptakan taburan permata merah di sekeliling mereka.
"Lihatlah," Prasetyo menunjuk ke arah bulan. "Setelah hujan selalu ada kejelasan."
Amira mendongak, menatap langit malam yang kini bertabur bintang. Satu lingkaran kehidupan hampir tertutup, sementara lingkaran baru mulai terbentuk. Lima tahun lalu ia kembali ke rumah ini dengan luka menganga, dengan kemarahan yang menggumpal. Kini ia duduk di tempat yang sama dengan pemahaman yang meresap hingga ke sumsum tulang—bahwa rumah bukanlah sekadar bangunan fisik, melainkan ruang di mana jiwa menemukan tempat bernaung.
"Kita telah membangun kembali," bisiknya pada keheningan malam. "Bukan hanya rumah, tapi juga diri kita sendiri."
Dan di bawah langit Bandung yang kembali cerah setelah hujan, gazebo peringatan Sekar berdiri kokoh seperti mercusuar di tengah gelombang kehidupan yang tak pernah berhenti bergerak. Mengingatkan siapapun yang singgah bahwa dari kehilangan terdalam sekalipun, manusia memiliki kemampuan luar biasa untuk membangun kembali—dari puing-puing kesalahpahaman, dari reruntuhan kepercayaan yang hancur, dari abu harapan yang sempat padam.
Rumah yang kita bangun, pada akhirnya, adalah tempat di mana kita belajar jatuh dan bangkit kembali. Tempat di mana cinta, dalam segala bentuknya yang rumit, menemukan ruang untuk bernapas dan tumbuh.