Sepuluh tahun berlalu sejak hujan kelopak flamboyan pertama kali menari di atas gazebo peringatan. Sepuluh musim berbeda telah merangkak, merayap, dan berlari, seperti waktu yang tak pernah bisa ditahan—kadang melambat saat bahagia mekar sempurna, kadang berderap kencang saat kehilangan menyapa tanpa permisi. Amira berdiri di bawah pohon flamboyan yang kini menjulang dua kali lebih tinggi, menatap gazebo kayu yang telah sedikit dimakan usia tapi tetap kokoh dalam keberadaannya. Usianya kini empat puluh dua, beberapa uban mulai menyelip di antara helai-helai hitam rambutnya. Garis-garis halus menghiasi sudut matanya—kerutan tawa, jejak dari senyum dan tangis yang telah mengukir hidupnya. Tangannya tak lagi muda, tapi semakin terampil dan yakin saat menggoreskan pensil di atas kertas, meran

