Cold-15

1899 Kata
Mengenakan pakaian serba hitam, Andrea pun sudah siap pergi ke tempat dimana yang sudah disebutkan oleh Josephine. Wanita itu mengendarai mobil mewahnya yang berwarna hitam pula. Melajukan dengan kecepatan di atas rata-rata, Andrea pun sampai di tempat itu hanya membutuhkan waktu dua puluh menit saja. Dan lihatlah, semua orang langsung menyambut Andrea dengan senyum kecilnya. Setidaknya mereka menghormati bosnya yang baru saja datang. "Bos bisa cek dulu. Ada yang kurang atau tidak." kata Joshepine. Andrea mengangguk, dia pun merobek satu plastik yang ada di hadapannya dengan pisau kecil. Mencelupkan satu jarinya, setelah itu menjilatnya. "Rasanya enak." komentar Andrea. "Jadi?" Andrea meminta Josephine untuk mengirim barangnya dengan cepat. Sebelum ada banyak polisi atau mungkin orang yang tahu perkara ini. Ya barang yang baru saja dia coba adalah sebuah sabu yang baru saja dia dapat. Barang itu kembali Andrea juga pada orang-orang yang membutuhkan. Tak hanya sabu, Andrea juga menjual beberapa butiran pil dengan jumlah yang cukup banyak. Dia juga menjual banyak barang ilegal dengan harga fantastis. Merasakan urusannya sudah selesai, Andrea pun meminta Josephine membuka salah satu koper yang ada di hadapannya. Di hadapan wanita itu ada empat koper berwarna abu-abu, tapi yang ada bukan stu koper yang dibuka Josephine tapi empat-empatnya dia buka. Untuk memastikan jika isinya sama tidak ada yang lain. Apalagi jika bukan uang. Mengambil beberapa gebok lalu menaruhnya di atas meja. Andrea menatap satu persatu orang yang ada di tempat ini dengan senyum tipisnya. “Kalian boleh mengambil ini, satu orang satu gepok. Dan pastikan barang itu sampa tujuan dan tidak ada penadah lainnya yang terkena polisi.” “Beres Bos, kita akan berhati-hati.” “Bagus.” Setelah mengatakan hal itu Andrea pun memilih pergi. Dia pun meminta Josephine menyimpan uang itu di tempat yang aman. Andrea pun keluar dari rumah sederhana ini, tapi yang ada wanita itu malah menatap satu pria yang berdiri tak jauh darinya. Pria itu tenah membidik pistol ke arahnya, bahkan sebelum peluru itu mengenai tubuh Andrea. Sudah dipastikan jika pria itu akan tewas lebih dulu. Berjalan mendekat, Andrea bisa melihat wajah pria itu dengan jelas, apalagi pria itu langsung mengarahkan pistolnya ke arah Andrea. “Mau membunuh eh!!” ejeknya. “Ya … aku ingin kamu mati di tanganku.” “Boleh dicoba!” Andrea mundur beberapa langkah dan memasang kuda-kuda. Pria itu juga demikian, menyimpan kembali pistolnya dan mulai menyerang Andrea dengan tangan kosong. Dia merasa sangat berdosa jika harus menyerah Andrea dengan senjata. Sedangkan musuhnya saja datang dengan tangan kosong. tanpa pria itu sadari di balik baju wanita itu, terdapat senjata kecil yang sangat mematikan. Tersenyum puas, ketika pria itu berhasil memukul wajah Andrea, hingga membuat sudut bibir wanita itu berdarah. Pria itu kembali mengarahkan pistolnya ke arah kepala Andrea. Dia meminta Andrea untuk mengatakan pesan terakhirnya, karena setelah ini wanita itu akan mati dan bosnya yang akan memimpin gangster terbesar Andrea. “Aku bahkan ragu jika kamu bisa memimpin. Karena aku … tidak akan membiarkan kamu hidup dengan tenang.” cibir Andrea, “kau akan mati Ea. Apalagi yang akan kau banggakan!! Harusnya aku yang bangga karena bisa membunuhmu, dan mengabadikan tubuhmu nantinya.” Tertawa kecil Andrea pun menatap pria itu sinis. “Baiklah bunuh aku sekarang.” perintah Andrea. Pria itu mulai menarik pelatuknya dengan pelan, tapi yang ada sebelum suara pistol itu terdengar. Yang ada pria itu malah ambruk, menekuk lutut dihadapan Andrea. Tentu saja hl itu langsung membuat Andrea tersenyum tipis. “Sudah aku katakan bukan, jangan berbangga diri dulu, karena aku tidak akan membuat hidupmu tenang.” kata Andrea melihat pria itu hanya mampu mendelik tanpa mengatakan apapun. Bahkan dengan menyebalkannya, Andrea juga sempat menghitung satu sampai tiga hingga membuat pria itu ambruk tak bernyawa. Menginjak punggungnya Andrea pun tersenyum kecil. “Aku tidak suka orang sombong dan menganggap jika dirinya paling hebat. Seharusnya kamu berpikir dua kali dulu sebelum menghajarku Bung! Bukannya darah harus dibalas dengan darah? Dan itu yang sedang aku lakukan terhadapmu!! Dan kau membuat timah racunku habis.” gumamnya. Bahkan untuk mengisinya kembali pun Andrea tidak sempat. Dia pun memilih kembali ke rumah itu, meminta Raka untuk mengisi timah beracunnya. Setelah itu meminta Josephine membawa senjata itu ke rumah, karena saat i ni Andrea harus segera pulang sebelum Keano sampai di rumahnya lebih dulu. *** “Itu sudut bibir berdarah kenapa?” tanya Keano ketika dia melihat sudut bibir Andrea berdarah. Wanita itu menatap Cinta yang ada di sampingnya dengan senyum tipisnya. “Tadi habis berantem sama Cinta. Dia lagi ngejar tikus tapi nggak bisa, minta bantuan aku eh tikusnya ngeselin bikin muka aku kesodok pinggiran meja.” cerita Andrea dan membuat wanita itu mendelik. Mana ada tikus sampai di bawah meja dan membuaut bibir Andrea berdarah? Dan untung saja Keano hanya menganggukkan kepalanya, tanda jika pria itu sangat percaya dengan ucapan Andrea. Pria itu juga mengajak Andrea cepat-cepat untuk ikut dengannya. Bahkan Keano juga berpamitan pada Leo, ketika membawa Andrea pergi. "Jaga rumah!! Kalau ada orang nyariin aku, bilang aku lagi sibuk dan nggak mau diganggu." kata Andrea pada Cinta. Tatapan wanita itu bahkan seperti singa yang siap menerkam mangsanya. Memutar bola matanya malas, Cinta pun mengangguk. Dia pikir dia itu siapa, berani memerintah Cinta seenak jidatnya sendiri. Dipikir Cinta takut sama bos gangster terbesar di dunia ini? Ya takut lah!! Dipikir Cinta nggak sayang nyawa apa. Memasuki mobil Keano, wanita itu masih sempat menggulung rambutnya ala-ala wanita Korea. Yang dimana hal itu malah membuat Keano suka. Mimik wajah seriusnya, yang membuat Keano sulit berpaling dari Andrea. "Kita mau kemana?" tanya Andrea pada akhirnya. "Ke rumah pohon. Aku udah siapin semuanya buat kamu." "Siapin apa?" "Nanti kamu juga tahu. Aku nggak tau sih, kamu suka atau tidak, tapi aku masih berharap kalau kamu akan suka." Wanita itu hanya mengangguk kan kepalanya pelan. Dia pun memilih menyalakan sebuah lagu untuk mengusir keheningan ini. Karena Andrea tahu, jika sudah menyetir seperti ini, Keano lebih fokus pada jalanan ibukota dibanding harus mengajak berbicara Andrea. Namun, ditengah perjalanan mereka tiba-tiba saja ada sebuah mobil yang langsung menembak ke arah ban mobil Keano. Yang dimakan membuat mobil yang ditumpangi mereka pun oleng, dan menabrak pembatas jalan. Keano mengumpat, dan memukul setir mobilnya. Dia pun turun lebih dulu menatap mobil merah yang menyala. Tangannya mengepal sempurna ketika tahu siapa yang berbuat seperti ini padanya. Sedangkan Andrea, dia pun langsung menatap mobil itu dengan heran. Secara plat mobilnya saja dia baru membacanya. Dan yang pasti, Andrea tidak ada urusan sama sekali dengan pemilik mobil itu. Tapi tidak masalah, setelah ini Andrea akan tahu siapa orang dibalik kemudi. "Kamu nggak papa?" tanya Andrea pada Keano yang terlihat sangat marah. "Nggak papa sih. Tapi ban mobilnya bocor. Kamu sendiri nggak papa kan?" Andrea menggeleng, dia akan menelpon temannya untuk mengantarkan satu mobil untuk mereka. Tapi yang ada Keano menolaknya. Dia akan menelpon adiknya untuk mengantarkan mobil untuk mereka. Jangan dampak kejutannya gagal hanya karena tembakannya sekalian itu. Menunggu hampir setengah jam, Aaron dan juga Kenny pun datang. Padahal dia berpikir jika Aaron akan datang bersama dengan Aloysius. Tapi yang ada dia datang bersama dengan Kenny. "M 25 FDK." bisik Keano. Alis Aaron mengerut dia pun menatap Keano heran. Dia datang kesini untuk mengambil mobil, lalu kenapa dia harus mendengar angka yang sulit diingat? "Itu adalah nomor mobil yang nembak ban mobilku. Tolong cari tahu nomor itu, aku ingin tahu siapa yang melakukan ini padaku." bisik Keano kembali ketika melihat wajah bingung Aaron. Setelah tahu, Aaron hanya mengganggu kan kepalanya. Dia pun berpamitan pergi pada Andrea, setelah wanita itu menatapnya sejak tadi. sejujurnya Aaron itu sedikit curiga dengan gelagat Andrea yang menurutnya sama seperti ketika geng gangster. Tapi yang ada Keano menepis hal itu dan menganggap jika Aaron itu berlebihan menilai Andrea. Dia itu wanita biasa, jika dia gangster harusnya Keano tahu sejak dulu bukan? "Calon Kakak ipar balik dulu ya. Awas, Keano belum jinak." kekeh Aaron dan mengundang gelak tawa Kenny. Andrea juga ikut tertawa atas hal itu. "Aku jinakin besok ya." "Jangan lupa juga, kasih makan yang banyak. Soalnya kakak laper dia suka rese." sahut Kenny. Merasa kesal, Keano meminta mereka semua untuk pergi. Tak lupa juga Keano meminta Aaron atau Kenny untuk mengantarkan mobilnya ke bengkel. Jangan sampai mobilnya hilang, ketika Keano pergi bersama dengan Andrea. Bagaimanapun itu mobil berharga bagi Keano. "Bawel!!" cetus Kenny, dengan wajah julidnya. **** Menatap banyak barang di hadapannya, Andrea pun tersenyum kecil. Di rumah pohon ini dihias sedemikian rupa, semuanya warna hitam. Balon pun juga warna hitam, tidak ada warna lain selain warna hitam. Hadiah yang terbuka kebagian di atas meja juga semuanya warna hitam. Kalung angsa warna hitam, jam tangan hitam, dan semuanya serba hitam. Termasuk ada dua gelang berwarna hitam. Tentu saja hal itu langsing membuat Andrea mengambil gelang itu, menatap dua liontin magnet yang menghubungkan satu sama lain. "Ini … kenapa harus dua?" tanya Andrea heran. "Ya kan satunya aku.” Keano mengambil satu gelang memakainya sendiri, setelah itu barulah mengambil satu gelang kembali dan mengenakannya di tangan Andrea. “Berhubung punya aku nggak ada yang memakaikannya, jadi aku mengenakannya sendiri.” Andrea tertawa kecil, dia pun menatap tangannya yang melingkar gelang hitam. Lalu melepaskan gelang yang ada di tangan Keano, dan mengenakannya kembali di tangan Keano. Tes aja hal itu langsung membuat pria itu salah tingkah, dia pun memegangi dadanya dan meringis. “Hah jantungku … berdebar begitu kencang.” kekehnya. Memutar bola matanya malas, Andrea malah lebih fokus pada pistol yang tersenyum di balik vas bunga yang ada di atas bufet. Dia pun melangkah ke bufet itu dan mengambil pistol silver dan mengarahkan pada Keano. Mata pria itu mendelik sempurna, dan merebut pistol itu dari tangan Andrea. “Ada apa? Bukannya itu pistol mainan, kenapa kamu panik, Keano?” Bagaimana tidak panik jika pistol itu bukanlah pistol mainan. Keano sengaja menyembunyikan pistol itu di rumah pohon untuk berjaga-jaga, jika terjadi sesuatu padanya dia masih memiliki senjata untuk melindungi diri. Seperti kemarin, dimana Keanno menghabisi musuhnya dengan pistol ini juga. Dan dia lupa untuk menyimpannya sebelum Andrea datang. “Iya aku tau … tapi kan aku tidak mau terjadi sesuatu denganmu karena pistol mainan ini.” kata Keano. “Benarkah? Sebegitu takutnya kamu ya, kalau aku terluka.” Setelah menyimpan pistolnya, Keano pun mendekati wanita itu yang sudah melipat tangannya di d**a. Tangannya menyentuh sudut bibir wanita itu akan mengusapnya. Membuat Andrea harus menahan rasa sakit di sudut bibir nya. Kalau saja waktu itu Keano tahu siapa yang menyakiti Andrea, luka itu tidak akan pernah ada di wajah cantik wanita itu. Keano akan terus melindungi dan juga menjaga wanita itu sebisa dirinya, apapun akan dia lakukan untuk Andrea. “Kalau begitu buktikan. Aku terluka karena tikus dan meja, coba kau hajar mereka berdua.” kata Andrea dengan wajah polosnya. Keano yang gema spun langsung mengacak rambut Andrea, mana mungkin dia akan bertengkar dengan benda mati dan hewan. Mengusap sudut bibir wajah wanita itu dengan lembut. "Aku bisa mengobatinya." ucap Keano. "Kalau begitu obati saja. Luka ini baru, dan rasanya juga masih sakit." Mendapatkan izin dari sang pemilik bibir, Keano malah menundukkan wajahnya hingga di hadapan Andrea. Dia pun tersenyum kecil, sebelum menempelkan bibirnya pada bibir Amdrea. Mengecup beberapa kali, sebelum Keano benar-benar menggigitnya dengan lembut. Sampai Keano mampu mendengar erangan dari Andrea. Keramas baju yang di dikenakan Andrea, dengan lancang Keano malah menjejalkan lidah nya masuk ke mulut Andrea dan bermain disana. Sedikit demi sedikit, Keano mendorong tubuh wanita itu hingga terlentang sempurna di atas tempat tidur. "Aku menginginkanmu, Andrea. Sangat menginginkanmu." -To Be Continued-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN