Hari itu, selepas jaga pagi, Finka sudah menyiapkan tas kecil berisi beberapa baju ganti. Rina sibuk membantu sambil mengomel.
“Fin, kalau pulang kampung, jangan lupa bawa oleh-oleh buat aku. Minimal keripik singkong, deh.”
Finka melotot. “Aku ini lagi bingung, Rin! Bukan mau jalan-jalan, tau.”
Rina nyengir. “Ya siapa tau kamu pulang, terus ada kabar bahagia. Kan aku harus siap-siap terima kabar gembira juga.”
Finka hanya menghela napas, malas menanggapi.
---
Perjalanan pulang terasa lebih panjang dari biasanya. Dari balik jendela bus, Finka menatap sawah hijau dan pepohonan yang sudah lama tidak ia lihat. Hatinya penuh tanda tanya.
“Apa sebenarnya yang orang tua maksud soal masa depan? Kenapa mereka nggak mau bilang di telepon?” gumamnya pelan.
Sesampainya di terminal kecil, ia turun sambil menyeret tas. Langkahnya semakin cepat ketika melihat sosok ibunya sudah menunggu di pinggir jalan.
“Ibu…” Finka langsung memeluk erat. Ada rasa lega sekaligus cemas.
“Nak, akhirnya kamu pulang juga.” Ibunya tersenyum, tapi ada sorot mata serius di balik senyum itu.
Dalam perjalanan menuju rumah, suasana agak hening. Biasanya ibunya akan cerewet menanyakan kerjaan di rumah sakit, tapi kali ini lebih banyak diam.
Sesampainya di rumah, Finka melihat ayahnya sudah duduk di ruang tamu, lengkap dengan beberapa map tebal di atas meja. Wajah ayahnya terlihat tegas tapi agak tegang.
“Finka, duduklah.”
Jantung Finka berdebar. Ia duduk pelan, menatap bergantian antara ayah dan ibu.
“Bapak… Ibu… ada apa sebenarnya? Kenapa aku diminta pulang mendadak?”
Ayahnya menarik napas panjang, lalu menatapnya lekat.
“Ada hal yang harus kamu ketahui, Nak. Ini soal keluarga besar… dan juga soal masa depanmu.”
Ayah menggeser map tebal di meja, lalu membuka lembaran pertama.
“Finka… keluarga kita sedang terlilit hutang besar. Usaha pamanmu bangkrut, dan sebagian besar tanggungannya akhirnya jatuh ke Bapak karena kita masih satu keluarga besar.”
Finka terbelalak. “Hutang? Tapi… kenapa harus Bapak yang menanggung?”
Ibunya menunduk, suaranya lirih. “Karena sertifikat rumah dan sawah yang ditempati paman… sebagian besar atas nama keluarga besar kita. Jadi akhirnya, Bapak ikut terseret.”
Finka menelan ludah. Tangannya mulai gemetar. “Jumlahnya… sebesar apa?”
Ayah menghela napas berat. “Ratusan juta, Nak.”
Dunia seakan berhenti berputar. Finka terpaku. Ratusan juta? Mana mungkin keluarga mereka yang sederhana bisa melunasinya?
Belum sempat ia bicara, ayah menambahkan dengan suara lebih berat,
“Ada seseorang yang bersedia menutup semua hutang itu. Tapi…”
Ia menatap Finka lekat-lekat.
“Dia meminta imbalan berupa pernikahan denganmu.”
“APAAA?!” Finka langsung berdiri, kursi kayu di belakangnya hampir terjatuh.
Wajahnya memucat, telinganya berdenging.
Ibunya buru-buru menggenggam tangan Finka. “Nak, dengarkan dulu. Orang itu bukan sembarangan. Dia pengusaha, kenalan jauh keluarga. Dia bilang serius memilih mu untuk menikah dengan anaknya, dan kalau itu terjadi… hutang kita akan lunas.”
Finka terengah, menutup mulut dengan tangan. “Ibu, Bapak… jadi aku ini… ditukar sama hutang?! Aku harus menikah dengan orang yang bahkan nggak aku kenal, hanya karena uang?!”
Ayah menatapnya dengan tatapan tajam penuh dilema. “Bapak tahu ini berat. Tapi pikirkan baik-baik, Finka. Bukan hanya untuk kita, tapi untuk kehormatan keluarga besar.”
Air mata mulai menggenang di mata Finka. Suaranya bergetar.
“Bagaimana dengan masa depanku, Pak? Bagaimana dengan hatiku? Apa itu semua tidak penting?”
Ruangan hening. Hanya suara detak jam dinding yang terdengar.
Di dalam hati Finka, bayangan wajah dingin Kapten Arga muncul begitu saja.
Dan ia sadar, hatinya sudah jauh lebih dulu memilih…
Finka menggenggam erat tangannya sendiri. Air matanya menetes satu per satu, tapi wajahnya tegas.
“Tidak, Pak. Aku tidak mau!” suaranya pecah, namun penuh keyakinan.
Ayah mengerutkan dahi. “Finka—”
“Aku tahu keluarga kita punya masalah besar, tapi jangan paksa aku menikah dengan orang yang bahkan aku nggak kenal!” Finka meninggikan suara, tubuhnya bergetar menahan emosi.
Ibunya ikut mencoba menenangkan. “Nak, tolong pahami keadaan ini. Kalau kita menolak, pamanmu bisa kehilangan rumahnya. Nama keluarga kita akan hancur di mata orang kampung. Ibu nggak mau itu terjadi.”
Finka menggeleng keras, air mata bercucuran. “Lalu bagaimana dengan hidupku, Bu? Apa aku harus dikorbankan begitu saja demi menutup aib keluarga? Apa aku nggak punya hak memilih jalan sendiri?”
Ayah menatapnya lama, matanya penuh tekanan dan rasa bersalah.
“Finka… dunia ini kadang tidak adil. Bapak hanya ingin menyelamatkan semua orang. Kalau kamu menerima pernikahan ini, semuanya akan selesai.”
“TIDAK!” Finka berseru, suaranya pecah. Ia memeluk dirinya sendiri, seolah takut dunia menekannya habis-habisan.
“Bapak, Ibu… aku mohon, jangan seret aku dalam hutang yang bukan salahku. Aku ingin menikah karena cinta… bukan karena dipaksa keadaan!”
Ia berdiri, lalu mundur beberapa langkah ke arah pintu.
“Maaf, aku nggak bisa terima ini. Aku… aku butuh waktu sendiri.”
Tanpa menunggu jawaban, Finka berlari keluar dari rumah, meninggalkan kedua orang tuanya yang hanya bisa terdiam di ruang tamu.
Di halaman gelap, Finka menengadah ke langit. Suaranya parau ketika berbisik,
“Ya Allah… kenapa aku harus menghadapi semua ini? Lalu bagaimana dengan hatiku… bagaimana dengan perasaanku pada Kapten Arga?”
Malam itu, Finka berjalan tanpa arah. Udara dingin menusuk kulit, tapi ia tidak peduli. Langkahnya akhirnya berhenti di depan sebuah kafe kecil dengan lampu temaram. Dari dalam, terdengar musik akustik yang lembut—cukup menenangkan hati yang sedang kacau.
Ia masuk, memilih meja di pojok dekat jendela. Rambutnya sedikit berantakan, mata masih sembab. Seorang pelayan mendekat.
“Mau pesan apa, Mbak?”
Finka berusaha tersenyum tipis. “Kopi s**u aja, Mas… sama roti bakar.”
“Baik, Mbak.” Pelayan itu pergi, meninggalkannya sendiri dengan pikiran yang berputar-putar.
Begitu pesanan datang, Finka hanya menatap gelas kopi yang mengepul hangat. Tangannya memeluk gelas itu erat, seakan hangatnya bisa sedikit menenangkan hatinya.
“Kenapa harus aku… kenapa masa depanku ditukar sama hutang…” gumamnya pelan.
Di meja lain, beberapa orang tampak sibuk dengan obrolan santai. Tapi dunia Finka seolah berhenti. Ia memandang keluar jendela, menatap lampu jalan yang redup.
Bayangan wajah Kapten Arga kembali muncul di benaknya.
“Kalau Kapten tahu aku dipaksa dijodohkan… apa dia akan peduli?” bisiknya lirih.
Air matanya nyaris jatuh lagi, tapi ia buru-buru menyekanya dengan tisu.
“Tidak, aku harus kuat. Aku nggak boleh kelihatan lemah. Aku harus cari jalan keluar…”
Namun di saat bersamaan, hatinya menjerit.
“Andai saja aku bisa bilang ke dia semua ini…”
Keesokan harinya, suasana rumah keluarga Finka terasa berbeda. Kursi-kursi kayu di ruang tamu sudah ditata rapi, meja diberi taplak bunga, dan ibunya mondar-mandir memastikan semuanya terlihat pantas.
“Bu… ini semua untuk apa?” tanya Finka dengan kening berkerut, matanya masih sembab karena semalam.
Ibunya menatap sekilas, lalu menghela napas. “Hari ini, perwakilan keluarga Hadi akan datang. Mereka ingin membicarakan soal… perjodohan itu.”
Jantung Finka langsung terhentak. “Apa? Jadi cepat sekali? Aku belum setuju, Bu!”
Belum sempat ia melanjutkan, suara ketukan pintu terdengar. Ayah segera bangkit, menyiapkan senyum kaku.
Seorang pria paruh baya masuk, berkemeja rapi dengan jam tangan mengilap. Wajahnya tenang, namun sorot matanya tajam penuh wibawa. Dialah Pak Malik, orang kepercayaan keluarga Hadi.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam,” jawab keluarga Finka serempak.
Pak Malik duduk, meletakkan map di atas meja. Senyumnya sopan, tapi dingin.
“Saya datang mewakili Tuan Hadi dan keluarga. Seperti yang sudah dibicarakan, Tuan Hadi bersedia membantu melunasi hutang keluarga besar ini. Tapi tentu saja, ada syarat yang sudah beliau sampaikan.”
Finka mengepalkan tangan di pangkuannya, tubuhnya kaku. Ayahnya berdeham pelan.
“Ya… kami sudah paham maksudnya. Tapi kami ingin mendengar langsung dari pihak keluarga Hadi.”
Pak Malik menatap lurus ke arah Finka, seakan ingin menegaskan siapa yang sebenarnya menjadi inti pembicaraan ini.
“Tuan Hadi tidak main-main. Beliau seorang pria yang mapan, punya usaha besar. Syarat beliau sederhana: pernikahan dengan putri Anda, Finka.”
Ruangan langsung hening. Finka merasa dadanya diremas.
Pak Malik melanjutkan, nada suaranya makin dalam.
“Kalau lamaran ini diterima, hutang keluarga besar akan langsung dilunasi. Tidak ada penundaan, tidak ada bunga. Tapi… kalau ditolak, keluarga Hadi tidak akan ikut campur lagi dalam urusan ini.”
Ayah Finka tampak gelisah, sementara ibunya menunduk dalam diam. Semua mata akhirnya tertuju pada Finka.
Pak Malik menambahkan, suaranya tenang tapi penuh tekanan.
“Jadi, bagaimana jawaban kalian?”
Hening menekan ruang tamu. Semua orang menunggu jawaban.
Finka merasakan tatapan Pak Malik menancap seperti paku ke dadanya. Tangannya gemetar, tapi ia menegakkan punggung.
Dengan suara pelan tapi jelas, ia berkata:
“Pak Malik… saya mengerti maksud baik keluarga Hadi. Tapi… saya belum bisa memberi jawaban sekarang.”
Pak Malik mengangkat alis, tatapannya tajam. “Oh? Dan apa alasannya?”
Finka menarik napas dalam, lalu mencoba tersenyum sopan meski bibirnya bergetar.
“Saya masih bekerja sebagai perawat, Pak. Tugas saya belum selesai, dan tanggung jawab itu sangat berat. Kalau saya terburu-buru menikah, bagaimana dengan pasien-pasien saya? Bagaimana dengan pekerjaan yang sudah saya pilih?”
Ibunya menoleh cepat, seolah ingin menahan ucapan putrinya, tapi Finka melanjutkan dengan suara mantap.
“Jadi… izinkan saya fokus dulu pada pekerjaan. Setidaknya, beri saya waktu.”
Ruangan kembali hening. Ayahnya hanya menunduk, wajahnya sulit dibaca.
Pak Malik mengetuk-ngetuk map di meja dengan jarinya, lalu tersenyum tipis.
“Waktu, ya? Baiklah… Tuan Hadi orang yang sabar. Tapi jangan lupa, hutang itu semakin hari semakin menekan. Semakin lama Anda menunda, semakin besar resikonya bagi keluarga Anda.”
Nada bicaranya sopan, tapi jelas mengandung ancaman halus.
“Kalau begitu, saya sampaikan pada Tuan Hadi. Semoga Nona Finka segera memberi jawaban pasti.” Pak Malik berdiri, menyalami ayah dan ibu Finka, lalu pergi dengan langkah tenang.
Begitu pintu menutup, Finka langsung menjatuhkan diri ke kursi, menahan air mata.
“Ya Allah… sampai kapan aku bisa bertahan dengan alasan ini? Aku… benar-benar terjepit