part 8

734 Kata
Keesokan harinya, gosip masih belum reda. Di markas, Ines duduk sendiri sambil menatap secarik foto di ponselnya — foto candid Arga saat sedang memeriksa luka prajurit. Senyumnya samar. “Kapten Arga…” bisiknya lirih. “Dingin, galak, tapi… entah kenapa aku selalu ingin ada di dekatmu.” Ia ingat bagaimana Arga menolak kuenya kemarin. Walau hanya satu potong, Ines bisa merasakan sesuatu di balik tatapan singkat Arga. Bukan sekadar formalitas. Saat itulah salah satu prajurit yang kebetulan lewat nyeletuk, “Wah, Dokter Ines senyum-senyum sendiri ya? Lagi inget Kapten Arga?” Ines kaget. Wajahnya langsung merah, tapi ia menutupi dengan cepat. “Eh, bukan, bukan… saya cuma… ah, lagi mikirin pasien.” Namun setelah prajurit itu pergi, ia menatap lagi fotonya. “Kalau saja Kapten tahu perasaan ini…” Ines semakin sering mencari kesempatan untuk bersama Arga. Saat jam istirahat, ia sengaja duduk di meja yang sama. “Kapten, saya bawa bekal lagi. Kalau tidak suka manis, saya bawakan sup hangat. Katanya baik untuk stamina.” Arga hanya menatap sebentar. “…Terima kasih, Dokter.” Tapi prajurit yang melihat langsung heboh. “Fix fix fix! Mereka jadian! Dokter bawain bekal lagi!” Arga cuma bisa mendengus kesal. Dalam hatinya: “Astaga, sampai kapan gosip ini menghantui hidup saya?” Namun ia juga merasakan sesuatu yang aneh — tatapan Ines kali ini bukan sekadar ramah… tapi ada rasa tulus yang sulit ia abaikan. Finka baru saja selesai menaruh baki bekas makan siang di dapur perawat. Kepalanya masih pening memikirkan gosip Kapten Arga–Dokter Ines yang semakin liar. Ia baru duduk sebentar di kursinya ketika ponselnya berdering. Nama yang muncul di layar membuat jantungnya berdebar: “Ibu”. “Assalamu’alaikum, Bu…” suara Finka terdengar lelah, tapi ia mencoba terdengar ceria. Namun nada di seberang membuatnya kaget. “Finka, Nak… kamu bisa pulang sebentar nggak? Ada hal penting yang harus kita bicarakan. Masalah keluarga.” Alis Finka langsung berkerut. “Masalah keluarga? Maksudnya gimana, Bu? Aku masih dinas, belum selesai jaga.” Suara ibunya terdengar ragu, seolah menimbang harus bicara sekarang atau nanti. “Kamu pulang aja dulu, Nak. Bapak juga pengen ngobrol sama kamu. Ini penting, sangat penting.” Hening beberapa detik. Finka bisa merasakan hatinya ikut cemas. “Bu, jangan bikin aku takut. Ada apa? Ada yang sakit? Bapak baik-baik aja kan?” “Nggak, bukan itu.” Ibunya buru-buru menenangkan. “Bapak sehat. Tapi ini soal… keluarga besar kita. Soal masa depanmu juga.” Finka terdiam. Kata-kata itu bergema di kepalanya. Soal keluarga… masa depan… Dengan berat hati ia akhirnya menjawab, “Baiklah, Bu. Besok aku izin pulang.” Begitu telepon ditutup, Finka menatap layar ponselnya lama sekali. Dadanya mendadak sesak—seolah firasat bahwa sesuatu yang besar sedang menunggunya di rumah. Rina yang duduk di sebelah langsung melirik. “Kenapa, Fin? Kok mukamu tambah pucat? Jangan-jangan bukan cuma gosip Kapten, tapi ada masalah serius lagi?” Finka menghela napas panjang. “Iya, Rin… kayaknya aku harus pulang. Orang tua manggil. Katanya… ada urusan penting keluarga " Keesokan paginya, Finka datang lebih pagi dari biasanya. Rambutnya diikat seadanya, wajahnya kelihatan serius—tidak seperti biasanya yang selalu cerewet dan ramai. Begitu masuk ruang kepala perawat, ia mengetuk pintu pelan. “Permisi, Bu…” Kepala perawat, Bu Ratna, menoleh dari balik meja. “Iya, Finka. Ada apa? Kamu kelihatan tegang sekali.” Finka menarik napas panjang. “Begini, Bu. Saya… saya dapat telepon dari orang tua. Katanya ada urusan keluarga yang penting. Jadi… saya minta izin pulang beberapa hari, Bu.” Bu Ratna menatapnya sebentar, lalu melepas kacamatanya. “Urusan keluarga? Penting sekali, ya?” “Iya, Bu.” Finka menunduk. “Sepertinya… ini soal masa depan saya juga.” Suaranya mengecil, lebih mirip gumaman. Bu Ratna mengangguk pelan. “Baiklah. Kamu boleh izin. Tapi pastikan ada perawat yang menggantikan jadwalmu, ya. Jangan sampai ada shift kosong.” Finka buru-buru mengangguk. “Siap, Bu! Saya akan atur dengan Rina dan Sinta.” Bu Ratna tersenyum tipis. “Kalau begitu, jaga diri baik-baik. Semoga urusan keluargamu lancar.” Begitu keluar dari ruangan, Finka langsung menepuk pipinya sendiri. “Ya Allah… semoga ini bukan hal aneh-aneh. Jangan sampai kayak sinetron yang tiba-tiba dijodohin sama orang nggak dikenal, deh.” Rina yang sudah menunggu di koridor langsung menyergap. “Fin, kamu beneran izin pulang? Waduh, jangan-jangan kamu dijodohin, nih.” “Rina!!” Finka hampir teriak. Tapi dalam hati… ia juga punya firasat yang sama.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN