Part 6, Panik...

857 Kata
Adrian dan Kevin membawa Fene kerumah sakit terdekat. "Cepat lakukan sesuatu." tegas Adrian. Dokter melakukan tindakan sangat cepat mengeluarkan peluru yang bersarang dibahu Fene. Sementara Adrian, Kevin berada diluar ruangan menunggu kabar dari Bram. Drrrrrt... Drrrrt... Hp Adrian bergetar... 'Bram' "Ya..." "Gimana kondisi Fene?" tanya Bram. "Masih diruang operasi, gue rasa tidak apa-apa. Semoga saja." jelas Adrian. "Oke, minta Kevin temuin gue." Perintah Bram. "Ok." Adrian menutup telfonnya. Meminta Kevin segera menghubungi Bram. Kevin menjauh saat menelfon Bram, tiba-tiba mendekati Adrian kembali, pamit menemui Bram disuatu tempat. "Gue jalan dulu, lo tunggu Fene disini." Kevin memukul pelan pundak Adrian kemudian berlalu. Adrian mengacungkan jempol tanda setuju. Adrian menatap pintu operasi mengalihkan tatapannya kepunggung Kevin. 'Aaaaaagh....' keluh Adrian sambil mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya. Tidak lama menunggu, Dokter keluar dari ruangan operasi. "Tenang... semua baik-baik saja" Jelas Dokter kepada Adrian. "Syukurlah." Adrian menarik nafas panjang. "Nona Fene segera dibawa ke ruangannya, saya tinggal yah." Dokter berlalu meninggalkan Adrian. Bram dan Kevin.. "Gue akan membawa Fene secepatnya Vin." Bram marangkul bahu Kevin. "Bagaimanapun Fene adalah sahabat kita, gue harap kita bisa melindunginya." senyum Kevin. "Gue bingung, menghadapi Adrian, gue harus bicara sama dia, terlalu egois." kesal Bram. "Ingat satu hal, jangan bawa perasaan dipekerjaan kita, gue tidak setuju, lo pahamkan." keduanya saling tatap. Bram terdiam menatap lekat wajah Kevin. Bram hanya mengangguk. "Rombongan Jack coba melumpuhkan salah satu dari kita." Bram mengalihkan pembicaraan tentang kejadian tadi. "Oya.." Kevin kaget mendengarnya. "Berarti tadi mereka menyerang kalian.?" rahang Kevin menggeram. "Ya, mereka tau, kita menemui Mr.Huang di Shanghai kemaren." lanjut Bram. "Secepatnya kita harus menyelesaikan ini." tegas Kevin. Bram mengangguk meminta Alberth segera menemani Adrian, sementara Bram dan Kevin melanjutkan pekerjaan mereka. Fene Claire Zurk... Adrian berada di ruangan Fene sejak tadi, menunggu kesadaran Fene dari pengaruh obat bius hanya menggenggam tangan Fene sambil mencium punggung tangan itu berkali-kali. Adrian tidak tau, saat ini bagaimana hatinya. Bimbang, ragu. Fene bergerak perlahan membuka matanya. Menatap Adrian tertidur disampingnya sambil memeluk tangannya. "Dri..." Fene melepaskan perlahan tangannya dari genggaman Adrian. Adrian bangun menatap cemas terpancar diwajahnya. "Lo baik-baik ajakan Fen.? Tanya Adrian. "Sakit sedikit." Ringis Fene. "Ya udah... Gue panggilin suster yah.?" Adrian mencium kening Fene mengusap lembut rambutnya. "Nggak usah, gue cuma luka sedikit." Senyum Fene. Adrian tersenyum. Mencium bibir Fene. Cup... Fene memalingkan wajahnya mencari Bram, Kevin. "Bram mana Dri.?" Tanya Fene. "Hmmmm.... Bram, Kevin sedang menyelesaikan project kita, untuk sementara gue disini. Palingan besok kita meninggalkan tempat ini." Senyum Adrian. "Lo balik ke Jakarta kapan.?" Fene memastikan perkataan Bram tadi sore. Jantung Adrian seakan terhenti mendengar pertanyaan Fene. "Hmmmm... Gue nggak tau, yang penting kita terus sama-sama." Jawab Adrian tak biasa, tanpa menatap wajah Fene. "Oya...?" Fene mendehem mendengar penjelasan Adrian sengaja ditutup rapat. "Lo nggak usah bohong ama gue Dri. Gue udah denger, lo telfonan sama Veni saat di Shanghai." Fene berusaha tenang dengan ucapannya. Adrian tersentak berdiri gelisah mendengar ucapan Fene. "Fen..." "Sssssst.... Nggak usah takut, gue udah pernah bilang, kita jalani dulu senyamannya. Jangan memaksakan keadaan." Ucap Fene membuang wajahnya dari Adrian. Adrian memilih menghindari Fene keluar ruangan, menata hati dan pikirannya akan ucapan Fene. 'Oooooh God... Gue udah merusak hati Fene.' Adrian meremas rambutnya, Merasa frustasi dengan kenyataan ini. Membuat hancur sahabat sendiri. Adrian seketika marah akan kejadian malam itu. 'Gue udah berlaku tidak adil pada Fene.' Mata Adrian memanas, ingin berteriak. Menyesali perbuatannya terhadap sahabat kecilnya Fene. Dikamar.... Fene menahan sakit hati, mencari hp dilaci nakas agar menghubungi Bram. Fene membendung air mata hampir jatuh dihadapan Adrian barusan. Fene wanita cerdik, bisa menyembunyikan perasaannya, walau kadang terluka. Jujur dia menyesali perbuatannya. Ingat pesan Kevin, Kevin memberi itu bukan untuk menghabiskan waktu bersama Adrian, melainkan bersama Bram. 'Ooooh God....' bisik Fene. 'Bodohnya gue...' Jerit Fene geram. Fene mendengar langkah kaki, dan pintu kamar terbuka. Bram, Kevin, disusul Adrian. "Haaaaiii..." Fene tersenyum. "Sweety..." Bram mencium puncak kepala Fene memeluk Fene sedang bersandar dikasur rumah sakit. "Aaaaauuuh..." Fene menepuk bahu Bram. "Kenapa..?" Bram melepas pelukannya. "Nggak apa-apa... Cuma sedikit sakit." bisik Fene manja. "Aku fikir... Hmmm" Bram terdiam... "Gue fikir tersentuh lukanya." Lanjut Bram mengedipkan mata. Adrian mendengar pembicaraan Fene dan Bram. 'Aku..' batin Adrian. Kevin berdiri dibawah kaki Fene, tersenyum melihat Fene mulai membaik. "Dri.... Lo jadi ke Jakarta besok.?" Bram berlalu menuju sofa. "Hmmmm.... Ntahlah." Adrian diam. "Tenang, semua udah beres, Fene besok udah bisa pulang, kita bisa lanjut ke Paris." Senyum Kevin melirik Fene. Fene berubaha seketika, dia berteriak spontan mendengar ucapan Kevin membuat bahunya tidak merasakan sakit. "Seriiiooosly Vin." Rona bahagia di wajah Fene, dia berusaha berdiri mengejar Kevin. "Iya." Sahut Bram menatap Adrian. "Aaaaaaaaaaaaaaaaa..." Fene menjerit memeluk Kevin kemudian berlari kearah Bram. "Misi selesai." Lanjut Kevin. "Oooooogh yeeeeees." Fene merangkul Bram berkali-kali mencium wajah Bram tanpa memperdulikan Adrian, seribu tanya didalam hati. Alberth masuk kedalam ruangan membawa beberapa bingkisan agar berpesta malam ini. "Cheeers...." Mereka berempat menyulang bir dibawa oleh Alberth. Pria kulit hitam menggendong Fene distasiun amsterdam. Alberth berlalu meninggalkan rumah sakit. Fene sangat bahagia, mendengar candaan dilontarkan Kevin dan Bram. Adrian gelisah, Fene tidak menghiraukannya. Bram menarik tangan Adrian keluar, alasan merokok diroftop rumah sakit. Bram, Adrian meninggalkan Kevin dan Fene. Memastikan Fene agar beristirahat, dijaga dengan baik oleh Kevin.****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN