Part 5, Netherland...

945 Kata
Stasiun Amsterdam Metro.... Adrian mendekati Fene agar bisa merangkul pinggangnya, tapi Fene menghindarinya. Cuaca dingin, membuat suhu tubuh Fene tidak normal. Mereka hanya saling bercanda. Mata Adrian tertuju pada pria berkulit hitam sedari tadi mengikuti mereka. Kevin sangat awas menjauh dari tempat berdiri Adrian dan Fene. Kevin memberi kode kepada Adrian agar stay cool perlahan menjaga jarak. "Vin.... Bram akan tiba sebentar lagi. Lo jangan jauh-jauh yah." teriak Fene mengambil koran yang berada disampingnya. Fene tidak memahami bahasa Netherland, setidaknya melihat gambar yang tertera sudah sangat cukup menghindari Adrian. Adrian membisikkan agar siaga. "Pria hitam di seberang sana sedang mengawasi kita, jika dia melakukan sesuatu cepat amankan diri lo, kita akan bertemu diapartemen." Fene mengangguk mengerti, melipat koran ditangannya, mengambil hp dari kantong jaket mencoba menghubungi nomor Bram. Adrian menjauh dari Fene berjarak 500 meter. Tapi target pria kulit hitam bukan Adrian atau Kevin melainkan Fene. Mata Fene tertuju pada Bram, pria bule Amerika yang tampan, mereka saling tatap. Ingin rasanya Fene berlari memeluk Bram, tapi apa daya, pria kulit hitam itu lebih dulu mendekati Fene. Fene memandang Adrian, dan balik kearah Bram dari kejauhan. Bram mengangguk. Melambaikan tangan kepada Adrian. Fene dibawa oleh pria kulit hitam entah kemana. Jantung Adrian berpacu, merangkul Bram saat mereka mendekat, berlari kecil meninggalkan stasiun. Apartemen... "Gue menghubungi Fene berkali-kali, tapi hpnya tidak aktif." risau hati Adrian terlihat jelas. "Colling down bro... Fene aman." sahut Bram mencari keberadaan Fene melalui kecanggihan tekhnologi saat ini. "Apakah mereka orang lo Bram?" bisik Kevin. Bram melihat kebelakang mencari keberadaan Adrian. Tanpa sengaja mata Adrian bertatapan dengan sorotan mata Bram. "Apa lo menemukan dimana Fene Bram? Jangan ada yang kalian tutupi dari gue." sarkas Adrian dengan nada cukup tinggi. Kevin mendekati Adrian. "Santai bro... lo panik, gue juga panik. Gue juga nggak mau kenapa-napa sama Fene." "Lo urus, gue ada urusan sebentar." Adrian berlalu. Kevin mengangguk menepuk pundak Adrian. Seketika memghampiri Bram kembali. "Kerjaan lo gila." geram Bram. "Gue sengaja buat lo dan fene, bukan Adrian, sory... gue salah akan hal ini, Fene aman kan?" tanya Kevin mengalihkan topik pembicaraan mereka. "Lo urus kelanjutan barang kita akan sampai jam berapa, gue menemui Fene. Jangan sampai Adrian mengetahui semua ini." Bram menepuk pundak Kevin berlalu. Fene.... Fene terjaga dari tidurnya, rasanya habis dibius oleh orang berkulit hitam berakar besi, sangat mudahnya menggendong tubuh Fene. "Gue dimana...?" bisik fene. "Halllooo..." Fene melihat keluar jendela. Fene berada dikamar hotel tidak begitu jauh dari stasiun. Dari jendela kamar, terlihat lalu lalang orang-orang melakukan aktifitas. Terdengar dari luar ada suara seseorang membuka pintu untuk masuk... 'siapa.' batin Fene. Bram hadir dihadapan Fene, sambil tersenyum. Fene terlonjak, merasa tidak percaya. Bahwa Bram ada dihadapannya. "What are you doing?" pekik Fene. "Jangan bilang kamu mengkhianati kita Bram??" sarkas Fene. "Kamu?" Fene berlari mencari hpnya dinakas samping kasur, untuk menelfon Adrian. Bram mengejar Fene, memeluk tubuh Fene yang berhasil didekapnya dengan sangat mudah. Fene berontak, tapi Bram melempar Fene ke ranjang kamar hotel. "Braam..." tangis fene tiba-tiba pecah. "Diam... sssst." Bram mendekati Fene, mengelus puncak kepala kemudian memeluk Fene yang tampak ketakutan. "Aku kesini buat kamu, buat ngejauhin kamu dari Adrian." Bram mengelus lembut rambut Fene. Tangis Fene pecah, membalas pelukan Bram. "Aku kecewa Bram.... hik hik hik..." tangis itu makin keras terdengar oleh Bram. "Fen... aku di sini buat kamu, buat kita, buat kamu bebas dari Adrian." pujuk Bram. "Tapi..." tangis Fene kembali terdengar. "Tapi apa? aku sayang sama kamu Fen, dari dulu sampai sekarang." jelas Bram. "Teruuus..." wajah Fene yang cantik, menyeka air matanya. "Kita akan ke Swiss lusa, setelah semua pekerjaan kita beres." "Adrian...?" "Adrian balik ke Jakarta menyusul Veni." Bram terdiam. Fene memeluk Bram makin erat. "Terus, maksud kamu bawa aku kesini apaan?" Bram merenggangkan pelukannya, "Adrian adik tiri ku Fen." Bola mata Fene yang biru membulat. Serasa tidak percaya. "Tapi... nama kalian berbeda." tanya Fene. "Ya... Aku Bram Lincoln anak satu-satunya Edward Lincoln, sementara Adrian Moreno Lim, anak Chiang Lim Almarhum, Daddy Edward menikahi Mami Adriana setelah Papi Lim meninggal." Mata Fene membelalak merasa tidak percaya. "Jadi kalian... mafia itu?" "Hmmm... Fen, kami bukan mafia, tapi berbisnis." jelas Bram. Fene terdiam. "Kenapa Adrian tidak pernah menceritakan pada ku?" "Karena bagi kami semua ini tidak penting Fen." "Ya pentinglah... " bantah Fene berlalu mengambil air mineral yang ada dinakas. Bram membuka tangannya lebar-lebar agar bisa memeluk Fene kembali. Fene tertunduk mereguk air didalam bibir mungilnya. Menangis membayangkan semua yang telah terjadi. "Aku takut Bram." tangis Fene. "Ada aku... kamu baik-baik saja, aku akan menemui Adrian, kamu disini dulu... Alberth akan membantu kepulanganmu." jelas Bram. "Tapi, aku pengen ke Paris Bram." rengek Fene. "Pulang dulu, nanti aku susul, aku dan Kevin akan menyelesaikan project kita." Bram mencium puncak kepala Fene mengelus lembut punggungnya. Fene mengangkat kepalanya, mencuri bibir Bram. Dengan senang hati Bram menyambut ciuman Fene. Fene mengalungkan tangannya keleher Bram menikmati ciuman kerinduan mereka berdua. Braaaak... Pintu kamar terbuka, Bram dan Fene terkejut, ada sekelompok mafia Cina mengetahui keberadaan mereka. Bram melindungi Fene agar menunduk. Bram mengeluarkan senjatanya, Fene menghubungi Adrian dan Kevin. Suara tembakan menggema disisi ruangan, Fene mencari tempat berlindung yang aman. Secepat kilat Alberth datang membantu Bram. Beberapa kali terdengar suara tembakan, hingga bahu Fene terkena saat berlari mencari tempat persembunyian. "Aaaaaagh.... Bram..." Fene mengerang memegang luka tembakannya. Suara Adrian hanya terdengar sayup-sayup. Fene mengirim lokasinya. Fene bersembunyi di kamar mandi, sambil menahan sakit di bahunya. "Fuck." maki Fene.*** Atas bantuan Alberth, b******n china itu kabur. Saat Bram membopong Fene, Bram dikejutkan akan kehadiran sahabatnya. "Anjiiing... siapa mereka Bram.?" Sarkas Adrian. "Gue nggak tau, segera bawa Fene kerumah sakit." Perintah Bram. Adrian mengambil alih tubuh Fene yang melemah, banyak mengeluarkan darah. Kevin menemani Adrian, sementara Bram mencari mafia yang menyerang mereka. To be continue...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN