Part 4, Perjalanan...

715 Kata
Shanghai... Kevin memeluk Adrian dan Fene, tersenyum renyah, 'penantian tidak sia-sia.' batin Kevin. Matanya tertuju pada Fene. "You sexi girl." goda Kevin terkekeh. "Vin, lo kerjain kita yah, tunggu pembalasan gue." Adrian menggeram. Godaan Kevin terhadap Fene sangat mengganggu pikirannya. Sulit di jelaskan status hubungan mereka saat ini. "Santai bro... gue rasa Bram akan menggantung lo." bisik Kevin kembali terkekeh. Adrian menggeram. 'Aaaagh... ini yang gue hindari.' batin Adrian. Fene mendengar obrolan mereka tanpa memperdulikan, memainkan hp saling berbalas pesan singkat pada Bram. "Nyaman." kata-kata itu selalu dijelaskan oleh Fene pada Adrian selama perjalanan mereka Jakarta menuju Shanghai. Adrian Moreno Lim, Kevin Stuard, Fene Claire Zurk. Petugas imigrasi memanggil, memberikan dokument mereka setelah beberapa jam melakukan pemeriksaan di ruangan VIP bandara. Fene menenteng tas ransel yang dipersiapkan Bram. Walau dengan sedikit kesal Bram menunggu mereka dibandara Jakarta, Bram tetap setia menunggu sahabat seperjuangannya. Selama diShanghai, mereka di jemput kolega mereka. Dijaga ketat, difasilitasi agar mereka tetap aman. Adrian memiliki keahlian mahir berbahasa mandarin, saat bertemu Mr.Huang, transaksi mereka berlangsung sesuai rencana. Misi mereka berhasil membawa barang haram ke Netherland menggunakan kapal dalam pengawalan Bram dan beberapa kolega Mr.Huang. Beberapa tahun lalu Bram mengikuti pendidikan militer selama di Amerika memberi peluang sangat besar bagi Bram. Dengan mudah Bram memutar otaknya agar bisnis haramnya berkembang diseluruh manca negara. Bram Linkoln blesteran Amerika Spanyol memutuskan menjadi mafia selama di Amerika. Pertemuan pertamanya dengan Fene, saat melakukan perjalanan ke Swiss. Bram mengenal Adrian, tapi menjaga sikap saat bersama Fene, seolah baru mengenal. 'Terkadang pria itu lebih cool membuat hati wanita bergetar bak vibra.' pikiran saya.hehehe... Netherland... Adrian, Fene dan Kevin menghabiskan waktunya di apartemen mereka, tidak memungkinkan bagi mereka meluangkan waktu dengan shoping. Ada beberapa hal membuat mereka agar tetap stay diapartmen. 'Media, teror musuh, dan beberapa hal masalah keluarga. "Vin... Bram belum ada kabar?" tanya Adrian menyeruput expreso pesanannya melalui aplikasi. "Gue udah menghubungi, tapi belum ada jawaban." jawab Kevin rebahan memainkan game. "Bram sudah menghubungi gue, dia meminta kita menunggu distasiun Amsterdam metro jam 12.00." Fene membawa makanan kecil ke ruangan tv tepat dihadapan Kevin dan Adrian. Mata Kevin dan Adrian saling tatap bertanya dalam hati. 'kenapa Bram tidak pernah menghubungi mereka.' "Oke." Adrian berlalu menuju kamar mandi, tampak kesal atas ketidakterbukaan Fene padanya. Kevin dan Fene saling bercanda, menghitung keuntungan mereka. "500.000 million dollar." teriak bahagia Fene sangat jelas terngiang ditelinga Adrian. "Sssssst... kita jalani dulu secepatnya kita menemui Mr.Edward Lincoln." Kevin terdiam, melihat reaksi Fene hanya meracau soal shoping. Kevin tertawa, mengalihkan tangan mengambil cemilan dihadapannya. Seketika Adrian muncul memandang wajah Fene tampak rona bahagia. "Dri, kita shoping ke Paris yah... bareng-bareng." mengedipkan mata, membuat Kevin geram. "Kita jemput Bram dulu, baru ke Paris." tegas Adrian. Kevin mengangguk, memahami perasaan Adrian. Selama di Shanghai Fene berubah, tidak manja seperti di Jakarta. Adrian canggung, sepertinya diantara mereka tidak pernah terjadi apa-apa. Fene sibuk dengan dunianya sendiri, sambil cengar cengir. Shanghai flashback.... "Ven... aku sangat memahami perasaanmu, aku telah melakukan kesalahan kepada Fene, aku akan menebusnya Ven." Adrian menelfon Veni, tanpa disadari pembicaraannya dapat didengar oleh Fene. "Tunggu aku kembali, aku akan memperbaiki semua. Maafkan aku Ven." Adrian menutup telfonnya, memeluk Kevin sangat erat. Fene perlahan menutup pintu kamar, menangis menumpahkan kekecewaan dibalik pintu tanpa diketahui oleh Adrian. 'Begitu mudah Adrian ingin kembali, tanpa mempedulikan perasaan ku.' Fene mengambil telfon, mencari nomor Bram, dadanya terasa sesak, telah dipermainkan oleh Adrian sahabat sendiri. "Bram... kapan kita ketemu? aku kangen." isak Fene serak. Tak seperti biasa, menahan tangis dan sesak didada. "Ya Fen, kamu baik-baik ajakan?" tanya Bram kaget. "Paling 2 atau 3 hari lagi aku diNetherland, kita akan menghabiskan waktu bersama." hibur Bram. "Oooogh... ya udah, kamu hati-hati yah, miss you." Fene menutup telfonnya. "Ok sweety... miss you too." Bram memberi ciuman jarak jauh. Bram dapat merasakan, bagaiman perasaan Fene. Sebelum keberangkatannya melalui laut, Veni menemui Bram, menceritakan Adrian dan dia telah berpisah. Adrian lebih memilih Fene dari Veni. Bram menggeram, 'apakah Adrian tidak tau perasaannya terhadap Fene? Sehingga teganya Adrian ingin merusak hati keduanya. Bram tidak terima sikap Adrian 'sangat egois.' batin Bram. Bram mencintai Fene, tapi Bram tidak pernah tau bagaimana cara mengungkapkannya. Bram mengetahui perbuatan Adrian kepada Fene malam itu. Bram ada diloby apartemen Fene, tanpa diketahui Adrian. Kevin telah menginformasikan pada Bram, bahwa bingkisannya sudah Fene terima, tapi... Adrian lebih cepat, memainkan drama ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN