Part 14, Saham...

990 Kata
Benarkah....??? Kevin dikejutkan dengan cerita Edward. Melihat semua bukti ada dihadapannya. Tante Irene adalah adik Mami Kevin, menikahi Hanz Parker. Memiliki anak bernama Holi Parker. Kalau Fene, Kevin tidak mengetahui cerita itu. Holi wanita karier di New York, jarang berkumpul dengan keluarga. Holi Parker berkerja sebagai eksekutif Bank. "Apakah Om Hanz telah membantu semua kegilaan Mark dad.?" Kevin meracau. Edward tersenyum. "Oya dad... Siapa nama keluarga Mami Marisa.? Saya pernah melihat Mami Marisa menemui Om Hanz." Kevin ingin tau segalanya. "Saya tidak mengenal Marisa." Jawab Edward membaringkan tubuhnya diatas sofa. "Bukankah Marisa keluarga Parker dad.?" Lanjut Kevin membuka data-data kekayaan mereka. "Didata saya pemegang saham kedua Mark adalah Marisa Parker, apakah yang dimaksud itu Mami Marisa.?" Lanjut Kevin. Menurut data yang dimiliki Kevin, Edward Lincoln adalah pemilik saham terbesar 30%, Mark hanya 15%, Marisa Parker 10%, Hanz Parker 20%, Irene Stuard 10%, Adriana Lim 7%, Holi Parker 3%... "Apakah mereka menguasai semua benua dad.?" Kevin menatap serius Bram, Adrian dan Edward. "Saya sudah membaginya dengan baik. Mereka semua serakah ingin menguasai secara keseluruhan. Disitulah awal permusuhan ini terjadi. Chiang Lim memiliki 3% yang telah diwariskan ke kamu Adrian." Jelas Edward. Bram melihat pergerakan data layar Kevin. "Saham gue masih 2% Bram..." Tawa Kevin. "Aaaaah lo..... Pintar amat. Tapi disemua ini kenapa tidak ada nama Fene.?" Tanya Bram kepada Edward. "Fene sudah diambil alih oleh Mark, memberikan separoh keuntungan Mark kepada Fene." Jawab Edward. "Lo juga, kemaren belum ngasih duit Fene kan Bram.?" Ledek Kevin. "Sengaja, biar dia nggak pergi dari gue." Gelak Bram. Edward terkekeh, "Licik." Suara Edward pelan. Bram tertawa mendengar kata-kata Edward. "Oya Adrian, berapa saham Fene di Jakarta.?" Edward menaikkan satu alisnya. "Fene wanita tangguh diJakarta dad... Sahamnya 60%." Jelas Adrian. "Baru kemaren saya mewakili Fene untuk hadir meeting virtual bersama beberapa investor." Jelas Adrian. "Oooh... Apakah dia terus bekerja selama disana.?" "Fene jarang keluar dad, kantor dan rumah." Lanjut Adrian. "Ooooh... Ternyata dia wanita cerdas dapat mempertahankan warisan Mark." Edward berdecak kagum. "Fene pewaris tahta dad." Tawa Adrian pecah melirik Bram. "Saya rasa Mark akan mengambil alih jika mengetahui ini semua." Edward tersenyum lirih. "Hmmmm.... Saya akan membantu Fene dad, don't wory." Ucap Adrian. "Membantu yah, bukan memanfaatkan." Sindir Bram. "Anjing lo..." Adrian bergumul diatas Bram sambil menutup mulut Bram. "Kevin tu..." Adrian menunjuk Kevin. "Kok..." Tanya Kevin bingung. "Lo punya kerja, ngerjain Fene." Tegas Adrian. "Hmmmm... Kalian terlalu mendramakan kisah ini." Jawab Kevin santai tanpa dosa. Edward mendengar racauan ketiga anaknya. Sambil geleng-geleng kepala. "Gue akan melamar Fene secepatnya." Bram mengusap matanya. Adrian dan Kevin saling tatap, Edward terduduk kaget mendengar pernyataan Bram. "Secepat inikah Bram.?" Kejut Edward. "Ya dad.... Sebelum Adrian merebutnya dariku." Tawa mereka kembali pecah. Edward menggelengkan kepala merebahkan kembali tubuhnya diposisi semula. Mereka bekerja keras mengatur strategi. Semoga besok berjalan dengan baik sesuai rancana. Pagi yang indah sebelum berpisah.... Fene mendengarkan segala pengarahan Bram padanya. Adrian sibuk membantu Veni. "Kamu baik-baik yah." Bisik Adrian ketelinga Veni. "Iya, kamu juga hati-hati. I love you." Veni memeluk tubuh Adrian. Adrian membalas pelukan Veni memberikan beberapa kecupan diwajahnya. Fene, Bram saling berepesan, mereka akan berpisah beberapa hari. Edward mengeluarkan hp tercanggih untuk Fene. "Semua nomor sudah ada disana. Ingat jangan gegabah. Kalau ada apa-apa hubungi saya segera. Saya percayakan sama kamu mengatasi Mark." Suara Edward terdengar berat. "Ya dad... Thanx." Fene memeluk Edward. Memeluk Bram, Kevin dan Veni. Mereka semua berpisah menuju tempat sesuai schedul. Fene dan Adrian berpisah selama perjalanan. Mereka akan bertemu di salah satu hotel di Napoli. Fene melepas rindu bersama Mark, bermain sinetron sesuai arahan Bram. Mereka lunch bersama disalah satu restorant terbaik di kota itu. Cuaca sangat dingin, Fene merasakan sesak. Fene tiba direstorant, meminta pelayan membawanya kemeja yang dipesan Mark. Fene melihat Mark sangat tampan, menarik nafas dalam kemudian menghampiri Mark. "Papi..." Panggil Fene manja. "Heeiiii... How are you sweety." Mark memeluk erat Fene. "Sit down... You wanna eat pasta with me.?" Mark membawa Fene agar duduk didekatnya sesekali menggoda Fene layaknya orang saling mencintai. "Oooh... Yes, Pi... Pasta, I wanna eat." Senyum Fene manja. "Hmmmm... I miss you... Very long time no see you sweety." Mark mencium punggung tangan Fene sangat romantis. "Hmmmm miss you too pi.." Fene merasa nyaman berada didekat Mark. "Oya, gimana.? Kapan kamu akan kembali ke Jakarta.?" Tanya Mark basa basi. "Hmmmm... Mungkin besok atau lusa, ada beberapa pekerjaan yang akan Fene selesaikan disini pi." Jelas Fene berbohong. Mark tersenyum hangat mendengarkan celoteh putrinya. "Apa kamu akan menginap dirumah Papi.?" Senyum Mark. "Sepertinya Fene akan disini aja Pi.... Ada temu janji bersama investor." "Ooooh... Baiklah. Kamu masih ingat rumahkan.?" Sindir Mark. "Hmmmm... Iya pi... Fene pulang, tapi selesaikan pekerjaan dulu yah." Fene memberikan kecupan pada jari-jari Mark. "Hmmm..... Mami mana pi.?" Tanya Fene bersandar dibahu Mark. "Uhuuugh... Uhuuugh... Eeeee..hmmm ada di Swiss Fen." Mark tersedak. "Ooough.... Mami baik-baik ajakan.?" "Sure... Yes cours..." Ucap Mark. Mereka bersenda gurau seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Mark berniat mengikuti Fene. Adrian... Adrian duduk dicafe seberang tanpa diketahui Mark. Adrian tidak lupa memberi informasi kepada Bram dan Kevin melalui telfon. "Gue menikmati gadis Napoli." Tawa Adrian menggoda Bram dan Kevin. "Gue menikmati gadis Spanyol.." jawab Kevin ngelantur. Beberapa kali mata Adrian melihat orang-orang Mark, berada diarea restorant. Adrian mengirim pesan kepada Fene. 'aku akan menunggumu dikamar.' Berlalu pergi meninggalkan cafe berdiri tidak jauh dari posisi Fene. Fene... Mark melihat pesan dihp Fene. "Apa kamu akan berkencan dengan pria Italy.?" Goda Mark. Fene mengangguk, menatap wajah Mark tersipu malu. "Secepatnya, Fene akan mengenalkannya pada Papi." Fene mengusap punggung Mark tersenyum manja. "Oke, kebetulan Papi ada janji, Papi menunggu kamu dirumah. Ingat... Home sweet home sweety." Mark mengedipkan mata, mencium mesra kening Fene. Mencium berkali-kali punggung tangan Fene. 'Begitu romantis, pantas aunty sangat mencintai Papi.' Batin Fene. Mereka berpisah, Fene memilih berjalan sendiri menutup seluruh tubuhnya dengan posisi jacket sudah terbalik. Agar tidak diketahui oleh siapapun. Fene memasuki sebuah Hotel berbintang, memesan kamar conecting. Adrian menunggu diluar hotel, menunggu kabar Fene melalui hp. Setiba dikamar Fene mengirim pesan kepada Adrian. '2078'***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN