Part 15, Cemburu...

868 Kata
Tiiiing tooong... Fene membuka pintu, melihat sosok Adrian. Memberi kunci kamar Adrian, melihat wajah Fene sedikit pucat. "Fen, lo baik-baik ajakan.?" Tanya Adrian. "Hmmm... Ya.. I'm oke." Fene berlalu ketempat tidurnya, menutup tubuhnya menggunakan selimut tebal. "Fene... Kamu baik-baik saja.?" Wajah Adrian menjadi panik, mendengar gigi Fene menggeretek. "Fene... Kamu..." Fene menggigil kedinginan, Adrian mencari obat-obatan didalam tas. Mata Adrian tertuju pada satu botol obat. "Fen, ini obat apa.?" Adrian mencari dihpnya dari merk obat. 'Hypotermia' "Ini obat hypotermia. Kamu sakit Fen.?" Fene mengangguk, meminta Adrian memeluknya. Adrian memeluk Fene mengusap tubuh Fene harus tetap hangat, wajah Fene sangat pucat. Adrian mengambil air panas mengompres kepala Fene. Memasukkan obat kemulut Fene, memberikan sebotol air mineral. Adrian mengusap terus, sesekali memasukkan tangan kepunggungnya. "Fen... Gue mesti apa.?" Adrian panik mencoba menghubungi Bram. Bram tidak menjawab panggilannya. Kevin.... Kevin... Bisiknya. "Ya..." Jawab Kevin. "Fene kena hypotermia, sesak seperti lo, gue mesti gimana.?" "Usapin aja terus, lo ajakin em el juga boleh." Jawab Kevin tanpa dosa. "Monyet, serius gue." Sesal Adrian. "Itu dia kecapean aja dri, nggak apa-apa, obatnya udah diminumkan.?" Tanya Kevin. "Sudah." Adrian menarik nafas, menatap wajah Fene. "Fen... Bangun sayang. Gue disini buat lo." Adrian mengecup wajah Fene. Fene tersenyum membuka matanya, mengelus wajah Adrian dihadapannya. "Gue baik-baik aja dri... Dingin doang. Sini lo peluk gue." Fene membuka selimutnya agar Adrian masuk keselimut memeluknya. Tanpa Adrian sadari, hpnya masih On, percakapannya didengar oleh Bram. Cemburu Bram... Bram mendengar percakapan Adrian. Kevin menyalakan speaker aktif. Emosi Bram memuncak. "Emang Adrian nggak tau selama ini tentang penyakit Fene.?" "Aaaaaagh..." Kesal Bram. "Waktu di Paris Fene mengalami hal yang sama, makanya gue..." Bram terdiam menutup bibirnya memandang Kevin horor membayangkan wajah Adrian akan melakukan m***m pada Fene. "Vin.... Kita ke Napoli sekarang, kita ke Napoli." Teriak Bram menggebu. "Iya, ini juga menuju Napoli, santai dong... Jangan m***m aja otak lo." Kevin nyolot melihat kepanikan Bram. "Kenapa-napa lagi sama Fene, gue buang dia dari lantai atas ke bawah." Geram Bram mengepal tinjunya. "Hmmmmm...." Kevin hanya kesal melihat kekonyolan Bram. "Bucin yah." Kesal Kevin. "Gue sama Fene tuh, cinta mati." Senyum Bram. "Adrian udah nyuri start deluan." Lanjut Bram kesal. "Sory.... Gue pikir kemaren lo ke apartemennya." Jelas Kevin. "Gue lihat Adrian, menuju rumah Fene. Makanya gue mundur. Gue fikir, Fene nelfon gue malam itu mau ngajakin gue nginap disana. Ternyata Fene..... aaaaagh." Bram terdiam, menarik nafas dalam. "Udaaah, rasanya sama aja kan." Tawa Kevin. "Lebih enak lagi, malah lebih sangek an dia." Kekeh Bram. Pekerjaan mereka sudah beres, saat ini mereka ke Napoli menyusul Fene dan Adrian. Bram berusaha menahan amarah dan kecemburuannya. 'kali ini nggak akan mengalah.' geram Bram. Napoli... Bram mendobrak pintu conecting kamar menghampiri Adrian melayangkan tendangan tepat didada Adrian yang tengah berdiri tidak jauh dari pintu conecting. Fene berteriak. "Braaaaaam...." Fene terkejut kehadiran Bram secara tiba-tiba. Fene melindungi Adrian dari serangan Bram selanjutnya. Seketika tangannya terhenti, dihalangi Fene. Fene berdiri tepat di depan Bram. "Ayooo... Pukul aku, pukul...." Sarkas Fene mendorong d**a Bram, menatap sinis mata itu. Bram menarik nafas dalam. Menurunkan tangannya, memeluk Fene seketika. Kevin menghampiri Adrian merintih kesakitan karena tendangan Bram tepat diulu hatinya. "Gila lo yah." Kevin memapah tubuh Adrian keatas kasur. Fene melepas pelukannya, PLAAK... Melayangkan tamparan tepat dipipi Bram. Pipi Bram terasa panas seketika. "Lo pikir gue semesum itu Bram.?" Suara Adrian terdengar menyesakkan. "Lo tau gue hypo, kenapa lo mikirnya ampe sejauh ini sih.?" Emosi Fene. "Jawab Bram." "Aku teringat masa di Paris Fen." Bram tertunduk kesal pada diri sendiri. "Kamu special Bram, berbeda dengan Adrian. Adrian sahabat aku. Kamu tau itu. Dari dulu aku tidak menjawab cintamu, karena apa...! Karena aku nggak mau ada komitmen antara kita, tapi setelah di Netherland, aku tau jawabannya, aku butuh kamu, aku sayang sama kamu, kamu tau Adrian satu-satunya sahabat ku, sering menemaniku, di kantor, apartemen, dimana saja. Veni menuduh ku, cemburu... karena telah mengkhianati persahabatan kita, aku kecewa, aku sedih Bram. Kenapa aku tidak memilih Adrian, karena kondisinya sangat berbeda. Perasaanya berbeda Bram." Tangis Fene. Bram memeluk tubuh Fene erat. Meminta maaf sambil menatap Adrian dan Kevin. Kevin mengerti, membawa Adrian beralih ke kamar sebelah. "Maaf Fen, aku terlalu cemburu melihat kamu dan Adrian. Aku mengakui itu." Pujuk Bram mengusap lembut punggung Fene mengecup puncak kepalanya. Bram malu, karena tidak mendengarkan wejangan Kevin. "Aku mau pergi kerumah Papi." Fene melepaskan pelukan Bram. Mengambil tas, menuju kamar Adrian. Saat Fene memasuki kamar Adrian, Adrian berdiri menghampiri Fene.. Suara tembakan dari gedung sebelah membuat Adrian terhujam peluru, tepat di punggungnya. Adrian jatuh seketika disambut oleh Fene. "Braaaam.... Keviiiin..." Teriakan Fene menggema. Fene menyambut tubuh Adrian berlumuran darah. Kesadaran Adrian masih ada, mendekati kritis. Kevin berusaha merunduk, menghubungi Edward meminta helikopter segera memberi pertolongan pada Adrian. "Uncle, Adrian terluka. Kami diserang." Kevin mendekati tubuh Adrian dan Fene. Bram berjibaku mencari pelaku penembakan. Edward mengirimkan team unit darurat, segera melarikan Adrian kerumah sakit. Fene terus memanggil nama Adrian, "dri, sadar dri... Adrian, gue disini bisik Fene." Adrian dibopong oleh unit medis suruhan Edward. Fene emosi, "Vin, temani Adrian, gue akan membuat perhitungan." "Nggak Fen, Fen... Feneeeee." Teriak Kevin, tapi Fene tak menghiraukannya. "Braaaaam, Fene pergi." Kevin berteriak pada Bram, tapi suara tembakan masih menggema. Kevin berusaha menyelamatkan Adrian. Berteriak memanggil Bram agar ikut bersamanya meninggalkan lokasi penembakan.***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN