Part 16, Rasa Rindu...

886 Kata
Home sweet home.... Mark menerima telfon dari orang bayarannya, mereka berhasil melumpuhkan orang-orang Edward. Mark tersenyum bahagia. "Papiiiiiiii... Mark Claire Zurk." Fene berteriak diluar rumah. Mark terkejut mendengar emosi putrinya. "Fene... Kamu kenapa.?" Pikiran Mark buyar. "Kenapa papi tega melukai Adrian..." Fene berteriak. "Adrian... A a a adrian mana maksud kamu.?" Mark bingung. "Adrian Moreno Lim, anak Chiang Lim." Sinis Fene. "Apa.... Adrian terluka.?" Mark panik. "Ooooh.... Hentikan drama Papi. Aku ingatkan, jangan pernah mencari aku lagi." Fene mengancam. "Begitu besar Edward Lincoln mempengaruhi otakmu Fen." Mark menunjuk tepat diwajah Fene. "Terjadi sesuatu kepada Adrian, papi berhadapan dengan aku." sarkas Fene, Mark shook mendengar Adrian terluka, bukan Kevin atau Bram. Drama Edward.... Saat di Swiss Edward meminta orang suruhannya mengikuti Fene dan Adrian. Edward merencanakan melukai Adrian, setelah dia mengetahui rencana Mark akan melukai Bram. Edward menyiapkan sniper disisi paling atas sniper Mark. Meminta Kevin, jika terjadi sesuatu segera menghubunginya. Bram mengetahui rencana Edward, agar bisa membawanya ke Amerika, memenangkan hak asuh Adrian sepenuhnya. "Bram, ingat pesan daddy, bermain sebaik mungkin." Mengingatkan Bram. Bram terdiam, "apakah Adrian akan terluka parah.?" Ada ketakutan menyeringai didalam dadanya. "Semua akan baik-baik saja. Tenanglah." Senyum Edward. "Vin, kamu temani Adrian, saya baru memulai peperangan ini melalui Fene dan Adrian." Tegas Edward merangkul Kevin sebelum menuju Napoli. Edward akan membuat Mark merasa bersalah atas kecelakaan Adrian, dan Adriana memiliki alasan yang tepat untuk membenci Mark. Skenario Edward berjalan sesuai rencana. Ditengah kepanikan Bram dan Kevin. Mark.... Mark meminta orang suruhannya mengikuti Fene setelah pertemuan terakhir mereka. Tidak terpikir dikepala Mark, Fene bersama Adrian. "Awasi Fene... Bunuh Bram atau Kevin, jika mereka menemui Fene." Tegas Mark. Mark, tidak mengetahui bahwa orang Edward lebih dulu berada diatas gedung. Sabotase berjalan mulus. Saat orang suruhannya memberi kabar, Kevin terluka, Mark bahagia. "Semua sesuai rencana, tugas saya berhasil melumpuhkan anak Edward." Jack memberi kabar. 'Kau kehilangan satu kaki mu Edward' batin Mark. Tapi..... Kehadiran Fene menghilangkan kebahagiaan seketika. Meruntuhkan dunianya. Menusuk kejiwanya. Wajah Mark memerah, mengepal tinjunya menghantam lantai. Tangan Mark terluka. Menghubungi Jack. "Siapa melukai putraku.?" Geramnya. "Saya sudah melukai salahsatu orang Edward, Mark, dan saya yakin itu Kevin." Jelas Jack. "Tapi kenapa putraku yang terluka." Teriakan Mark terdengar menggema. Mark menarik nafas dalam. Adriana... Adriana menjerit mendengar kabar Adrian terluka. Meluluh lantahkan hatinya. Menyalahkan Mark, menghina seraya mengancam akan menyakiti Mark. "Apa yang kau lakukan pada putra kita Mark.?" Tangis Adriana terdengar memilukan Mark. "Maafkan aku Adriana, aku akan menebus semua kesalahanku." Pujuk Mark. "Aku harap kamu bisa menemukan keberadaan Adrian." Mark menutup telfon. Adriana segera menghubungi seluruh pengawalnya, mencari tau dimana keberadaan Adrian. Fene.... Fene berulang kali menghubungi Bram, tidak ada hasil. Fene menerima panggilan tertulis nama Edward. 'Daddy..' bisiknya. "Ya dad." Suara Fene serak. "Bram akan menjemputmu, silahkan pergi bersama Bram. Saya akan mengurus Adrian." Perintah Edward. "Tapi dad...." Fene ragu. "Tapi apa.?" Tanya Edward. "Tapi aku ingin disini menemani Adrian dad." Jawaban Fene mengagetkan Edward. "Apa kamu mencintai kedua putraku Fen.?" Pertanyaan Edward dalam. "Oooogh.... Nggak dad, aku ingin menemani sahabat ku. Bram dan Adrian sangat berbeda." Jelas Fene. "Tapi perlakuanmu sama pada mereka berdua." Suara barito Edward membuat Fene terdiam. "Dad, aku memegang teguh komitmen, dan aku sangat mencintai Bram, tapi aku menyayangi Adrian." Fene menjelaskan perasaannya. "Ikuti perintahku. Turunlah, Bram menunggumu." Edward menutup telfonnya. Fene mengganti bajunya, melihat seisi kamar berantakan, memanggil petugas kamar menghitung semua kerugian mereka. Kemudian berlalu menemui Bram. "Haiiiiii..." Wajah Bram belum bisa menyembunyikan kesedihan. "Gimana Adrian.?" Fene menatap Bram. Bram menarik nafas, mengambil jemari Fene, "kondisi Adrian kritis, semoga segera membaik." Jelas Bram mencium jari Fene dalam genggamannya. "Hmmmm... Syukurlah. Aku tenang mendengarnya." Fene masih menyimpan sejuta kesedihan, membayangkan luka Adrian sangat dalam. Fene belum siap kehilangan Adrian. "Kita mau kemana.?" Tanya Fene datar. "Swedia..." Senyum Bram. Fene menaikkan bahunya. Mengikuti kemana arah tujuan Bram. Menjemput Kevin ikut bersama. Adriana dan Edward... Beberapa minggu, Adriana menemukan keberadaan Adrian. Adriana mencari keseluruh rumah sakit di Italy. "Nyonya, kami menemukan Adrian, kondisi masih kritis." "Berapa orang penjaganya.?" "Saya melihat Edward ada disana nyonya." "Baik, bawa saya menemui mereka." Adriana memasuki mobil. Adriana berharap bisa melihat Adrian. Pengawalan Adrian lebih ketat dari perkiraannya. Adriana mencari keberadaan Edward. Mata mereka bertemu saling tatap. Edward melangkah cepat menghampiri Adriana. "Kenapa kau kesini.?" Edward menggenggam lengan Adriana seraya berbisik. "Aku ingin menemui putraku Edward." Wajah Adriana terlihat takut. "Pergi.... Karena Adrian tanggung jawabku, Jalang." Tegas Edward. "Kau..." Mata Adriana basah, menatap sinis Edward. "Aku sudah mengingatkanmu, jangan ganggu anakku." Tegas Edward. "Tapi Adrian putra ku, darah dagingku." Adriana melawan Edward. "Pergi kau.... Atau ku pecahkan kepalamu." Edward mengeluarkan senjatanya meletakkan tepat dikepala Adriana. Pengawal Adriana mendekat, menatap Edward. "Kita pulang saja nyonya, Adrian segera pulih." Adriana lebih memilih mengikuti perintah pengawal, daripada harus menyerahkan nyawa pada Edward. Edward menarik nafas dalam, setelah kepergian Adriana. Meminta pihak rumah sakit, segera memindahkan Adrian ke salah satu rumah sakit terbaik di Berlin. Edward memberi kabar kepada Bram, tentang kondisi Adrian. Bram bernafas lega, mengetahui Adrian baik-baik saja. "Vin, gue rindu Adrian." Fene meracau di bahu Kevin. "Hmmmm... Adrian baik-baik aja Fen. Nggak usah panik, ada uncle Edward." Kevin menenangkan Fene. "Hmmmm... Bram masih lama yah.?" Fene mengalihkan pembicaraannya. "Kita tunggu aja, Bram didalam. Mr.Huang memberi uang pada kita." Kevin tersenyum. Fene membalas senyuman Kevin. Sejujurnya... Fene mengkhawatirkan Adrian, walau mereka mengatakan Adrian baik-baik saja, tapi dihati Fene, Adrian sedang tidak baik-baik saja.***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN