Bram Flasback....
Perkenalan Bram dan Fene bermula, saat mereka melakukan perjalanan ke Swiss. Tidak sengaja bertemu disalah satu pusat pemberlanjaan.
Bram tertarik pada pandangan pertama, mengejar Fene sedang menunggu seseorang.
Mata Bram tertuju pada Mark, musuh bebuyutan Edward.
Lebih terkejutnya, pertemuan kedua, Bram melihat kebersamaan Fene dan Adrian dibandara. Mereka terbang bersama menuju Jakarta.
Bram menyapa Adrian dan Fene, melanjutkan perkenalan mereka.
Mereka bercerita, seolah-olah Bram, Adrian baru mengenal.
Bram menatap Fene penuh pesona. Bram sosok pria cool. Lebih cool dari Adrian.
Setiba di Jakarta, Bram mengantarkan Adrian dan Fene ketempat mereka masing-masing.
Adrian, Bram sangat baik memperlakukan Fene.
Sejak saat itu Fene sering menghabiskan waktu bersamanya, Bram mengungkapkan perasaan.
Fene menghindar.
Bram bukan pria pantang menyerah, Bram menggunakan Kevin, membujuk Fene menjalin kerja sama dengan mereka.
Fene tertarik, Kevin menawarkan keuntungan menggiurkan.
Adrian merasakan perasaan Bram terhadap Fene, Bram tidak pernah terbuka, Adrian menganggap Bram dekat seperti Kevin. Bram pria melankolis, pria teratur, pria sopan, dan hangat. Rasa cemburunya bisa merobohkan sosok lembutnya.
Bram kecewa akan sikap Adrian, telah gagal menjaga Fene.
Kevin berkali-kali memohon maaf, baginya ini kesalahan besar.
Bram kaget mendengar penyakit Fene, yang diderita sejak usia 15 tahun.
Fene memilih stay di Jakarta, agar terhindar dari cuaca dingin.
Itulah alasannya Bram mencintai Fene, selain Fene wanita tangguh, Fene juga wanita kaya dan pintar. Pantang menyerah. Mereka terus fokus dalam bekerja. Hingga usia dewasa mereka tidak tertarik menjalani sebuah komitmen.
Berbeda dengan Adrian, selalu mengejar Veni.
Ratapan Adriana...
Adriana menemui Mark di Napoli. Berharap bisa mendapat kabar dimana keberadaan Adrian. Berbulan-bulan Adriana mencari Adrian, tapi nihil.
"Apa kau sudah menemukan dimana Adrian.?" Tanya Adriana sinis.
"Aku sudah mencarinya, tapi aku tidak menemuinya honey." Mark menggenggam erat jemari Adriana.
Adriana menangis sesengukan, "kau telah menyakiti ku Mark." Tangis Adriana.
"Honey, aku tidak berniat melukai putra kita. Adrian anak ku honey, aku mencintainya." Pujuk Mark.
Adriana menatap tajam mata Mark, termakan kembali rayuan Mark.
Tanpa mereka sadari Marisa muncul dihadapan mereka.
"Sampai kapan kau akan meneruskan perselingkuhan ini Adriana." Sinis Marisa.
Mark emosi seketika, melihat kehadiran Marisa.
"Marisa, a a aku hanya ingin menanyakan Adrian." Jawab Adriana gugup.
"Hentikan kejahatan kalian, sebelum semua terbuka luas diluar sana. Kalian rela mengorbankan semua. Kalian kejam." Marisa menatap benci pada Adriana dan Mark.
"Apa yang kau katakan Marisa, lebih baik kau masuk, atau pengawalku akan menyeretmu." Bentak Mark.
"Kau bela wanita jalang ini Mark, apa kau pernah mengatakan siapa dirimu.? Ingat Mark, aku akan menemui Fene, menceritakan semua kejahatanmu."
PLAAK....
Pipi Marisa memanas, ada buliran bening jatuh dipipi Marisa.
"Masuuuuuk...." Teriak Mark menunjuk.
Pengawal mendekati Marisa.
Marisa berlalu meninggalkan Mark dan Adriana.
Marisa menghubungi nomor telfon Fene, tapi nihil.
Marisa menghubungi Alberth, orang Edward, meminta nomor Fene atau anak asuh Edward.
"Mister, bisa aku berbicara pada salah satu anak Edward.?" Pinta Marisa memohon.
"Maaf nyonya, saya tidak bisa memberi apapun padamu." Tegas Alberth.
"Ini menyangkut keselamatan putri ku Fene Claire Zurk." Pujuk Marisa.
"Hmmmm... Aku akan segera menghubungimu nyonya." Alberth menutup telfonnya.
Alberth menghubungi Edward, memastikan pada Edward karena alasan keselamatan.
"Tuan, Marisa meminta waktu padaku untuk bertemu Fene.? Apakah saya harus mengatur jadwalnya.?"
"Lakukan, atur jadwal mereka di Berlin, pastikan Marisa sendiri. Aku menunggu disini." Tegas Edward.
"Baik tuan." Alberth menutup telfonnya, menyambungkan ke Marisa.
"Nyonya, kami menunggu anda di Berlin, tanpa pengawalan. Saya menunggu lusa pukul 10.00 waktu Berlin." Tegas Aberth.
"Baik mister, saya akan datang tepat waktu. Terimakasih."
Marisa merasa lega, akan bertemu Fene putri angkatnya.
Edward meminta Bram segera ke Berlin. Adrian telah siuman, ingin bertemu sahabatnya.
"Wooooooow.... Welcome to Berlin guys..." Teriak Bram.
"Wooooow... Amazing." Senyum Kevin lirih.
"Hmmmm..." Bram melirik sinis Kevin.
"Apa kita akan membawa uang sebanyak ini melalui darat Bram.?" Fene menatap Bram.
"Nggak sweety, pengawal daddy dalam perjalanan menjemput semua ini." Bram mengusap manja kepala Fene yang berada dihadapannya.
"Vin, atur penerbangan kita ke Frankfurt, dan siapkan armada menuju Berlin." Ujar Bram.
Kevin melakukan semua perintah Bram.
Beberapa hari di Swedia, mereka kelelahan dan frustasi.
Fene terus menanyakan Adrian.
Bram merasa kesal.
"Apa kamu masih mengenang Adrian.?" Tanya Bram serius.
"Why, kenapa kamu tiba-tiba sangat meresahkan aku Bram.?" Tanya Fene sinis.
"Hmmmm... Aku ingin kamu memikirkan ku saja Fen." Rayu Bram.
Fene menghembuskan nafas kesal dengan pertanyaan Bram.
"Apa kamu tidak percaya padaku Bram.?" Fene kesal.
"Hmmmm.... Sepertinya, karena hatiku belum sepenuhnya bisa menerima perlakuan Adrian padamu." Jujur Bram.
"Seharusnya kamu mencurigai Kevin, bukan aku." Fene berlalu.
Fene meninggalkan Bram karena merasa kedinginan. Suhu saat ini mencapai -5, nafas Fene mulai sesak.
Fene mencari obatnya, menarik selimut, berharap besok adalah hari yang indah.
Bram termenung, tanpa meneruskan perdebatan, merasakan ketidaknyamanan Fene, akan perbuatannya.
Adrian...
"Dad... Terimakasih sudah merawat ku." Adrian membuka matanya.
Setelah beberapa hari mengalami koma, keadaan Adrian membaik.
Edward menemani Adrian, memberi yang terbaik untuknya.
"Ya... Sahabatmu akan menemuimu." Senyum Edward mendekati Adrian.
Adrian membalas senyuman Edward.
Berlin..
Marisa menghubungi Alberth setiba di Berlin. Alberth memberi arahan menentukan titik temu.
Fene tidak mengetahui akan dipertemukan dengan Marisa.
Setibanya mereka di Berlin Alberth membawa Fene menemui Marisa disuatu tempat, sementara Bram dan Kevin menemui Adrian.***