Part 18, Kejujuran Menyakitkan...

1112 Kata
Pertemuan Marisa... "Kamu tunggu disini nona, seseorang akan menemui mu." Alberth meninggalkan Fene disebuah taman. Fene mengikuti instruksi diberikan Alberth. Dari kejauhan Fene melihat wanita, Marisa, wanita yang menjaganya dengan penuh kasih sayang. Fene mendekati Marisa memeluk dengan penuh kerinduan. "Mamiiii..... I miss you." Pelukan Fene terasa hangat. Marisa mendekap erat putrinya. Mengajak Fene duduk dibangku taman. "Kenapa kita dipertemukan dengan cara seperti ini Mi.?" Tanya Fene penasaran. "Hmmmm...." Marisa menghela nafas panjang. "Ada apa Mi.? Apa Mami berantem sama Papi, dan memutuskan ikut bersamaku ke Jakarta.?" Gelak Fene. Marisa tersenyum mendengar candaan Fene. "Mami ingin bertemu dengan mu tanpa pengawalan. Berlin adalah tempat yang aman. Mark dicekal untuk kesini." Senyum Marisa sedikit sinis. Fene mengeja kembali bibirnya menatap Marisa, "Mark" kejut Fene tanpa suara. Marisa tersenyum mengalihkan pandangannya. "Hmmmm... Mami sudah tidak ingin bersamanya lagi." Tunduk Marisa. "Whaaaat.? Mami akan berpisah.? Why.?" Fene bersimpuh didepan Marisa menggenggam kedua jemari Marisa. "Berjanjilah, kamu akan selalu diam, berpura-pura tidak mengetahui ini Fen. Berjanjilah pada Mami." Tunduk Marisa. Fene mengangguk tanpa bersuara menatap mata teduh milik Marisa. "Mami, bukanlah ibu kandungmu, kamu adalah anak kandung Hanz Parker." Marisa menangkup wajah Fene. Fene menatap mata Marisa tanpa berkedip. "Adrian adalah anak biologis Mark." Tambah Marisa. Tubuh Fene bergetar, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Fene kembali duduk disamping Marisa tanpa suara. Menatap awan, menembus dosa-dosa kedua orang tuanya. Kepalanya tertunduk. Marisa menceritakan semua kisah Fene dan Adrian. "Mami tidak pernah tau kapan mereka sering bersama, bagi Mami Mark pria yang baik. Otak permusuhan dimulai dari Adriana, menghasut Mark. Chiang Lim mengalami ejakulasi dini. Adriana tidak pernah terpuaskan, disitulah Mark mengambil kesempatan tanpa memperdulikan perasaan Mami. Mark tidak pernah melepaskan Mami. Tapi dia juga tidak pernah meninggalkan Adriana. Hanz Parker adalah abang Mami, mafia di Las Vegas. Mami sengaja tidak menggunakan nama Parker karena Hanz menikahi Irene. Irene hamil kamu masa itu, Hanz menemui Mami, membuat beberapa perjanjian pada Mark untuk menghancurkan Edward Lincoln. Kamu memiliki adik kandung Holi Parker. Kevin tidak pernah mengakui keluarga Irene. Selama ini Mami menutup rapat, Mami rasa ini waktu yang tepat agar kamu tau siapa Mark dan Adriana. Mami merasakan perasaan mu. Lakukanlah sesuai hati mu. Mami akan mendukung semua sepak terjangmu menyadarkan Mark." Cerita Marisa. Fene menangis tertunduk. "Kenapa Mami memberi tau aku semua ini.? Apa tujuan Mami.?" Fene bicara tanpa melihat Marisa. "Agar kamu tau siapa Mark dan siapa Edward. Siapa musuhmu siapa temanmu." Tegas Marisa. "Aku terjebak oleh Kevin hingga berada disituasi sulit seperti ini." Jawab Fene lirih. "Tapi setidaknya, kamu tau apa pekerjaan Mark." Lanjut Marisa. "Ternyata aku terlahir dari wanita seperti Irene." Suara ketus Fene terdengar tak biasa oleh Marisa. "Apakah Papi tidak mencintaiku.?" Mata Fene masih basah, membayangkan wajah Mark cinta pertamanya. Laki-laki yang selalu menjadikannya wanita paling bahagia satu-satunya dimuka bumi ini. "Mark mencintaimu dan Adrian." Jawab Marisa datar. "Mi, apakah Mami tau Bram Lincoln.? Siapa dia.? Apakah dia memiliki masa lalu yang buruk tanpa aku ketahui.?" Marisa tersenyum mendengar pertanyaan Fene. "Bram Lincoln anak kandung Edward Lincoln Fen. Dia tidak memiliki raport merah di mata Mami. Dia pria baik, sama seperti Edward, sedikit galak." Entah kenapa Fene merasa lega, dengan pernyataan Marisa. "Apa Mami dekat dengan daddy.?" "Kami hanya beberapa kali bertemu, tidak lama. Itu juga membahas bisnis." Jelas Marisa. "Daddy akan menceraikan Adriana." Lanjut Fene. "Mami sudah tau." Jawab Marisa tenang. "Jadi, apa rencana Mami.? Apakah Mami akan menceraikan Papi.?" Tanya Fene. "Perpisahan bukan solusi, agar semua berjalan dengan baik sayang." Senyum Marisa. "Mami tidak akan meminta cerai, Mami akan menjadi Mami yang setia pada Mark untuk menjaga mu." Lanjut Marisa mengambil tangan Fene. "Apa kamu lapar.?" Marisa mengalihkan perasaan Fene. "Hmmmm.... Ya, aku lapar. Butuh asupan yang banyak untuk memikirkan semua ini." Fene berdiri menyambut tangan Marisa. Mereka berjalan sepanjang taman. Menuju salah satu restorant. Bercerita, tertawa, mengenang semua keindahan masa kecil. Marisa lega, setidaknya Fene tau siapa Mark Claire Zurk. Setelah pertemuan dengan Marisa, Fene dijemput Alberth. Fene hanya diam. Tanpa bicara sepatah katapun. "Haiiii sweety." Bram berdiri dihadapan Fene. "Hmmmm... Aku akan ngopi di restorant deket sana. Aku ingin sendiri." Fene menghindari tatapan Bram. "Aku temani yah." Rayu Bram. Fene mendorong d**a Bram, berlalu pergi. Fene memesan segelas coffe latte, beberapa cemilan, memeriksa pekerjaannya. Fene masih bisa bernafas lega karena sahamnya masih stabil. Fene memandang ke arah luar kaca. Tanpa memperdulikan Bram. 'kenapa Fene tidak menemui Adrian.?' bisik Bram. 'apakah Fene sedang tidak baik-baik saja.?' Bram mulai resah. Tak selang beberapa lama, mata Fene bertatapan dengan sosok Petter. "Fene, Fene Claire Zurk.?" Kejut Petter. "Ya..." Fene mengingat wajah Petter. "Aku Petter, Petter Helberg." Lanjutnya. "Oooh.... Apa aku mengenalmu.?" tanya Fene ragu. "Ya... Tentu saja, aku sahabat kecilmu bersama Adrian Moreno Lim." Jelasnya. Bram melirik ingin mendekat, tapi diurungkan oleh Kevin dari kejauhan akan menghampirinya. "Oya... Silahkan duduk." Sambut Fene. "Adrian disinikan.?" Tanya Petter salah tingkah menunjuk rumah sakit. "Oooh ya, ya.." senyum Fene. Fene terasa canggung, hatinya masih hancur. "Apa kamu melihat Adrian.?" Lanjut Fene. "Fene, kamu lupa, aku dokter disini, aku yang menangani Adrian sampai saat ini." Jelas Petter. "Oooogh..." Angguk Fene tersenyum. "Apa kamu ingin menemui Adrian.?" Tanya Petter salah tingkah. "Hmmm... Nggak juga. Aku hanya menunggu teman ku." Bohong Fene. "Oooh." Petter mengangguk pelan. "Kamu baik-baik aja Fen.?" Petter melanjutkan pertanyaannya. "Sory Petter, aku sedang memikirkan sesuatu. Bisa kamu meninggalkan ku.?" Fene memohon. "Ooogh tentu, senang bisa bertemu lagi, kalau ada apa-apa hubungi aku." Petter memberi kartu namanya, berlalu meninggalkan Fene. Bram dan Kevin mendengar pembicaraan Fene dan Petter merasakan sesuatu perubahan pada Fene, mereka saling tatap, dan pertanyaan mereka sama. 'why...???' Fene menghubungi Edward. "Dad... Aku di restorant depan rumah sakit. Bisa kita bicara.?" Tanya Fene datar. "Tentu sayang, saya akan menyusul." Jawab Edward. Bram dan Kevin menghindari Fene, saat Edward menghampiri. Edward tersenyum, menatap Fene. "Ada apa Fen.? Apa kamu tidak ingin menjenguk Adrian.?" Suara Edward mengejutkan lamunannya. "Aku akan ke Swiss, kemudian ke Jakarta." Fene hanya menatap kearah Edward. Edward menarik nafas dalam, mengerti perasaan Fene dan tidak mau banyak bertanya. "Oke... Apa kamu sedang memohon izin atau memintaku agar menjaga mu.?" "Ntahlah dad. Aku merasakan sakit, ingin melanjutkan hidupku. Mungkin aku akan melakukan perjalanan bisnis." Jelas Fene tanpa expresi. Edward tersenyum memandang wajah kekasih putranya. "Baik, Bram akan menemani mu." Lanjut Edward. "Tidak, terimakasih dad... Aku ingin sendiri." Fene berdiri dan berlalu. Edward menahan tangan Fene membawa dalam pelukannya. "Tenangkan hatimu. Aku mencintaimu. Aku selalu ada untukmu." Edward mengecup sembari mengusap puncak kepala Fene. Fene menangis seketika. Bram mendekatinya. "Aku permisi dad." Fene mengusap air matanya, berlalu pergi meninggalkan Edward, Bram dan Kevin. "Dad...???" Bram menaikkan bahunya bertanya apa yang mesti dia lakukan. "Sudahlah, biarkan Fene sendiri." Edward meninggalkan Bram dan Kevin. Melihat Fene dari kejauhan. Menelfon beberapa pengawalnya agar menjaga Fene.***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN