Part 19, Persahabatan...

919 Kata
Kesepian Hati... Bram dan Kevin tidak pernah menghubungi Fene. Mereka fokus pada pemulihan Adrian. "Fene dimana Bram.?" Tanya Adrian. "Fene di Jakarta." Jawab Edward ringan tanpa expresi. Bram dan Kevin terkejut mendengar keberadaan Fene. "Daddy, apa daddy menyembunyikan Fene.?" Desak Bram. "Hmmmm.." Edward tersenyum. Beberapa minggu uring-uringan memikirkan Fene. "Bucin amat lo." Kevin kesal melihat Bram. "Ya... Gue emang bucin." Bram keluar dari kamar Adrian. Menghubungi Fene, tidak ada jawaban. "Shiiiiiit...." Bram menggeram kesal. Gebrakan... Fene melakukan perubahan nama, tanpa nama keluarga. Melalui proses panjang selama di Swiss. Mengubah data pribadinya. Fene tidak mau di pusingkan dengan perasaan. Kecemburuan Bram sangat mengganggunya. Fene mengalihkan saham Adrian menjadi milik pribadi dibantu pengacaranya. Mengeluarkan nama Adrian, mengeluarkan hak sesuai kesepakan mereka. Fene menjual seluruh aset Adrian kecuali apartmen. Mengganti nama perusahaan menjadi "FeneSwiss Garmen". Fene menyelesaikan, tanpa meminta persetujuan siapapun. Di Jakarta Fene mengahabiskan waktu dikantor dan rumah. Fene mengalihkan kepemilikan apartemen Mark menjadi milik Fene pribadi atas izin Marisa, menurunkan semua fhoto Mark. Fene bernafas lega, jika menghadapi perperangan suatu hari nanti, dia sudah siap. Beberapa bulan kemudian... Fene teringat sesuatu. Petter... Kartu nama Petter. Fene mengalihkan beberapa asetnya, memiliki rencana membangun rumah sakit spesialis syaraf. "Haloo..." Suara Petter terdengar lembut. "Petter..." "Ya..." "Fene..." "Ooooh ya, kamu dmana.?" Tanya Petter. "Aku di Jakarta, tapi besok aku ke Singapura. Bisakah kita bertemu.?" Tanya Fene. "Waaaah, kebetulan saya hari ini akan ke Singapura. Baiklah, besok kabari jam berapa kamu tiba, aku akan menjemputmu." "Fene menyetujuinya." Fene menarik nafas dalam tersenyum lega. Misinya memulai sesuatu yang baru akan berhasil. Fene merebahkan badannya ke sofa, Bram hadir tiba-tiba dihadapannya. Fene lupa mengganti password apartemennya. "Bram... What are you doing here." Teriak Fene. Bram mendekati Fene memeluknya, Fene menolak. "No... No... No... Silahkan keluar, aku ingin sendiri." "You oke fen.?" Bram masih bertahan dihadapan Fene. "Jangan ganggu aku. Aku tak ingin menghabiskan waktuku." Sindir Fene. Bram memeluk tubuh Fene, tanpa berbicara lagi. Fene mematung tak membalas. "Ada apa denganmu, kenapa kamu menghindari ku." Bram menurunkan egonya. "Aku ingin melepaskan sejenak permasalahan ku Bram. Ingin menenangkan pikiranku. Tanpa ingin menyakiti aku atau kamu." Jelas Fene. "Berbulan-bulan Fen, bukan berhari-hari." Jelas Bram. "Adrian dan Kevin ada di bawah, aku berlari menuju rumahmu. Aku sangat merindukanmu Fen." Lanjut Bram. Tiiiiing.... Lift Adrian dan Kevin terbuka. Fene dan Adrian saling tatap. Adrian mendekap tubuh Fene. "Apa yang lo lakukan sama gue.?" Geram Adrian. Fene diam beribu bahasa. Melepaskan pelukan Adrian. "Kenapa kalian mencari ku.?" Tanya Fene. "Kami sangat merindukan lo Fen..." Jelas Kevin. "Kenapa lo menghindar dari kita Fen.?" Kevin merangkul pinggang Fene, berdiri di dekatnya. "Vin..." Tegur Bram sinis. "Payah gue." Kesal Kevin. Kevin berlalu mencari makanan di kulkas Fene. "Kenapa lo menjual seluruh aset gue Fen.? Apa menurut lo gue sepicik itu.?" Tanya Adrian ketus. Fene tersenyum. "Gue ingin menjauh dari kalian." Tunduk Fene. Mata mereke bertemu. "Menjauh....???" Kata-kata Bram, Adrian, dan Kevin secara bersamaan. "Tega lo Fen. Emang persahabatan kita seperti apa menurut lo.?" Kesal Adrian. "Bukan gitu,,," Fene tertunduk mendudukkan bokongnya disofa. Bram, Adrian dan Kevin mendekati Fene sambil bersimpuh. Kevin menyentuh paha Fene, Adrian duduk persis di depan lutut Fene, Bram menggenggam erat jemari Fene. "Gue bukan menjauh. Gue kelelahan dengan situasi. Gue rasa keadaan tidak bersahabat sama gue, gue sedih. Ternyata gue lahir dari Irene, gue nggak bisa terima." Tangis Fene pecah seketika. "Wooooow... Ternyata lo sodara gue..?" Jawab Kevin bangga. "Pantas lo hot darling." Goda Kevin menyentuh dagu Fene. "Hmmmm.... Fen, mau lo anak Irene, atau siapapun, gue nggak peduli. Lo temen kita, partner kita. Sengaja gue diam saat lo ambil alih saham, jual aset, gue diam. Karena gue tau lo. Bagi gue persahabatan lebih penting dari itu semua, karena kita sudah mendapatkan lebih dari bisnis yang lain." Racauan Adrian seketika. "Gue sempat berfikir lo akan membenci gue karena gue anak Mark dan Adriana. Orang yang telah mencelakai kita. Tapi saat ini, bagi gue, gue akan menjaga lo sampai kapanpun, apapun keadaannya." Tegas Adrian. "Gue menghindari Veni dengan alasan gue masih mengurus pekerjaan gue." "Tapi... Beberapa kali gue ada ketemu Veni di resto. Kami say halo membicarakan perencanaan kami." Lanjut Fene. "Perencanaan....?? Kamu ada rencana apa.?" Mata Bram memandang Fene penasaran. "Gue besok akan ke Singapur. Persentasi untuk pembangunan rumah sakit gue." Fene menatap sahabatnya. "What... Rumah sakit.??" Adrian dan Kevin tidak percaya. Fene mengangguk. "Ya... Rumah sakit syaraf." Jelasnya menyeka kedua pipi dari air mata. "Rumah sakit syaraf seperti apa maksudmu.?" Bram masih tidak mengerti. Fene beranjak, mengambil laptop dan memulai persentasi dihadapan sahabatnya. Fene mengungkapkan akan melakukan perjalanan bisnis beberapa hari menyelesaikan projectnya. Setelah mendengar persentasi Fene, mata ketiga sahabatnya saling bertatapan takjub. "Ternyata selama ini kamu mengatur semua sendri.?" Tampak rona bahagia di wajah Bram. Fene tersenyum, memandang sahabatnya. "Pantes... Daddy bilang kamu baik-baik saja. Apa kamu pernah meminta pendapat padanya.?" Rasa ingin tau Bram muncul. "Nggak, aku memikirkan semua dibantu otak Veni sedikit. Papi Veni menjadi investor utama ku, besok aku menemui Petter." Jelas Fene. "Petter... Petter dokter itu.?" Bram menunjukkan rasa cemburunya. "Ya... Why not." Senyum Fene. "Gue akan menjadi investor mu Fen." Kevin merangkul bahu Fene. "Gue juga, gue akan selalu ada." Adrian tersenyum menatap Fene. "Aku ikut." Sahut Bram. "Tapi disini tidak ada perasaan. Aku akan menyiapkan semua perjanjian kita." Tegas Fene sedikit menyindir Bram. "Gue setuju..." Sambut Kevin sambil melirik Bram dan Adrian. "Tapi Bram... Kamu belum memberikan bagian ku." Fene tertawa, membuka tangannya memeluk sahabatnya. "Welcome to real bisnis." Mereka saling berpelukan dan berteriak bersama. "Detik ini juga aku akan menyelesaikannya sweety." Rayu Bram. Persahabatan mereka kembali, walau bebagai permasalahan. Komitmen menjadi pondasi.***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN