Part 20, Perjalanan Bisnis...

887 Kata
Singapura... Fene melepas segala kepenatan di Singapura. Fene melanjutkan pertemuannya nanti malam, saat jam makan malam. Fene memilih berjalan sendiri, tanpa ditemani ketiga sahabatnya. Rencana malam itu Adrian, Bram dan Kevin akan menemani Fene. Setelah mereka melakukan tanda tangan kontrak, Bram mendapat panggilan agar segera ke Shanghai, sangat terpaksa melepaskan Fene melakukan perjalanan sendiri. Fene di jemput Petter, tanpa sepengetahuan Fene, Petter telah memesankan satu kamar delux untuk Fene beristirahat. Sementara Petter memilih pulang keapartemen, karena ada acara bersama keluarganya. Drrrrt...drrrrt... 'Bram' bisik Fene. "Ya Bram." Jawab Fene ramah. "Bagaimana perjalanannya Fen.?" Tanya Bram, rasa ingin taunya, tidak bisa disembunyikan. "Aku baru nyampe, sedang istirahat. Gimana kamu.?" Basa basi Fene. "Baik, kamu berapa hari.?" Lanjut Bram. "Mungkin lusa aku lanjut ke Hongkong. Ada pertemuan disana." Ungkap Fene. "Ok sweety. I miss you." Bisik Bram. "Miss you too Bram. I love you." Fene tersenyum. "Mmmmmuuuuuaaach.... take care sweety." Bram lega, setidaknya Fene bisa memberi peluang. Adrian..... Adrian mendengar percakapan Bram dan Fene. "Heeeeiii... Lo pikir Fene itu wanita lemah.?" Tawa Adrian. Bram terdiam. Menatap Adrian. "Bener kata Kevin, lo terlalu bucin." kekehnya. "Gue kawatir... Bukan bucin." Bram ngeles kayak bajai glodok, hehehee... "Gue lebih mengenal Fene, dia wanita tidak suka dikejar, apalagi dicurigai. Dia nggak manja. Jika lo terlalu gelisah mencecar setiap pergerakannya, gue yakin 1000% dia akan meninggalkan lo. Trust me." Adrian merangkul bahu Bram. Bram mengerti sekarang. "Makanya saat pengalihan dan seluruh aset gue dijual, gue ikutin. Toh gue tau Fene, jika dia dilawan, dia akan lebih sadis dalam bertindak, bukan dengan kata-kata." Senyum Adrian serasa memberi ancaman mematikan buat Bram. "Beneeer tuh Bram. Makanya santai sama dia. Fene tuh yah, susah buat di takhlukkan. Lo ajakin nikah ni sekarang, pasti lo dijauhinnya. Gue jamin." Lanjut Kevin. Bram mengangguk, ntah mengerti atau tidak dia yang tau. Bram type pria posesif dan cemburuan, agak sulit mendengar nasehat jika tidak mengalami sendiri. Mark... Disela-sela kesibukannya, Mark lupa akan putri angkatnya, mencari informasi keberadaannya. "Terakhir keberadaan Fene ada di Swiss beberapa minggu mister." Jawab salah satu pengawalnya. Mark berfikir sejenak, mengingat apa yang dilakukan Fene di Swiss. 'Apa dia menemui Adriana.?' batin Mark. "Hmmmm... Coba selidiki, apa yang dilakukan putriku di Swiss." Mark memberikan perintah. "Baik mister." Pengawal Mark segera mencari tau. Mark menutup pintu ruangannya segera menghubungi Adriana. Adriana mengangkat panggilan Mark. "Ya." "Apa Fene menemui mu di Swiss.?" Tanya Mark lembut. "Tidak, Fene sudah lama tidak menemui ku. Ada apa.?" Tanya Adriana penasaran. "Hmmmmm... Beberapa bulan lalu Fene berada di Swiss, dalam waktu lama. Apa yang dia lakukan.?" Tanya Mark. "Ntahlah Mark, aku rasa dia baik-baik saja, tidak mungkin dia melakukan hal tidak baik." Jawab Adriana. "Baiklah, aku akan menghubungimu jika mendapatkan kabar terbaru tentang Fene." Mark menutup telfonnnya. Menarik nafas panjang. Berusaha tenang dan berfikir positif. Ternyata ada telinga mendengar percakapan Mark barusan. Edward... Semenjak kesembuhan Adrian, Edward menghabiskan waktunya mengelilingi Jerman. Dia melakukan perjalanan, ditemani Alberth. Memantau pekerjaannya. Dia tidak ingin dipusingkan dengan perkara. Edward sudah melakukan gugatan cerai pada Adriana, diurus pengacara keluarganya. Edward tetap pada pendiriannya. "Alberth, apa kabar Fene.?" Edward seketika mengingat kekasih Bram. "Fene telah melakukan perubahan penuh tuan. Dia telah mengambil seluruh aset Garmennya dari Adrian. Menjual aset Adrian, mengalihkan kepada perencanaan rumah sakit akan segera dia kerjakan." Jawab Alberth. "Apaaaa.?? Rumah sakit.?" Kejut Edward. "Ya tuan." Alberth fokus menatap lurus kedepan. "Rumah sakit apa maksudmu.?" Tanya Edward penasaran. "Nona fene, akan mendirikan rumah sakit khusus syaraf tuan. Dia mendapatkan suport dari William Smith ayah Veni. Beberapa hari lalu juga, Tuan Adrian, Bram dan Kevin mengalihkan dana mereka ke rekening nona Fene." Penjelasan Alberth membuat Edward sedikit kaget. "Ternyata Adrian benar, Fene bukan wanita lemah." Senyum Edward sambil menepuk pelan bahu Alberth. Mereka tertawa. "Kirimkan dana kepada Fene segera, aku akan menanamkan uangku untuk project mereka." Edward memerintahkan Alberth. Saat tiba di hotel Alberth segera menghubungi Fene. "Nona, siapkan kontrak untuk tuan Edward. Dia akan mengirimkan dananya padamu." Suara Alberth mengejutkan Fene saat sedang mengadakan pertemuan dengan beberapa investor termasuk Petter. "Baik mister, nanti saya akan menghubungi anda. Saat ini saya masih meeting." Jelas Fene. "Saya menunggu." Alberth menutup panggilannya, memberi tau pada Edward. "Nona Fene akan menghubungi kita tuan." Edward tersenyum. Melanjutkan pekerjaannya ditemani segelas expresso. Setelah melakukan persentasi dengan beberapa investor, Fene teringat akan janjinya segera menghubungi Edward. Fene mengambil telfonnya. "Ya." "Daddy, sory aku baru selesai. Tadi mister Alberth menghubungiku tentang kontrak. Maksudnya dad.?" Tanya Fene. "Hmmmm... Kenapa kamu masih menutupi rencanamu pada ku Fen.? Kamu gadis yang nakal tapi sangat pintar, pantas Bram sangat suka padamu." Sindir Edward. "Aaaah daddy... Aku hanya melakukan sesuatu, agar dapat membantu sesama." Ujar Fene. "Woooow... Tinggi sekali jiwa sosialmu. Apakah saya tidak boleh menanamkan modal pada rencanamu.?" "Of course... Jika memang daddy mau bekerja sama dengan ku." Suara Fene terdengar indah di telinga Edward. "Baiklah, kapan kamu akan menemui saya. Saya tidak mau menandatangani ini tanpa mendengar langsung persentasi keuntungan dari mu." Kali ini Edward sedikit iseng. "Hmmmm,,, besok aku akan ke Hongkong. Berarti aku tidak melanjutkan perjalanan ku ke Ausi. Aku langsung menemui daddy saja." Jelas Fene. "Daddy dimana sekarang.?" Tanya Fene manja. "Saya menunggumu di Frankfurt, saya ada sedikit urusan disana. Nanti atur waktunya dengan Alberth, beberapa saat lagi aku tidak mengaktifkan nomor ku." Jelas Edward. "Baik dad. Aku akan memberi kabar pada mu." "Oke... Gutten nagh." Edward menutup telfonnya. Fene bernafas lega. Ternyata orang-orang terdekatnya sangat memperdulikannya.***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN