Saat badai sudah reda, mentari kian menampakkan sinarnya; pelangi perlahan membiaskan warnanya, lalu mengapa senja yang temaram juga ikut tiba? — Dinda *** Hoam.... Aku mendudukan badanku, lantas merentangkan tangan dan menghirup napas dalam-dalam. Walau jendelanya tak kubuka, namun udaranya tetap terasa segar. Sangat berbeda dengan udara di kota metropolitan itu. Tiba-tiba, Ayah memanggilku dari jauh. "Nda! Sini dulu, ada yang mau ketemu!" Terlanjur penasaran, kubalas, "Iya, bentar!" lantas pergi ke kamar mandi, cuci muka. Jangan bilang kalau dia Kevin lagi. Aku menjumpai Ayah yang berada di dapur. Dengan alis bertaut, aku bertanya, "Siapa, yah?" Perutku keroncongan melihat telur dadar buatan Ayah. Meski tidak seenak buatan Bunda, tapi ya masih enak. Ayah hanya menghendikkan ba

