Enam : Tuduhan Nina

858 Kata
"Kenapa? Kenapa Kakak berbuat kayak gini sama aku?" tanyaku. Kami dilingkari siswa-siswi yang tadi melihat mading, seolah-olah kami ini ayam jago yang hendak diadu. Seruan-seruan juga terdengar yang mendorong kami untuk berkelahi. Kak Nina dengan kedua teman dibelakangnya mendekat sambil menunjuk tepat di wajahku. "Karena lo udah bikin Aldi mutusin gue!" "Maksudnya?" "Lo tuh pura-pura b**o atau b**o beneran, sih? Kemarin, Aldi mutusin gue. Trus malemnya, dia dinner bareng lo. Masuk akal kalo lo gak ada apa-apa sama Aldi?" ucap Kak Nina sarat akan intimidasi, ditambah keadaan yang ricuh membuatku pusing. Mataku masih sembab, apa cewek di depanku ini enggak iba sedikitpun? "Kak, Kakak pikir aku sama Aldi punya hubungan gitu?" "Trus dalam rangka apa semalem lo dinner bareng Aldi?" Bukannya menjawab pertanyaanku, Kak Nina malah balik bertanya. "Orang tua kita itu partner kerja dan semalam semua anggota keluarga diundang. Udah itu aja." "Gak mungkin!" Nina menyangkal setengah berteriak. "Yang dibilang dia bener!" Suara itu. Aldi. Dia diberi jalan oleh kerumunan untuk mendekat. "Kita gak ada apa-apa. Dan lo, jangan sangkut-pautin semua itu sama kejadian tadi malem waktu gue mutusin lo, ngerti?!" Cuma itu dan Aldi meninggalkan kami yang memaku di tempat, termasuk aku. Perasaanku makin campur aduk. "Ngapain kalian masih di sini? Bubar semua!!" Terdengar suara laki-laki yang lain. Fyuh, syukurlah. Itu temanku, Farel. Kerumunan itu membubarkan diri satu per satu. "Dinda, kamu gak papa?" tanyanya khawatir. "E-enggak, kok," jawabku rada linglung. Aku tidak terbiasa dengan kerumunan dan kericuhan. Belum lagi alasan kami bertengkar, hanya karena cowok. "Tadi si Nina ngapain kamu? Ada yang sakit?" tanya Farel. "Duh, Rel. Aku gak papa." "Beneran? Kamu gak bohong, kan?" Aku menggeleng. "Enggak. Yuk, ke kelas," ajakku menarik pergelangan tangannya. Padahal aku tidak bermaksud begitu, refleks. Sampai di kelas, aku cemberut. Mataku tidak sengaja melihat Aldi yang duduk di bangkunya. "Eh, Rel?" tanyaku ketika Farel hendak ke bangkunya yang dekat meja guru. "Apa?" "Kamu kenal sama ... dia?" tanyaku ragu menunjuk Aldi di pojok sana. "Aldi? Satu SMA Bakti Kusuma juga kenal kali." Aku hanya terdiam. "Kenapa nanya? Suka?" tanyanya dengan nada tak suka. Matanya mendelik. "Ya enggak lah, Farel. Yah maksudnya gak semua harus orang kenal, aku cuma nanya aja." Setelah itu Farel langsung menoleh kepadaku dengan pandangan yang ... entahlah, aku tak mengerti. "Din? Kok kamu ngomongnya jadi ngelantur gini, sih?" Wajah Farel tampak kebingungan. "Ngelantur gimana?" "Yah ngelantur, aneh gitu. Kenapa lagi ada masalah?" Deg. Jantungku berdetak kencang. Kenapa kentara sekali bila aku mempunyai masalah hingga Farel yang notabene-nya sahabat (renggang) ku pun tahu? "Masalah mah ada kali," jawabku sambil duduk di bangku. Niatnya mengindari Farel tapi cowok itu malah mengikutiku. "Mau cerita?" "Ah gak penting juga, kok. Santai aja," ucapku tertawa renyah. Namun Farel masih menampakkan wajah seriusnya membuatku berhenti tertawa. "Serius, Rel. Aku gak apa-apa." "Kalau mau cerita, aku siap kok pinjamin kuping aku." Aku terkekeh kecil. "Pinjamin? Meminjamkan kali." "Yeh, beda dikit doang." "Tapi tetap salah, Farel." "Udah. Fokus ke kalimatnya aja." Aku baru sadar Farel bisa jadi semenyebalkan ini. Orang-orang kadang tidak mengerti kapan orang lain butuh privasi dan Farel adalah salah satunya. "Aku gak papa. Pertama, bukan salah kamu. Kedua, kamu gak tahu apa-apa. Ketiga, kamu gak perlu tahu dan gak perlu ikut campur. Oke?" Detik berikutnya kulihat raut wajah Farel berubah menjadi sendu. "Aku tahu aku bukan siapa-siapa kamu. Aku tahu aku cuma tem—" "Farel, dengar. Kamu itu sahabat aku. Kamu penting. Cuma ini masalah keluarga. Dan aku gak mau membebani kamu sama masalah aku. Cuma itu, kok." "Jangan sungkan, Din. Aku ke mejaku dulu, ya?" Farel pergi meninggalkanku. Diam-diam aku merasa tak enak. Apa tadi aku terlalu keras sehingga Farel kecewa? "Adinda Syifa Nayara, pokoknya kamu harus cerita se-lengkap mungkin," teriak seseorang orang dari pintu kelas. Huh, Vina dan Salsa. Bagaimana mungkin aku bisa meninggalkan mereka dan pergi kekelas bersama Farel tadi? Aku tadi lupa pergi ke mading bersama mereka. Sekarang, bagaimana caranya agar aku tak usah menjawab semua pertanyaan konyol mereka? Namun sepertinya tak bisa, karena mereka terus memaksaku dan tak membiarkanku lepas barang seincinpun. Baiklah, dan mengalirlah cerita dari aku yang mencoba menolak dengan cara pura-pura sakit yang awalnya berhasil sampai kejadian aku dijodohkan dengan Aldi. "Tuh kan! Ku bilang juga apa! Gak percaya, sih. Dijodohinkan, kamu?" cibir Salsa. "Yah, habisnya kukira cuma pesimis aja." "Trus kamu terima?" tanya Vina. Aku menghendikkan bahu. "Dibilang iya, enggak. Dibilang engga, juga enggak." Kening mereka mengerut bersamaan. "Kok? Maksudnya gimana, sih? Kamu bilang iya, enggak. Bilang enggak, juga enggak. Trus kamu jawab apa?" tanya Vina. "Aku belum jawab." "Bilang dong, gak usah berbelit-belit," kata Salsa emosi. "Trus gimana, dong? Aku nolak atau terima. Kan tiap pilihan ada konsekuensinya masing-masing." "Yah terima lah," ucap Salsa enteng. "Kok terima?" tanyaku meragukan usul Salsa. Dia itu paling susah diajak serius. "Amnesia sama kejadian tadi pagi?" Pikiranku langsung mengarah ke kejadian yang belum lama terjadi juga membuatku terngiang-ngiang. Kalau kalian pikir kejadian yang kumaksud adalah saat Nina menuduhku mempunyai hubungan dengan Aldi, kalian salah. "Dia kayak gitu karena bukan Nina pacar sebenarnya," ucapku lesu. Oh iya, sejak tadi kami berbisik sambil sesekali melirik Aldi mengingat cowok itu ada di satu ruangan yang sama. "Bukan pacar sebenarnya gimana?" tanya mereka serempak. "Aldi bilang ...."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN