Dingin. Itulah yang kurasakan sekarang. Bagaimana tidak? Aku, di malam selarut ini sedang berjalan menuju mini market di depan komplek, membiarkan udara dingin malam menusuk lapisan kulitku perlahan.
Instingku bisa dibilang sering tepat. Dan aku merutuki instingku itu. Saat ini aku merasakan ada seseorang yang membuntutiku. Lagi, aku kembali merutuki insting yang membuatku merinding dengan segala pemikiran negatif. Please deh, mungkin cuma orang yang sama-sama mau ke mini market.
"Gue mau ngomong sama lo!" Bersamaan dengan aku yang tertarik, seseorang mengucapkan kata tersebut. Aku melotot, bersiap menonjok orang itu kalau-kalau dia kurang ajar.
"Kamu siapa?" tanyaku saat sampai di taman yang sepi nan gelap. Aku tak bisa melihat wajahnya. Tidak ada orang lagi, bagaimana kalau ini orang berniat jahat?
"Lo gak perlu tau siapa gue?" Suara berat tertutup masker hitam.
"Jangan macam-macam, atau aku akan teriak."
"Huh. Ini gue, inget," jawabnya menyalakan senter dan diarahkan ke wajahnya yang sudah tidak tertutupi masker membuatku menghembuskan napas lega. Aku kira rampok atau orang mabuk.
"Aldi? Kamu apa-apaan, sih? Bikin kaget, tau." Orang berpakaian serba hitam itu Aldi. Tapi, untuk apa dia selarut ini di sekitar rumahku? Jarak rumahnya jauh kalau iseng ke sini.
"Alah, gak usah basa-basi. To the point aja. Denger, gue gak mau sampe lo nerima perjodohan itu. Ngerti?" perintahnya ambigu. Loh, jadi dia juga menentang?
"Gak nerima? Maksudnya nolak?"
"Lo gak perlu nolak, cukup bilang masih butuh waktu. Udah gitu aja."
"Tapi kenapa?" Ku lihat dia menghembuskan napas sebal sebelum merogoh saku dan mengeluarkan ponselnya lalu mengotak-atik sampai dia mengarahkan layarnya padaku.
Di sana, kulihat Aldi dengan seorang gadis tengah saling rangkul. Gadis itu berperawakan tinggi semampai, kulit putih bening, mata bulat yang menggemaskan, hidung mancung ditambah rambut coklat miliknya menambah kesan kagumku. Dilihat dari perbedaan wajah Aldi, sepertinya foto ini diambil sudah lama. Rambut Aldi dipotong cepak di foto, berbeda dengan sekarang yang agak panjang. Tapi, kenapa rasanya wajah cewek itu familiar ya? Kayak mirip seseorang yang kukenal.
"Liat! Karena gue punya pacar. Karena gue cinta sama orang lain!" ucapnya menimbulkan kerutan di keningku. Pacar? Aku melihat lagi cewek itu. Itu jelas bukan Kak Nina.
"Lho? Bukannya pacar kamu Kak Nina, kan?"
"Bukan. Nina itu adik temen gue. Intinya gue cuma bantu Kakaknya dan ini adalah pacar gue yang sebenarnya. Ngerti?"
"Tapi kalau aku nolak, Bunda "
"Kan gue bilang cuma butuh waktu."
"Tapi kan tetap. Kita udah melambungkan harapan Bunda dan mama kamu tapi akhirnya kita jatuhkan begitu saja."
"Trus lo mau egois?" tuntutnya dengan nada sinis. Cowok ini keras kepala deh. Tak kujawab, ia kembali berucap. "Egois buat lo sendiri. Dan gak mikir perasaan gue gimana. Gitu?"
"Gak harus gitu, aku yakin kok ada cara lain yang"
"Cara lain? Kayak gimana? Married by accident, gitu?"
Aku melotot. Sekudetnya aku, tentu aku tau arti MBA yang dimaksud Aldi. "Astagfirullah, maksud kamu?" tanyaku. Tidak mungkin 'kan aku ... begitu. Mana mau, dosa!
"Yah lo cari kek pacar. Biar alesannya makin kuat buat perjodohan itu batal."
"Pacaran itu tindakan yang mendekati zina."
"Gak usah sok alim, lo. Kalau mau ceramah, tuh mesjid kosong. Mending lo ngomong di sana sama setan." Aldi tertawa. Jenis tawa yang dipaksakan.
"Itu gak lucu!" sinisku.
"Dan lo serius, dong!"
"Aku udah seri"
"Serius gimana? Lo cuma kasih alesan buat bisa bikin perjodohan ini terjadi, kan?"
Aku menggeleng. "Aku hanya memikirkan segala spekulasi yang mungkin terjadi atas setiap tindakan yang kita pilih."
"Terserah lo! Intinya gue gak mau lo nerima perjodohan itu." Setelah itu Aldi meninggalkanku di taman sepi dengan sejuta kebingungan yang sulit kumengerti. Tapi satu hal yang kutahu pasti, aku membenci Aldi!
"Jadi Aldi cuma nganggap kalau Nina itu pacar bohongan? Tapi kok bisa sampai mesra gitu, sih? Bakat banget jadi aktor," komentar Salsa saat aku selesai bercerita. Mereka tidak henti-hentinya menyayangkan fakta dibalik idola sekolah mereka.
"Gak jadi deh aku nge-fans sama dia," ungkap Vina.
"Lho? Kan dia gak salah, justru dia ngebantu Kakaknya Nina," belaku.
"Tapi gak anggap Kak Nina pacar bohong juga kali, Nda," ucap Salsa.
"Kalau Nina tahu, dia pasti minta maaf sama kamu, Nda," usul Vina diangguki Salsa dan gelengan kepala dariku. Aku tidak butuh permintaan maaf Kak Nina karena dia tidak salah. Dia juga korban dari tindakan seenaknya Aldi.
"Duh, udah. Kan intinya dia minta bantuan aku buat"
"Buat nolak perjodohan dan bikin Bunda kamu drop, gitu?" potong Vina.
"Dia cuma minta waktu."
"Tapi akhirnya tetap Bunda kamu kecewa, Dinda," kata Salsa.
Sedari tadi malam, aku juga mencari-cari keputusan apa yang sebenarnya aku inginkan tanpa memikirkan perasaan siapapun. Tapi tidak, aku tidak mendapatkannya sampai sekarang. "Nanti aku pikirkan lagi cara supaya aku bisa nolak tapi secara halus dan gak bikin Bunda drop."
***
"Kak Andi!" panggilku pada Kak Andi yang sedang nge-dribble bola basket di lapangan. Kak Andi buka tim basket sekolah, tapi aku sering melihatnya ikut tanding basket antar kelas. Kak Andi satu tahun diatasku yang artinya kelas XI.
"Eh, Nda? Ada apa?" tanya Kak Andi seraya menghampiriku. Aku juga membawakannya air mineral yang kubawa dari rumah.
"Soal semalam"
"Oh iya, Kakakdenger kamu dilabrak Nina. Bener?" potong Kak Andi setelah menghabiskan setengah botol airku.
Aku menggaruk tengkuk yang tidak gatal. "Oh, itu. Kak Nina cuma salah paham, kok. Tapi sekarang udah nemu titik terang."
Mata ka Andi menyipit. "Bener?" tanya Kakak, kujawab dengan anggukan.
Aku menghela napas berat. Huh, semoga keputusanku ini benar dan yang terbaik. "Kak, soal semalam, Nda gak bisa," ucapku pelan.
"Kenapa?" Dan seperti Vina dan Salsa, aku bercerita hal yang sama pada Kak Andi. Aku menceritakannya seringkas mungkin karena jam istirahat tidak banyak. Kak Andi mendengarkan dengan seksama sembari mengelap keringat. Kalau kalian pikir aku ini ember, kalian salah. Justru aku sangat tertutup bila berhadapan dengan orang yang tak kupercaya. Makanya temanku hanya Salsa dan Vina.
"Kamu yakin?" tanya Kak Andi memastikan ketika aku selesai bercerita.
"Yakin, Kak."
"Kalau masalah Bunda sih, Bunda pasti ngerti. Tapi Kakakgak mau kamu nyesal nanti."
"Gak, Kak. Eh, semalam waktu Dinda ke toilet ada apa, sih?" tanyaku. Kulihat Kak Andi kaget dan gelagapan saat aku menuntut jawaban.
"E-enggak ada apa-apa, kok. Hehe," jawabnya gugup, menambah rasa curiga kalau Kak Andi menyembunyikan sesuatu dariku.
"Kok Kakak gugup?"
"Gak, siapa yang gugup!" jawabnya cepat.
"Kakak bohong, ya? Pasti ada sesuatu, kan?" pojokku. Hal sekecil apapun yang terjadi bisa saja berpengaruh pada keputusanku.
"Gak, Nda. Kakak gak bohong,"
"Jujur aja, Kak."
"Ya udah, karena ini hal penting kamu berhak tahu." Kak Andi menghela napas sejenak. Aku bersiap menerima fakta yang lebih menyakitkan dari apa yang terjadi.
"Aldi udah punya pacar." Kakakmemejamkan mata.
"Dinda udah tau," jawabku. Aku menghela napas lega. Setidaknya itu bukan hal baru yang kuketahui.
"Udah tau? Kok bisa?" Bukannya menjawab, aku hanya tersenyum lalu pamit hendak pergi.
"Dinda ke kelas dulu, Kak. Assalamu'alaikum."
Aku langsung pergi dan mendengar Kak Andi menjawab salamku. "Wa'alaikum salam."