Mungkinkah Itu Sebuah Kode

1140 Kata
Kuikhlaskan saja kekalahanku Mungkin ini awal dari  kemenangan besarku Kutakkan menyerah  Karena kukan kembali Dan membuktikan ke mereka Aku bisa membuatnya bahagia Armada - Hujan . . .   "Masih ada pasien?" tanyaku sembari menyingsingkan lengan kemeja krem. Perawat yang menemaniku berjaga di poli namanya Firman. Kami baru bertemu tadi pagi, tapi interaksi kami seperti tim yang sudah bekerja sama bertahun-tahun. Terus terang aku cocok dengan Firman. Dia orang yang komunikatif dan pandai menguasai suasana. Firman bahkan banyak membantu saat sesi konseling dengan pasien. Sebenarnya aku juga memiliki kemampuan interpersonal yang tinggi seperti Firman. Aku mudah berbicara dengan orang baru. Aku menikmati setiap interaksi dengan pasien-pasienku. Bagiku mereka bukan sekadar pasien, mereka adalah tempat belajar terbaik. Tidak hanya belajar tentang penyakit, dari mereka tak jarang aku belajar makna kehidupan. Saking gemarnya aku berlama-lama menganamnesa pasienku, sering perawat di rumah sakit pendidikan menegurku. Tetapi itu dulu ... sebelum Shinta pergi. Kini diam adalah hobiku. Aku berhenti banyak bicara. Tepatnya aku kesulitan bicara. Aku tidak mampu berkomunikasi sebaik dulu. "Pasien terakhir, Dok." Firman menyerahkan map hijau berisi berkas pasien. Hari pertama jaga poli. Aku pikir rumah sakit daerah seperti ini tidak akan memiliki banyak pasien. Ternyata aku salah. Sudah pukul 14:23 WIB aku belum selesai. Sengaja belum makan siang, karena memprioritaskan pasien-pasien yang sudah menunggu. Aku mengganjal perut dengan sepotong kue lapis dan teh hangat yang disediakan oleh rumah sakit. Seorang ibu berusia 59 tahun, didampingi putrinya yang kutaksir berusia sekitar tiga puluh tahunan masuk ke ruang periksa. Mereka mengucapkan selamat siang dan tersenyum ramah kepadaku. Oh ya, sempat kupikir rumah sakit ini memiliki ruang periksa khusus poli bedah. Ternyata poli bedah jadi satu dengan poli penyakit dalam. Hari Senin dan Rabu ruangan ini digunakan untuk poli penyakit dalam. Sementara hari Selasa dan Kamis, kugunakan untuk ruang periksa poli bedah. Itupun hanya setengah hari, dari jam 11.00 wib sampai maksimal pukul 15.00 WIB. Tergantung jumlah pasien. Hari lain aku gunakan untuk operasi. Sedangkan Sabtu dan Minggu aku bertugas dengan sistem on call. Aku suka fakta bahwa di rumah sakit ini tidak ada jadwal jaga IGD untuk residen bedah. "Kenapa, Bu?" tanyaku sambil membaca berkas beliau. Bukan si ibu yang menjawab, eh anaknya nyerocos sekuat semburan pompa air Simitzu. "Ibu saya ini punya benjolan di p******a kanan, Dok. Sudah satu tahun lebih disembunyikan dari saya. Katanya takut dioperasi. Kok bisa penyakit sebahaya ini diumpetin, dia mau nanti ... bla bla bla.... " jelasnya panjang dengan tempo yang sangat cepat. Aku paham kekhawatiran membuatnya emosional. "Saya benci bau rumah sakit, Dok. Makanya saya ogah dioperasi, terus dirawat inap." Bau rumah sakit? Bau karbol dan alkohol? Bau keringat, cairan tubuh, atau darah anyir pasien? Hmmm, andai Anda tahu bagaimana bau mayat satu minggu yang perlu diotopsi seperti apa? Aku yakin bau rumah sakit tidak ada apa-apanya. Aku meminta pasien rebahan di ranjang, agar kami bisa memeriksa. d**a kanannya terlihat memiliki benjolan besar. Putingnya tertarik ke dalam, warna kulit sedikit kebiruan. Sambil mengisi laporan medis pasien, aku menjelaskan bahwa kami harus melakukan operasi. Biopsi merupakan operasi yang bertujuan mengambil sampel jaringan, untuk diteliti di laboratorium. "Berarti ini operasi kecil ya, Dok." Anak si pasien mengonfirmasi. Aku mengangguk, membenarkan. "Tapi bius total, sebab posisinya di d**a kanan." "Kenapa harus dibedah buat ambil sampel sih, Dok. Kenapa enggak langsung diangkat semuanya saja?" Aku  menghela napas. Penjelasan ini akan panjang, dan dokter dilarang menjelaskan dengan bahasa kedokteran. Kami harus memberikan informasi dengan bahasa yang mudah dipahami oleh pasien, begitu aturannya. "Bu, pengambilan sampel untuk di lab memiliki ketepatan sebesar 90% dalam mendiagnosis penyakit kanker. Hasil tersebut sangat membantu dalam merencanakan pengobatan yang sesuai dengan jenis dan stadium kanker Anda." "Ya tapi nanti kalau hasilnya ganas, saya dioperasi lagi dong, Dok? Jadi operasi dua kali, deh. Apa memang itu tujuan dokter. Biar rumah sakit ini untung, iya 'kan?" Astagfirullah. Firman sepertinya peka terhadap perubahan raut wajahku. Ia buru-buru mewakiliku menjelaskan lebih lengkap ke pasien. "Hasil biopsi dapat menentukan apakah pasien perlu menjalani operasi, kemoterapi, radioterapi, atau tidak perlu menjalani pengobatan apa pun, Bu. Banyak pasien yang menjalani pemeriksaan biopsi memiliki tingkat keberhasilan pengobatan yang lebih tinggi. Soalnya biopsi berperan penting dalam membantu dokter menentukan jenis pengobatan yang sesuai, sehingga angka keberhasilan pengobatan juga lebih besar." Syukurlah penjelasan Firman menuai anggukan paham dari keduanya. Setelah disetujui, aku menjadwalkan serangkaian pemeriksaan lab dan konsultasi ke poli anestesi. Mereka akhirnya pergi. Aku menepuk bahu Firman dan mengucapkan terima kasih sebelum kami berpisah. *** Sungguh melelahkan. Tugasku di poli memang berakhir sore hari, tapi karena undangan dokter Tan, aku terpaksa kembali larut. Rumah beliau ternyata di kota sebelah. Awalnya mereka memintaku bermalam di sana. Namun aku menolak. Ada sesuatu yang harus aku urus di rumah. Siapa lagi kalau bukan.... Jika tidak pulang aku tidak bisa melihatnya. Aku tidak mau kehilangan dia untuk yang kedua kali. Kakiku yang semula letih, seketika tangkas saat kembali memasuki halaman rumah kos Bu Mayang. Aku bersemangat menuju kamar belakang. Apakah dia sudah tidur? Tanpa ragu aku naik ke lantai dua. Kuketuk kamarnya beberapa kali. Tidak ada jawaban. Apa dia belum pulang? Lampu kamarnya mati. Semalam Arum membiarkan lampu kamarnya tetap hidup. Aku pikir dia suka tidur dengan lampu menyala. Apa jangan-jangan dia pindah ke tempat lain? Tidak.... Aku turun dengan wajah muram. Semoga analisaku tidak benar. Semoga dia tidak meninggalkanku. "Ngapain lo dari kamar gue? Mau maling lo?" Suara itu... Aku mendongak, kudapati sosok Arum berjalan terseok ke arahku. "Jam berapa ini? Kamu baru pulang?" tanyaku khawatir dan sedikit obsesif. Bisa-bisanya anak gadis pulang jam segini. Mau jadi apa kamu, Shinta? Dia mendorongku sambil berkata, "Minggir! Jangan posesif lo, pacar juga bukan." Gadis kasar. Gadis sombong. Arghhh, kenapa kamu harus membawa wajah Shinta bersamamu? Aku sungguh tidak ikhlas Shinta berubah menjadi Thanos. Aku mencekal tangannya. Menahan dan menariknya hingga ia terjerembab duduk di tangga. "Lo mau apa?" teriaknya nyalang. Aku duduk di hadapannya, melepaskan sneakers biru yang dikombinasi warna abu-abu. Kuperiksa dengan seksama kakinya yang sedari tadi berjalan terpincang. Pencahayaan yang terbatas membuatku harus menggunakan penlight, untung saja aku selalu mengantonginya. Pergelangan kaki kirinya membiru. Luka memar terjadi ketika pembuluh darah kecil di bawah kulit rusak atau pecah, sehingga darah merembes ke jaringan sekitarnya dan membeku. Karena itu kulit tampak kebiruan, merah, ungu, atau hitam, disertai bengkak dan nyeri. Arum tertawa ironi. "Lo dokter?" tanyanya seolah tak percaya. Aku menjawabnya dengan anggukkan. "Tunggulah, aku akan mencari es batu untuk kompres lukamu. Aku juga akan membelikan obat. Jangan tidur dulu." Kukembalikan penlight ke saku. Lalu memapahnya naik ke lantai dua. Dia seperti ingin protes, tapi kata-kata Arum tertahan oleh rasa sakitnya. Beberapa kali ia mengaduh. "Kalau tidak segera diberikan tindakan pertolongan pertama, kamu enggak akan bisa jalan tanpa rasa sakit dua minggu ke depan." Arum hanya melongo. Wajahnya menggemaskan. Baru kali ini aku melihat dia selunak ini, dan itu membuat jantungku kembali berdesir. "Jangan lama-lama. Gue ngantuk!" ketusnya saat langkahku sampai di salah satu anak tangga. Apa itu sebuah kode? ***      
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN