Lihatku di sini
Kau buat kumenangis
Kuingin menyerah
Tapi tak menyerah
Mencoba lupakan
Tapi kubertahan
Kau terindah
Kan selalu terindah
Harus bagaimana
Ku mengungkapkannya
Armada - Pemilik Hati
.
.
.
Siapa Arum sebenarnya?
Jika ia bukan Shinta, mengapa fisiknya sangat mirip?
Ah, tapi Shinta tidak sekasar Arum. Zu gadis yang cantik fisik sekaligus cantik hatinya. Ia sopan, bersahaja, halus, keibuan, dan sedikit lemah.
Aku ingat pertama kali bertemu Shinta dan menjadi pahlawan kesiangan untuknya. Saat itu aku, Shinta, dan Satrio menjalani hukuman Ospek. Kami kalah dalam sebuah games dan dihukum berdiri di depan gapura kampus, sambil menyanyikan MARS universitas keras-keras. Shinta yang berada di tengah-tengah aku dan Satrio mendadak pingsan. Kami panik. Aku mengguncang tubuh kurus Shinta, sementara Satrio berteriak minta tolong.
Kekhawatiranku semakin parah ketika kulihat ada darah merembes di kemeja putihnya. Aku yang masih sangat polos benar-benar takut Shinta akan mati. Satrio kembali bersama beberapa kakak tingkat kami.
"Kak tolong cepat, Kak. Perutnya berdarah," panggilku sambil melambaikan tangan. Air mataku tak terasa sudah membanjir. Lututku gemetar. Aku amat ketakutan.
Mereka memeriksa keadaan Shinta, lalu sang kakak tingkat perempuan mencoba menyingkap kemeja Shinta untuk melihat lukanya. Aku dan cowok lain memalingkan muka atas perintahnya.
"Aneh!" Aku mendengarnya mengatakan itu. "Kalian boleh menoleh ke sini lagi."
"Jadi perutnya kenapa?" tanya senior yang lain.
Aku semakin cemas. Wajah mereka sulit k****a.
"Eh dudul. Darah kau tuh yang jatuh ke kemeja adik ini. Coba tengok hidung kau." Teguran tersebut membuatku reflek meraba hidung.
Astagfirullah, aku mimisan.
Terik matahari memang sering sekali membuatku mimisan. Mungkin karena panik dan terlalu sering mimisan, kali ini aku sama sekali tidak menyadari darah menetes dari hidungku.
Shinta bangun. Ia sempat syok untuk sesaat karena melihat darah di kemejanya. Namun setelah mendapatkan penjelasan, Shinta langsung mengerti. Hukuman kami pun ditangguhkan karena tragedi ini. Aku memberikan sweater abu-abu muda yang kubawa di tasku untuk dipakainya. Shinta bagai malaikat. Baik hati dan murah senyum. Alih-alih marah, ia justru berterima kasih padaku. Padahal gara-gara aku, kemeja putihnya tak bisa dipakai lagi. Noda darah sifatnya pigmented, jika tak segera dicuci bekasnya akan sulit hilang.
Keesokan harinya, Shinta menemuiku untuk mengembalikan sweater. Aku bahagia kejadian tempo hari membuat kami punya alasan untuk bertemu lagi. Sejak saat itu kami menjadi cukup dekat. Aku selalu mencari cara untuk bisa menemui dan meneleponnya. Sebenarnya tidak sedikit yang naksir Shinta. Meskipun ketampananku bersifat kongenital, tidak mudah bagiku mendapatkan hati Shinta. Beruntung perasaanku terbalas. Kami resmi menjadi sepasang kekasih pada semester dua.
"Ngapain lo ngejagrok di depan kamar gue?" Shinta eh, maksudku Arum keluar dari kamarnya dan marah mendapatiku sedang menekur di sini.
"Menunggu kamu." Aku menjawab sambil menatap dalam ke netranya.
Usai shalat subuh, tepatnya setelah aku selesai mandi dan mengganti pakaian. Entah kenapa kakiku ingin sekali naik ke lantai dua. Aku berdiri di depan kamarnya cukup lama. Banyak hal tentang dia yang kupertanyakan dalam benakku.
Tanganku terulur santai sambil berkata, "Mana KTP-mu?"
Dia berdecak kesal. Berbalik badan masuk ke kamar, sambil membanting pintu.
Aku tetap berdiri menunggunya. Pukul 06.15 WIB, aku masih memiliki cukup banyak waktu. Sekitar lima belas menit berlalu, telingaku menangkap derap kakinya mendekat ke pintu.
"Lo masih di sini aja? Sinting lo ya!" Arum berkata dengan ketusnya sambil melewatiku. Dia berjalan ke bawah tergesa-gesa. Aku mengikutinya tanpa mengatakan apa pun lagi.
Keberadaanku rupanya menghentikan langkah kakinya, ia berbalik untuk menatapku. "Gue tegasin, ya. Gue bukan SHINTA!"
"Kenapa kamu tidak mau menunjukkan KTP kamu?"
"Buat apa gue nunjukin kartu identitas gue ke orang asing?" Arum mendorong bahuku kasar.
Aku menghela napas. Oke, aku orang asing.
Tapi, ba-bagaimana bisa Shinta menganggapku orang asing? Keterlaluan.
Aku pun merogoh saku belakang celanaku. Mengais dompet untuk mengeluarkan KTP, dan mengasongkan benda tersebut ke Arum.
"Buat apa lo ngasih KTP ke gue? Mo minjem uang?"
Hah?
Pertanyaannya aneh sekaligus menggelitik. Membuatku tertawa kecil untuk pertama kalinya setelah kepergian Shinta. Kesepian membuat aku tak pernah berani menarik bibir, meski hanya sekadar senyum namun begitu berat bagiku.
"Dasar gila," cibirnya setelah melihat tawaku.
Aku mengejarnya sambil menjelaskan. "Hey, tunggu. Aku nunjukkin KTP biar kamu tahu siapa aku. Biar kamu enggak menganggap aku orang asing."
"Oh, dengan begitu lo pikir gue akan senang hati menunjukkan KTP gue ke elo?"
"Nah, itu maksudku." Aku harap salah paham ini segera berakhir.
"Mimpi sono, lo." Cewek kasar itu melengos pergi dengan sedikit berlari.
Dia kabur?
Wajahnya memang mirip Shinta, tapi Shintaku tak sekasar dia. Aku semakin bingung. Keyakinanku bahwa ia adalah Shinta juga makin memudar.
Baiklah, jika Arum tidak mau menunjukkan kartu identitasnya pada orang asing. Maka aku akan membuat diriku tak lagi asing di matanya.
Bersiaplah, Arum.
***
Catatan kaki
Kongenital = kelainan bawaan sejak lahir