Kalau dulu kita tak pernah bertemu
Tak 'kan kurasakan artinya rindu
Kalau dulu kita tak kenal
Tak 'kan pernah kurasakan jatuh cinta
Armada - Katakan Sejujurnya
.
.
.
Ting tong....
Tidak lama setelah aku menekan bel, seorang wanita dengan daster batik ungu muncul dari balik pagar hitam.
"Pak Hazmi, ya?"
Aku mengangguk, wanita berkulit sawo matang dengan rambut ikal itu ramah mempersilakanku masuk. Rumah kos Bu Mayang terlihat asri dengan halaman yang luas. Samping kanan rumah ada taman dengan kolam ikan dan pohon rambutan di tengahnya. "Anda Bu Mayang?" tanyaku sopan.
"Oh bukan, saya pembantunya. Silakan ikut saya, Pak. Bu Mayang menunggu di dalam."
Sesuai arahannya aku melangkah sambil menyeret koper biruku. Kami memasuki ruang tamu besar yang terlihat unik karena dipenuhi ornamen - ornamen antik. Ada kepala rusa beserta tanduknya menggantung di dinding atas pintu masuk. Kulit harimau berbingkai kaca di pajang pada sudut utama ruang tamu. Sebah almari tua dipenuhi banyak koleksi keris, hingga batu-batuan abstrak menambah kesan mistis.
Seorang wanita dengan kebaya merah, rambut disanggul berhias tusuk konde, menantiku di kursi kayu jati berpelitur cokelat tua. "Silakan duduk, Nak." Dia berdiri untuk menyambutku.
"Nah, ini Bu Mayang." Mbak yang mengantarku berkata sambil duduk di samping majikannya.
"Saya, Hazmi." Aku memperkenalkan diri dan menjabat tangannya dengan sopan.
"Baik, langsung saja ya, Nak. Kemarin saat kamu telepon mencari kamar, saya sudah menjelaskan 'kan?" kata Bu Mayang sambil menatap lurus ke mataku.
Kemarin, dalam pembicaraan kami melalui sambungan telepon, Bu Mayang menjelaskan bahwa hanya ada kamar kosong di kamar belakang. Bangunannya terpisah dari bangunan utama rumah ini. Bu Mayang juga menjelaskan bahwa sebelumnya, banyak pencari kos yang datang melihat, akhirnya tidak jadi menempati kamar belakang karena suasananya yang terlampau sunyi.
"Apa tidak masalah?" lanjutnya sembari memiringkan sedikit kepalanya ke kanan. "Sebaiknya kamu lihat dulu kamarnya, kalau tidak cocok tidak apa-apa."
"Ah tidak masalah, Bu. Saya justru suka tempat yang sunyi." Justru tempat sunyi yang kucari. Aku butuh ketenangan untuk beristirahat dan mengerjakan tugas-tugasku.
Kesepakatan pun dicapai. Aku membayar untuk tiga bulan pertama. Pembantu Bu Mayang yang ternyata bernama Mbak Siti mengantarkanku ke kamar belakang.
“Pak Hamzi dari Jakarta?” tanya Mbak Siti basa-basi sambil menunjukkan Arah. Kami melewati sisi samping kanan rumah yang digunakan sebagai tempat parkir motor di sini.
Aku mengangguk sembari tersenyum tipis. “Lek gitu ndak bisa bahasa Jawa, ya?” Bisa sebenarnya, tapi sedikit sekali jadi aku mengangguk saja supaya tidak diajak berbincang dengan bahasa Jawa.
Setelah berjalan sekitar 150 meter, kami akhirnya tiba. "Lantai satu rumah utama ini yang ngekos cowok, Pak. Sementara lantai dua dihuni cewek." Mbak Siti aktif menjelaskan tentang rumah ini tanpa kutanya. "Kalau kamar belakang bebas, Pak, tapi jarang ada yang mau tinggal di sini. Banyak yang berpikir tempat ini angker," bisik Mbak Siti pada kalimat terakhirnya.
Aku melihat bangunan baru di sudut halaman belakang. Di samping bangunan itu ada pohon beringin ramping yang menjulang lumayan tinggi. Daunnya sedikit, membuatku percaya pada pepatah, “Makin tinggi pohon, makin kencang angin berhembus.” sehingga banyak daun yang gugur. Bukan begitu?
"Kamar belakang ini baru dibangun, Mbak?" tanyaku penasaran. Mataku terus mengamati sudut demi sudut.
Mbak Siti mengangguk. Dahinya berkerut seperti sedang mengingat-ingat. "Sekitar satu tahun, Pak," jelasnya sambil membukakan pintu kamar. "Di atas juga ada satu kamar dan balkon. Bapak mau kamar ini atau kamar yang di atas?"
"Di sini saja, capek nanti kalau di atas saya jadi harus naik turun."
Mbak Siti mengangguk mengerti. “Nah, ini kuncinya. Anak kos sini di larang membawa teman masuk ke kamar. Dilarang pulang di atas jam 12 malam. Setiap Sabtu dan Minggu dapat sarapan gratis. Wajib membersihkan kamarnya sendiri, tempat pembuangan sampah ada di sebelah parkiran motor,” jelas Mbak Siti tentang aturan-aturan yang berlaku di indekos ini.
“Siap.” Aku menerima kunci dan hendak masuk ke kamarku.
“Oh, ya. Satu lagi, Pak. Khusus untuk penghuni kamar belakang, dilarang memanggil saya ke sini ba’dha Magrib.” Mbak Siti berpesan serius sebelum meninggalkanku pergi. Aneh, kenapa melarangk memanggilnya ke sini ba’dha Magrib?. Aku berpikir positif saja, mungkin Mbak Siti orang yang penakut.
Bangunan baru ini seperti sebuah paviliun. Kamarnya cukup luas dan dilengkapi perabot mahal. Lucunya, baik lantai satu maupun lantai dua hanya memiliki satu kamar. Kenapa tidak membangun lebih? Toh tanahnya masih cukup luas. Aku melihat tangga ke lantai dua yang ada di samping kamarku terbuat dari kayu. Kenapa memilih kayu untuk tangga yang diletakkan di luar rumah? Bukankah kayu bisa keropos oleh panas terik matahari dan hujan. Sudahlah, bukan urusanku.
Oh ya, udara di sini dingin. Aku menyukainya. Ketenangan adalah hal yang paling kubutuhkan saat ini.
Aku harus merapikan barang dan segera beristirahat. Meskipun aku bekerja dengan sistem on call, yang artinya hanya ditelepon jika dibutuhkan. Namun keberadaanku sebagai satu-satu dokter bedah di RSUD ini, membuatku harus membunuh harapan untuk tidak diperbudak pekerjaan. Aku yakin cepat atau lambat akan tiba saatnya lututku merasa kopong akibat lelah berlarian, karena banyaknya panggilan tugas.
***
Apa yang paling aku suka dari tempat tenang dan sunyi adalah kebebasan.
Saat Shinta menghilang dari hidupku, aku sempat mengalami ketakutan terhadap hal-hal yang tidak masuk akal. Aku takut sinar matahari. Aku takut cahaya lampu atau cahaya apa pun. Aku takut bertemu orang. Aku takut melakukan kontak mata dengan siapa saja. Aku tidak percaya diri untuk melanjutkan hidup. Hanya di tempat sunyi aku merasa bisa bernapas.
Setiap malam, saat terbangun dari mimpi buruk. Aku selalu menangis dalam diam. Aku membekap mulutku agar tidak ada seorang pun yang tahu kepedihanku.
Di sini, tidak seorang pun yang menggangguku. Aku bisa menangis atau meraung sesukaku. Rumah ini dikelilingi dinding setinggi tiga meter. Kamar yang kutempati terpisah dari bangunan utama. Jarang ada anak kos main ke belakang. Sebab baik motor maupun mobil anak kos diparkir di samping atau di depan rumah.
Angker. Anggapan itu membuat kamar belakang seolah tak terjamah oleh penghuni lain. Soal hantu, aku tidak takut hantu, toh aku hampir hidup seperti hantu.
Malam ini seperti biasanya, sekitar pukul 01.58 WIB aku terbangun oleh mimpi buruk. Peristiwa kecelakaan hingga detik-detik di ruang operasi tak pernah absen menghantui. Udara Kota Probolinggo yang mencapai 28 derajat Celsius pada dini hari ini membuatku gerah. Aku keluar untuk mencari udara segar.
Pohon beringin di depanku ternyata sangat memukau di malam hari. Ketegarannya menjulang seorang diri menantang malam, semakin indah dihias beberapa ekor kunang-kunang. Ternyata menyenangkan juga menyaksikan serangga berpendar di antara kegelapan. Ini pertama kali aku melihat kunang-kunang secara langsung, membuatku merasa beruntung.
Aku duduk di tangga kayu yang menghubungkan bangunan ini ke lantai dua. Menenangkan hatiku yang terpoyak lagi setiap kali mimpi itu datang. Sialnya, saat ketenangan perlahan kurasakan. Suara Kak Azizah kembali terngiang di benakku.
Shinta datang ke mimpi Kakak. Dia bilang dia merindukanmu. Kakak yakin dia menunggumu, Hazmi!
Keping hati yang berusaha kusatukan, porak poranda lagi. Mataku panas, pedas, perih ingin menumpahkan lagi dan lagi airmata yang seolah tak pernah kering. Aku menangis sepuasku. Terisak dalam asak.
"Aaaaaarggggghhh.... SETAN!"
Aku terlonjak. Jantungku seperti lompat mendengar jeritan itu.
Bukan, bukan aku takut setan atau sebangsanya. Aku hanya terkejut karena ini adalah kali pertama seorang gadis meneriakiku setan.
Adakah setan setampan aku?
Tanganku yang kuyakini kekar mencekal tangan ramping gadis itu. Ia meronta sambil terus berteriak, meneriakiku 'Setan'.
"Aku manusia. Tenanglah!"
Ia menyibak poninya. Menampilkan sebuah wajah yang mampu membuat hatiku bergetar. Bergetar karena bahagia sekaligus nyeri.
"Shinta?"
Barista yang bekerja di pabrik kafe? Kenapa dia ada di sini?
"Pelanggan aneh?" jawabnya sambil mengacungkan jari ke mukaku.
"Kamu tinggal di sini?"
"Aish, kalau gue tahu lo juga kos di sini ogah banget gue tinggal di sini," sinisnya sambil mengacak rambut.
Dia turun dari lantai dua, berarti dia penghuni kamar di lantai dua? Serius kah?
"Aku aneh?" tanyaku sembari menggeleng kepala. "Tadi kamu neriakin aku setan, sekarang kamu bilang aku aneh?"
"Ya ampun, siapa juga yang nangis dini hari di tempat seperti ini kalau bukan setan?"
Astagfirullah...
Hatiku terlecut. Ucapannya menohok relungku dalam. Aku memang hidup seperti hantu, tapi ngeri juga kalau Shinta menganggapku setan.
"Kamu itu siapa sebenarnya? Kenapa kamu ada di sini?" Aku balik bertanya dengan nada mengintrogasi.
Semakin kulihat, dia semakin mirip Shinta. Kerutan di tengah alis dan matanya yang menyipit, sama persis dengan ekspresi Shinta ketika ia kesal.
Dia melengos, tapi tetap menjawab, "Gue siapa, huh? Gue Arum, penghuni kamar atas mulai hari ini. Gue turun karena denger lo nangis. Gue pikir lo setan!"
Jawabannya membuatku semakin penasaran. Aku naik satu anak tangga untuk menyejajarkan tinggi kami. Kusudutkan ia ke dinding, lalu kutatap matanya lekat-lekat. "Mana KTPmu," pintaku sambil mengulurkan tangan ke mukanya.
"Buat apa? Lo petugas sensus?" nyalaknya galak.
Aku berdecih karena reaksinya. "Aku harus memastikan sesuatu."
"Sesuatu apa? Bahwa gue bukan Shinta?"
Di-a.... Bagaimana dia tahu jalan pikiranku?
***