Temukan dia untukku
Pulangkan dia padaku
Tunjukkan jalan padanya
Bahwa kutetap di sini...
Untuknya....
Berharap dia kembali pulang
Untukku....
Penantian ini teramatlah panjang
Coba kau rasakan, Sayang
Letihku diujung jalan...
Armada - Penantian
.
.
.
Beberapa bulan setelah kecelakaan.
Tuttt ...
Tuttt ...
Tuttt ...
Tutttttt ...
"Nomor yang Anda tuju tidak dapat menjawab. Panggilan ini akan dialihkan ke pesan suara. Silakan tekan satu untuk meninggalkan pesan suara."
Ratusan kali aku menghubungi nomor Shinta. Ribuan pesan tak henti kukirimkan. Namun Shinta tak pernah menjawab panggilanku, ia juga tak membalas satu pun pesanku.Tidak sama sekali.
Aku menekan angka satu. "Silakan meninggalkan pesan."
"Muncullah, Shinta. Tunjukkan bahwa mereka salah." Aku berkata dengan suara parau. Terlalu banyak menangis membuat pita suaraku sedikit cedera.
"Jawab teleponku, Shinta. Katakan bahwa mereka hanya bercanda." Kulanjutkan kalimatku sambil mencengkeram d**a yang terasa seperti sedang ditikam.
Napasku mulai sesak, aku nyaris tersengal. "Balas pesanku, Shinta. Tuliskan kebenarannya."
"Kamu tidak mungkin mencurangiku, Shinta. Kamu tidak mungkin meninggalkanku."
Meringkuk di lantai sudut kamar. Aku yang beberapa bulan ini menggila. Berlarian ke sana ke mari, mendatangi semua tempat demi menemukan Shinta. Kini menjadi pesakitan dalam kamarku sendiri. Kegelapan menemani kesendirianku. Aku mengunci pintu, mengurung diri.
Kenapa aku masih hidup? Saat orang-orang mengatakan kamu sudah mati?
Lalu untuk apa aku hidup? Saat hanya aku sendiri yang harus menanggung luka ini?
"Hazmi!" Bunda akhirnya bisa masuk. Beliau merusak pintu kamarku dengan gergaji kayu, dibantu oleh Mang Rokhim, supir kami.
Mata nanar bunda menjelaskan seberapa murka beliau padaku. "Kenapa?!"
Bunda menghampiriku dengan langkah tergesa. "Kenapa kamu masih terus menelepon Shinta?" tanya Bunda sembari merampas ponselku. Beliau menghantamkan benda persegi itu ke dinding.
Ponsel yang tiga tahun menemaniku, seketika menjadi keping-keping.
Bunda ikut bersimpuh pada dingin lantai marmer kuning. Di hadapanku, beliau menangis sambil meraih tanganku.
"Shinta sudah mati, Nak. Ini sudah lima bulan berlalu, sampai kapan kamu menyangkalnya?" Air mata Bunda menunjukan bahwa beliau tengah berada di puncak keputusasaannya.
"Bunda tolong jangan begini," rayuku tulus.
"Kenapa kamu seperti ini, Hazmi? Kenapa kamu menghancurkan hidupmu sendiri?"
Kenapa aku seperti ini?
Apa yang harus aku lakukan. Aku memperjuangkannya selama hampir delapan tahun. Kami akan segera menyambut kebahagiaan kami. Lalu sebuah kecelakaan menimpa kami. Aku bahkan menyaksikan dia masih bertahan di meja operasi. Lalu saat aku terbangun, semua orang mengatakan padaku bahwa dia telah pergi.
Omong kosong!
Shinta tidak mungkin selancang itu. Dia tak mungkin pergi tanpa aku! Apalagi sampai meninggalkanku tanpa memberiku kesempatan melihatnya untuk yang terakhir kali.
Shinta tidak begitu.
Aku tidak bisa percaya.
Kenapa kalian harus menjadikannya sebagai bahan lelucon?
***
"Hallo Dok, ada yang mencari Dokter Hazmi." Suara Ratna tersamar oleh bising rinai hujan.
Aku yang sedang berkemas untuk pindah ke kosan Bu Mayang terpaksa menghentikan aktivitasku.
"Siapa?" tanyaku singkat.
"Perempuan, katanya kakak ipar Dokter Hazmi."
Kak Azizah? Untuk apa dia datang ke sini?
"Di mana dia sekarang?"
Setelah menutup panggilan dari Ratna, aku segera pergi menuju pintu depan untuk menemui Kak Azizah. Kulihat dia duduk di bangku tunggu, depan loket pendaftaran. Langkahku panjang menapak selasar rumah sakit. Pasti ada hal mendesak yang membawa Kak Azizah jauh-jauh ke mari. Aku harap itu bukan tentang kematian Shinta. Jujur saja aku sangat jengah mendengar kebohongan itu terus menerus diulang-ulang oleh orang di sekitarku. Mereka seakan memaksaku percaya.
Seperti biasa, penampilan Kak Azizah tampak anggun dengan setelan syar'i. Kakak iparku melambaikan tangan ketika menemukan sosokku menghampirinya.
"Kak Azizah apa kabar?" Sebagai rasa hormat aku mencium punggung tangannya.
Istri Bang Hisyam menjawab, "Alhamdulillah baik, Dek. Kamu gimana? Betah di sini?"
Senyum tipis merupakan jawabanku. Artinya betah tidak betah. Aku bisa apa jika yang berkuasa menentukan aku harus rolling ke sini? Selain hanya menjalani dan mengambil hikmahnya.
Beberapa saat kami berbincang ringan sambil berjalan menuju kantin rumah sakit. Ngobrol sambil ngeteh adalah yang terbaik. Sayang sekali kantin tutup, padahal belum terlalu malam. Aku akhirnya mengajak Kak Azizah ke kafe kemarin. Tempat aku melihat seorang barista yang sungguh mirip Shinta. Siapa tahu barista itu benar-benar Shinta, dan ingatannya langsung pulih saat melihat wajah Kak Azizah.
Sekali lagi aku harus kecewa, Pabrik Kafe tutup. Kami pun berakhir di lesehan pecel lele yang buka setiap malam di depan rumah sakit.
"Hazmi, Kakak tahu kamu sudah melewati banyak masa sulit," buka Kak Azizah setelah meminum sedikit jus sirsatnya.
Aku mengusap kepala. Menahan diriku untuk tidak kabur atau terpatik emosi. Aku sudah tahu ke mana arah pembicaraannya. Tolong hentikan, Kak.
"Jika kedatangan Kakak hanya untuk memaksaku percaya omong kosong itu, sebaiknya Kakak kembali."
Hela napas beratnya sayup-sayup tertangkap telingaku. Pasti berat untuk Kak Azizah, tapi ini jauh lebih berat untukku. Penantian ini semakin berat.
Andai Kak Azizah melihat Arum, dia pasti percaya bahwa Shinta masih hidup.
"Dia menunggumu."
Aku terkesiap. Segera kuputar kepalaku untuk menatap manik Kak Azizah.
"Dia belajar Islam dan memutuskan menjadi mualaf karena rasa cintanya kepadamu, Dek." Ekspresi Kak Azizah seperti karang yang terus menerus diterjang ombak; bertahan tetap tegar.
"Di mana dia?"
"Datanglah ke makamnya. Doakan dia. Dia pasti menunggumu. Dia menantikan doa kamu, Dek."
Astagfirullah...
Aku bangkit. Berbicara dengan kakak iparku benar-benar membuang waktu. Kalau saja dia bukan istri dari abang yang kuhormati, mungkin u*****n kata-k********r sudah melayang.
"Shinta masih hidup!" tegasku geram tapi tertahan. Gigiku gemeretak tak karuan. Kuusap mukaku, menepis emosi yang hanya akan membuatku lebih kehilangan kontrol lagi.
Aku berdiri. Udara begini banyak, kenapa aku kesulitan menghirupnya. “Kak Azizah bermalam di mana malam ini? Jika butuh aku mengantarkan Kakak ke bandara, Kakak bisa meneleponku nanti,” kutawarkan maksud baikku sebelum meninggalkannya.
***