Dunia Baru dengan Luka Lama

1178 Kata
Sejujurnya rasa yang ada Yang tlah kurasakan Tak akan hilang Walau badai derita melanda Armada - Tentangmu . . . "Dokter Tan Siaw Liem, visit." Kabar yang baru saja kudengar dari panggilan telepon perawat Ratna, membangunkanku dari mimpi buruk. Kakiku reflek berlari. Kuterjang apapun yang menghadang. Kutinggalkan ruang istirahatku begitu saja. Dokter Tan Siaw Liem, Sp.BS adalah konsulen yang akan membimbingku selama bertugas di RSUD ini. Beliau bekerja di rumah sakit rujukan yang lebih besar, sehingga hanya sesekali beliau datang ke RSUD. Ini merupakan pertemuan pertama kami. Sialnya, beliau datang saat aku tidak siap. Ya Tuhan, semoga aku masih memiliki kesempatan bertemu beliau. "Di mana Dokter Tan?" tanyaku terengah-engah kepada perawat yang berjaga di nurse station IBS. IBS adalah singkatan dari instalasi bedah sentral. Gedungnya berada di sayap kiri RSUD, persis di samping IGD. "Beliau sedang follow up pasien 1b." Ratna itu menjawab cepat. Aku langsung berlari ke recovery room IBS, hingga lupa mengucapkan terima kasih kepada Ratna. Di depan pintu ruangan, aku berhenti untuk merapikan kemeja slim fit biru muda yang hari ini kukenakan. Aku menarik napas, mengembuskannya. Tarik lagi, embuskan kembali. Beberapa kali hingga detak jantungku kembali stabil.  "Sore, Dok. Saya-" "Dokter Hazmi?" potong Dokter Tan seraya menaikkan kaca mata perseginya. Aku mengangguk santun. Beliau kemudian memperhatikan penampilanku. "Mana snelli-mu?" selidik Dokter Tan dengan rahang mengeras. Astaga, pertanyaan barusan bagai diafortik yang membuat keringatku mengucur deras. Sesopan mungkin aku menjawab, "Maaf, tadi saya tidak sedang bertugas." Beliau tak menghiraukan jawabanku, fokusnya tertuju pada catatan berisi informasi medis pasien yang aku operasi beberapa waktu lalu. "Apa hasil pemeriksaan dari pasien ini?" Mataku menelisik raut menegangkan dari wajah Dokter Tan. Sepertinya ada yang salah. Jangan, aku mohon jangan ada yang salah. Operasi pertamaku di rumah sakit ini, kesalahan kecil akan memperberat hidupku satu tahun ke depan. Setelah menarik napas sejenak, aku menjawab, "Pemeriksaan dari penderita hematoma ini, adanya trauma kepala yang menyebabkan ketidaksadaran. Selanjutnya diikuti perbaikan status neurologik yang perlahan-lahan. Namun, jangka waktu tertentu penderita memperlihatkan tanda-tanda status neurologik yang memburuk." Aku berhenti sejenak, ketika beliau berdehem berat. Ya Allah, bantu hamba. “Lanjutkan,” perintahnya tanpa menatapku. Kini beliau mengecek kondisi pasien, terutama luka post-op di kepala. "Tingkat kesadaran mulai menurun perlahan-lahan dalam beberapa jam. Sejalan dengan meningkatnya tekanan intrakranial bersama pembesaran hematoma. Pasien mengalami kesulitan untuk tetap sadar dan tidak memberikan respon terhadap rangsangan bicara maupun nyeri. Pergeseran isi intrakranial dan peningkatan tekanan intrakranial disebabkan oleh akumulasi darah, menimbulkan herniasi dan melengkapi tanda-tanda neurologik dari kompresi batang otak." Dokter Tan memandangku dengan mata menyipit. "Tindakan apa yang kamu lakukan?" Kali ini, pertanyaannya terdengar seperti bisikan maut yang mengancam jiwaku. "Burr hole craniotomy, twist drill craniotomy, subdural drain," jawabku setenang mungkin. "Hmmm," ujar Dokter Tan sambil manggut-manggut. "Hazmi, apa kamu tidak peduli dengan karirmu kalau sampai operasi ini gagal?" Aku menggeleng polos saat menjawab, "Entahlah, Dok. Saat itu yang ada di kepala saya hanya menyelamatkan pasien ini." Dokter Tan melepas kaca mata, anggukan samar mengiringi langkahnya mendekatiku. "Sekarang saya yakin kalau kamu cucu Dokter Adnan,"  kata Dokter Tan tersenyum sambil merangkulku. Batu besar yang sedari tadi menindih tengkukku seketika terangkat. Aku sempat berpikir di rumah sakit daerah seperti ini, mungkin tidak ada seorang pun yang mengetahui latar belakang keluargaku. Nyatanya aku salah. Kemashyuran nama kakekku sebagai guru besar ilmu bedah di salah satu universitas terbaik Indonesia, rupanya telah didengar oleh seluruh dokter di pelosok negeri ini. "Ah, saya jadi terharu dan sangat tersanjung." Dokter Tan menepuk bahuku lalu berkata, "Jangan bangga dulu. Lain kali, sebelum mengambil keputusan untuk dilakukan operasi. Pertimbangkan hasil terburuk. Sedikit saja kesalahan, perjuanganmu selama ini akan sia-sia, Hazmi." Aku mengangguk, kusimpan baik-baik nasihatnya. "Kalau kamu ada waktu, besok malam datang ke rumah, saya ingin mengundang kamu makan malam bersama," kata Dokter Tan, seraya menyodorkan kartu namanya. Anggukkan mantap, disertai senyum termanis kusajikan sebagai jawaban dari ajakan Dokter Tan. Pertemuan kami sangat singkat. Setelah selesai follow up pasienku, beliau langsung pergi. Aku merasa lega, setidaknya koneksi keluarga masih bisa kugunakan di sini. Mungkin ini saatnya menapaki dunia baruku, meskipun dengan membawa luka lama yang entah kapan sembuh. Sebelum kembali ke kamar, kakiku berhenti di nurse station. Ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan kepada Ratna. "Kamu tahu di mana ada tempat kos atau rumah kontrakan yang dekat dengan rumah sakit ini?" Aku bertanya, Ratna mengangguk pelan seraya menatap heran ke arah wajah kusutku. "Ada, Dok. Memangnya ruangan Dokter Hazmi kenapa, kok nyari kos segala. Kurang nyaman ya, Dok?" Aku menggeleng sebelum berkata, "Sejak semalam, atap kamar saya bocor, dindingnya juga merembes." Kursi di samping Ratna kutarik dan kami duduk bersebelahan. Kurasa dia sedang sibuk membereskan data pasien di IBS. Keberadaanku membuat Ratna celingukan. Dia seperti mencari arah pandang yang bisa dipijak matanya, untuk mengalihkan kegugupan. "Waduh, jangan-jangan kamar Dokter Hazmi juga tertimpa longsor dahsyat kemarin," tebak Ratna yang panik dengan hebohnya, sampai menumpahkan segelas teh di sampingnya. Syukurlah berkas yang ia kerjakan tadi sudah disinggahkan ke sisi lain. Astaga, gadis ini sedang salah tingkah rupanya. Aku menyadari sejak hari pertama masuk rumah sakit, perawat berwajah tirus dengan gigi gingsul ini yang paling perhatian padaku. Kalau boleh narsis, membuat anak gadis orang salah tingkah memang salah satu keahlianku. Bakat alami yang muncul begitu saja. Dulu aku nyaman dan menikmati hal-hal seperti ini. Namun sejak menghilannya Shinta, interaksi terhadap lawan jenis membuatku canggung dan merasa amat bersalah. Bagaimana mungkin aku genit di sini, sementara aku tidak tahu apa kabar Shinta di sana? Aku membantu membersihkan meja, sambil bertanya, "Apa ada kamar lain yang bisa saya gunakan?" "Sebenarnya residen di sini tidak diberi kamar spesial seperti kamar Anda, Dok." Ratna menjelaskan sambil mengeringkan bajunya dengan tisu. "Oh ya? Maksud kamu saya diperlakukan spesial di sini?" "Hehehe, saya kurang tahu. Tapi soal kamar dokter, nanti saya akan laporkan ke bagian yang bertanggung jawab, agar bisa segera direnovasi." "Jadi, saya harus tidur di mana selama kamar itu direnovasi?" "Banyak tempat kos di sekitar sini, Dok. Lagipula Anda bekerja on call di akhir pekan, jadi jangan khawatir. Kapanpun pasien membutuhkan Dokter, pasti perawat di sini akan segera menghubungi Dokter." "Iya, saya tahu itu. Pertanyaan saya, kamu tahu tidak, tempat kos atau kontrakan yang layak di sekitar sini?" Aku menekankan kalimat tanyaku pada Ratna, sebab ia berputar-putar sejak tadi. "Ada, Dok. Saya gambarkan petanya, nih. Biar Dokter Hazmi lebih mudah nyarinya." Ratna mengambil pena dan menggambarkan sebuah dena lokasi. "Kalau Dokter Hazmi pakai mobil harus putar cukup jauh, sebaiknya jalan kaki saja. Cuma tiga ratus meter dari sini," jelasnya sambil menyobek kertas dan mengasongkan peta jadi-jadian itu padaku. Aku mempelajari denah buatan Ratna sambil menahan pening, ini lebih layak disebut gambar benang ruwet anak TK daripada peta lokasi. "Bisa kamu jelaskan maksud gambar ini?" "Ini, ya." Ratna meletakkan jari telunjuknya ke atas gambar itu. "Jadi di samping timur rumah sakit ini ada sebuah gang kecil. Dokter jalan aja masuk ke gang itu, nanti tembus jalan besar, Dokter belok kanan, cari rumah Ibu Mayang, beliau adalah pemilik kos paling elit di sini. Saya rasa rumah Bu Mayang sesuai dengan kriteria tempat tingggal yang Dokter inginkan." Rupanya begitu. Sesederhana itu, lalu kenapa gambarnya bisa serumit ini? Astaga, cobaanmu ada di mana-mana, Tuhan. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN