Tertatih dalam Perih

1345 Kata
  Bumi ini terhenti Tak putari matahari Bulan pun tak menemani Sisi gelap hati ini Bintang pun tak menghiasi Gelapnya langit malam ini Dan aku diam bersedih Melepaskan engkau pergi... Armada - Hilang .  .  . Enam bulan yang lalu. Guncangan cukup keras seolah menarik kembali kesadaranku. Beberapa perawat berbaju hijau gelap membantu menurunkan bangkarku dari dalam mobil ambulans. Sepertinya saat ini aku berada di teras IGD. "Hazmi!" Aku terkejut. Bang Hisyam ada di sebelahku, memelukku erat. Sosok kakak panutan yang selalu terlihat tegar di mataku, kini tampak menyedihkan. Penampilan Bang Hisyam berantakan, rambutnya lepek oleh peluh keringat. Dia telihat amat sangat khawatir, menatapku dengan mata berkaca-kaca. Bang Hisyam  menangisiku? Apa yang terjadi padaku? Astagfirullah, bukankah aku baru saja mengalami kecelakaan bersama Shinta. Lalu, di mana Shinta sekarang? Aku langsung bangkit. Kurasakan sekujur tubuhku sakit, khususnya di area paha. Kugenggam lengan Bang Hisyam yang mendampingiku dengan wajah amat cemas. "Bang, Shinta di mana?" "Hazmi, kita obati dulu lukamu. Nanti aku akan memberitahu kondisi Shinta." "Tidak! Tolong beri tahu aku kondisi Shinta sekarang." Bang Hisyam terlihat ragu. Ia menundukkan kepala sambil menghirup napas dalam-dalam. "Sepertinya terjadi benturan hebat pada perut bagian atas. Mungkin kantung empedu atau limpanya pecah. Dia akan segera dioperasi." Jawaban Bang Hisyam bagai petir yang menyambar tepat di pusat jantungku. Rasa sakitku semakin sempurna. Pandanganku berkunang. Terhalang genangan air hangat yang perlahan mengembun di sudut mataku. Kusapukan pandangan ke sekeliling, aku merasa familier. Ini rumah sakit tempat aku praktik. Kalau begitu, dari posisi kecelakaan kami, butuh setidaknya empat puluh menit untuk tiba di sini. Itu berarti kondisinya sekarang benar-benar kritis. "Siapa operatornya?" "Dokter Antonius, konsulenmu Hazmi." Mendengar penjelasan Bang Hisyam, aku tak mampu menahan kakiku untuk mencari Shinta. Berbekal informasi yang kudapat dari petugas medis yang cukup kukenal, aku akhirnya menemuka ruang operasi Shinta. Syukurlah belum dimulai. Aku menerobos zona dua, berjalan ke zona 1 yang lebih steril. Dokter Anton yang melihat kehadiranku berbaik hati menghampiriku. "Hazmi bagaimana kondisimu?" "Pak, izinkan saya ikut dalam operasi ini," tembakku langsung ke inti. "Tidak, Hazmi. Bagaimana bisa kamu mengoperasi Shinta, sementara kamu sendiri terluka parah?" Aku tak peduli dengan luka di sekujur tubuhku. Shinta adalah tujuan hidupku. Aku tidak bisa diam saja dalam kondisi seperti ini. "Saya harus menyelamatkannya dengan tangan saya sendiri, Pak." Aku terus memohon hingga berlutut ke dokter Anton agar diizinkan ikut dalam operasi ini. Mungkin karena beliau terburu waktu, iba padaku, atau karena hubungan baik kami. Dokter Anton akhirnya mengizinkanku menjadi asistennya. Aku membersihkan tubuh dan mengganti pakaian secepat mungkin. Sempat kulihat tampak sebuah luka menganga di paha kananku. Tak kupedulikan. Lukaku bisa kuurus setelah menyelamatkan Shinta. Aku masuk ruang operasi, bergabung dengan tim yang ada di dalam sana. Bunyi mesin anestesi dan denting insrumen bedah menyambutku. "Setelah cairan RL masuk sebanyak 2000cc. Vital sign pasien menjadi 80/50mmHg dan nadi 120x/menit." Dokter Wahyu, selaku dokter anestesi menjelaskan kondisi Shinta pada dokter Anton. Aku tak sanggup menahan kegugupanku. Untungnya dokter Anton tampak tenang, membuatku merasa lebih baik. Dokter Anton membuat garis imajiner terlebih dahulu untuk insisi garis tengah abdomen secara vertikal. Terdengar helaan napas yang terbentur masker tepat sebelum garis itu benar-benar dibelah dengan pisau bedah di lapisan pertama. Kulit di lapisan berikutnya pun beruntun dibelah, sesekali asap tipis mengepul karena proses pembukaan lapisan lemak menggunakan Electro Surgical Unit (ESU). Tindakan-tindakan lembut tapi pasti dari Dokter Anton, kuperhatikan dengan baik sesuai ritme. "Hold." Aku kemudian memperluas lapang pandang Dokter Anton dengan memisahkan ligamen Duodenokolika dan Gastrokolika, mendekati Kurvatura terbesar perut di bagian inferior dari pembuluh darah Gastroepiploika. Konsulenku menemukan darah di intra abdomen ±1800cc, bercampur dengan usus dan organ abdomen lainnya. Dokter Anton memberi interuksi agar aku segera melakukan evakuasi pada bekuan darah dan menghisap pendarahan. Dilakukan pula packing di empat kuadran abdomen, untuk melokalisir perdarahan dan mencari sumber perdarahan. Setelah darah disedot dan pendarahan dihentikan. Kami baru bisa mencari sumber perdarahan berasal. Ruptur lien, rupanya terjadi robekan pada limpa. Kami mencoba melakukan Splenorraphy, namun tidak berhasil. Limpa Shinta mengalami kerusakan cukup parah. Akhirnya dokter Anton memutuskan untuk dilakukan splenectomy total dengan memotong pedikel lien terlebih dahulu. Sebagai lanjutan untuk menghentikan perdarahan, kami memotong ke empat ligamentum, yakni gastrolienalis, splenocolica, splenophrenica, dan splenorenali. Tuhan, selamatkan nyawanya. Satu langkah lagi, tinggal menutup dengan meninggalkan dua buah vacuum drain yang diletakkan di subdiafragma kiri dan pelvis. Oh, ya, kami juga harus memasang satu buah penrose drain di dinding abdomen. Namun tiba-tiba dokter Anton berteriak, "Ya Tuhan." "Robekannya sampai hepar?" Pertanyaanku barusan hanya dijawab anggukan. "Klem!" Dokter Anton fokus menjahit dengan cekatan, sementara bagianku menyedot darah yang terus keluar. Gawat! Dokter Anton selesai. Tim bedah mundur termasuk aku. Dokter Indra yang merupakan dokter anestesi mengambil alih. "Defibrillator," pintanya ke perawat. Jantungku seakan turut berhenti. Saat bersamaan, kurasakan kepalaku menjadi sangat berat. Rasa nyeri pada paha kananku juga semakin tak tertahan. Penglihatanku sangat kabur. Semua objek menjelma menjadi dua bahkan tiga. Ada sesuatu dari perutku yang sejak tadi seolah didorong naik. Aku mual. Beberapa detik kemudian aku terjatuh. Kepalaku membentur dinginnya lantai operasi. Aku lemas, tak berdaya. Detik berikutnya aku tak tahu apa-apa. *** "Dokter Hazmi sudah sadar!" Perawat berteriak ke seseorang di luar ruangan. Mataku yang baru terbuka bisa mengidentifikasi dengan mudah, bahwa saat ini aku sedang berada di HCU. High Care Unit adalah ruang perawatan pasien ICU yang dianggap sudah menunjukkan perbaikan tetapi masih dalam pengawasan ketat. Kenapa aku di sini?  Apa yang terjadi padaku?  Separah apa kondisiku? Dokter Anton bersama timnya, yang merupakan sejawatku, memasuki kamar dengan wajah semringah. "Syukurlah kamu segera sadar, Hazmi. Berani koma lebih lama, saya mordip kamu," canda dokter Anton sambil memelukku haru. Aku melihat air mata di antara senyumnya. Konsulenku yang garang ini bisa nangis rupanya. Aku terkekeh kecil dalam hati. Oh, ya. Morbid atau morbiditas istilah kesehatan yang merujuk pada angka penyakit. Namun, bagi kaum PPDS arti morbid menjadi mundur semester alias turun tingkat. Hal yang lebih menyeramkan daripada penampakan kuntilanak Mangkujiwo. "Memangnya saya koma berapa hari, Pak?" "Mas Hazmi koma selama dua minggu karena cedera otak traumatis, aku sampai berpikir Mas tidak akan pernah bangun. Aku takut, Mas," jelas dokter Ridho sambil mewek memelukku. Petugas yang melihat kami berpelukan hanya mampu cekikikan sambil geleng-geleng kepala. "So sweet banget kalian ini," celetuk dokter Anton menambah riuh tawa perawat. "Ehh, bagaimana kondisi Shinta, Pak?" Aku bertanya penuh harap kepada dokter Anton. Semoga Shinta baik-baik saja dan berbahagia. Namun pertanyaanku membuat ekspresi semua orang di ruanganku berubah murung. Firasatku buruk. Jangan, tolong jangan katakan kalau Shinta.... "Maaf Hazmi, tapi Shinta tak terselamatkan." "Bohong!" "Tabahkan hatimu, Dokter Hazmi," sahut Dita, salah seorang perawat bedah. "Tidak. Shinta tidak mungkin pergi tanpa aku." Kurasakan pukulan kuat menghantam dadaku. Aku kesulitan bernapas. Udara yang kuhirup menyesakkanku. Keringatku bercucuran. Aku menjadi panik dan sangat cemas. Kenapa semua orang membual? "Dokter Tan Siaw Liem, visit." Kabar yang baru saja kudengar dari panggilan telepon perawat Ratna, membangunkanku dari mimpi buruk itu. Kakiku reflek berlari. Kuterjang apapun yang menghadang. Kutinggalkan ruang istirahatku begitu saja. Dokter Tan Siaw Liem, Sp.BS adalah konsulen yang akan membimbingku selama bertugas di RSUD ini. Beliau bekerja di rumah sakit rujukan yang lebih besar, sehingga hanya sesekali beliau datang ke RSUD. Ini merupakan pertemuan pertama kami. Sialnya, beliau datang saat aku tidak siap. Oh Tuhan, semoga aku masih memiliki kesempatan bertemu beliau. *** Catatan kaki: 1. exploratory laparotomy cito = Prosedur medis yang bertujuan untuk membuka dinding perut agar dapat memiliki akses ke organ perut yang memerlukan tindakan tertentu atau sebagai prosedur diagnostik.  2. Informed consent = Suatu proses penyampaian informasi secara relevan dan eksplisit kepada pasien/subyek penelitian untuk memperoleh persetujuan medis sebelum dilakukan suatu tindakan medis/pengobatan/partisipasi dalam penelitian. 3. Cairan RL = Cairan infus Ringer laktat adalah larutan steril yang digunakan sebagai penambah cairan dan elektrolit tubuh untuk mengembalikan keseimbangannya. 4. General anesthesia = Anestesi umum. Di bawah anestesi umum, pasien tidak merasakan sakit karena benar-benar tidak sadar. Anestesi umum biasanya menggunakan kombinasi obat intravena dan gas inhalasi (anestesi). 5. Intra abdomen = bagian dari tubuh yang berada di antara toraks (d**a) dan pelvis.  6. Blood clot = Bekuan darah.  7. Suction = alat hisap.  8. Ruptur lien = Trauma limpa.  9. Splenorraphy = Perbaikan limpa karena trauma.  10. Splenectomy total = Pengangkatan limpa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN