bc

Dikira Miskin, Ternyata Pewaris Kaya

book_age18+
112
IKUTI
1.0K
BACA
HE
arrogant
heir/heiress
drama
bxg
like
intro-logo
Uraian

WARNING 18+

HOT

VIRAL

Ghania Bramasta seorang gadis cantik dan cerdas keturunan keluarga Bramasta. Sejak kecil telah hidup dalam lingkaran kemiskinan, karena dipisahkan dari orang tuanya oleh adik tiri papanya. Karena kecerdasannya dia bisa menggapai impiannya menjadi wanita karir yang sukses. Ghania juga bisa menikah dengan pria pilihan hatinya bernama Ardian Wijaya. Latar belakang keluarganya yang miskin membuat keluarga Wijaya, tidak menyukainya. Karena hasutan adik, kakak dan mamanya, membuat Ardian berpaling ke wanita pilihan mereka yang bernama Kasandra.Keluarga Wijaya memperlakukan Ghania dengan buruk. Disaat bersamaan sang ayah meninggal Dunia. Dalam masa kritisnya sang ayah dan ibunya memberitahu bahwa mereka bukanlah orang tua kandung dari Ghania. Penderitaan terasa bertubi-tubi. Ditambah lagi Ardian menggugat cerai Ghania begitu saja. Mencampakkan seakan dia telah lupa pernah dengan sangat mencintai istrinya. Namun, dalam masa keterpurukannya ternyata nasib baik berpihak kepada Ghania. Secara tidak langsung dia bertemu dengan orangtua kandungnya. Ternyata Ghania merupakan putri dari Ferdian Bramasta, yang sangat berpengaruh di negeri ini. Dialah pewaris tunggal dari keluarga Bramasta. Ardian pun menyesal saat mengetahui hal tersebut. Bagaimanakah nasib pernikahan mereka?Akankah Ghania mau menerima Ardian kembali?

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1. Bukan Putri Kandung
“Bagaimana para saksi sah?” tanya penghulu kepada para saksi dan hadirin yang ada di ruangan tersebut. “Sah!” jawab para saksi yang ada di ruangan itu dengan serempak. Setelah momen sakral itu berakhir, Ghania pun datang untuk bertemu dengan suaminya. Perasaan haru, sedih, dan bahagia larut menjadi satu. “Cantiknya istriku!” Ardian begitu terpesona saat memandang Ghania yang terlihat cantik dengan gaun pengantinnya. Gadis itu tampak anggun dan elegan. Jika dikatakan beruntung, maka Ghania adalah gadis yang sangat beruntung. Meskipun mendapatkan pertentangan dari Rina–ibu Ardian, pernikahan itu tetap berlangsung karena Ardian benar-benar memperjuangkan cintanya untuk Ghania. Tak peduli dengan larangan Rina, Ardian dengan mantap mempersunting Ghania hingga Rina tak punya pilihan selain menerima keputusan putranya itu. Setelah pesta pernikahan usai, sepasang pengantin itu langsung menuju hotel berbintang yang telah disiapkan untuk malam pengantin mereka. Setibanya di sana, Ghania bergegas menuju walk in closet untuk melepaskan pakaian pesta yang seharian membuatnya tampil bak seorang ratu. Mengikuti sang istri, Ardian juga ikut masuk ke dalam. “Eh, ngapain kamu ikut, Mas?” tanya Ghania kaget. “Lah aku pengen ganti baju juga.” “Aduh, Mas, kan bisa gantian, gak sabaran banget,” gerutu Ghania dengan tangan yang masih kesusahan meraih pengait berupa zipper di bagian belakang gaun. Ardian yang melihat hal itu lantas tidak tega, maju ke depan dan berinisiatif membantunya. “Tuh kan enggak bisa, sini aku bantu aja.” Wajah Ghania pun memerah. Menahan rasa malu karena itu kali pertama ada laki-laki yang akan melihat tubuhnya. “Kita kan sudah sah, santai saja ngga usah tegang begitu,” ucap Ardian. Ghania sebenarnya malu, tetapi mau bagaimana lagi, dia benar-benar kesulitan melepas gaun pengantin yang pas badan tersebut. Ardian sengaja menurunkan resleting dengan perlahan karena sebenarnya ini juga pertama kalinya dia akan melihat tubuh Ghania. Ada rasa deg-degan juga, meskipun Ghania bukanlah yang pertama untuknya. “Makanya, kalau suami masuk biarkan saja, toh kamu juga butuh bantuan, kan?” Kata-kata Ardian kembali membuat Ghania porak poranda. Ditambah napas Ardian yang terasa hangat menerpa telinga dan pipinya. Ada detak tak beraturan di jantungnya, apalagi Ardian sudah berhasil sampai tengah membukanya. Diturunkannya kain yang menutup bagian bahunya. Ardian tak kuasa untuk berdiam diri, dia mengecup bahu mulus tersebut. Ghania semakin berdebar tak menentu. Dia sebenarnya masih tidak menyangka kalau Ghania ini gadis miskin. Kulitnya putih bersih terawat, wajahnya bahkan seperti wajah wanita luar. “Ghania!” Panggilan Ardian membuat Ghania berjingkat dari lamunannya. “Hmmm.” Ghania menoleh ke samping. “Apa dulu ibumu ngidam bule yang sedang lewat, ya?” “Kenapa memang?” Ghania yang kebingungan kembali bertanya pada Ardian. “Ayu wajahmu, kulitmu yang mulus seperti bukan keturunan mereka.” Mendengar pernyataan Ardian dia membalikkan badan, matanya terbelalak, dan memukul lengan Ardian. “Ngawur Mas Ardian ini!” “Iya, nggak. Aku cuma bercanda. Ya, mungkin dulu nenek moyangmu orang luar negeri.” Ardian akhirnya berkata demikian, meskipun ayah dan ibu Ghania punya wajah jawa tulen dan garis kemiskinan jelas terlihat dari raut wajah mereka. Wajah yang putih berseri kini berubah menjadi merah padam. Ada rasa kecewa mendengar ucapan Ardian. “Apa jangan-jangan Mas enggak terima dengan tulus tentang statusku yang sebenarnya?” pekik Ghania. “Serius amat sih, Sayang.” Ardian mencubit gemas hidung Ghania. “Kamu bahkan paling tahu, aku susah payah untuk mendapatkanmu. Masa masih meragukan cintaku.” Ghania masih bergeming. “Jangan ngambek dong, Sayang! Aku bilang itu karena aku kagum sama kamu. Kamu itu wanita yang sangat sempurna. Enggak salah orang tuamu memberi nama Ghania, nama yang singkat. Namun, memiliki arti yang mendalam yaitu seorang wanita yang cantik, kaya, makmur, dan mandiri. Orang tuamu sungguh hebat.” Ghania jadi ingat akan arti nama tersebut sama persis seperti yang dibilang sang ayah. Nama yang baik adalah doa. Itu sebabnya mereka menyematkan nama Ghania untuk putri cantik mereka. “Tapi aku kan enggak kaya, Mas,” ucap Ghania ketus. “Setidaknya kamu harus bangga dengan pencapainmu. Kamu itu udah kerja keras sampai bisa jadi manajer dan dari penghasilan itu, kamu sanggup mengangkat derajat orang tua kamu. Kamu itu hebat!” Ardian memegang kedua bahu Ghania untuk menyadarkan gadis itu. “Eh, kok kamu malah nangis!” “Enggak apa-apa, Mas, aku jadi ingat mereka. Apalagi ayah, di hari bahagiaku dia tidak bisa menyaksikan semua ini. Bahkan dia juga tidak bisa menjadi wali dalam pernikahanku yang hanya sekali seumur hidup.” Tangis Ghania semakin pecah saat mengingat sang ayah tengah berada di rumah sakit saat dirinya melangsungkan pernikahan. “Sssttt, sudah … sudah!” Ardian meraih tubuh Ghania, membawa dalam dekapannya yang hangat. Tangannya mengusap lembut punggung sang istri. Sedangkan Ghania masih sesenggukan menumpahkan segala kesedihannya. “Sudah jangan nangis lagi. Kamu harus percaya, pasti ayah kamu sembuh. Pokoknya, besok kita ke rumah sakit lagi ya buat jenguk ayah kamu.” Ardian coba menenangkan sang istri yang terisak. Setelah Ghania mulai merasa tenang, Ardian langsung mendaratkan bibirnya pada bibir ranum Ghania. Sebagai suami yang telah halal untuknya, Ghania pun tidak menolak dengan ciuman itu. Mereka larut dalam sepersekian detik saling menyesap satu sama lain. Kini tangan Ardian pun tidak bisa diam di tempat. Dia melanjutkan aktivitasnya semula, yaitu membantu melepaskan pakaian pengantin milik Ghania. “Tubuhmu seksi sekali, Sayang.” Ardian begitu kagum saat melihat tubuh molek sang istri. Salivanya sampai naik turun seperti sukar tertelan. Namun, adegan itu terjeda saat dering ponsel terdengar. Ponsel Ghania yang ada di atas nakas tampak menyala. Menampilkan nama sang ibu sebagai pihak yang menghubungi. “Halo, Bu.” Ghania menjawab telepon itu setelah meminta izin pada Ardian terlebih dahulu. Tiba-tiba Ghania terdiam. Raut wajahnya begitu sendu. Air mata pun lolos begitu saja, hingga membasahi kedua pipinya. “Enggak mungkin ….” “Ada apa, Sayang?” Melihat kesedihan di wajah Ghania, Ardian langsung bertanya. “Aku harus ke rumah sakit sekarang, Mas. Ayah kritis,” jawab Ghania panik. Dia pun segera mengambil baju sembarang untuk dikenakan. Tak ingin membuang waktu. Cemas, tentu saja. Ghania takut tak sempat bertemu dengan sang ayah untuk terakhir kalinya. Ardian pun ikut mengganti pakaiannya dan gegas mengantarkan Ghania menuju rumah sakit. Beruntungnya mereka masih di Surabaya. Tidak terbayang, bagaimana jika sudah kembali ke Jakarta. “Cepetan, Mas!” “Oke, kamu tenang ya, Sayang. Berdoa aja supaya ayah kamu baik-baik aja.” Tidak sampai satu jam mereka sudah tiba di rumah sakit. Hanya dua orang yang boleh masuk untuk itu Ghania-lah yang masuk ke ruangan sang ayah karena di dalam sudah ada ibunya. “Ayah …,” ucap Ghania dengan berderai air mata. Gadis itu langsung memeluk sang ayah yang terbaring lemah di atas brankar. Banyak alat bantu kesehatan yang masih melekat di tubuh sang ayah. “Nak, maafkan a-yah dan i-bu,” ucap sang ayah terbata karena kesulitan bicara. “Maaf untuk apa, ayah sama ibu itu enggak salah.” “Tapi Ayah salah karena sudah lama merahasiakan ini ….” “Rahasia …?” Ghania menggeleng. Menepikan rasa penasaran itu dan kembali menatap sendu raut sang ayah sudah terlihat pucat dengan masker di wajahnya. “Udah, Ayah enggak usah ngomong apa-apa dulu! Sekarang yang terpenting ayah sehat, ya.” “Tapi, kamu harus tahu Ghania.” “Tahu apa, Yah?” “Ka-mu, bukanlah putri kandung ka-mi.” “Apa?!” Ghania kaget mendengar penuturan sang ayah, dia pun langsung mengalihkan pandangan menatap ibunya. “Bu, apa maksud Ayah?” Ibunya yang juga tidak berhenti menangis itu pun mengangguk. Ghania menoleh lagi pada ayahnya. Rupanya sang ayah sudah tak lagi bereaksi. Ghania yang cemas langsung memencet tombol darurat. Dalam sekejap, para team medis termasuk dokter langsung masuk ke ruangan. Pacu jantung juga dinyalakan. Namun, tubuh sang ayah tetap tidak bereaksi apa pun. Dokter akhirnya menggelengkan kepala pelan. “Maaf … pasien sudah meninggal.” “Enggak! Ini enggak mungkin, Dok!” Tangis Ghania pun pecah, terdengar begitu perih sampai ke depan ruangan. Namun, Ardian tak bisa masuk karena dilarang oleh dokter. Pria itu hanya bisa menunggu hingga Ghania keluar dari ruangan. “Bangun Ayah, jangan tinggalin Ghania!” Dia pun mengguncang tubuh sang ayah sambil menangis perih. Air matanya semakin deras menetes. Tak dapat dipungkiri jika kehilangan itu benar-benar menjatuhkan mentalnya. “Sudah, Nak, ikhlaskan ayahmu!” ucap sang ibu sembari memeluk Ghania, meskipun dia sendiri juga sangat terpukul dengan kepergian suaminya. Ghania masih melihat wajah ayahnya untuk terakhir kali sebelum dokter menutup dengan selimut. Masih terngiang jelas pernyataan dari sang ayah di mana dia bukanlah anak kandungnya. Lantas siapa orang tuanya? Apa dia adalah anak yang tidak diinginkan hingga dibuang? Terlalu banyak pertanyaan demi pertanyaan yang memenuhi isi kepalanya. Saat pintu ruangan terbuka, sosok Ardian terlihat masuk setelah dokter mengizinkan. Pria itu langsung mendekap tubuh Ghania yang masih menangis terisak. "Sebaiknya Mas Ardian enggak perlu tahu soal ini. Aku enggak mau jika keluarganya malah semakin merendahkanku kalau mereka tahu asal usulku yang tidak jelas,” batin Ghania yang merasa yakin dengan keputusannya. Dia ingin menyimpan rahasia yang disampaikan sang ayah sebelum tiada. Selama ini, Ghania sudah sangat direndahkan karena berasal dari keluarga miskin. Itu sudah cukup menyakitkan untuknya dan Ghania tidak ingin menambah celah lagi yang bisa membuatnya semakin direndahkan. Bersambung

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

TERNODA

read
201.1K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.8K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
192.9K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1K
bc

Kali kedua

read
221.0K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
21.9K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
33.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook