Bab 3. Pengakuan Milea

1257 Kata
“Saya bukan Aurora. Tolong hentikan semua ini. Saya bukan perempuan yang anda inginkan.” “Sebenar lagi kita menikah. Bicaralah lebih non formal. Rasanya telingaku panas mendengar cara bicaramu yang seperti bawahanku.” Milea menelan ludah susah payah. **** Mereka tiba 2 jam lalu di sebuah rumah besar milik Ardito. Yang membuat Milea terkejut adalah ketika melihat halaman rumah itu sudah didekorasi untuk sebuah acara. Lalu, saat masuk ke dalam rumah, sudah ada banyak orang yang sedang sibuk mengatur ini itu. Lalu ia dibawa ke sebuah kamar. Di dalam kamar itu dua orang perempuan berusia sekitar 30 tahun sudah menunggunya. Perempuan itu langsung memintanya untuk membersihkan tubuh. Setelah mandi, Milea harus memakai gaun pengantin. Semua berjalan begitu cepat. Waktu seolah tidak memberi tempat bagi Milea untuk sekedar memikirkan apa yang terjadi. Dalam sekejap ia sudah dimake up sedemikian rupa, dan siap dengan penampilan sebagai seorang calon pengantin. Milea yang sedang berada di tempat asing, dengan orang-orang yang sama sekali tidak dikenal olehnya itu kebingungan. Benar-benar kebingungan, tidak tahu harus melakukan apa. Tas beserta isinya tak lagi berada di tangannya. Pria yang dipanggil Ardito dengan nama Kai itu mengambil tas miliknya. Setelah selesai merias dirinya, dua perempuan itu keluar dari dalam kamar. Meninggalkan Milea dengan satu kalimat. “Tunggu di sini dulu, sebentar lagi acara akan dimulai.” **** “Aku … aku … aku Milea. Maafkan aku karena berperan sebagai Aurora saat menemui pria suruhanmu itu. Aku benar-benar minta maaf. Tolong biarkan aku pergi. Ini salah. Kamu salah orang. Aku bukan Aurora. Aurora … dia, dia tidak mau menemuimu karena dia sudah punya kekasih.” Milea berdiri di samping Ardito yang sedang memperhatikan penampilannya di depan cermin besar. Pria itu masuk ke dalam kamar tempat Milea dirias, tak lama setelah dua perempuan itu pergi. Dan Milea berusaha menggunakan kesempatan berdua dengan Ardito itu untuk menjelaskan pada Ardito. Mengakui siapa dirinya yang sebenarnya. Berharap Ardito percaya, dan melepaskannya. “Aku tidak bohong kali ini. Aku mengatakan yang sebenarnya.” “Jadi begitu?” Milea menatap Ardito dari dalam cermin, lalu mengangguk keras beberapa kali. Menegaskan kebenaran dari kalimatnya. “Jadi kamu sudah punya kekasih, karena itu kamu berusaha menolakku?” Kelopak mata Milea terbuka lebar, membuat bola mata wanita itu tampak membesar. “Bu-bukan … bukan begitu.” Milea menggeleng keras. “Aku … bukan aku yang punya pacar.” Milea berusaha mengoreksi pemahaman Ardito yang salah. Sekali lagi Milea menelan saliva saat mendapati tatapan tajam dari dalam cermin. Milea merasakan paru-parunya menyempit dengan cepat. “Namaku Milea. Milea Kartika Renjani.” Milea mengedip saat akhirnya Ardito memutar langkah 45 derajat ke kanan, hingga kini pria itu berdiri menghadap ke arahnya. Ia berhasil mendapatkan perhatian penuh dari sang komisaris. Milea memberanikan diri untuk membuka jati dirinya yang sebenarnya. Dia tidak ingin melakukan hal yang kelak akan membuatnya menyesal. Milea mengangkat sedikit kepalanya, hingga kini pandangan mata mereka terpaut. Wanita itu memasukkan oksigen sebanyak mungkin ke dalam paru-paru, sebelum membelah sepasang bibirnya. “Aku berteman dekat dengan Aurora sejak di bangku kuliah. Aku orang miskin. Bisa berkuliah karena beasiswa. Sedang Aurora, dia anak orang kaya. Orang miskin ini berteman dengan Aurora yang kaya. Dia banyak membantu keuanganku setelah itu. Aku tinggal sendirian di Jakarta. Di kos. Sebagai timbal balik, aku membantu pelajaran Aurora.” “Meskipun hubungan kami timbal balik, tapi, kami bersahabat dekat. Dia akan selalu berada di sampingku saat aku kesulitan, begitupun sebaliknya.” Milea melanjutkan ceritanya. “Termasuk dengan pertemuan itu. Karena Aurora tidak ingin menikah denganmu, dia memintaku berpura-pura menjadi dirinya. Sebenarnya aku–” “Sudah, cukup Ara. Ceritamu itu pantas dijadikan novel, atau bahkan film layar lebar. Aku tidak tahu kamu ternyata pandai membuat cerita.” “Aku tidak bohong.” Suara Milea meninggi. Dia mulai kesal karena Ardito masih juga tidak mempercayai penjelasannya. “Kamu bisa cek kartu identitasku." Milea menatap lekat sepasang mata Ardito. Wanita itu mengedip ketika mengingat sesuatu. "Ah, semua ada di tasku. Ada buku tabunganku juga. Tolong periksa. Kamu akan percaya setelah melihatnya langsung.” Milea menatap penuh harap Ardito. Masih sambil menatap Milea, Ardito menarik keluar ponsel dari balik jas pengantinnya. Milea menunggu apa yang akan Ardito lakukan. Mungkin, Ardito akan memanggil pengawalnya untuk menyeret dirinya keluar dari dalam rumah megahnya, batin Milea dengan degup jantung yang sudah beberapa kali lebih cepat. Tidak masalah. Yang penting dia tidak dilempar ke laut saja. Itu sudah cukup. Dia akan mencari jalan pulang sendiri. Milea menelan saliva ketika bola mata Ardito kembali menemukan sepasang matanya. Telepon genggam pria itu kini sudah menempel di telinga kanan. Milea menarik pelan, namun panjang napasnya. Ada harapan besar di dalam d*da yang kini muncul. Harapan yang Milea inginkan menjadi kenyataan. Terlepas dari masalah pelik dengan Ardito dan bisa kembali ke Jakarta. “Kai, bawakan tas milik Aurora ke sini.” Harapan Milea bertambah. Tanpa sadar wanita 24 tahun itu tersenyum tipis. Ardito pasti akan percaya pada semua kata-katanya setelah melihat sendiri isi tasnya. Bagus, batin Milea senang. Kini Milea bahkan bisa menghembus napas lega. Berpikir dramanya akan berakhir sebentar lagi. Saat mendengar suara ketukan pada daun pintu, kepala Milea bergerak cepat ke arah benda persegi panjang yang masih tertutup. “Masuk.” Suara bariton Ardito terdengar cukup keras. Meminta seseorang yang baru saja mengetuk pintu untuk segera masuk. Pria itu memutar langkah kaki ke arah daun pintu. Menunggu, sementara fokus matanya tertuju pada pergerakan daun pintu, hingga kemudian muncul sang tangan kanan. Ardito mengangguk, menjawab izin Kai sebelum pria yang berusia satu tahun di bawahnya itu melangkah masuk. Ardito menoleh ke samping. Sepasang alis pria itu berkerut kala melihat kemana arah tatapan Milea. Ardito menekan-nekan katupan rahangnya. Wanita yang sebentar lagi akan dia nikahi sedang menatap tangan kanannya. “Ini, Pak.” Ardito menoleh. Pria itu sempat menatap Kai sebelum kemudian mengambil tas yang terulur di depannya. Pria itu kemudian membuka tas tersebut, lalu mengeluarkan dompet di dalamnya. Ardito mengembalikan tas pada Kai. Milea membasahi bibir dengan ujung lidah. Wanita yang sudah memakai gaun pengantin lengkap dengan riasannya hingga membuat Kai sempat terkejut itu menarik langkah mendekat ke arah Ardito yang kini sedang membuka dompet miliknya. Milea tersenyum saat Ardito menoleh ke arahnya. “Benar, kan? Aku Milea, bukan Aurora.” Tarikan napas dalam Milea lakukan. Kini semua sudah jelas, batinnya senang. Sekarang dia tidak harus menikah dengan pria yang tidak seharusnya menjadi miliknya. Sekalipun pria itu tampan dan kaya seperti kriteria yang ia inginkan. Ardito menarik keluar kartu identitas dari dompet lalu memberikannya pada Milea. Milea tampak kebingungan. Wanita itu sempat mendongak, menatap Ardito dengan wajah bingung, sebelum kemudian mengambil KTP nya dari tangan Ardito. “Baca sendiri,” perintah Ardito dengan ekspresi wajah datar. “Oh ….” Mila mengangguk keras. Wanita itu kemudian menurunkan pandangan matanya sambil berkata. “Milea Kar–” Sepasang mata Milea mengerjap beberapa kali. Dua detik kemudian, bola mata itu nyaris melompat keluar dari kelopaknya. “Ini … ini … ini tidak mungkin.” Milea menggeleng berkali-kali, sementara matanya masih menatap tak percaya sederet nama yang tertulis di KTP. “Ini … ini pasti salah.” “Masih berniat berbohong? Sudah jelas-jelas kamu itu Aurora Kaya Abimanyu. Kamu pikir bisa lolos dariku dengan kebohonganmu itu?” Suara Ardito masih terdengar tenang. Pria itu menatap wanita di depannya. Sedangkan Milea masih menatap tak percaya kartu identitas miliknya. Bagaimana bisa kartu identitas yang ada di dalam dompetnya berubah? Nama, tanggal lahir yang tertera adalah milik Aurora. Tapi, wajah di KTP itu adalah wajah dirinya. Bagaimana mungkin bisa begini? Milea benar-benar kebingungan. “Sekarang waktunya kita menikah, Ara. Tidak ada alasan lagi. Kamu akan segera menjadi istriku.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN