“Maaf, saya harus ke toilet.” Milea meremas telapak tangannya. Mendengar apa yang dikatakan oleh Ardito, tangan wanita itu bergetar. Syok berat. Menikah? Kenapa jadi begini? Milea menurunkan kedua kakinya.
Beranjak dari tempat berbaring sebelumnya, Milea memutar kepala, mencari keberadaan tas nya.
“Mencari tasmu?” tanya Ardito, melihat Milea mencari-cari sesuatu. Melihat anggukan kepala Milea, Ardito menunjuk sebuah meja di depan Kai.
Melia langsung berjalan menuju tempat Kai sedang duduk. Sampai di tempat tersebut, Melia menatap marah Kai, sebelum menyambar tali tasnya. Milea berbalik, hanya untuk kebingungan melihat sekitar. Sepasang mata wanita itu mengerjap saat menyadari sesuatu.
Detik berikutnya, Milea terbelalak. Saat ini dia sedang berada di udara? Di atas pesawat? Milea melangkah ke jendela dan melihat awan-awan bertumpuk di luar sana. Fix, Milea kini sadar ia sedang berada di dalam alat transportasi udara.
Milea kemudian memutar lagi langkah kakinya. Wanita itu kini berdiri menghadap ke arah Ardito yang mulai beranjak dari tempat duduk. “Apa maksudnya ini? Kemana kamu membawaku?”
“Kita akan kembali ke Singapura.”
“Singapura?" tanya Milea dengan nada terkejut. Wanita itu menggelengkan kepala. "Aku tidak mau. Suruh mereka putar balik. Kembalikan aku ke Jakarta,” pinta Milea.
“Ara, kita akan menikah. Aku tinggal di Singapura. Jadi, kamu juga akan tinggal di Singapura bersamaku.”
“Tu-tunggu. Kita kembali ke Jakarta dulu. Aku … aku belum berpamitan pada orang tuaku. Aku–”
“Aku sudah menghubungi orang tuamu. Mereka juga belum kembali dari liburan mereka. Sudah kukatakan, papamu memberikan izin kita untuk segera menikah.”
Milea menelan saliva susah payah. Wajah wanita 24 tahun itu mendadak pucat. “Aku … aku … aku tidak membawa apapun. Tolong kembali ke Jakarta dulu. Sebentar saja. Aku harus menyiapkan semuanya. Data-dataku. Kita .. kita tidak mungkin bisa menikah tanpa–”
“Aku sudah punya semua data yang dibutuhkan untuk pernikahan kita.”
“A-a-apa?” Bola mata Milea membesar. Wanita itu nyaris limbung begitu melihat Ardito tersenyum sambil menganggukkan kepala. Beruntung Milea masih bisa memaksa kedua kakinya untuk berfungsi dengan baik.
Milea merasakan keringat mulai bergulir di punggungnya. Wanita itu meremas tali tas yang sudah tersampir di bahu sebelah kiri. Milea menatap putus asa Ardito. “Aku .. aku.” Milea kembali menelan saliva.
“Maaf Pak Ardito, tapi … aku ... aku bukan–”
Suara tawa Ardito menghentikan kalimat yang belum sempat Milea sampaikan. Ardito menatap Milea dengan sepasang mata yang sudah mengecil karena pria itu belum berhenti tertawa.
Saat pertama melihat perempuan di depannya ini melalui kamera ponsel Kai, dia langsung tertarik pada perempuan itu.
Latar belakang sesuai yang ia inginkan, dan paras cantik perempuan yang memiliki hidung cukup tinggi, sepasang mata bulat dengan bulu-bulu panjang nan lentik, serta bibir seksi berwarna kemerahan tersebut membiusnya. Tidak ada keraguan untuk menikahi perempuan dengan ekspresi wajah syok di hadapannya ini.
“Apa sekarang kamu akan mengatakan jika kamu bukan Aurora?” tanya Ardito dengan alis terangkat. Tawa tak lagi terdengar, namun gurat senyum di wajah pria itu masih tampak.
“I-i-iya.” Dengan wajah ketakutan Milea menjawab. Dalam hati Milea meminta maaf pada Aurora. Dia tidak bisa melanjutkan. Sungguh, dia takut sekarang. Sepasang mata Milea sekali lagi mengerjap begitu mendengar tawa Ardito.
Ardito geleng kepala. Butuh beberapa detik sampai pria itu berhenti tertawa lalu segera menjawab. “Dan kamu pikir aku akan percaya? Setakut itu kamu padaku, Ara? Apa wajahku ini menakutkan?”
“Aku … aku mengatakan yang sebenarnya.”
“Kai sudah bilang. Kamu mengaku bukan Aurora saat ia hendak membawamu pergi.” Ardito mengayun langkah kaki mendekati Milea. Pria itu menahan sebelah tangan Milea ketika Milea menarik langkah ke belakang–menjauh darinya.
“Aku tahu kamu pasti terkejut karena semuanya serba mendadak. Aku bertemu papamu satu minggu lalu. Kami berbincang, lalu kami sepakat kita akan menikah.”
“Kamu tidak perlu khawatir. Kita bisa memulainya dengan perlahan. Aku tidak akan memaksamu. Aku membutuhkanmu untuk mendapatkan posisiku. Jadi, kamu tidak perlu takut padaku. Aku akan memperlakukanmu dengan baik. Kamu akan menjadi istri seorang komisaris perusahaan besar.”
“Maaf, dimana toilet?” D*da Milea naik turun dengan cepat seiring degup jantung yang sudah meningkat beberapa kali lebih cepat. Dia tidak peduli soal kedudukan yang dijanjikan oleh Ardito. Dia hanya ingin kembali ke Jakarta.
“Oh ...." Ardito menatap dalam Milea sebelum menoleh ke kiri seraya berkata, "Sebelah sana.”
Milea mengikuti arah pandangan Ardito kemudian mengangguk.
“Permisi.” Milea segera mengayun kaki, meninggalkan Ardiro. Dia harus segera menghubungi Aurora. Istri komisaris perusahaan besar? Dia memang ingin punya suami orang kaya, tapi, tidak dengan menggunakan identitas Aurora.
Begitu masuk ke dalam toilet, Milea segera mengunci pintu. Dengan tangan bergetar, wanita itu membuka tas lalu mengeluarkan ponselnya. Milea menyalakan layar ponsel. Wanita itu masuk ke aplikasi berkirim pesan. Sadar tidak boleh melakukan panggilan saat sedang berada di dalam pesawat yang masih mengudara.
Bahkan seharusnya dia juga tidak menyalakan ponselnya. Hanya sebentar, batin Milea yang sudah begitu panik.
Milea menjauh dari pintu. Wanita itu kemudian mulai mengetik. Cukup banyak yang Milea tulis dalam pesan yang kemudian ia kirim.
Milea berniat untuk segera menyalakan mode pesawat seraya memberi waktu Aurora untuk membalas pesannya. Saat itulah dia menyadari jika mode pesawat sudah aktif dan ponselnya sudah tersambung dengan wifi pesawat. Wanita itu menghembus napas lega.
{Ara, pria itu membawaku ke Singapura. Sebentar lagi kami akan sampai. Dia bilang kami akan segera menikah setelah sampai. Tolong aku, Ara. Tolong aku. Kamu harus menghubungi orang itu. Minta nomornya pada papamu. Dia kenalan papamu. Kamu harus menghentikannya menikahi orang yang salah]
[Ara, dia pria dewasa. Mungkin sekitar 30 tahun. Dia seorang komisaris di perusahaan besar. Dan dia … tampan. Sebaiknya kamu segera hubungi dia, dan ceritakan apa yang terjadi. Kamu yang seharusnya menikah dengannya. Jangan menelponku. Aku masih di pesawat. Jawab pesanku ini secepatnya]
Milea masih menatap room chatnya dengan Aurora. Harapan muncul ketika melihat Ara sedang mengetik. Milea menarik napas sepanjang yang ia mampu usahakan. Telapak tangannya masih berkeringat, padahal di dalam pesawat terasa begitu dingin.
Beberapa detik kemudian, jawaban yang Milea tunggu akhirnya muncul.
[Anggap saja itu rezekimu, Milea. Bukankah kamu ingin punya suami kaya? Menikah saja dengannya. Aku tidak bisa menikah dengan orang lain. Aku sudah punya Elias]
Bola mata Milea membesar membaca kalimat balasan dari Aurora.