Insiden Pembalut

1582 Kata
Gedung Auditorium Universitas PAD******* Saat itu, aku sedang menunggu tiga perserta lagi untuk sampai pada giliranku, untuk melakukan presentasi karya ilmiahku. tapi entah kenapa perutku mendadak jadi tak enak. Rasanya saat itu seperti ada yang memeras perut bagian bawahku bahkan sakitnya sampai melilit. Hingga aku tak bisa duduk dengan nyaman karenanya. “Gadis? Kau tak apa bukan?” Tanya Ferry padaku, ia merupakan anggota timku untuk lomba karya ilmiah Psikologi klilis yang sedang ku ikuti saat ini. “ehm… aku mungkin hanya gerogi” Pikirku, karena mungkin aku yang harus mempresentasikan tulisanku di depan banyak orang hebat yang menjadi perwakilan dari kampus mereka. dan jujur saja aku juga sedikit terbebani karena harus membawa nama kampusku, jadi kupikir rasa sakit di perutku saat itu berasal dari stress ku saja. “tapi, wajahmu pucat bagini…” Tambahnya, dan setelah mendengarnya berkata begitu, aku tiba-tiba langsung memiliki firasat buruk. karena keringat kecil-kecil juga mulai kurasakan keluar dari dahiku. Aku benar-benar merasa kondisiku saat itu memang sedang tak baik-baik saja. “aku ke toilet dulu sebentar” Akhirnya aku bangkit dari kursiku lalu berlari keluar ruangan besar dan ramai itu, untuk menuju toilet. “Gadis!” Baru saja beberapa langkah aku keluar ruangan itu, terdengar seseorang memanggilku. dan begitu aku akan berbalik tiba-tiba kedua tangan kokoh sudah melingkar di pinggangku dengan outer miliknya. “oh.. Pak Alex, kenapa jas milik Pak Alex ini dilingkarkan di pinggangku?” “Gadis” Aku mendongak, posisinya saat itu benar-benar membuatku awkward. jarakku dengannya benar-benar sangat dekat, terlebih tangannya yang melingkar di pinggangku bersama dengan jas abunya itu, terlihat seperti hhh… “Pak Alex… ini di lepas… di lihat orang tak enak, Pak” Ingatku pada Mas Alex yang saat itu baru beberapa minggu saja menjadi kekasihku. “kita jalan dulu ke tempat yang lebih sepi… atau ayo kita ke toilet” Mendengar ucapannya saat itu aku langsung kaget sekaligus terkejut. namun aku bahkan tak di beri waktu olehnya untuk menikmati(?) perasaan terkejutku karena ulahnya itu, Mas Alex cepat menyeretku untuk pergi meninggalkan area yang cukup ramai itu. Sampai di toilet wanita. Ia nekat masuk lebih dulu ke dalam dan langsung memeriksa setiap biliknya. “Pak Alex!” Panggilku sambil terus memandangi kearah pintu takut-takut ada tiba-tiba yang masuk. “Pak Alex… nanti ada yang masuk dan mungkin akan mengira kita sedang-“ Tak kuselesaikan, Mas Alex dengan cepat meraih pinggangku dan membalikan tubuhku jadi membelakanginya. ‘oh.. tuhan… apa dia sudah kehilangan akalnya ingin melakukan ‘itu’ di tempat seperti ini” Pikiranku sudah buruk saja saat itu. aku sudah melihat banyak adegan seperti itu di beberapa film dewasa. di mana si prianya yang sudah tak tahan sampai dengan capat melakukan ‘itu’ di toilet dan memasukan miliknya dari arah belakang. “jangann Pak… nanti ada yang lihat” Kataku padanya, namun ia sepertinya tak mendengarkanku dan terus saja memperhatikan bokongku. Aku sampai menahan napasku saat tangannya sedikit menyentuh bokongku. “Gadis… kau bawa pembalut bukan?” “apa? pembalut?” ‘tunggu jadi… dia bukan ingin it- … tapi- hhhhh…’ langsung aku menoleh ke belakang tubuhku untuk mengintip celanaku. Dan apa yang kutemukan disana adalah noda merah darah menstruasiku yang tiba-tiba saja datang hari ini. “ahhhh… pantas saja sedari tadi aku merasa perutku sangat sakit… ternyata ini penyebabnya” “….hhh… bagaimana ini… presentasiku sebentar lagi” Aku jadi tak tenang dan gelisah tak karuan saat itu. Mas Alex menyadari aku yang sedang dalam kondisi tak baik, tangannya menggenggam tanganku untuk sedikit menenangkanku. “apa ada pembalut di tasmu? Biar aku bawakan..” Ucapnya. “hhh… tak ada Pak, aku tak memilikinya saat ini… aku tak tahu kalau hari ini sudah masuk masa menstruasiku” Jawabku, aku tak tahu harus bagaimana dan merasa sangat bingung sekali saat itu. “ahaahh… sakit…” Keluhku, dan tiba-tiba saja kurasakan gumpalan darah dari area kewanitaanku keluar tak terkendalikan. Hingga aku langsung cepat memasuki salah satu bilik dan menutupnya. Kubuka celanaku dan langsung ku bilas area itu beserta darahnya yang sialnya langsung keluar banyak. ‘Gadisss…. Kenapa harus seperti ini di hari ini, di depan Pak Alex jugaa!!!’ Kutukku dalam hati. Sementara itu di luar Mas Alex terus mengetuk-ngetuk pintu bilik toilet dan memanggil namaku dengan suara yang sedikit di pelankannya. “Gadis… Gadis.. Gadis!” “ahh… iya Pak” “kau tak apa bukan? jangan membuatku khawatir?? Apa aku harus memanggil petugas kesehatan untukmu” “tak usah Pak… aku baik-baik saja” Tolakku, karena akan sangat berlebihan sekali jika hanya karena menstruasi aku harus dipanggilkan petugas kesehatan. “kalau begitu jangan membuatku kahwatir… apa rasanya sakit sekali? ada yang bisa ku lakukan untukmu? Kau mau ku belikan obat atau air? Apa sudah selesai membersihkannya? Jika sudah buka pintunya…” Mas Alex terdengar sangat khawatir sekali dari balik pintu bilik saat itu. “ehmm… Pak Alex, bisa aku minta tolong untuk….ehmmm” Aku ragu saat itu, haruskah aku memintanya untuk membantu soal masalah yang benar-benar cukup sensitive untuk seorang wanita. Tapi tak ada lagi yang bisa ku mintai tolong selain dirinya. “apa? cepat katakan padaku” “itu… bisa belikan aku…. pem ba lut” Kataku dengan suara yang jadi semakin rendah bahkan ujungnya jadi tak jelas terdengarnya. “ah… baiklah aku akan belikan itu untukmu.. jadi tunggu, aku janji… aku tak akan lama membelinya” Kemudian kudengar suara langkah belari setelah Mas Alex berkata begitu. Dalam hati aku merasa sangat tak enak sekali padanya. Meskipun Mas Alex saat itu sudah menjadi kekasihku, tapi tetap saja rasanya sangat tak sopan sekali. “ahh… Gadis!! Memalukan tahu tidakkk!!! Kenapa harus tidak tepat begini timingnya” Kesalku. Dan sekitar lima menit saja saat itu aku duduk di toilet itu, menunggu Mas Alex untuk kembali. Tok tok tok “Gadis” “ah.. iya Pak” “ini buka dulu pintunya…” Saat kubuka aku dibuatnya sedikit kaget. Mas Alex berdiri di hadapanku dengan masih mengatur napasnya yang terengah-engah dan membawa satu kantung besar kresek yang penuh dengan pads pembalut dari bermacam-macam merek. “aku… tak tahu apa yang kau pakai… jadi aku beli saja semua. Ini ambil” Jelasnya sambil menyerahkan sekantong besar pembalut – pembalut itu padaku. “ahh… Pak Alex…” Aku merasa kejadian hari itu cukup lucu, sekaligus haru akan sikapnya yang heroic sekali untukku. “apa aku membali barang yang salah? Apa itu tak terapakai?” Tanyanya sambil menatapku, mungkin karena aku yang tak langsung memaikainya dan malah menatapinya. Masih larut dalam perasaanku yang di buat terharu olehnya. “ini benar kok Pak, biasanya aku pakai yang satu ini” Kataku sambil mengeluarkan satu merek yang memiliki tekstur lembut dan cukup tipis. “syukurlah, kalau begitu pakai yang satu itu dan sisanya biar ku pegangi” Ucapnya sambil mengambil kembali kantung kresek itu dari tanganku. “aku pakai ini dulu Pak” Mas Alex menunggu, sementara aku masuk lagi ke dalam untuk memakai pembalut itu. kuselesaikan dengan cepat dan segera keluar. “sudah?” Aku menggangguk sambil tersenyum. Aku merasa malu sekali padanya, tapi di sisi lain aku juga jadi sadar bahwa Mas Alex adalah seorang kekasih yang sangat siaga untukku. Aku bangga memilikinya. Namun kulihat Mas Alex masih mentapku dengan raut khawatirnya. “bagaimana perutmu? apa masih sakit? ini ku belikan juga obat untuk mengurangi rasa sakitnya.. kompresan juga bantalan-“ Kata-katanya terhenti saat aku yang tiba-tiba memeluknya. Aku benar-benar bahagia atas semua perhatiannya padaku saat itu. sampai ingin kupeluki dirinya erat dan tak ingin kulepas lagi. Aku merasa sangat beruntung telah menerimanya menjadi kekasihku dan berada dalam hubungan bersamanya yang masih belum lama saat itu. Mas Alex ternayata tipikal kekasih yang siaga dan aku sangat berterimakasih padanya. “hey…” Ia menjauhkan sedikit tubuhku darinya, menangkup wajahku dengan kedua tangannya. “kau sudah baikan? Jangan membuatku khawatir lagi… hhh aku sangat takut sekali tadi” Ucapnya. “terimakasih Pak… Love You” Kataku lalu berjinjit untuk meraih bibirnya dengan bibirku. Menciumnya lembut. “ehmm… aku senang, aku bisa berguna untuk kekasihku ini” Ucapnya. Lalu tangannya sedikit mengangkat tubuhku dan memberikanku ciumannya berkali-kali. Cup cup cup Aku benar-benar di buatnya sampai merasa menjadi wanita yang sangat beruntung dan paling di puja di dunia dengan semua cintanya itu. “ayo kita keluar, sebelum ada yang masuk” Kataku. Kemudian aku dan Mas Alex berjalan keluar dengan segera. Tapi sepertinya sia-sia saja kekhawatiranku soal akan ada orang yang mungkin masuk kedalam tadi. Karena di luar terpampang tulisan TOILET SEDANG DI PERBAIKI Aku tersenyum saja baru menyadari itu. Saat itu Mas Alex mengajakku duduk di sebuah taman kampus. “sakit perutmu bagaimana?” “masih terasa, tapi tak begitu buruk” Jawabku, tapi sesungguhnya bukan itu kekhawatiranku saat ini, karena celanaku yang kotor terkena noda darah meskipun itu hanya setetes saja, hanya saja warna beige yang cukup cerah jadi pasti akan ketara. “celanamu… tutupi saja pakai ini untuk sementara” Mas Alex kemudian memakaikan jasnya di tubuhku kembali. Namun yang kedua kalinya itu tak di lingkarkannya asal seperti sebelumnya. Mas Alex memakaikannya di tubuhku yang ternyata ukurannya sangat kebesaran begitu selesai kupakai. tapi memang bisa sekali menutupi nodanya. “maaf Pak, aku banyak sekali merepotkan hari ini” “tak apa, asalkan itu dirimu… jadi tak ada yang namanya merepotkan. Dan harus kau pastikan insiden seperti ini hanya terjadi saat aku sedang ada di sampingmu, dan bukan saat bersama orang lain… mengerti” Aku tersenyum mendengarnya. “Pak Alex ini… benar-benar” mataku sampai berkaca-kaca terharu dengan semua yang di lakukannya untukku. “kemari biar ku gulung sedikit di bagian lengannya” Aku mendekat dan menyandarkan kepalaku di dadanya, sementara tangannya menggulung lengan jasnya yang kupakai. “peluk aku…” Pintaku manja padanya. Mas Alex hanya tersenyum saja dan menuruti pintaku. “cium..” “hahah… kau ini…” Ucapnya, “ayooo… selagi kita bisa seperti ini… “ “baiklah…” Ia menciumku lembut kemudian. Aku bisa bebas dan leluasa bersandar sampai memeluknya karena saat itu aku tak sedang berada di kampusku untuk kompetesi karya ilmiah. Dan hari itu aku mempresentasikan karya ilmiahku dengan baik. aku sangat beruntung tak sampai mengacaukannya karena insiden menstruasi yang tiba-tiba dan lupa tak membawa pembalut itu. ….
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN