bc

Rahasia Gelap Tuan Max

book_age18+
11
IKUTI
1K
BACA
love-triangle
HE
age gap
independent
heir/heiress
blue collar
drama
sweet
bxg
city
office/work place
polygamy
assistant
like
intro-logo
Uraian

Raveena Nathania tanpa sengaja mengetahui rahasia besar bosnya, Max Maynard Bajrayekti. Sebab itu Max menekan agar Raveena mau menjadi kekasih bayaran. Hubungan pura-pura mereka jalani dengan hal-hal yang unik dan lucu. Kehadiran Vardeen, sahabat Max, menjadikan suasana ricuh dan kondisi menjadi tidak terkendali.Mampukah Max dan Raveena menyelesaikan semua permasalahan? Akankah mereka terus bersama, atau justru berpisah?Romantis komedi mix action.PCD The Series terbaru punya Emak OY.Mampir juga ke banyak novel Emak OY di Innovel.

chap-preview
Pratinjau gratis
bab 01 - Memerg9ki Sang Bos
01 Suara-suara aneh dari ruangan kecil di sudut kiri ruang kerja sang bos, membuat Raveena Nathania penasaran. Perempuan muda itu jalan mendekat sambil menempelkan map berisi file ke dadanya. Ruangan kecil itu pintunya tidak tertutup sempurna. Raveena mengintip dan mencoba menyelidiki suara-suara yang makin jelas terdengar. "Astaga!" desis Raveena sambil menutupi mulut dengan kedua tangan. Map terlepas dan jatuh di dekat kakinya. Menimbulkan suara yang membuat kedua orang di dalam ruangan itu menoleh bersamaan. "Siapa di situ?" Suara berat khas Max Maynard Bajrayekti, direktur utama perusahaan tersebut, membuat tubuh Raveena membeku. "Kenapa, Sayang?" tanya Vardeen Riawan Syailendra, pemilik tempat kebugaran, sekaligus kekasih Max. "Ada yang ngintip, sebentar, aku lihat dulu." Max berdiri dan jalan menuju pintu sembari mengancingkan kemeja hijau mudanya, yang tadi sudah terbuka separuh. Vardeen juga melakukan hal yang sama pada kemejanya, kemudian pria itu menyandarkan tubuh ke sandaran sofa, dan menunggu kekasihnya kembali. "Kamu! Ngapain masuk ke ruangan saya?" tanya Max, sambil memelototi Raveena yang masih menempel di dinding. "Anu ... Pak ... saya mau ... ngintip, ehh, nganterin itu," jawab Raveena sembari menunjuk map di lantai. "Nggak tau etika, ya? Harusnya ketok pintu dulu!" Raveena menunduk dan menggigit bibir bawah dengan gugup. Perempuan berusia dua puluh lima tahun itu baru bekerja di Bajrayekti Company selama satu minggu, dan itu kali pertamanya memasuki ruangan pribadi sang direktur utama. "Maaf, Pak," cicit Raveena. "Namamu siapa?" "Raveena." "Usia?" "Dua puluh lima tahun, lima bulan, dan dua puluh lima hari." Sudut bibir Max terangkat membentuk senyuman, tetapi dia cepat-cepat mengubah ekspresi, kala Raveena menengadah dan memandanginya dengan ragu-ragu. "Selesai kerja nanti, balik lagi ke sini!" titah Max, sambil mempertahankan ekspresi wajahnya yang datar. Raveena mengangguk. Meskipun bingung dengan maksud ucapan Max, tetapi Raveena tidak punya pilihan selain menuruti permintaan bos-nya itu. "Mana map-nya?" tanya Max. Raveena segera merunduk dan mengambil map dari lantai, lalu memberikannya pada Max yang seketika mengerutkan dahi. "Kamu nggak ngerti sopan santun? Masa ke bos gitu?" "Ehh, iya, Pak, maaf." Raveena segera melangkah menuju meja kerja Max dan meletakkan map di atas tumpukan benda sejenis. "Saya pamit undur diri, permisi." Raveena bergegas ke pintu dan melangkah keluar ruangan tersebut. Beberapa langkah dari sana, Raveena mengusap dadanya sambil membatin, merasa hari itu merupakan hari terburuk sepanjang sejarah hidupnya, karena telah melihat sepasang kekasih sesama jenis yang tengah bermesraan. *** Suasana deretan kubikel itu mendadak ramai kala jam kerja telah usai. Raveena mematikan laptop dan merentangkan tangan. Dia menggeliat dan meliuk-liukkan badannya, bak ular yang tengah merayap di pohon. Tommy Satyadika, rekan satu timnya, memandangi tingkah Raveena sembari menelan ludah. Pria berusia dua puluh tujuh tahun itu memang menyukai Raveena, sejak hari pertama gadis tersebut bekerja di sana. "Heh! Mata jangan jelalatan!" desis Dini, supervisor tim marketing, yang duduk bersebelahan dengan kubikel Raveena. Perempuan berkacamata itu memelototi Tommy yang seketika mengulaskan senyuman canggung. "Ra, jangan joget-joget di sini, atau kamu mau Tommy jadi ngeces?" Dini menyiku lengan Raveena yang mengerjapkan mata kebingungan. Raveena menoleh ke belakang dan beradu pandang dengan Tommy yang cengengesan. Raveena mengangguk paham, dan kembali menghadap ke depan untuk menenangkan diri. Sejak menginjakkan kaki pertama kali di ruangan itu, hanya Tommy yang masih belum berani mengajak Raveena berbincang. Sedangkan teman-teman satu divisi lainnya sudah cukup akrab dengan Raveena, yang memang ramah dan ceria. Raveena tahu bila Tommy adalah sosok pemalu. Hal itu sudah menjadi rahasia umum di ruangan tersebut. Tommy pun sudah terbiasa menjadi sosok tak kasatmata, dan hanya menjadi pendengar obrolan teman-temannya. "Pulang bareng, yuk!" ajak Erna, perempuan bermata bulat, yang merupakan salah satu karyawan senior di perusahaan tersebut. "Ehm, aku masih ada perlu ke ruangan dirut," sahut Raveena. "Ngapain? Nyapu ngepel?" seloroh Dini. "Mau ngambil map tadi, Mbak. Kata bos, diambilnya sore," jelas Raveena. "Oh, oke, nanti taruh aja di lemari itu." Dini menunjuk filing cabinet di sudut kanan ruangan. "Besok aku periksa," sambungnya sembari berdiri dan menarik tas kerja. Dia jalan bersama Erna dan beberapa karyawan lainnya, menuju lift. Raveena mengemasi meja dan meraih tasnya. Lalu dia berdiri dan merapikan pakaian, sebelum jalan menuju lorong yang berada tepat di hadapan ruangan tim-nya. "Ra," panggil Tommy. Raveena berhenti melangkah dan berbalik. "Ya?" balasnya. "Kita ... pulang bareng, yuk!" ajak pria itu dengan malu-malu. "Ehm, oke. Tunggu bentar, ya," sahut Raveena. Dia membalikkan tubuh dan meneruskan langkah memasuki ruang kerja direktur utama. Sementara Tommy bergegas merapikan mejanya, lalu duduk manis menunggu Raveena kembali. Bibir pria itu melengkung ke atas membingkai sebuah senyuman. Merasa senang karena akhirnya bisa mendekati Raveena, gadis yang selama beberapa hari terakhir telah mengusik tidurnya. Langkah Raveena terhenti di depan pintu ruang kerja direktur utama. Perempuan berambut panjang itu menghela napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Kemudian mengetuk pintu beberapa kali sampai mendengar suara dari dalam sana. "Oh, kamu rupanya. Tunggu sebentar." Max mematikan laptop dan berdiri. Dia meraih jas yang disampirkan di sandaran kursi dan mengenakannya dengan cepat. "Ayo, ikut saya," pintanya pada Raveena yang seketika melongo. "Kita, mau ke mana, Pak?" tanya Raveena sembari berusaha mengejar Max yang jalan duluan dengan langkah lebar. "Ikut aja, jangan banyak tanya!" Pria bertubuh tinggi itu mendelik tajam dan Raveena seketika membisu. Kala melewati ruangan tempat kerjanya, Raveena menoleh dan menyatukan kedua tangan di depan d**a. Memohon maaf pada Tommy yang memandanginya dengan sorot mata sendu. Pria berkemeja putih itu menunduk, lalu menghela napas berat dan menarik tas kerja dari mejanya. Tommy menyelempangkan benda hitam itu di depan d**a, kemudian jalan pelan menuju tangga. Dia enggan untuk berada satu lift dengan Raveena dan sang bos. Takut hatinya yang patah akan terlihat jelas. Sementara itu di lift, Raveena memerhatikan sosok Max dari belakang. Perempuan bermata tidak terlalu besar itu membatin, dia menyayangkan bila pria setampan dan segagah Max ternyata merupakan anggota gank pelangi. Raveena bergidik ketika membayangkan bila dia mengintip terlambat beberapa menit saja, kemungkinan besar dia akan melihat tontonan gratis adegan uwuw yang mengerikan. Lamunan Raveena terputus kala mereka tiba di lobi utama. Dia terus mengikuti langkah Max, hingga tiba di tempat parkir VIP. Raveena tertegun ketika Max menekan alarm kunci mobil yang seketika berbunyi cukup nyaring. "Masuk!" titah Max pada Raveena yang masih mematung di tempatnya. Pria itu segera menarik tangan kanan Raveena dan memaksanya duduk di kursi penumpang. Max menutup pintu samping kiri, lalu dia memutari mobil dan masuk ke kursi pengemudi. Max menyalakan mesin, kemudian mengenakan sabuk pengaman. Max menoleh ke kiri dan seketika menggeleng, kala menyadari bila Raveena malah balik menatapnya dengan sorot mata aneh. "Pakai sabuknya," ujar Max, sembari menahan diri untuk tidak memelototi perempuan berbaju krem tersebut. "Sebelum saya pakai, jawab dulu pertanyaan saya," sahut Raveena. "Oke, apa yang mau ditanyakan?" "Bapak mau ngajak saya ke mana?" "Ke hotel."

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
16.4K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
32.1K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
190.5K
bc

TERNODA

read
199.8K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.7K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
75.4K
bc

My Secret Little Wife

read
132.6K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook