Bab 02

1092 Kata
02 Raveena seketika tercengang. Bibir penuhnyq sampai menganga dan membentuk huruf O kecil. Tidak menyadari bila tingkahnya itu membuat dirinya tampak imut dan menggemaskan bagi Max. "Ho-hotel?" tanya Raveena dengan suara yang nyaris tidak terdengar. "Iya, kenapa?" Max balas bertanya. "Bapak jangan macam-macam sama saya!" Raveena menyilangkan tangan di depan da-da. Hal itu spontan membuat Max menyunggingkan senyuman lebar. "Siapa yang mau macam-macam? Saya cuma mau ngajak kamu buat ketemu dengan beberapa orang," jelas Max. Pria berkulit putih itu mengalihkan pandangan dan bersiap menyetir. "Pakai sabuknya," lanjutnya sebelum menekan pedal gas dan melajukan mobil sedan hitamnya keluar tempat parkir. Perjalanan menuju hotel terasa sangat cepat bagi Raveena. Tentu saja begitu, karena jarak hotel dan gedung kantor mereka hanya sekitar 700 ratus meter. Raveena belum sempat menenangkan jantungnya yang jumpalitan, kala mobil diarahkan Max memasuki tempat parkir hotel. Kali itu Max membiarkan Raveena turun sendiri, dan hanya menunggu gadis itu jalan menghampirinya, yang telah berdiri di depan pintu lobi. Pria itu menatap Raveena sesaat, sebelum mengajak perempuan tersebut memasuki lobi dan langsung mengarah ke lift. Raveena mengikuti langkah Max dengan memendam pertanyaan yang begitu banyak dalam hati. Tingkah sang bos sangat aneh. Ditambah lagi dengan kenyataan bahwa Max adalah pria belok. Mengingat hal tersebut sontak membuat Raveena bergidik. Perempuan berambut cokelat kemerahan itu menggeser tubuhnya menjauh dari Max, seakan-akan takut bila pria itu akan menularkan penyakit mematikan. Setelah pintu lift terbuka, Max jalan mendahului. Raveena mengekori dengan jalan mepet ke dinding selasar. Max tiba-tiba berhenti dan memutar tumit. Raveena yang tidak mengira hal tersebut, akhirnya menabrak bahu Max dan nyaris terjengkang. "Ebuset! Itu bahu atau tembok sih?" sungut Raveena sambil mengusap dahinya yang terasa sedikit nyeri. "Kenapa? Sakit?" tanya Max, yang dibalas anggukan Raveena. "Itu karena otot saya kuat." Max memamerkan lengannya, lupa kalau saat ini tubuhnya masih terbungkus jas. "Otot kuat, tapi belok," gumam Raveena. "Kamu bilang apa tadi?" "Ehh, nggak. Nggak bilang apa-apa, kok." Raveena mundur selangkah. Max mengerutkan dahi sejenak, kemudian mengangkat bahu dan kembali meneruskan langkah. Raveena membuntuti dengan hati-hati, khawatir bila dirinya akan menabrak bahu serupa batu itu lagi. Langkah Max berhenti di depan sebuah pintu kamar yang berada di sudut kanan selasar. Pria itu meraih ponsel dari saku jas dan menelepon seseorang. Raveena membulatkan mata melihat gaya pria tersebut. Batinnya menggerutu, karena menurutnya Max tidak efisien. Padahal tinggal mengetuk pintu, maka benda itu akan terbuka dan urusan selesai. Saat benda besar ber-cat cokelat itu terbuka, seraut wajah manis muncul dengan dandanan unik. Mengenakan bando merah muda dan setelan berbahan ketat yang tidak bisa menutupi lekuk tubuhnya. Pria itu menyunggingkan senyuman menyambut kedatangan Max, sembari mengedip-ngedipkan mata seperti tengah kremian. "Kirain kamu nggak jadi datang, Beib," ucap pria merah muda itu dengan suara yang dilembut-lembutkan. Raveena meringis kala melihat pria berparas manis itu mengusap pipi Max beberapa kali, sebelum menarik tangan sang bos dan menggusurnya ke dalam kamar. Max menoleh dan memberi kode agar Raveena untuk ikut masuk. Perempuan berhidung bangir itu melangkah memasuki kamar dan menutup pintu dengan hati-hati. Matanya memindai sekitar dan seketika tergemap, kala melihat banyaknya peralatan make-up yang bertaburan di koper besar yang terbuka di lantai. "Ehm, Don, ini Raveena," tutur Max sambil menarik tangan perempuan itu yang masih terperangah. "Dia yang akan ikut aku ke acara pertemuan itu," sambungnya. "Raveena? Bukannya kamu mau ngajak Metha buat ke acara itu?" tanya pria yang dipanggil Don tersebut, sambil memerhatikan Raveena dari atas ke bawah, dan kembali lagi ke atas. "Metha sudah nggak bisa diajak kerjasama," jelas Max. "Kenapa?" "Dia ... minta agar kami benar-benar menikah, bukan hanya pura-pura dekat." Don tercengang, sekian detik kemudian dia pun tertawa dengan suara mengikik yang menyeramkan, bagi Raveena. "Okelah. Mau langsung didandani?" tanyanya, seusai terkekeh. "Ra, mau mandi dulu baru dandan, atau langsung dandan aja?" tanya Max. "Mandi?" Raveena mengulang pertanyaan sang bos. "Iya, biar segeran, gitu. Habis kamu, baru saya yang mandi." Raveena yang masih bingung, hanya bisa pasrah kala Max mendorongnya ke depan sebuah pintu di bagian kanan ruangan. Pria itu menggerakkan dagunya sebagai tanda agar Raveena menuju ke sana. "Peralatan mandi ada di dalam," lontar Max. "Saya nggak bawa pakaian ganti, Pak," timpal Raveena. Max menoleh pada Don yang seketika menjentikkan jemari. Pria merah muda itu berjalan dengan gemulai menuju koper hitam berukuran sedang. Don membuka benda itu, lalu mengambil paper bag merah dan memberikannya pada Raveena. "Sepertinya ukuranmu sedikit lebih besar dari Metha," tukas Don. "Ukuran apa?" tanya Raveena dengan polosnya. "B ... aghh! Sudahlah. Ayo, buruan mandi. Satu jam dari sekarang acara akan dimulai!" pekik Don sembari mendorong Reina makin ke dalam. Akan tetapi, Reina masih bisa mendengar ucapan pria gemulai itu yang menanyakan di mana Max menemukan gadis tersebut. "Apa? Staf kantor?" Don tampak sangat terkejut dengan penjelasan Max. "Iya, dia ... ngeliat aku lagi kissing sama Vardeen," imbuh Max. "What?" Don memegangi kepalanya yang tiba-tiba berdenyut. "Terus gimana? Apa dia bakal ngebeberin semuanya?" sambungnya yang tengah menyandarkan tubuh ke dinding. "Itulah yang ingin kucegah. Aku pikir ...." Max tidak jadi meneruskan ucapannya, karena merasa bila Raveena akan mendengar pembicaraan mereka. Pria itu langsung membuka pintu kamar mandi dan beradu pandang dengan Raveena, yang baru saja melepaskan blus-nya. Tanpa mengucapkan apa pun, Fritz langsung menutup pintu kembali. Pria itu menggeleng cepat untuk menghilangkan pemandangan unik yang baru saja dilihatnya. Sementara itu di kamar mandi, Raveena bergegas mengunci pintu sambil misuh-misuh. Nyaris saja dia menjerit tadi, untunglah Max bertindak cepat dan segera menutup pintu. Belasan menit kemudian, Raveena keluar dengan penampilan yang sangat berbeda. Gaun biru tua sepanjang mata kaki dengan model halter neck, membuat bagian bawah lehernya yang jenjang dan mulus terpampang nyata. Max sempat terkesima sekian detik, sebelum akhirnya mampu menenangkan degup jantungnya yang berdetak lebih kencang. Sementara Don menjerit kegirangan, lalu dia memuji kecantikan alami Raveena. Pria gemulai itu langsung menarik tangan Raveena dan menyeretnya ke depan meja rias. Memaksa gadis itu duduk di bangku kecil dan mulai merias Raveena, sambil berceloteh tentang banyak hal. Max segera memasuki kamar mandi. Seusai melepaskan semua lapisan kain penutup tubuh, Max berpindah ke bawah shower. Dia membiarkan tubuhnya basah di bawah semburan air kencang. Berharap bayangan Raveena yang tampak sangat cantik itu bisa menghilang dari otaknya. Kala Max keluar dengan hanya mengenakan celana boxer, Raveena mengalihkan pandangan sambil menggigit bibir bawah. Seumur-umur dia belum pernah melihat lelaki dewasa yang nyaris tidak berbusana di depan matanya. "Kenapa, Darl? Pipimu merah banget kayak tomat. Padahal aku belum pakein kamu blush on," celetuk Don yang tengah sibuk merapikan rambut gondrongnya yang agak berantakan. Tatapan Don mengikuti arah pandangan Raveena. Seketika tawa melengking Don kembali menguar. Tak peduli bila hal itu bisa merusak gendang telinga orang yang mendengarnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN