Bab 03

1048 Kata
03 Denting peralatan makan menjadi satu-satunya teman Raveena, kala menikmati hidangan makan malam. Perempuan itu sengaja berdiam diri, dan tidak ikut larut dalam obrolan beberapa orang di meja makan bulat yang cukup besar. Sejak tiba tadi, Raveena tahu bahwa semua orang penasaran dengan dirinya. Seperti yang sudah ditekankan oleh Max saat mereka berbincang sesaat sebelum keluar dari kamar, bahwa Raveena hanya akan mengiakan semua ucapan Max. "Jadi, kalian ketemu di mal, dan langsung tertarik satu sama lain, begitu?" tanya Mira, mamanya Max, sesaat setelah mereka selesai bersantap. "Nggak langsung sih, Ma. Tapi ... " Max mengamati Raveena sesaat, kemudian melanjutkan ucapannya. "Aku tertarik padanya setelah beberapa kali bertemu." Raveena menampilkan senyuman tipis pada khalayak. Dalam hati dia memuji kebohongan yang terucap dengan lancar dari pria di sebelahnya, yang tengah berakting menggenggam jemari Raveena seraya tersenyum manis. "Lalu, kapan kalian akan menikah?" tanya Freddy, papanya Max, sembari menatap wajah sang putra keduanya itu lekat-lekat. Raveena langsung mendelik tajam ke Max, yang tengah mengatur ucapan untuk menjawab pertanyaan papanya. Sebelah tangan Max mengusap punggung tangan Raveena, seakan-akan tengah berusaha menenangkan gadis itu. "Belum tahu, Pa. Kami masih ingin saling mengenal dulu satu sama lain." Max kembali mengulaskan senyuman, sementara Raveena mengangguk mengiakan ucapan sang bos. "Jangan menunda terlalu lama, Max. Usiamu sudah 38 tahun. Papa juga sudah tua, dan ingin segera menimang cucu, anakmu." Max manggut-manggut, kemudian menoleh pada Raveena sembari berkata," Doakan saja kami berjodoh, Pa." Raveena spontan menginjak kaki Max yang seketika mengaduh. Gadis itu cengengesan sembari berpura-pura menenangkan Max, dengan mengusap-usap lengannya. Padahal dalam hati Raveena ingin memukuli pria itu dengan gemas. Max memajukan tubuh dan berbisik, "Jangan macam-macam, kalau nggak mau dipecat." Raveena memaksakan secarik senyuman, sambil menatap Max dengan sepasang mata berbinar-binar, seolah-olah tengah benar-benar jatuh cinta pada pria tersebut. Sementara Max menanggapi dengan menaikkan alis secara dramatis, seakan-akan tengah memperingatkan Raveena, bahwa dia bersungguh-sungguh untuk memecat gadis itu, bila berani melakukan tindakan kekerasan, sekali lagi. Detik demi detik acara makan malam itu terasa sangat lama bagi Raveena. Kala semuanya berdiri dan saling bersalaman sebagai tanda perpisahan, Raveena merasa sangat senang. Max dan Raveena ikut mengantarkan saat mobil yang dikemudikan oleh sopir keluarga Bajrayekti itu menjauh. Raveena segera membalikkan tubuh dan jalan menuju lift. Max mengekor dan segera menarik tangan Raveena, ketika pintu lift sudah tertutup. "Apa-apaan tadi, pake nginjek kaki saya segala!" hardik Max. "Bapak sendiri juga ngarangnya kebangetan, pake ngomong semoga berjodoh. Cih!" ketus Raveena. "Itu namanya akting, Ra. Harus maksimal." "Oh, ya? Nggak sekalian aja bilang kita bakal nikah awal bulan depan?" "Kamu nantang saya?" "Memangnya Bapak berani?" "Ya! Ehh ... nggak!" "Gimana? Yang tegas ngomongnya, dong. Jangan plin-plan kayak Don!" "Saya nggak mau nikah sama kamu!" "Good, saya juga nggak mau nikah sama pria belok!" Pintu lift terbuka dan kedua orang tersebut seketika tergemap. Tepat di hadapan mereka tampak beberapa orang pria dan perempuan yang tengah memandangi keduanya dengan penuh minat. Max berdeham untuk menghilangkan kecanggungan. Dia langsung menarik tangan Raveena dan menggusurnya ke luar. Raveena mengikuti langkah lebar Max sembari menggerutu. Hak sepatu yang tinggi membuatnya kesulitan untuk bergerak cepat, hingga akhirnya dia berhenti dan melepaskan high heels hitam, kemudian menjinjing benda itu sampai mereka memasuki kamar. Raveena mendudukkan diri di sofa. Sementara Max menggelar dirinya di tempat tidur. Keduanya masih berada dalam tahap diam-diaman dan mengabaikan satu sama lain. Napas Max yang teratur menandakan bahwa dia sudah tidur. Raveena pun sebenarnya sudah terkantuk-kantuk, tetapi dia masih harus menunggu Don tiba, agar bisa membantunya membersihkan riasan wajah dan merapikan rambut. Raveena beringsut, memaksakan diri untuk bangun dan jalan terhuyung-huyung menuju kamar mandi. Dia melepaskan gaun dengan hati-hati dan mencari pakaiannya yang tadi digantung di dekat pintu. Wajah Raveena seketika memucat kala menyadari bahwa pakaiannya telah lenyap. Perempuan itu dilanda kebingungan dan mulai menggigiti kuku, kebiasaan jelek yang selalu menjadi bahan omelan ibunya. Setelah beberapa saat berdebat dalam hati, akhirnya Raveena mengambil handuk dan melilitkannya ke tubuh. Dia keluar sambil berjinjit, lalu dia membuka koper milik Don dengan hati-hati. Nyaris saja Raveena berseru gembira kala menemukan celana legging dan kaus lengan pendek pas badan, yang pastinya milik Don. Raveena bisa seyakin itu, karena warna setelan tersebut mirip dengan permen lollipop. Tubuh Raveena membeku ketika mendengar suara deheman Max. Raveena tidak berani membalikkan tubuh, dan berusaha untuk mengenakan setelan tersebut tanpa harus berdiri. Akan tetapi, Raveena kesulitan untuk mengenakan legging tersebut, karena bahannya yang tebal dan membuat kakinya tersangkut di dalam. Setelah berhasil, dia tetap tidak bisa menaikkan legging sampai pinggang. Berulang kali dia mencoba, tetapi tetap gagal. Suara tawa kecil dari belakang membuat Raveena curiga. Perlahan dia menoleh dan nyaris menjerit, kala melihat Max yang tengah menginjak ujung legging, seraya tersenyum lebar. Spontan Raveena memukuli kaki Max, kemudian segera menaikkan legging sampai pinggang. Raveena memelototi Max yang tengah cengengesan. "Kamu ngapain pake bajunya Don?" tanya Max sambil memerhatikan Raveena dari atas sampai bawah dengan tatapan usil. "Baju yang tadi saya pake itu nggak ada di kamar mandi. Mau nggak mau, saya pake ini." Raveena sebetulnya merasa tidak nyaman, karena setelan tersebut terasa sangat ketat di tubuhnya. "Kenapa nggak pakai gaun yang tadi aja? Cocok, kok, buatmu." "Nggak, ahh, ngablak gitu. Yang ada nanti saya masuk angin, Pak." Max terkekeh. Entah kenapa, berada di dekat Raveena membuatnya lebih sering tertawa. Hal itu membuatnya merasa senang dan sedikit mengurangi beban di pundak. "Pak." "Hmm?" "Antar saya pulang." "Males." "Kok, gitu?" "Pesan taksi aja." "Saya ... nggak punya duit, sisa yang biru selembar di dompet. Itu pun buat biaya makan sampai besok." Max terdiam sejenak. Dia terkejut mendengar penuturan Raveena yang sangat jujur. Kembali dia memerhatikan sosok gadis yang berdiri gelisah di hadapan. Sebuah ide muncul di otaknya untuk memanfaatkan Raveena. "Kamu mau ngelakuin sesuatu buat saya?" tanya Max sambil melipat tangan di depan d**a. "Ngelakuin apa?" Raveena balas bertanya. "Jadi kekasih kontrak selama beberapa bulan ke depan." Raveena menggigit bibir bawah sambil berpikir keras. "Keuntungan buat saya, apa?" "Saya gaji kamu sesuai UMR." "Dih, pelit!" "Ehm?" "Masa pengusaha terkenal yang tajir seantero Jakarta, cuma ngegaji kekasihnya berdasarkan UMR?" "Saya belum selesai ngomong, sudah kamu potong!" "Oh, oke. Lanjutkan, Pak. Saya dengerin, nih." Raveena berpura-pura memasang tampang serius. "Kamu digaji standar UMR dikalikan dua, per bulan. Bayaran kamu akan jadi sepuluh kali lipat UMR kalau ...." Raveena menunggu Max melanjutkan ucapannya sambil menahan napas. "Mau menikah dengan saya," pungkas Max, yang menyebabkan Raveena terhenyak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN