04
Ucapan Max kemarin malam, terus terngiang-ngiang di telinga Raveena. Gadis berkulit kuning langsat tersebut, nyaris tidak bisa terlelap, karena selalu teringat hal itu. Bagaimana tidak? Tawaran Max sangat menggoda. Meskipun dia tahu bahwa di balik gaji beberapa kali lipat itu, terdapat banyak persyaratan yang harus dipenuhi.
Raveena masih ingin bermalas-malasan di tempat tidur, kala pintu kamar indekosnya diketuk. Tanpa perlu bertanya Raveena pun tahu, bila Hani-lah yang mengetuk benda besar tersebut.
"Ra, ada tamu," ucap Hani sambil terus mengetuk-ngetuk pintu.
Raveena bergeming. Dia enggan untuk menjawab ucapan Hani, sahabat seperjuangan sejak masih kerja di tempat lama, sekaligus penghuni kamar sebelah kiri.
"Ganteng, loh, Ra. Kulit putih. Hidung mancung. Dan bibirnya itu ... ahh ... cipokable banget."
Otak Raveena langsung berputar, mengingat-ingat sosok yang disebutkan oleh Hani barusan.
"Apa Pak Max yang datang? Ahh, nggak mungkinlah," gumam Raveena.
"Kalau kamu nggak mau keluar, berarti cowoknya boleh jadi gebetanku, ya." Hani cekikikan mendengar perkataannya sendiri.
Sementara Raveena segera berdiri dan bergegas membuka pintu. "Dasar ganjen!" desisnya sembari menyipitkan mata.
"Kamunya yang gerak lambat." Hani menjulurkan lidah menggoda Raveena yang tengah menekuk wajah. "Udah, deh, buruan mandi, dandan cantik. Aku mau bikinin minuman buat tamu-tamu ganteng kita di ruang depan," sambungnya.
"Tamu-tamu?" ulang Raveena.
"Hu um, sama-sama ganteng dan gagah. Nanti kamu boleh pilih duluan, sisanya buat aku." Hani segera menghindar dari cubitan Raveena yang siap mendarat di lengannya. Gadis berambut sebahu itu jalan berlenggak lenggok menuju dapur, sengaja ingin mengerjai Raveena yang menggeleng pelan melihat kelakuan sahabatnya tersebut.
Dua puluh lima menit kemudian, Raveena sudah duduk di kursi yang berseberangan dengan Max, yang datang bersama dengan Vardeen. Hani yang ikut duduk di sebelah kiri Raveena, seakan-akan terhipnotis dengan ketampanan kedua pria tersebut.
Raveena berulang kali menyenggol lengan Hani agar sahabatnya itu berlaku tenang dan sopan, bukannya mengukir senyuman dan memperlihatkan sorot mata penuh pemujaan, pada kedua lelaki di kursi seberang.
"Jadi, gimana, Raveena, setuju dengan tawaran saya kemarin?" tanya Max, memecah keheningan.
"Uhm, saya belum menentukan apa-apa, Pak," jawab Raveena dengan jujur. "Tentu saja, karena saya belum tahu batasan-batasan apa yang mesti dilakukan untuk menjalankan rencana Bapak," lanjutnya.
"Kamu bikin aja poin-poin dalam surat perjanjian putih di bawah hitam."
"Hitam di atas putih, Pak."
"Sama aja, kan?"
Raveena menaikkan alis sambil berpikir. Beberapa saat kemudian barulah dia paham, bahwa perkataan Max barusan itu benar.
"Dear, aku duluan aja, ya," sela Vardeen sambil beradu pipi dengan Max. Tak lupa untuk mengusap wajah sang kekasih, sebelum dia menatap Raveena dan berkata, "Aku izinin kamu buat jadi kekasih bayaran Max. Tapi jangan lupa, hanya se men ta ra." Vardeen sengaja menjeda kata itu agar gadis di hadapannya paham dengan posisinya.
Raveena belum sempat untuk menjawab ucapan Vardeen, ketika pria bertubuh tinggi itu berdiri dan melenggang tanpa menoleh ke belakang. Tak berselang lama suara mobilnya terdengar menjauh dari rumah indekos.
"Teman kamu kenapa?" Max menunjuk Hani yang tampak sangat syok, dengan mulut menganga dan mata membola.
Raveena menoleh ke kiri dan seketika menaikkan dagu Hani yang sempat melorot. Dia tersenyum canggung pada Max, yang balas menatapnya seraya menyunggingkan senyuman.
***
"Jadi mereka itu ...." Hani tak bisa meneruskan ucapan, karena mulutnya ditutup paksa oleh Raveena dengan sepotong brownies.
"Sssttt, jangan komentar apa-apa. Dia bosku," sahut Raveena sembari memulaskan bedak tipis ke wajahnya.
"Ihi hayaya hukan titakah yan teppa."
"Kunyah yang bener, telan, baru ngomong!"
Hani mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Raveena. "Ini kayaknya bukan tindakan yang tepat, Ra," ulangnya sebelum meraih botol air kemasan yang selalu tersedia di meja rias.
"Apa aku punya pilihan?" tanya Raveena sebelum menggeleng pelan. "Ibu lagi sakit, Adik bungsuku masih butuh biaya kuliah. Saat ini cuma aku satu-satunya yang punya penghasilan tetap. Fenita gajinya nggak seberapa. Dagangan Ibu juga nggak tiap hari rame," sambungnya dengan raut wajah sedih.
Mengingat keluarganya di Kota Bandung, membuat hati Raveena gerimis. Sepeninggal ayahnya yang telah wafat lima tahun silam, kehidupan Raveena berubah total.
Perempuan bermata tidak terlalu besar itu kembali teringat pesan Gunadi, sesaat sebelum pria tersebut mengembuskan napas terakhirnya.
"Terserah kamu, deh, aku cuma ngingetin aja," cakap Hani sambil mengusap pundak Raveena. Lalu dia merapikan rambut sahabatnya tersebut, yang tergerai menutupi area depan wajah.
"Tapi ingat, Ra. Jangan libatkan hati. Nanti kamu bakalan kecewa kalau sampai jatuh cinta pada bosmu yang ...." Hani tiba-tiba bergidik dan membuat Raveena tertawa kecil.
Raveena menghentikan gelakak, lalu dia meneruskan acara beriasnya. Raveena berdiri dan menyambar tas kecil di tempat tidur. Dia menyampirkan benda putih itu ke bahu kanan. Kemudian merunduk untuk mengenakan sepatu bertali dengan terburu-buru.
"Aku pergi, ya," tukas Raveena yang dibalas anggukan Hani.
Saat Raveena melangkah keluar, Hani membatin agar jalan yang ditempuh sahabatnya saat itu, adalah yang terbaik. Hani tidak mau Raveena terluka. Gadis itu sudah terlalu banyak mengeluarkan air mata di lima tahun terakhir.
"Aduh! Lupa bilang kalau Raveena jangan mau dikissing bos-nya. Takut nular!" cicit Hani, sebelum dia menggigit apel yang ada di keranjang buah di samping tempat tidur. Hani lupa bahwa semua yang dia makan tadi adalah bawaan Max, dan mungkin saja dia akan tertular virus belok.
"You're so beautiful," puji Max saat Raveena baru memasuki mobil.
"Absolutely, I'm always beauty," sahut Raveena dengan penuh percaya diri.
"Jangan ge-er dulu, Raveena. Saya sedang latihan ini."
"Dan saya juga sedang berlatih tersipu-sipu, Pak."
"Good, now, pasang sabuk pengaman!" titah pria tersebut dengan santai.
Raveena segera mengerjakan apa yang dipinta pria berambut lebat tersebut. Dalam hati dia membatin, untuk tidak menanggapi ucapan Max dengan serius. Seperti tadi, saat pria itu ternyata hanya berpura-pura memujinya.
Gadis bergaun broken white tersebut mengalihkan pandangan ke luar kaca mobil. Lalu lalang kendaraan di jalanan Kota Jakarta yang seakan-akan tak pernah sepi itu, menjadi hiburan tersendiri bagi Raveena.
Beberapa kali dia membenarkan letak poni yang memanjang dan menghalangi pandangan. Tidak menyadari bila gerakannya itu membuat fokus Max terpecah.
Pria berbibir sensual itu, menurut Hani, beberapa kali melirik dan memerhatikan Raveena. Dalam hati Max mengakui bila penampilan gadis itu sangat anggun, dan sesuai dengan sosok perempuan yang cocok untuk menjadi pendampingnya.
Entah kenapa, semenjak pertemuan mereka kemarin itu, Max jadi sering memikirkan Raveena. Sudut bibirnya terangkat membentuk secarik senyuman, ketika mengingat bagaimana paniknya Raveena, saat tidak bisa mengangkat celana legging yang sengaja Max injak.
"Senyum-senyum sendiri, kayaknya happy banget, Pak," seloroh Raveena sembari menatap Max.
"Yoih, saya memang lagi happy," sahut Max sambil menoleh. "Karena akhirnya saya bisa menemukan calon istri yang sesuai selera saya," imbuhnya.
Raveena tertegun sesaat, sebelum dia ingat jika Max tengah berlatih. Raveena enggan berdebat dan memutuskan untuk tetap diam. Dia tidak menduga, bila Max kembali mengamatinya, lalu memusatkan pandangan ke depan, sambil memikirkan rencana selanjutnya.