Bab 05

1011 Kata
05 Raveena mendengkus dan membuang muka menghadap kaca depan. Dia berusaha mengatur ekspresi wajah agar tetap terlihat tenang, walaupun sebenarnya jantungnya jumpalitan, karena perkataan sang sopir yang membuatnya jengah. Max membelokkan setir ke sebuah pusat perbelanjaan di daerah Pondok Indah. Dia menoleh sekilas pada Raveena setelah menghentikan kendaraan, kemudian keluar tanpa mengajak gadis itu turut serta. Raveena mendengkus cepat, lalu membuka pintu dan keluar. Dia menutup pintu mobil dengan sedikit kencang. Tak peduli Max memelototi, Raveena malah melenggang memasuki pintu utama dengan santai. "Hei!" seru suara yang sangat dikenal Raveena. "Kamu ngeloyor aja," lanjut Max sambil memandangi Raveena yang memutar tumit dengan gerakan patah-patah. Raveena menaikkan alis, memandangi Max yang menunjuk ke toko perhiasan di deretan sebelah kanan. Gadis itu mengayunkan tungkai dengan lambat. Menekan rasa yang aneh dalam hati, karena cukup tertarik untuk mengetahui apa yang hendak ditunjukkan, oleh pria berkemeja hitam pas badan. "Kamu pilih aja, mau yang mana," ujar Max, saat Raveena sudah berada di hadapan. Gadis itu memutar tubuh sambil menahan rasa takjub dengan gemerlapnya aneka perhiasan di etalase kaca. Tiga orang pegawai berwajah manis tampak tersenyum ramah padanya. "Pak, apa ini nggak terlalu berlebihan?" tanya Raveena sambil memajukan tubuh mendekati Max. "Anything for you, Dear," jawab Max dengan suara yang terdengar sangat seksi di telinga Raveena. Gadis itu nyaris saja akan melompat kegirangan, saat akhirnya tersadar bahwa Max pasti sedang berlakon, seperti pria yang tengah membebaskan kekasihnya untuk membeli perhiasan yang diinginkan. Belum apa-apa Raveena sudah merasa bahwa adegan sinetron mereka itu, akan sangat menguras emosi bagi dirinya dan para penonton. Ketiga pegawai toko tersebut mengamatinya dengan tatapan yang memancarkan rasa iri, karena perempuan mana pun pasti sangat berharap untuk dibelikan perhiasan mahal oleh pasangan. Hampir lima belas menit memilih, akhirnya Raveena memutuskan mengambil sebentuk cincin dengan model klasik, tetapi tetap cantik. Sesuai dengan kepribadian Raveena yang sederhana dan unik. "Cincin aja?" tanya Max. Sedikit takjub dengan pilihan Raveena. Awalnya dia mengira bila gadis berhidung bangir itu akan memilih satu set perhiasan lengkap, seperti halnya gadis-gadis lain, yang pernah menjadi pasangan palsunya. "Iya, ini aja udah cukup," jawab Raveena sembari mendekatkan bibir ke telinga Max, dan berbisik, "Ini udah mahal banget, saya takut Bapak bangkrut." Max mengulum senyum, lalu dia cepat-cepat menutup mulut dengan tangan, agar Raveena tidak melihat senyumannya. Pria itu berdeham sebelum berkata, "Saya nggak bakal bangkrut kalau hanya membelikanmu perhiasan. Bahkan, dengan kekayaan yang saya miliki, toko serta seluruh isinya ini juga bisa saya beli." Raveena melirik sambil mendengkus. Dia lupa kalau orang yang diajak bicara itu adalah orang kaya. Meskipun keluarga Max tidak termasuk dalam daftar konglomerat Indonesia, tetapi tetap saja mereka adalah orang berada. Raveena ingat bila teman-teman di ruangan kerjanya pernah membicarakan tentang seberapa banyak harta kekayaan keluarga Bajrayekti. Kedua orang tua Max adalah pengusaha properti, yang sekarang dikelola oleh Max, sedangkan kakaknya, Tracy Alinda, mengelola bisnis orang tuanya yang lain. Sedangkan Marvin, si bungsu, menjabat sebagai direktur operasional di BJ Company. Marvin menetap di Singapura sampai beberapa bulan mendatang, untuk menuntaskan pengawasan proyek besar dari PCD. Raveena belum pernah bertemu dengan Tracy, karena perempuan itu bertempat tinggal di Surabaya, bersama suaminya yang merupakan pengusaha tambang, dan ketiga anak mereka. Namun menurut berita yang berembus di kantor serta foto yang berada di ruangan rapat, Tracy itu sangat cantik, mirip dengan Mira, mamanya. Sedangkan Max merupakan duplikat sang papa, hanya saja kulit Max lebih putih, seperti Mira. sementara Marvin mengadopsi paras kedua orang tuanya secara berimbang. "Sudah siap?" tanya Max yang dibalas anggukan Raveena. Max mengulurkan tangan kanan untuk menggandeng lengan kiri Raveena. Keduanya jalan menyusuri selasar pusat perbelanjaan, berakting sebagai pasangan kekasih yang tengah berkencan. Langkah mereka berhenti ketika tiba di sebuah restoran mewah. Di hadapan mereka tampak beberapa pasang mata yang memerhatikan keduanya dengan penuh minat. "Wow, Max. Nggak nyangka kalau kamu bakal datang juga," ujar seorang pria bertubuh tinggi yang berdiri dan menyalami Max, sambil menepuk-nepuk pundak lelaki itu dengan hangat. "Dan wanita cantik ini, siapakah dia?" seloroh pria yang dipanggil Max dengan nama Fritz. "Hai, salam kenal, saya Raveena," sahut perempuan berambut panjang itu, seraya membalas jabatan tangan Fritz Hayaka, dengan tegas. "Dia, tunanganku," sela Max yang seketika membuat semua mata tertuju pada mereka. "Kapan kalian tunangan, kok, kami nggak diundang?" Seorang pria yang berdiri di hadapan Raveena, memandangi pasangan tersebut secara bergantian. Max tersenyum kemudian menyambung ucapan, "Belum diresmikan, Rio, tunggu aja undangannya." "Kamu bikin aku sport jantung!" seru seorang perempuan bergaun ungu yang kemudian menghampiri dan memegang lengan Raveena. "Come on, Dear. Kita duduk dan menikmati hidangan. Biarkan saja para pria itu bergosip," ajaknya sambil menarik Raveena ke ujung kanan meja dan meminta gadis itu untuk duduk di dekat seorang perempuan, yang sejak tadi memandangi Raveena nyaris tak berkedip. "Perkenalkan, aku Melissa, perempuan yang terkecoh oleh Rio dan terjebak dalam pernikahan dengannya, sejak beberapa tahun lalu." Perempuan bergaun ungu itu memperkenalkan diri dengan ramah. Rio yang baru saja disebut hanya bisa tersenyum lebar, menanggapi candaan istrinya tersebut. "Dan ini Sandra ... sahabat Max juga." Melissa menyentuh lengan perempuan bergaun hijau di sebelah kirinya. Sandra mengulurkan tangan yang dijabat Raveena dengan tegas. Senyuman tipis yang menghiasi wajah Sandra, membuat Raveena sedikit bertanya-tanya dalam hati. Terutama saat dirinya menangkap pandangan Sandra yang berubah melembut ketika melihat Max. Seorang pria yang duduk tepat di seberang Raveena tampak menyunggingkan senyuman. Gadis berleher jenjang tersebut membalas dengan separuh hati, karena setelah itu Vardeen memandanginya dengan tajam. "Halo, aku, Kimora. Istri Kak Fritz," sela perempuan bergaun cokelat muda, sebelum menyalami Raveena, seraya tersenyum. "Hai, Kak Kimora. Senang berkenalan dengan Kakak," balas Raveena. Dia seketika menyukai perempuan berparas ayu tersebut, yang mengeluarkan aura baik. "Boleh, tahu? Umurmu, berapa?" "25. Kakak?" "30. Nggak jauh beda ternyata." Kimora mengedarkan pandangan ke sekeliling meja. "Di sini, kita paling muda. Lainnya, di atas kita semua usianya," lanjutnya. "Neng, aku baru 22 tahun," kelakar Fritz, yang mengapit Max bersama Vardeen. "Kakak 22, berarti aku masih bocil," sahut Kimora. "Kalian memang masih pantas dibilang anak kuliahan. Beda sama Rio," canda Max. "Lihat, kumisnya sudah beruban," tambahnya, sambil menunjuk pria yang dimaksud. "Max, aku memang sudah tua. Umurku 222 tahun. Puas!" geram Rio, sembari memelototi rekannya yang justru cengengesan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN