06
"Terima kasih, telah menjadi pendamping yang baik hari ini," cetus Max, sesaat setelah dirinya dan Raveena memasuki mobil.
"Kembali kasih. Teman-teman Bapak juga ramah. Saya ngerasa dilibatkan dalam percakapan dan bukan hanya menjadi pendengar saja," sahut Raveena. Bibirnya melengkung membentuk sebuah senyuman, yang sekian detik membuat Max terpana, sebelum akhirnya pria itu bisa kembali menguasai diri.
Max menyalakan mesin, lalu mengenakan sabuk pengaman. Dia menyetir dengan santai sambil sesekali bersenandung mengikuti irama lagu dari radio.
Raveena yang awalnya masih berusaha untuk bersikap tenang, akhirnya tak sanggup lagi menahan diri. Dimulai dengan gerakan kecil yang lambat laun membuat tubuhnya bergerak dengan lentur.
Max sempat terkesima sesaat, kemudian ikut berjoget bersama Raveena. Sepasang manusia itu saling meledek satu sama lain, sebelum akhirnya tertawa bersama.
"Gayamu, oke juga," tukas Max sembari mengusap dahinya yang sedikit berkeringat, karena banyak bergerak dan tertawa.
"I'm a good dancer," ungkap Raveena sambil menekan-nekankan tisu ke beberapa titik wajah.
"Oh, ya?"
"Hu um."
"Bisa dansa?"
"Yups."
"Good, sekarang ikut aku."
"Ke mana?"
Max tidak menjawab, melainkan hanya menyunggingkan senyuman yang terkesan misterius buat Raveena. Gadis itu ingin sekali mencecar Max dengan pertanyaan, yang sejak tadi memenuhi relung hati. Namun, akhirnya Raveena menangguhkan keinginan, ketika mobil Max memasuki sebuah bangunan yang tidak dikenalinya.
Sekian menit berlalu. Raveena telah berada di mansion milik Max, yang jauh lebih luas daripada kamar indekosnya. Raveena sempat ragu-ragu sebelum mengayunkan tungkai mendekati pantry, di mana Max tengah membuat minuman dingin seteko besar.
Raveena mendudukkan diri di kursi tinggi. Dia memerhatikan sekeliling yang terlihat bersih dan rapi. Raveena seketika menoleh ketika dipanggil Max, yang tengah mengulurkan gelas tinggi berembun padanya.
"Sirupnya, enak," puji Raveena, seusai meneguk air merah di gelas tinggi. "Bapak pakai rasa apa?" tanyanya.
"Cocopandan, campur rhum dan tequila," jawab Max dengan santai.
Raveena terhenyak. "Alkohol?"
Sudut bibir Max berkedut, sebelum akhirnya dia tertawa dengan suara renyah. Raveena mengamati pria yang barisan giginya putih dan rapi itu, sembari menahan diri untuk tidak mencebik.
"Kamu ternyata sangat polos, Ra," ujar Max setelah tawanya lenyap. "Ini sirup asli. Nggak ada campuran apa pun," lanjutnya sembari mengulum senyuman.
Raveena mendengkus. "Bapak ngerjain saya mulu," keluhnya.
"Kamunya yang lugu. Aku jadi terpancing buat godain."
Raveena kembali mendengkus, sebelum mengedarkan pandangan ke sekeliling. "Bapak ngajak saya ke sini, mau ngapain?" tanyanya mengalihkan perhatian.
"Buat tanda tangan surat perjanjian. Kalau ada tambahan, bisa langsung diubah," terang Max.
"Oke."
"Kamu pindah ke sofa. Aku ambil dulu laptopnya."
Selama belasan menit berikutnya, kedua orang tersebut mendiskusikan beberapa poin tambahan, yang diusulkan Raveena. Setelah dicetak di printer, keduanya menandatangani surat kesepakatan itu. Lalu menyimpan salinan masing-masing.
"Sekarang, kita latihan dansa," tutur Max, seusai mematikan laptop.
"Buat apa?" tanya Raveena.
"Pertengahan bulan depan, dampingi aku di acara pernikahan sepupuku. Ada dansanya, dan kita harus kompak."
"Acaranya di mana?"
"Manado."
Raveena membulatkan matanya. "Jauh banget."
"Mama dan papaku separuh orang sana, Ra. Mama campuran Sunda. Papa mix Jawa. Keluarga besar dari pihak Ibu mereka masih banyak yang tinggal di Manado."
"Ehm, apa saya harus cuti?"
"Ya. Kita berangkat Jumat sore, karena paginya aku ada rapat PCD. Pulangnya Senin siang. Jadi kamu cuti 2 hari."
"Tiket dan lainnya, dari Bapak, kan?"
"Hu um. Di sana kita tinggal di hotel aja. Supaya kamu nggak diinterogasi para Tante dan sepupuku."
Raveena menyunggingkan senyuman. "Enggak apa-apa. Saya siap menjawab semua pertanyaan mereka. Sesuai dengan skrip drama buatan Bapak."
"Bukan aku yang bikin, tapi Don. Dia memang pemain drama jempolan."
"Mas Don itu, bukan teman kuliah Bapak, ya?"
"Hu um. Umurnya 2 tahun di bawahku. Kami ketemu waktu aku diminta Teh Edelweiss buat jadi model dadakan. Sekitar 5 tahun lalu. Sejak itu, kami jadi akrab."
"Ehm, dia juga gank pelangi?"
"Yups. Seleranya berondong imut."
Raveena neringis. "Saya boleh nanya hal yang pribadi?"
"Boleh."
"Kenapa Bapak memilih jadi gay?"
Max tidak langsung menyahut. Dia menatap gadis berparas ayu yang balas memandanginya lekat-lekat. Biasanya, Max akan tersinggung jika ada yang menanyakan tentang itu. Namun, anehnya, dia tidak bisa marah pada gadis di hadapannya.
"Aku belum siap menceritakannya Ra. Tunggu sampai aku bisa memercayaimu, untuk memegang rahasiaku," terang Max.
Raveena mengangguk. "Ya, Pak. Saya paham. Ini memang sangat pribadi, dan saya minta maaf, sudah lancang menanyakannya ke Bapak."
"It's okay." Max berdiri. "Ayo, kita latihan," ajaknya.
"Musiknya?"
Max meraih remote dari meja, lalu mencari musik instrumental yang diinginkannya. Setelah meletakkan remote ke tempat semula, Max mengulurkan tangan kanan yang disambut Raveena dengan malu-malu.
Keduanya berpindah ke tengah-tengah ruangan. Max melingkarkan tangan kirinya ke pinggang Raveena. Sedangkan tangan kanannya ditempelkan ke telapak kiri gadis tersebut.
Keduanya saling menatap, sebelum Max berhitung sampai tiga. Pria berambut lebat itu mengarahkan Raveena ke kanan dan kiri. Sebelum dia mengangkat tangan kanan dan meminta gadis itu berputar dua kali, sambil terus dipegangi tangannya.
Keduanya terus bergerak mengikuti irama lagu. Max menyukai cara Raveena berdansa, demikian pula sebaliknya. Mereka berulang kali saling melempar senyuman, sebelum Max menarik Raveena hingga tubuh mereka menempel tak berjarak.
Raveena terkejut saat Max memajukan wajah dan menciumi kedua pipinya. Raveena masih terpaku, meskipun Max telah menjauh seraya tersenyum.
"Aku sedang berlatih jadi pria yang tengah kasmaran, Ra," ucap Max. "Jangan melotot, gitu," godanya.
Raveena mengerjapkan matanya. "Bapak bikin saya syok " rengeknya.
"Sorry. Tadi cuma spontan." Max menunjuk pipi kanannya. "Balas cium, dong," pintanya.
"Enggak mau."
"Kamu harus nunjukin cinta ke aku, supaya sandiwara kita meyakinkan."
Raveena melengos, sebelum akhirnya memajukan badan dan menyentuhkan pipinya ke pipi kiri Max. "Sudah."
"Cium, Ra. Bukan nempelin pipi."
Raveena kembali mendekat dan mendaratkan kecupan di pipi kiri Max. Dia mengulanginya di pipi kanan, karena pria itu telah mengubah posisi wajahnya.
Raveena menjauhkan diri, lalu berbalik dan menyambangi pantry. Dia mengambil gelasnya dan meneguk minuman sampai habis. Lalu Raveena menuangkan air sirup dari teko kaca, dan kembali meneguk minumannya dengan rakus.
Raveena menjengit ketika merasakan seseorang tengah memegangi pundaknya. Tubuh gadis tersebut seketika menegang, karena tidak menduga jika Max akan melakukan itu.
"Kamu pakai parfum apa? Wangi," bisik Max di dekat telinga kiri perempuan di depannya.
"Parfum isi ulang," jawab Raveena dengan jujur.
"Ada, gitu, isi ulang?" desak Max sembari berpindah duduk ke kursi sebelah kanan.
"Ada. Murah dan wanginya beragam."
"Yang ini, namanya apa?"
"Kenzo daun."
"Temanku di PCD, namanya Kenzo Darka."
"Saya kayak kenal nama itu."
"Dia penyanyi. Sempat vakum 3 tahun, saat kuliah S2 di London."
"Ahh, ya. Ingat saya. Pernah dengar lagu barunya. Asyik buat nge-dance."
"Yuk! Kita dance lagi."
"Capek, Pak. Kaki saya pegal."
"Mas, jangan panggil Pak lagi. Kecuali di kantor."
"Ehm, ya."
"Satu lagi. Kalau hanya berdua, jangan pakai kata saya. Kesannya formal sekali."
"Lalu, pakai apa?"
"Aku." Max mengamati Raveena. "Di depan orang, kamu boleh panggil aku dengan sebutan, Honey," pungkasnya.