07
Sudut bibi4 Hani berkedut, sebelum akhirnya dia tergelak. Gadis bermata sipit itu baru mendengar cerita Raveena, tentang ucapan Max di mansionnya, tadi siang menjelang sore.
Hani kesulitan menghentikan tawa, hingga kedua bahunya berguncang. Hani baru bisa menguasai diri, setelah pipinya keram akibat banyak tertawa.
"Kamu tahu? Kupikir bosmu itu lucu," ucap Hani sambil mengusap ujung matanya dengan tisu.
"Aku juga baru tahu, kalau dia aslinya humoris. Plus usil," jawab Raveena.
"Sayangnya dia belok. Padahal cakep, gagah, cukup humble, dan kocak."
"Hu um. Kalau dia bukan gank pelangi, mungkin dia bisa jadi tipe pria kesukaanku."
"Jaga hatimu, Ra. Jangan sampai beneran jatuh cinta. Repot nanti."
Raveena mengangguk mengiakan. "Aku memang nggak berencana buat jatuh cinta dan pacaran dalam waktu dekat. Mau fokus kerja dan nyari duit. Supaya bisa bawa Ibu berobat ke sini."
Hani mengamati sahabatnya itu lekat-lekat. "Kenapa kamu nggak minjam duit ke Pak Max? Dibayar dengan cicilan, dari bayaranmu sebagai kekasihnya."
"Duh! Nggak berani aku, Han. Takutnya beliau curiga kalau aku memanfaatkan situasi, dan kerjasama kami dibatalkan. Padahal aku butuh banget duit itu, buat biaya pengobatan Ibu."
"Ehm, atau kamu ngomongnya setelah perjanjian selesai. Dengan begitu, beliau nggak mikir kamu matre."
Raveena mendengkus pelan. "Aku beneran nggak berani. Lagi pula, setelah kontrak selesai, hubungan kami akan kembali jadi orang asing."
Sementara itu di mansionnya, Max tengah bersantap ketika ponselnya berdering. Max mengambil benda itu dari meja, dan seketika tertegun kala membaca nama pemanggil. Max menguatkan hati, sebelum mengangkat panggilan dari orang yang pernah dicintainya, di masa silam.
"Mas, ada di mana?" tanya Sandra dari seberang telepon.
"Di mansion," sahut Max.
"Aku kebetulan lagi di restoran sebelah. Ke sini, dong."
"Aku lagi makan, San."
"Oh, gitu. Kalau aku yang ke sana, boleh?"
"Ngapain?"
"Ngobrol. Kita sudah lama nggak ngobrol, kan."
"Tadi, sudah."
"Maksudku, berdua."
Max mengerutkan dahi. Sebetulnya dia tidak menginginkan bertemu dengan Sandra, tetapi Max juga penasaran dengan maksud perempuan itu, yang tiba-tiba ingin berkunjung.
"Oke, datanglah. Nanti kuminta petugas mengantarkanmu ke sini," cakap Max.
"Sip. Mau dibawakan apa?"
"Cheese dan matcha cake."
Hampir tiga puluh menit berikutnya, Sandra telah berada di mansion Max. Perempuan bermata sipit itu mengamati pria berkaus abu-abu, yang terlihat sangat menikmati kudapan yang dibawakannya.
Kenangan masa lalu kembali melintas dalam benak Sandra. Terutama masa di mana dirinya pernah mencintai Max, dan menjalin kasih dengan pria itu selama hampir 4 tahun.
Sandra menunduk ketika mengingat penyebab hubungan mereka berakhir. Dia merasa bosan pada Max yang nyaris sempurna. Hingga cintanya berkurang sedikit demi sedikit, dan akhirnya lenyap, setelah kehadiran pria lain dalam hidupnya.
Dengan antusias, Sandra memutuskan hubungannya dengan Max. Sandra kemudian terbang ke Amerika, demi mengejar pria pujaan yang merupakan blasteran dari negeri itu.
Sandra kaget, ketika ditelepon Rio yang merupakan calon Kakak iparnya saat itu, yang mengabarkan jika Max akhirnya bergabung ke gank pelangi. Sandra tambah tidak enak hati, karena Max memilih jalur itu, karena sangat kecewa padanya.
Perempuan berambut panjang itu menelan ludah, ketika teringat karma yang diterimanya. Hubungannya dengan Brad akhirnya tamat, karena pria itu berselingkuh dengan bosnya, yang merupakan seorang janda beranak satu.
Hati Sandra hancur. Dia pergi dari Amerika dan menetap di Bali. Sandra malu untuk bertemu dengan teman-temannya di Jakarta. Terutama, dia sangat malu pada Max.
"Cake-nya enak," ucap Max, sembari meletakkan piring ke meja.
Sandra menengadah, lalu dia mengangguk. "Ya, memang enak. Aku tadi juga mesan itu," balasnya.
"Aku harus bayar berapa?"
"Enggak usah."
"Ini pasti nggak gratis. Apa maumu, San?"
Perempuan bergaun marun itu terhenyak. "Kenapa Mas bisa berpikiran begitu?"
"Kamu orang yang sangat perhitungan. Nggak mungkin kamu ke sini tanpa maksud tertentu."
Sandra melengos. "Ternyata insting Mas masih tajam."
"Harus. Itu modal utama sebagai bisnisman." Max mengamati perempuan yang pernah membuatnya mabuk kepayang di masa silam. "So, katakan. Apa maumu? Aku ingin segera istirahat. Besok full meeting," ungkapnya.
"Ehm, ini tentang gadis itu."
"Siapa?"
"Raveena."
"Ada apa dengannya?"
"Apa Mas beneran pacaran sama dia?"
"Ya."
"Sejak kapan?"
"Baru sebulanan."
"Mas beneran suka sama dia?"
"Yes."
"Bukannya Mas ... gay?"
Max spontan tersenyum. "Apa pedulimu, San? Kita sekarang hanya teman sepintas. Nggak akrab, dan jelas bukan sahabat."
"Ehm, aku penasaran aja, karena sebelum dia, Mas beberapa kali menggandeng perempuan lain di berbagai acara."
"Kamu tahu dari mana? Melissa? Rio?"
"Dua-duanya. Secara nggak langsung, sih. Mereka posting foto kalian kalau lagi ngumpul. Dan pendamping Mas selalu beda orang."
"Kalau aku bilang, jangan ganggu hidupku, gimana?"
"Ehm, aku ..."
"Sudah malam, San. Aku ngantuk."
Sandra tertegun sesaat, sebelum menyambar baugette bag hitamnya, lalu berdiri. "Maaf mengganggu waktu Mas."
"Ya, dan thanks for that cakes," tukas Max sembari berdiri.
"Enggak usah diantar. Aku tahu pintunya di mana."
Max tidak menyahut. Dia membiarkan Sandra menjauh, hingga punggung perempuan itu menghilang di balik pintu. Max menyambangi lawang dan menekan tombol untuk menguncinya.
Max berbalik. Dia mendengkus kuat berulang kali, sebelum menepuk tangan dua kali dan lampu utama di seluruh ruangan itu seketika padam. Max melenggang memasuki kamarnya. Seusai menutup pintu, dia langsung menghempaskan badan ke kasur dalam posisi menelungkup.
***
Waktu terus bergulir. Sudah tiga hari berlalu, tetapi Max tidak pernah sekali pun menelepon Raveena. Bila bertemu di kantor, pria itu juga tidak pernah mengajak Raveena berbincang, dan berlaku bak bos pendiam serta cool.
Sore itu, Max keluar dari ruang kerjanya, sembari menenteng tas dan menyampirkan jas di bahu kiri. Kala melintasi depan kubikel tim marketing, Max melirik Raveena yang tengah mengetik di laptop.
Sesampainya di depan lift, Max menelepon gadis itu. Kemudian dia memasuki elevator, dan menekan tombol agar pintu tetap terbuka. Raveena muncul dengan langkah lebar. Dia memasuki lift, dan Max melepaskan tombol hingga pintunya menutup.
"Kita mau ke mana, Pak?" tanya Raveena.
"Mas," balas Max.
"Ehh, iya. Mas Honey."
Max mengulum senyuman. "Aku mau ngajak kamu makan. Habis itu, ke mansion. Latihan dance lagi."
"Bisa mampir ke indekosku, nggak? Mau ambil baju ganti."
"Oke. Aku juga mau belanja di mini market depan gang indekosmu."
Puluhan menit terlewati, Max menghentikan mobilnya di tempat parkir depan mini swalayan. Raveena membuka pintu dan keluar. Dia menutup pintu, lalu jalan secepat mungkin memasuki gang supaya bisa segera sampai di indekosnya.
Max menunggu Raveena sembari berbelanja. Dia memborong banyak minuman dingin dan aneka keripik, serta kacang berbagai rasa. Max kembali ke mobil bertepatan dengan kedatangan Raveena.
Tidak berselang lama, mobil sedan mewah itu sudah bergabung dengan ratusan kendaraan di jalan raya. Sebab bertepatan dengan jam pulang kerja, perjalanan mereka berulang kali terhambat.
Beberapa belas meter sebelum bangunan mansion, Max memarkirkan mobilnya di depan sebuah restoran. Dia keluar lebih dulu untuk membukakan pintu buat Raveena. Namun, gadis itu ternyata telah keluar.
Max mengulurkan tangan kirinya, yang sempat dipandangi Raveena, sebelum disambut gadis itu. Max mengaitkan tangan kanan Raveena ke lengan kirinya, lalu mengajak perempuan tersebut memasuki restoran.
Panggilan seseorang menyebabkan Max menghentikan langkah. Dia termangu, ketika mengenali seorang pria yang tengah menyambanginya dan Raveena.