08
*Tim Proyek Brisbane & Adelaide*
Dimas Manggala Bajradaka : Cie, @Mas Max.
Syuja Ganesh : Ada yang punya pacar baru, nih, ye.
Hasbi Ardiya : Kenalin, dong, ke kita.
Jauzan Rengku Magani : Ehh, ada gosip baru.
Martin Ragnala : Siapakah dia?
Kenzo Darka : Apakah dia calon ratu Mas Max?
Nidhana Balasena : Aku iri, euy!
Sigit Wisakha : Aku sedih, masih belum laku juga.
Zikria Hafiz Shidduque : Aku ikut senang, kalau Mas Max beneran mau nikah.
Zafran Behzad Wisanggeni : Semoga sebentar lagi Mas Max nyebar undangan.
Zijl Narthana : Aku siap perform nari.
Zaiban Abinawa : Aku nyumbang duit aja.
Zabran Margana : Aku kasih kado spesial.
Zevia Margana : Kenapa hatiku patah, ya?
Zeferino Wiratama : Eleuh-eleuh. Neng @Zevia, ternyata fans-nya Mas Max.
Zalika Margana : Untung seleraku beda. Jadi nggak patah hati kayak Teh Zevia.
Zahdan Wiratama : Apakah aku seleramu? @Dek Zalika.
Zander Wiratama : Sudah jelas, aku tipe kesukaan Dek Zalika.
Zayeed Mahasura : Menyingkir kalian! Dek Zalika itu calon istriku.
Zafar Qashash : Masih calon, @Bang Zayeed. Masih bisa ditikung.
Zainal Ervansyah : @Zafar, pagar makan daun!
Zifary Taraka : Pengkhianat cinta!
Zavian Brijaya : Perusak persahabatan!
Zulfi Hamizhan : Soklah, gelut!
Zeinharis Abqary : Urang jadi wasit.
Zachley Brijaya : Aku jurinya.
Zeeshan Margana : Urang jadi bandar.
Adyanata Dhikari : Mataku mendadak dipenuhi huruf Z.
Hisyam Fayadh : Tambahin. Zefa Harada.
Danapati Gautama : Zayd Yaqzan Adhitama Kartawinata.
Aditya Bryatta : Zahran Ghaly Maheer Harada.
Bazyli Vardhaman : Zarrar Zukti Zael Adhitama.
Jauhari Devanka : Zafia Althea Hisyamatari.
Samajdani Rajata : Zivara Istri Mas Arudra.
Yusuf Haridra Bhranta : Zivania Quinza Dita-Dika.
Denzel Bagaspati : Zahdan Arrasyid. Aku lupa nama ortunya.
Jeffrey Ekadanta : Zufar Ramadhan Khadafi Harun-Sherli.
Bruce Amartya : Zifary Dzikra Beni-Nandya.
Qadry Muharam : Zabran Hisbana Sunardi-Siti.
Shankara Naratama : Zaalan Yassir Rizvan Buchori-Dea.
Chairil Fahrezi ; Zander Rimantara Robi-Farah.
Tanzil Bratindra : Zalvaro Gustav Baltissen.
Harun Alfarizi : Zartio Laksamana Pramudya.
Drhuvi Ardibhanu : Zarrivan Qaiz Latief.
Beni Indrayana : Zandri Kaushal.
Trishan Daneswara : Zaxelle Dante Adhitama.
Nanang Suhendar : Zaustin David Wirapranata.
Eknath Tarangga : Zarman Rinaldi.
Fawwaz Hamdani : Zargan Fahzami.
Bhadra Janardana : Zarudra Janardana.
Ibrahim Kripala : Zarkhan Maheswara.
Radif Nayaka : Zarya Himawan.
Robi Sugara : Zardiawan Sutanto.
Nazril Chentana : Zolavius Aristide.
Valdi Andries : Zaaron Jayanegara.
Leander Naradipta : Zalvarendra Rasendriya.
Frank Jonathan : Zadwaya Lakeswara.
Sebastian Anargya : Zagathias Gautama.
Ghael Arshaka : Zandreas Karunasekara.
Hendri Danantya : Zanthony Madanapala.
Mark Dhananjaya : Zasher Syandana.
Calvin Jesther Adhitama : Zarshaan Nawasena.
Myron Zeo Vong : Zekyavan Zuleman.
Panglima Labdajaya : Zabimanyu Bhalendra.
Lainufar Suwardana : Zemris Rafardhan.
Dharvan Kagendra : Zesfand Vergard.
Farzan Bramanty : Zozora Pasaga.
Hamiz Hartadi : Zubaid Abdullah.
Wirya Arudji Kartawinata : Nama buatan kalian bagus-bagus. Aku comot beberapa, buat anak kelima, keenam, ketujuh, dan kedelapan.
Max Maynard Bajrayekti : @Bang W, gimana caranya bisa punya anak sebanyak itu?
Wirya : Buka pos 2 dan 3. Mamanya kiddos, kan, Chinese. Pos 2, aku cari orang Uzbekhistan. Pos 3, orang Kanada.
Alvaro Gustav Baltissen : W cuma wacana.
Yanuar Kaisar : Belum sempat nyari pos 2, W sudah digetok Vanetta.
Yoga Pratama : Digeprek Mama Shahzain.
Andri Kaushal : Dicincang aktris Tiongkok.
Haryono Abhisatya : Aku suka, membayangkan W disiksa istrinya.
Deswin Lavanaa : Bang W tiada, Honey partner jadi milikku.
Wirya : Deswin, b*****t!
***
Gelakak Max mengejutkan beberapa orang yang ada di sekitarnya. Pria berambut tebal itu masih terus terbahak, dan baru berhenti setelah pahanya dicubit Tracy Alinda, sang kakak, yang baru datang dari Surabaya, tadi pagi.
"Mas, nih. Baca apaan, sih?" tanya Bhavana Gesa Bajrayekti, Adik sepupu Max, anak dari Adik Freddy.
"Pasti baca chat lucknut," sela Marvin, Adik Max dan Tracy.
"Grup mana?" desak Elvin Vamana Bajrayekti, Kakak Bhavana.
"Proyek Brisbane dan Adelaide," terang Max.
"Siapa pengawas dari perusahaan kita?" sela Tracy.
"Nebeng ke Adhitama, Kak. Calvin yang pegang," jelas Max.
"Koko ganteng itu. Suka aku," cetus Bhavana.
"Pepet sana. Tajir banget dia," usul Marvin.
"Calvin bukannya sudah dijodohin?" celetuk Elvin.
"Ya, tapi kata Fritz, dia dan calonnya sama-sama nolak," ungkap Max.
"Koko Dante pasti pusing," seloroh Tracy.
"Dia sama Bang W, karena Pak Frederick nyuruh kedua anaknya itu nyariin calon istrinya Calvin," balas Max.
"Kamu juga harus nyari, Max. Cukuplah sudah main-main," cakap Tracy, yang menyebabkan keempat adiknya tertegun. "Kamu anak cowok pertama di keluarga kita. Papa dan Papi sangat mengharapkanmu segera menikah, lalu punya keturunan, sebagai pewaris keluarga kita," lanjutnya.
"Marvin dan Elvin saja yang ngasih pewaris, Kak," kilah Max yang seketika dipelototi kakaknya.
"Mereka nggak akan berani melangkahimu! Ngerti, nggak, sih?" Tracy kembali mencubiti adiknya yang terlambat menghindar. "Cari perempuan baik-baik yang bersedia menerima kondisimu yang separuh waras. Kalau sampai Desember nggak dapat, aku lamarkan anaknya Pakde Dedi. Dari dulu Yessi sudah naksir sama kamu!" desisnya.
"Aku sudah punya pacar, Kak."
"Perempuan. Bukan si sok cakep itu!"
"Iya, perempuan."
Wajah Tracy yang semula masam, seketika berubah semringah. "Siapa? Aku mau kenalan."
"Orangnya ada di sini."
"Di mana?"
"Bentar."
Max berdiri dan jalan keluar dari ruang kerjanya. Tidak berselang lama, dia kembali sambil menggenggam jemari kanan perempuan berbaju hijau muda, yang tampak canggung.
"Raveena? Sejak kapan kamu pacaran sama Mas Max?" tanya Elvin. Dia kaget, karena tidak menduga jika salah satu anak buahnya, ternyata menjalin kasih dengan Kakak sepupunya tersebut.
"Ehm, baru, Pak," cicit Raveena seraya tersenyum malu-malu.
"Sebetulnya, kami sudah kenal hampir empat bulan. Tapi, kami baru mulai pacaran sekitar tiga mingguan. Tepat setelah dia kerja di sini," celoteh Max. "Ya, kan, Sayang?" tanyanya sembari memandangi sang gadis yang mengangguk pelan.
"Hmm, pantesan, Mama bilang, beliau senang, karena sudah ketemu calon menantu," ujar Marvin.
"Oh, sudah ketemu sama Mama?" sela Tracy.
"Ya, Bu," sahut Raveena.
"Panggil aku Kakak, jangan Ibu," pinta Tracy sembari berdiri dan menyambangi pasangan tersebut. "Namaku, Tracy. Kakaknya cowok menyebalkan ini. Namamu, siapa?" tanyanya sambil menyalami sang karyawati.
"Raveena."
"Lengkapnya?"
"Raveena Nathania."
"Usia?"
"25."
"Pendidikan terakhir?"
"Sarjana komunikasi."
"Kakak, jangan diinterogasi," keluh Max. "Nanti dia kabur dan aku susah nyari lagi," lanjutnya.
"Aku nggak interogasi. Cuma mau memastikan. Kalau ditanya keluarga kita, aku bisa jelaskan," sanggah Tracy. "Duduk, yuk, Na," ajaknya sebelum menggamit lengan kiri gadis bermata sipit itu.
Kedua perempuan tersebut duduk berdampingan di sofa panjang. Max memaksa untuk ikut duduk di samping kiri Raveena, lalu dia merentangkan tangan kanan untuk merangkul pundak sang kekasih.
"Oke, aku nggak mau basa-basi. Cuma ingin memastikan, apakah kamu sudah tahu, jika Max adalah gay?" desak Tracy, yang mengejutkan Raveena dan semua adiknya.