09
"Kakak, aku lagi terapi," cakap Max.
"Sudah hampir 3 tahun, tapi nggak ada kemajuan juga!" geram Tracy sambil mendelik tajam pada adiknya.
"Aku tengah berusaha. Berikan aku waktu."
"Usahamu kurang keras, karena kamu masih dekatan sama sarden kaleng itu!"
"Namanya, Vardeen. Bukan sarden."
"Suka-suka aku mau ngomong apa!" Tracy mengalihkan pandangan pada Raveena yang tengah tercenung. "Na, apa kamu sudah tahu tentang itu?" desaknya.
Raveena menimbang-nimbang dalam hati, sebelum dia memutuskan untuk jujur. "Ya, Kak. Aku tahu," jelasnya.
"Apa kamu benar-benar terima kondisi adikku yang separuh normal ini?"
"Aku terima."
"Enggak jijik?"
Raveena menggeleng. "Aku juga nggak sempurna. Jadi, bagaimana aku bisa menuntutnya untuk sempurna buatku?"
Tracy terdiam, sebelum dia mengulaskan senyuman. "Aku senang dengan jawabanmu." Dia memeluk Raveena sesaat, lalu dilepaskan. "Semoga hatimu selalu kuat dalam mendampingi Max," lanjutnya.
"Aku tinggal jauh dari sini. Marvin, Elvin, dan Bhavana, sudah sibuk dengan urusan masing-masing. Orang tua kami sudah tua, mereka nggak bisa terus mengawasi Max. Sekarang, ada kamu yang bisa menemani Max. Aku sangat berharap padamu, agar Max bisa jadi pria normal," pungkas Tracy, sebelum dia terisak-isak.
Bhavana meraih tisu dari kotak dan memberikan benda itu pada sang kakak. Bhavana memahami suasana hati Tracy, yang sangat menginginkan Max bisa sembuh total, dan menikah dengan perempuan asli.
Bhavana beradu pandang dengan Raveena. Adik Elvin itu mengulurkan tangan kiri untuk menggapai tangan kanan Raveena. Kemudian keduanya sama-sama mengulum senyuman.
Max termangu. Hatinya tercubit akibat ucapan Tracy yang mengharapkannya bisa kembali menjadi lelaki normal. Max menarik napas berat dan mengembuskannya sekali waktu. Dia tahu jika keinginan Tracy itu ibarat mimpi yang sulit digapainya. Sebab tidak ada mantan gay yang akan sembuh total. Melainkan akan memiliki dua arah dalam hubungan intim. Alias bi-sek-su-al.
Sementara itu di tempat berbeda, Vardeen tengah berlatih kebugaraan di tempat gym miliknya. Pria bertubuh gagah itu terus memacu otot kaki mengikuti gerakan alat treadmil, yang dipasang dalam kecepatan tinggi.
Vardeen baru berhenti ketika seseorang memanggil namanya. Pria berkaus singlet hitam itu mematikan alat treadmil terlebih dahulu, sebelum turun dan menyambar handuk kecil di bangku panjang samping kanan.
"Mas, Bapak nelepon. Beliau minta Mas untuk datang ke rumahnya," tutur Lee Jonathan, pria keturunan Chinese, yang sudah menjadi manajer tempat kebugaran itu sejak 3 tahun silam.
"Kapan, dan jam berapa?" tanya Vardeen sembari mengusap peluh di dahi dan lehernya dengan handuk putih kecil.
"Nanti malam, jam 7. Bapak ngadain jamuan."
Alis Vardeen seketika bertaut. "Apa ada tamu di luar keluarga?"
"Kurang tahu, Mas."
Vardeen berdecih. "Aku curiga, Papi ngundang keluarga sahabatnya itu."
"Siapa?"
"Om Adam Kedara."
"Oh, calon mertua Mas."
Vardeen melirik asistennya yang tengah mengulum senyuman. "Kamu tahu, aku nggak suka perempuan. Kecuali Mama, Oma, kedua Tante dan semua sepupuku."
"Paham, Mas. Tapi, Non Yunike, itu cantik, ramah dan baik hati. Mas rugi kalau nolak dia."
"Buatmu aja."
"Aku, sih, mau banget. Tapi, dia yang nolak aku."
"Makanya, beli mansion dan mobil mewah. Biar punya value tinggi di depan calon mertua."
"Aku kasbon dulu, boleh?"
"Bayarnya, gimana?"
"Dicicil, Mas. 500 ribu sebulan."
"Kapan beresnya kalau nyicil segitu?"
"Gajiku kecil, Mas. Naikinlah."
Vardeen meninju pelan lengan karyawannya tersebut. Dia tidak bisa marah pada Jonathan, yang sudah membantunya sejak awal memulai bisnis kebugaran. Keduanya bertemu di tempat gym lama di mana Vardeen menjadi membernya, sedangkan Jonathan adalah instrukturnya.
Mereka bisa bersahabat, meskipun berbeda orientasi sek-su-al. Jonathan tidak pernah menghakimi Vardeen dan gank pelangi. Sebab itu mereka juga segan pada pria berparas manis itu.
Tidak ada seorang pun yang berani menggoda Jonathan, karena mereka akan dihajar pria tinggi besar itu tanpa ampun. Seperti yang pernah dilakukan Jonathan beberapa tahun lalu, pada seorang pelanggan baru tempat gym lama, yang mencoba merayu sekaligus melecehkannya.
Jonathan memukuli pria itu sampai babak belur. Dia dilaporkan ke polisi, tetapi kemudian dibebaskan, berkat bantuan Fritz yang mengerahkan pengacara andalan keluarga Adhitama.
Sebab itulah Jonathan sangat menghormati Fritz dan keluarga Adhitama. Dia juga berteman cukup akrab dengan Kimora dan para sepupu Fritz, serta menantu keluarga Adhitama.
Tidak ada seorang pun yang mengetahui, jika Jonathan merupakan mata-mata Wirya dan Zulfi. Jonathan dulunya adalah petugas keamanan CJC, anak perusahaan PBK, yang menangani area China dan sekitarnya.
Jonathan direkrut kedua menantu keluarga Adhitama tersebut, guna menyelidiki Fritz yang sempat tersesat, dan bergabung dalam gank pelangi. Jonathan sangat berjasa dalam membantu menyelamatkan Fritz, hingga bisa keluar dari lingkaran setan itu.
Jonathan tetap bertahan menjadi karyawan Vardeen, karena dia mendapatkan tugas dari kedua komisaris PB dan PBK itu, untuk menyelamatkan Max dari gank belok.
Identitas Max yang masih abu-abu, ditutupi rapat-rapat oleh Fritz, Dante, Samudra, Harry, Calvin, Myron, Xander, Wirya dan Zulfi, dari Tio serta semua anggota perkumpulan pebisnis muda Indonesia. Bila ada yang tahu rahasia gelap Max, maka bisa dipastikan dia akan dipecat dari PCD, sekaligus nama Bajrayekti Company akan diblack-list oleh semua anggota perkumpulan buatan Tio itu.
Fritz yang bersahabat dengan Max sejak kuliah, tidak mau nasib buruk menimpa Max. Sebab itu, Fritz berusaha keras menarik keluar sahabatnya itu dari gank sesat. Supaya Max bisa tetap mempertahankan posisinya sebagai anggota PCD.
***
Rinai hujan sore itu mengiringi langkah Raveena, yang hendak mencari taksi di jalan raya. Berbekal tas kerja yang menutupi kepalanya, Raveena berdiri di bawah pohon untuk menunggu taksi.
Akan tetapi, hampir setengah jam berlalu, Raveena masih belum mendapatkan taksi, baik yang online maupun yang menggunakan argo. Lengan blus ungunya telah basah dan Raveena mulai menggigil.
Perempuan muda itu terkesiap ketika seunit mobil sedan hitam berhenti, dan kaca kirinya terbuka. Raveena spontan tersenyum saat melihat Max yang tengah membukakan kunci pintu kiri. Raveena bergegas masuk dan menutup pintu. Dia meletakkan tas ke bawah, lalu menggosok-gosok kedua lengannya.
"Pakai ini. Bajumu basah," ucap Max sambil mengulurkan jasnya.
"Nanti basah, Mas," tolak Raveena.
"Enggak apa-apa. Daripada kamu menggigil, gitu. Ayo, pake."
Max menggeser badannya ke kiri untuk menutup area AC, supaya Raveena tidak tambah kedinginan. Max menyambar banyak tisu yang digunakannyq untuk mengusap rambut Raveena yang lembap.
"Parfummu beda," cakap Max sembari memundurkan badan, lalu dia melajukan mobilnya kembali.
"Kok, tahu?" tanya Raveena.
"Indra penciumanku tajam."
"Apakah Mas reinkarnasi anjing pelacak?"
Max seketika tersenyum. Dia menyentil pelan telinga kanan Raveena yang spontan meringis. "Ucapanmu, menyebalkab. Tapi anehnya, bikin aku nyaris ketawa."
"Aku memang ngeselin. Tapi manis dan ngangenin."
"Kamu cantik, bukan manis."
"Mas memuji, aku melayang."
"Jangan merayu. Kamu mesti bayar biaya taksi ke indekosmu."
"Ihh, kirain gratis."
"Enggak ada yang gratis di dunia ini. Semuanya harus bayar." Max melirik gadis yang balas menatapnya lekat-lekat. "Untuk yang ini, aku punya permintaan khusus. Sebagai ganti pembayaran ongkos taksi," kelakarnya.
"Apa, Mas?"
Max tidak menyahut, melainkan hanya tersenyum tipis yang terkesan misterius, dan menyebabkan Raveena penasaran.