Bab 10

1116 Kata
10 Hani memandangi Raveena yang tengah mengacak-acak isi lemari. Hani tidak turut membantu, karena tadi dicegah Raveena. Hani nyaris terkekeh kala sahabatnya itu mengeluh, karena tidak memiliki gaun bagus untuk acara esok hari. Hani akhirnya tergelak, saat Raveena menelungkup di kasur sembari menggerutu tidak jelas. "Jangan ketawa. Bantuin, Han," rengek Raveena sembari memiringkan kepalanya ke kiri. "Makanya, punya duit itu, beli gaun bagus. Bukannya dikirim semua ke keluarga," ledek Hani setelah tawanya lenyap. "Ibu butuh duit. Aku nggak mungkin diam aja." "Ya, tapi kamu juga mesti mikirin diri. Sekali-sekali, kasih reward buat badanmu, supaya jiwamu senang." Raveena mendengkus pelan. "Aku juga maunya begitu, tapi gimana lagi? Tiap mau belanja, yang kebayang adalah wajah Ibu dan kedua adikku." "Kamu over thinking. Mereka baik-baik saja. Kedua pamanmu juga nggak mengabaikan, mereka membantu ngasih sembako tiap bulan. Plus uang jajan buat adik-adikmu." "Hmm, ya. Kamu benar." "Balik ke masalahmu. Kenapa kamu nggak jujur aja sama Mas Max?" "Malu." Hani berdecak. "Ungkapin aja kalau kamu nggak punya gaun. Besok itu pesta mewah, yang datang pengusaha top semua. Jangan malu-maluin Mas Max kalau kamu tampil apa adanya." Raveena meringis. Dia membalikkan badan hingga telentang. "Bingung ngomongnya, Han." "Mana hapemu? Biar aku yang chat beliau." Raveena menunjuk meja rias, dan Hani segera berdiri untuk mengambil ponsel sahabatnya itu, yang tengah diisi daya. Hani mencari kontak Max, lalu mengetikkan pesan yang dikirimkannya pada pria tersebut. Tidak lama berselang, ponsel itu berdering. Hani mencabut kabel pengisi daya, lalu memberikan telepon genggam itu pada pemiliknya. "Kenapa kamu nggak ngomong dari tadi, Ra?" tanya Max, tanpa berbasa-basi terlebih dahulu. "Aku pikir, ada, Mas. Tahunya, nggak ada. Mungkin ketinggalan di Bandung, setelah kupakai di acaranya sepupuku, awal tahun lalu," jelas Raveena. "Ini sudah lewat dari jam 10. Semua butik pasti sudah tutup." "Ehm, ya." "Gini aja, besok pagi kujemput. Kita gedor butiknya Mommy Renata." Raveena membulatkan matanya. "Bu Renata Anindya? Desainer kondang?" "Ya, kamu kenal?" "Enggak, tapi aku followersnya. Mas kenal sama dia?" "Yoih. Dia istrinya Daddy Baskara, tim 1 PG. Bos besar. Owner Ganendra Grup." "Keren banget. Mas bisa temenan dengan beliau." "Besok kamu bisa ketemu dan kenalan dengan Daddy Baskara sama Mommy Renata. Mereka pasti hadir." "Aduh! Langsung deg-degan aku." "Santai aja. Semua temanku baik. Gayanya aja yang agak sombong, tapi aslinya humble." "Hu um." "Besok, aku datang jam 8. Kamu stand by di teras, supaya aku nggak nunggu lama." "Oke." "Bawa baju ganti. Kaus atau kemeja putih. Jeans biru. Sama setelan casual. Piama. Handuk kecil. Sandal. Sepatu kets. Plus underwear." "Ha?" "Para bos mau ngajak holiday singkat. Ke resor punya mereka di Pulau Macan." *** Suasana dalam ballroom hotel bintang 5 di kawasan Jakarta Selatan, siang itu tampak ramai. Mereka tengah menonton pertunjukan yang ditampilkan para pelakon, yang merupakan gabungan dari tim PG, PC, PCD, dan PCT. Pasangan pengantin baru yang berada di pelaminan, berulang kali terbahak, akibat parodi yang ditampilkan dengan apik oleh puluhan orang tersebut. Zavian Brijaya mengencangkan tawanya, setelah diledeki para pelakon sebagai bujang lapuk yang akhirnya laku terjual. Zavian berdiri, lalu membentuk kecupan jarak jauh, yang dibalas semua pemain drama dengan hal serupa. "Mas, aku mau ke toilet," bisik Raveena, sembari mengusap sudut matanya yang berair, akibat banyak tertawa. Max memindai sekitar, kemudian dia memandangi rekannya di samping kiri. "Der, toiletnya di mana?" tanyanya. "Bentar. Kutanyain ke ajudan," balas Vong Lei Xander, anggota tim 5 PG. Xander memanggil ajudannya yang segera mendekat. Keduanya berbincang sesaat, sebelum sang ajudan mengajukan diri untuk mengantarkan Raveena ke toilet. Gadis bergaun biru muda itu berdiri. Dia mengikuti langkah pria berbadan tegap, hingga Keduanya keluar dari ballroom. Raveena memerhatikan Kairav Arhadi. Meskipun tidak terlalu jangkung, tetapi paras Kairav yang tampan, memancing tatapan beberapa orang yang berpapasan dengan mereka. Sesampainya di depan lorong menuju toilet, Kairav mempersilakan Raveena untuk memasuki ruangan khusus perempuan, sedangkan Kairav tetap berjaga di depan. Raveena mempercepat aktivitas di toilet. Kemudian dia keluar dan merapikan rambut di depan cermin. Raveena menambah polesan bedak di wajahnya yang sedikit berminyak, lalu dia memulaskan lipstik ke bibirnya. "Kamu datang sama Mas Max?" tanya seorang perempuan yang keluar dari toilet kiri. "Ya, Mbak," jawab Raveena, sambil mengulurkan tangan kanannya. "Apa kabar?" tanyanya basa-basi. "Baik," sahut Sandra sembari menjabat tangan Raveena dengan separuh hati. "Kamu pacaran sama dia?" desaknya. "Ya." "Kok, mau, sih, sama gay?" Raveena tertegun sesaat, lalu dia bertutur, "Mas Max itu baik dan perhatian. Dia tengah terapi, supaya bisa jadi pria normal." Sandra tersenyum miring. "Kamu terlalu polos. Gay itu nggak akan sembuh." "Aku tahu, tapi itu nggak masalah buatku." "Berapa bayaranmu?" "Maksudnya?" "Tanpa dibayar, kamu pasti nggak mau jadi pacarnya." "Aku ...." "Jangan berkilah. Aku tahu, semua perempuan yang diakui sebagai pacar itu semuanya cewek bayaran. Alias p*****r terselubung. Kalian rela mengangkang, padahal tahu dia nggak bisa memuaskan!" Raveena menggertakkan gigi. "Aku bukan p*****r. Mas Max nggak pernah menyentuhku." "Masa?" "Tanya aja sendiri." "Males." "Bukan malas, tapi Mbak memang nggak bisa terima kenyataan, jika aku bisa memiliki Mas Max, tanpa perlu jadi p*****r buatnya!" "Kamu jangan sombong. Baru juga jadi pacar, sudah belagu!" "Justru kamu yang sombong. Over pede. Harusnya kamu mikir, kenapa dia nggak mau balikan sama kamu!" geram Raveena yang mengejutkan Sandra. "Aku tahu semuanya dari Kak Tracy. Kamulah penyebab Mas Max patah hati dan depresi, hingga dia gabung ke gank pelangi!" "Aku memang orang baru di kehidupan Mas Max, tapi aku nggak pernah merengek dan memelas untuk mendapatkan perhatiannya. Kayak kamu, yang masih sering datang nemuin mamanya, buat membujuk beliau supaya kamu bisa balikan sama Mas Max." "Aku juga nggak perlu ngangkang, seperti yang kamu lakukan dulu dengannya. Tanpa harus jadi p*****r, aku bisa mendapatkan hatinya!" tegas Raveena, sebelum dia jalan keluar sembari menahan diri untuk tidak menangis, karena sangat marah pada Sandra. Kairav mendekati Raveena yang tengah gemetaran. Pria itu memegangi lengan kiri perempuan tersebut. Kairav hendak bertanya, tetapi ditundanya, setelah mendengar isakan Raveena. "Kita pergi dari sini," ajak Kairav sambil mengulurkan saputangan biru pada perempuan yang segera mengambil benda itu. "Aku nggak mau ke dalam, nanti Mas Max akan curiga," cicit Raveena, sembari mengusap pipinya yang basah. "Ya, kita ke ruangan panitia aja," terang Kairav, sebelum dia menuntun Raveena yang masih gemetaran. Sandra yang menyusul keluar, berteriak memaki Raveena. Namun, seseorang langsung menyeretnya hingga tiba di lobi utama. Rio memelototi Adik iparnya, yang masih mengumpati Raveena. "Apa-apaan kamu, San?" tanya Rio. "Perempuan itu ngatain aku, Mas," rengek Sandra. "Dia nggak akan ngatain duluan, kalau kamu nggak ngina dia!" "Kenapa Mas jadi ngebelain dia?" "Mulutmu tajam. Dari dulu omonganmu selalu bikin masalah." "Tapi, aku ...." "Jangan mengganggunya, San. Dia pacar Max. Harusnya kamu dukung dia, supaya mantanmu itu bisa keluar dari gank pelangi." "Mas, aku ...." "Diam dan jangan bicara lagi! Mending kamu pulang aja!" "Mas ngusir aku?" "Ya! Buruan pergi! Sebelum dia ngadu, dan Max ngamuk ke kamu!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN