Bunyi klakson motor terdengar di depan pagar kost. Kanaya yang sedang menyisir rambutnya bergegas membuka pintu kamar dan berlari menuju halaman. “Sebentar lagi ya. Belum selesai bedakan.” Ujarnya pada Boni yang sedang duduk di atas sepeda motor. “Oke. Jangan lama-lama.” Kanaya tak menyahut. Ia langsung berbalik badan dan kembali ke kamar, menyelesaikan kegiatan berdandan. Ia harus cepat, karena tak enak kalau sampai Boni menunggu. Entah sudah berapa lama, sejak terakhir kali pertemuannya dengan Gavin malam itu. Boleh dibilang ia sedikit patah hati, karena diminta menjauh. Merasa sudah tak ada harapan lagi untuk kembali ke masa depan, maka Kanaya hanya bisa berusaha untuk menikmati hidupnya yang sekarang. Kanaya tak lagi memikirkan bagaimana caranya untuk mendekati Gavin. Hanya denga

