1
"Raina Sayang, malam ini Mama nggak bisa nemenin kamu di Rumah. Kamu nginep di tempat Tante Santy ya?”
"Lagi?"
Maila mengerang dalam hati mendengar nada sedih yang keluar dari mulut anaknya. Mau bagaimana lagi? Tadi Mami Renata menelpon dan menyuruh dia untuk bersiap. Satu jam lagi Febri akan menjemputnya. Ada klien kaya yang mengadakan pesta bujang di Hotel Zeus, Maila dan beberapa temannya diminta untuk pergi menemani mereka.
Padahal malam ini Maila sudah merencanakan quality time, waktu berkualitas antara ibu dan anak. Berdua saja dengan anaknya, Raina, yang lusa akan genap berusia tujuh tahun. Tapi dia tidak bisa menolak permintaan Mami Renata, Mucikari yang selama lima tahun ini menjerat ibu satu anak itu dalam dunia prostitusi. Dia tidak bisa seenaknya keluar atau berhenti sebelum membayar semua hutangnya pada wanita itu.
Lari? Itu bukan pilihan bijak yang bisa dilakukan disaat kamu memiliki anak perempuan yang masih kecil. Maila tidak mau para preman bayaran Mami Renata mengejar dan menyiksanya, atau yang lebih parah lagi membunuhnya dan membuat si kecil Raina menjadi p*****r seperti ibunya. Dia tidak mau itu. Maila berharap semua hutangnya pada Mami Renata bisa terbayar sebelum Raina beranjak remaja.
Sangat tidak lucu saat anakmu yang sudah gadis, dan mulai menyukai lawan jenis harus mengatakan bahwa pekerjaan ibuku adalah p*****r pada orang yang disukainya.
"Apa pekerjaan Mama nggak bisa ditunda? Maksud Raina, apa Mama nggak bisa minta libur?”
Besar dan hidup tanpa orang tua yang lengkap, dan tinggal di tengah lingkungan yang lumayan tak baik untuk anak-anak seusianya membuat Raina dewasa sebelum waktunya.
Maila mengerang, "Maafkan Mama, Sayang. Mama nggak bisa. Kalau Mama nggak pergi kita tidak akan punya uang untuk menyewa rumah ini dan juga membayar uang sekolahmu." Dia berusaha melakukan dua pekerjaan sekaligus, mengeriting rambut dan juga memasakan makan malam untuk Raina, ayam dan telur goreng.
"Hn." gadis kecil bersurai hitam itu hanya bisa duduk menunduk di depan meja makan.
"Mama janji, lusa Mama akan libur agar kita bisa makan di luar untuk merayakan ulang tahunmu."
Kepala Raina mendongak, mata gelapnya langsung berbinar ceria mendengar janji Maila. Dia menoleh ke arah ibunya.
"Benarkah?"
"Hu'um." Maila mengangguk senang melihat keceriaan di mata putrinya kembali.
"Mama?"
"Umm?"
"ayam dan telurku sepertinya gosong."
"HUWAAA IYA!"
***
Berkali-kali Rei Bramastya menghela napas gusar. Topik pembicaraan pada makan malam keluarga Bramastya selalu sama, yaitu mengenai penerus yang akan memegang tampuk kepemimpinan di PT. Bramastya Perkasa.
Revo Bramastya, kakak Rei, tidak bisa mengabulkan keinginan orang tuanya memberikan cucu untuk penerus tahta kerajaan bisnis Bramastya, karena dia mandul. Pernikahannya selama dua belas tahun dengan istrinya, Ana, tidak dikaruniai anak. Mereka hanya mengadopsi dua anak yatim-piatu dari panti asuhan.
Revo dan Ana menyayangi kedua anak mereka, Raffi dan Bintang, walau mereka hanya anak angkat. Namun lain halnya dengan orang tua Revo dan Rei, yang mengharapkan keturunan langsung, cucu berdarah Bramastya dari Revo dan Rei. Putus harapan pada Revo, Anton dan Hana Bramastya mengalihkan perhatian mereka pada Rei.
Sayangnya sampai saat ini si bungsu masih belum bisa menuruti keinginan orang tuanya. Dia tidak mandul seperti Revo, begitupula Stella, istrinya. Hanya saja mereka sengaja menunda keinginan untuk memiliki anak, walau sudah enam tahun menikah. Stella merupakan seorang model terkenal yang selama beberapa tahun belakangan karirnya sedang menanjak. Dia tidak ingin masa keemasan karirnya rusak hanya karena memiliki seorang bayi. Rei tidak memiliki kuasa untuk menentang kemauan sang istri.
Jika Ayah atau Ibunya mengungkit soal cucu pada Stella dan Rei saat makan malam, maka Stella akan marah pada suaminya dan mengatakan bahwa Rei dan keluarganya egois dan tidak peduli pada dia.
Itu terjadi lagi malam ini.
Rei bukanlah tipe suami yang suka bertengkar dengan istri, dan jika marah dia tidak pernah main tangan dengan menampar atau melukai istrinya. Dia lebih memilih untuk menghindar. Walau pernikahannya dengan Stella tidak didasari cinta, dan hanya sebagai pengikat bisnis antara keluarga Bramastya dan Harimurthi, Rei tetap ingin bersikap gentle.
Menyendiri di ruang kerja untuk menghindari pertengkaran dengan Stella, membuat Rei kesepian. Dia kemudian menghubungi Raditya Harimurthi, sahabatnya untuk mengajak pemuda itu keluar. Radit selalu menjadi pendengar dan teman yang baik saat Rei stress, walau dia dan Stella merupakan sepupu, Radit tidak begitu menyukai perempuan itu.
"Sepupuku yang gila itu membuatmu stres lagi, eh?" Raditya selalu tahu alasan kenapa Rei menelponnya.
Rei mendengus. "Katakan saja kamu ada dimana Dit? Dan apa yang kalian lakukan?"
"Hotel Zeus. Kami sedang berkumpul dan mengadakan pesta bujang untuk Ditmar. Sobat kita ini kan mau menikah. Dan kamu yakin akan kemari Rei? Kamu kan bukan bujang lagi."
Rei bisa merasakan seringai Raditya di ujung saluran telpon.
"Hn. Kamar nomer berapa? Aku ikut," kata Rei setelah terdiam selama beberapa saat.
Raditya terkekeh. "Dua ratus tiga belas. Pastikan Stella tidak tahu kalau kamu ikut pesta ini. Dia akan membunuhku, Rei."
"Hn," respon Rei sembari mematikan sambungan ponselnya.
***
"Sudah siap, Manis?" Maila terkekeh pelan mendengar nada menggoda yang keluar dari mulut cowok (coret-mantan-cewek) transgender berparas cantik yang menunggunya di depan rumah kontrakan. Maila bersyukur beberapa menit lalu sahabatnya, Santy, sudah menjemput Raina untuk menginap di rumahnya.
"Tunggu sebentar, Darling," ucap Maila sembari berlari kecil keluar rumah sembari menenteng tas tangan dan hels berwarna merah pekat. Maila juga mengenakan gaun mungil cantik tanpa tali yang berwarna senada dengan tas tangannya. Rambut hitam sepunggungnya digerai dengan bagian bawah yang sudah dikriting. Dia tidak memakai make up berlebihan, hanya polesan bedak tipis, maskara, dan juga lipstik berwarna pink yang menjadi kesukaannya.
"Anakmu sudah kamu ungsikan?"
"Hmmm. Di rumah Santy," jawab Maila asal sambil mengunci pintu rumah, lalu memakai sepatu hak tingginya.
Febri memperhatikan Maila sesaat, kemudian dia tersenyum masam. "Baguslah. Lagipula kasihan anak sekecil itu kalau harus melihat ibunya pulang dalam keadaan berantakan dan berbau sperma."
Maila mendengus sinis. "Sialan."
Febri terkekeh. Dia mempersilakan Maila untuk berjalan lebih dulu menuju ke tempat mobilnya diparkir.
"Pesta bujang kudengar."
"Yup. Hotel Zeus. Anak seorang pejabat dan teman-temannya memesan penari telanjang plus-plus untuk menemani mereka," jelas Febri malas.
Maila bersiul. "Kalau begitu bayaran dan tipnya lumayan besar."
"Yah. Mungkin. Tapi itu juga berarti tenaga dan kesabaran ekstra. Tak jarang anak-anak orang kaya seperti mereka suka bermain kasar dan bermulut kotor." Febri bicara berdasarkan pengalaman.
Saat remaja, ketika dia masih menjadi seorang perempuan, Febri dijual oleh Ayah tirinya ke sebuah lokalisasi prostitusi di kota kecil tempatnya tinggal, dipaksa melayani nafsu binatang para lelaki hidung belang selama bertahun-tahun. Setelah bebas dari tempat tersebut, Febri yang mengalami trauma akibat segala kekerasan dan tindakan penyimpangan seksual saat di kota tempat tinggalnya, memutuskan untuk menjadi seorang laki-laki. Dia lalu merantau ke Ibu kota dan bekerja sebagai supir Mami Renata.
Ingin mencari pekerjaan lain yang tidak berhubungan dengan dunia prostitusi, tapi siapa atau perusahaan mana yang mau menerima mantan p*****r yang juga seorang transgender untuk menjadi karyawan mereka?
"Kuatkan saja hatimu nanti, seandainya mereka merendahkan profesi kalian," Febri menepuk pundak Maila penuh simpati.
"Hn. Itu pasti." Maila mengangguk. "Ngomong-ngomong aku yang pertama kamu jemput?"
"Hu'um. Setelah ini aku harus menjemput Tata dan juga Era."
Bibir Maila melengkung ke atas mendengar nama dua temannya yang lain. "Ini akan menyenangkan," gumamnya.
"Yah. Mudah-mudahan."
***
"Anak pejabat, eh?" tanya Era sinis sambil merapikan dandanannya. "Sebagian pejabat. Tidak ayah-tidak anak sama saja bejatnya. Di depan publik, para pejabat sialan berkantong tebal itu menolak eksistensi kita. Membuat rancangan undang-undang. Menutup lokalisasi. Dan bahkan menggelandang teman-teman kita seperti narapidana ke panti sosial. Tapi di belakang ... mereka pun memakai jasa kita," dia menggerutu.
"Kemarin aku bersama salah satu pejabat daerah S******, yang sedang dinas di Jakarta. Tua dan payah. Hanya dompetnya saja yang tebal. Apa yang akan dikatakan publik kalau mereka tahu soal orang-orang seperti itu?"
Maila dan Tata yang duduk di bangku belakang—di samping Era—sama-sama tertawa mendengar gerutuan si cantik bertubuh aduhai tersebut. "Bagaimana kalau kamu melist para pejabat yang datang menyewa jasa kita, lalu menjual nama-namanya pada pers?" canda Tata.
"Dan jangan lupa, buat videonya secara sembunyi-sembunyi agar bisa jadi bukti kalau mereka mengelak," tambah Maila.
Era terkekeh.
"Hei! Untuk usulan video rekaman itu melanggar privasi seorang lelaki. Nanti ukuran dan jenis-jenis 'barang' orang yang berjas dan berdasi itu bisa terbongkar. Yang memiliki barang paling kecil dan jelek kan bisa malu."
Celetukan Febri sukses membuat ketiga perempuan malam itu terbahak-bahak.
***
Maila tidak mengerti kenapa malam ini dia merasa gelisah. Jantungnya berdentum dengan kencang tanpa sebab. Dan sebuah suara di sudut hatinya yang terdalam berteriak menyuruhnya untuk segera pulang.
Maila pikir ini firasat buruk. Dia mendadak menghawatirkan Raina. Dalam perjalanan dari lobi hotel menuju kamar anak pejabat, Maila menelpon Santy untuk menanyakan keadaan putrinya. Namun menurut sahabatnya, Raina baik-baik saja.
'Sebenarnya aku kenapa?' batin Maila was-was setelah menyudahi acara telpon singkatnya dengan Santy.
"Bagaimana putrimu?" Era melirik Maila. Dia mengenal Maila sejak perempuan itu masih berusia belasan tahun, saat masih tukang cuci piring menyedihkan yang berlari kesana-kemari memohon uang pinjaman untuk biaya operasi bayinya.
"Dia baik. Sedang tidur," jawab Maila dengan kening berkerut bingung.
"Sudahlah. Jangan terlalu dipikirkan." Perempuan tomboy berambut kemerahan yang mengenakan pakaian gelap transparan berbahan sifon itu merangkul Maila akrab, "Ayo kita selesaikan semua ini. Setelah itu kamu bisa pulang dan bertemu Raina lagi." dia mengacak pelan rambut Maila.
"Hmm. Kakak benar. Cepat selesaikan semua ini agar bisa cepat pulang dan membawa uang."
"Kalian berdua tampak seperti pasangan lesbian," komentar Tata saat melihat Era yang masih merangkul 'mesra' Maila.
Era mendengus. Maila nyengir.
Saat ketiganya tiba di depan pintu kamar nomer dua ratus tiga belas. Perasaan Maila makin tak menentu.
Pintu diketuk. Seorang lelaki berambut gondrong dan berwajah ceria membukanya.
"Ah. Kalian sudah datang?" kata si gondrong. Sepasang mata cokelatnya berbinar ramah. "Ayo masuk."
Kamar itu besar dan mewah. Ketika mereka masuk, tiga lelaki lain (selain si gondrong di pintu) berpenampilan kasual menyambut. Mereka semua memiliki wajah rupawan. Dan Maila merasa dirinya menjadi penderita penyakit jantung, saat melihat sepasang mata gelap yang balik menatapnya terkejut.
'R-Rei?' Ibu satu anak itu berharap bumi bisa menelannya sekarang.
***
'Maila?' Rei benar-benar tidak ingin mempercayai apa yang dilihatnya.
Salah satu dari tiga perempuan malam yang dipesan Ditmar untuk menari telanjang dan menemani mereka di pesta bujangnya, adalah Mikailla, pacar pertama Rei saat masih duduk di bangku sekolah menengah atas dan tinggal di Nusa Tenggara.
Seingat Rei, Maila yang dulu adalah gadis periang yang sopan dan cerdas. Namun sekarang ... Mata gelapnya menyusuri penampilan Maila dari ujung kaki sampai kepala. Hels berwarna merah pekat, gaun pendek tanpa lengan yang juga berwarna senada membungkus tubuh indahnya dengan ketat, wajah yang dulu polos kekanakan kini tampak begitu cantik namun menyimpan banyak beban. Rambut Maila yang dulu pendek sebahu, dan menjadi kesukaan Rei untuk dibelai, kini telah panjang mencapai punggung.
Sesaat Rei melihat Maila seperti terguncang dan kehilangan orientasi ketika bertemu mata dengannya, namun perempuan bersurai hitam indah itu cepat mengendalikan diri.
"Jadi siapa bosnya disini?" perempuan berambut kemerahan dan berpakaian sangat seksi itu satu-persatu menatap Rei, Raditya, Ditmar, dan Sammy.
"Aku," Raditya mengangkat tangan disertai cengiran m***m yang lebar. Dia berjalan menghampiri Era sambil menatap nakal pada beberapa bagian tubuh perempuan itu.
"Oh, oke Tampan. Ini totalan harganya." Dia mengeluarkan selembar kertas dari dalam tas tangannya. "Kamu pasti sudah membayar uang muka pada Mami Renata. Dan sisanya harus dibayar pada kami bertiga."
"Hmm. Tak masalah." Raditya tampak tak keberatan dengan harga yang diajukan Era. Setelah kesepakatan terjadi, dan Raditya menyerahkan setumpuk uang pada si rambut ungu, pesta pun dimulai.
"Jadi siapa pengantinnya?" tanya Tata dengan nada menggoda.
"Hmm. Aku," Ditmar menyeringai.
Dentuman musik disko dari streo MP3 yang dinyalakan Sammy, mengisyaratkan pada para gadis bahwa mereka bisa memulai menggerakan tubuhnya mengikuti irama dentuman musik.
***
Suasana di kamar dua ratus tiga belas mulai panas oleh gairah dan hujanan kata-kata m***m saat ketiga perempuan cantik tersebut mulai menari di atas meja, dan satu-persatu pakaian mereka terlucuti.
Raditya dan Sammy yang lebih dulu 'panas'. Mereka mulai meraba dan meremas b****g beserta d**a Maila dan Tata, yang kini masing-masing hanya memakai celana dalam thong. Sedangkan Ditmar yang akan melepas masa bujangnya sedang sibuk beradu lidah dengan Era.
Sementara Rei ... Duduk meminum birnya di sudut sofa, mata si bungsu Bramastya menatap tajam ke arah Maila yang tengah asik melakukan tarian m***m bersama Raditya. Perasaan lelaki itu campur aduk.
Melihat tangan Raditya yang dengan cekatan hendak melepas celana dalam Maila, Rei langsung bangkit dan menarik si perempuan dari masa lalunya untuk turun dari meja.
"Hei b******k, apa-apaan kamu?" Raditya protes tak terima karena 'patner'nya tiba-tiba direbut oleh Rei.
"Aku ambil yang ini."
"Tapi ...."
Raditya yang hendak kembali protes, hanya bisa bungkam saat menerima tatapan tajam Rei. Dia lalu mengalihkan perhatiannya pada Tata.
"Pakai bajumu." Memungut gaun merah yang teronggok di lantai, Rei kemudian melemparkannya pada Maila.
"Tapi ...."
"Sekarang!" sifat sok ngeboss dan tak mau dibantah Rei, masih tak berubah dari dulu hingga sekarang. Dengan enggan, dia memakai gaunnya.
Sejak pertama kali memasuki kamar ini dan bertemu mata dengan Rei, Maila berharap semoga dia tidak 'melayani' si lelaki Bramastya. Karena itu akan membuka kenangan masa lalu dan luka lama. Tapi sepertinya harapan hanya tinggal harapan. Maila hanya bisa mendesah putus asa saat Rei menyeretnya keluar dari kamar nomer dua ratus tiga belas.
***
Memboking kamar lain untuk memberikan privasi khusus pada keduanya, Rei malah terlihat bingung ingin bicara apa. Suasana tampak begitu canggung. Sudah tiga puluh menit dia dan Maila, duduk di atas tempat tidur tanpa berbicara atau melakukan apapun.
"Apa yang terjadi?" Rei akhirnya buka suara.
Tak menjawab, Maila hanya mengeluarkan suara dengusan sebagai respon. Dia lebih memilih untuk duduk tegak memelototi tembok putih daripada harus menoleh dan melihat wajah seorang Rei Bramastya.
Rei menarik napas keras, pertanda bahwa dia mulai kesal pada mantan pacarnya ini. "Jangan bertingkah menyebalkan Maila. Katakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kamu bisa jadi seperti ini?"
"Apapun yang terjadi padaku, tidak ada hubungannya denganmu."
Rei tersentak mendengar nada bicara Maila, yang terkesan seolah dia membencinya.
"Apa kamu lebih memilih menjadi p*****r dan memuaskan teman-temanku di kamar sebelah, daripada harus menjelaskan tentang apa yang menyebabkanmu seperti ini?" suara rendah Rei sarat akan ancaman yang membuat hati kecil Maila gentar.
Namun dengan mantab perempuan cantik itu menjawab 'Ya.' yang disusul sebuah tamparan keras bersarang di pipinya. Dan juga tubuhnya yang tiba-tiba terbaring di atas tempat tidur karena terdorong bobot si pria Bramastya.
Lima tahun bekerja sebagai perempuan malam, membuat Maila sudah terbiasa dengan segala macam rasa sakit akibat perbuatan kasar para pelanggannya. Tapi malam ini rasanya jauh lebih sakit. Kenyataan bahwa yang mengasari dan merendahkannya adalah Rei Bramastya, cinta pertama yang sampai sekarang masih dicintainya, sekaligus ... Ayah dari Raina, membuat hati Maila terasa jauh lebih sakit daripada seluruh tubuhnya yang menerima perlakuan tak menyenangkan Rei.
Rei Bramastya. Dulu dia tidak sekasar dan sedingin ini. Walau sifatnya terkadang menyebalkan dan terkesan tidak pedulian, tapi Rei yang dulu orangnya lembut. Dia tidak tega menyakiti atau bahkan melukai Maila, seujung kukupun.
Maila masih sangat mengingat bagaimana saat ketika dia melepaskan keperawanannya pada Rei, wajah Rei waktu itu terlihat sangat cemas dan panik saat mendengar Maila kesakitan.
'Kalau dipikir lagi ... apa yang terjadi padaku selama ini bukan salah Rei.' Takut-takut tangan kurus Maila terjulur untuk membelai surai gelap Rei. 'Semua yang terjadi pada kami adalah takdir. Keadaanlah yang membuat aku dulu terbuai nafsu dan tidur dengan Rei. Dia pindah mengikuti orang tuanya keluar kota tanpa tahu bahwa aku hamil.
Kehamilanku membuatku diusir dari rumah oleh orang tuaku sendiri. Luntang-lantung di jalan saat hamil dan menggelandang bersama bayi bukanlah hal yang menyenangkan, apalagi harus berhutang banyak pada seorang mucikari demi membayar biaya operasi Raina. Aku menjalani banyak hal yang tidak menyenangkan, tapi aku tidak menyalahkan Rei. Dia sama sekali tidak tahu keadaanku.' dia menarik napas sedih saat tanpa sengaja melihat cincin kawin yang melingkar di jari manis Rei.
"Kalau kamu tahu apa yang sebenarnya terjadi padaku. Apa kamu akan tetap bersikap kasar seperti ini?" tanya Maila parau. Tak peduli bahwa Rei tidak mungkin menjawab, karena lelaki itu sedang tidur. 'Ah. Mungkin sebaiknya kamu tidak tahu,' tambahnya dalam hati.
Ponsel Maila dalam tas tangannya yang di letakan di laci night stand di samping tempat tidur berdering, melirik jam yang sudah menunjukan pukul dua pagi, perempuan muda itu kemudian menjawabnya.
"Hai." Itu dari Era yang menanyakan keberadaannya. Dia dan Tata sudah berada di lobi hotel menunggu Febri menjemput. Pesta bujangnya sudah selesai. Era bertanya apakah Maila akan pulang bersama mereka. "Ya tentu, sepuluh menit lagi aku menyusul," katanya sambil beranjak turun dari tempat tidur. Memungut semua pakaiannya lalu beranjak menuju kamar mandi.
"Baiklah. Iya, sampai jumpa."
Mengetahui bahwa perempuan yang sejak tadi berbaring di sampingnya telah pergi ke kamar mandi, perlahan obsidian yang sedari tadi bersembunyi di balik kelopaknya mulai menampakan diri.
'Apa yang kamu sembunyikan dariku, Maila.'
***
"I-ini apa?" Maila sedikit terkejut melihat Rei yang sudah bangun dan telah berpakaian rapi setelah dia kembali dari kamar mandi. Pria itu menyodorkan segepok uang padanya.
"Bayaranmu," ucap Rei cuek sembari merapikan jaketnya tanpa melirik sedikitpun ke arah Maila.
Jawaban Rei membuat hati Maila tertohok.
"Tak perlu. Si gondrong tadi sudah membayar kami."
"Aku 'memakaimu' untuk diriku sendiri. Tidak bersama yang lain dalam pesta bujang Ditmar."
Tatapan tajam tak-mau-dibantah-ala-Rei membuat Maila terpaksa menerima uang tersebut.
"Hm. Terimakasih." dia beranjak ke arah pintu dan berjalan keluar kamar tanpa menoleh ke belakang. Meninggalkan Rei Bramastya dengan seribu pertanyaan yang berkecamuk dalam pikirannya.
***