FLASHBACK—
"Rei."
"..."
"Rei-Sayang?"
"Hn?"
"Sayang, ayolah lihat kemari!"
Ogah-ogahan pemuda tampan itu menoleh ke arah kekasihnya yang berdiri bak seorang model di depan pintu, berlenggak-lenggok sok seksi sambil memajukan bibirnya manja.
Sebelah alisnya terangkat tinggi memperhatikan penampilan Maila. Dia lalu mendengus, dan mengembalikan perhatiannya pada gadget yang sedang dia pakai.
"Mulutmu seperti bebek," komentarnya sadis, membuat semangat Maila merosot. Padahal gadis muda itu ingin memperlihatkan pada sang kekasih, bahwa dia terlihat mengagumkan dan seksi dalam balutan gaun pantai berwarna peach, yang baru dia beli kemarin. Kedua temannya, Maura dan Lala bilang kalau dia tampak sangat wow saat mengenakan gaun tersebut. Tapi pacarnya malah bilang kalau mulutnya seperti bebek.
"Dasar kakak kelas gila. Tidak peka," makinya sebal sembari berjalan ke arah pemuda yang sudah setahun memacarinya. Apa Rei tidak tahu, kalau Maila membeli gaun ini untuk—tampil cantik di depan—nya? Ketika dia datang berkunjung seperti hari ini. Bukannya memperhatikan pacar si Bramastya itu malah sibuk dengan ponselnya.
"Memangnya kamu ingin aku berkata apa, Maila?" tanya Rei lagi, masih tak menoleh ke arah gadisnya.
"Setidaknya beri pujian sedikit, atau apapun seperti pacar-pacar normal lainnya." Dia sedikit merajuk.
"Kamu cantik."
Bibir Maila muda makin mengerucut. Pipinya menggembung, dan matanya menyipit sebal pada sang pacar yang duduk di samping. Iya sih Rei memuji, tapi pujiannya terdengar datar-dan-sangat- tak-ikhlas.
"Kalau tidak ikhlas ya tidak perlu bilang," Maila menggerutu. Apa susahnya sih, memuji pacar sendiri cantik dengan suara manis dan tidak ketus seperti itu.
Rei menghela napas panjang mendengar gerutuan Maila. Menyelesaikan acara browsing dan download beberapa game bagus untuk ponselnya. Lelaki muda Bramastya yang tahun ini akan masuk ke Universitas itu kemudian memusatkan perhatian sepenuhnya pada sang pacar.
"Kamu cantik," katanya penuh penekanan, "memakai pakaian apapun kamu tetap terlihat cantik. Bahkan walau memakai selembar karung goni. Tapi lain kali jangan membeli atau memakai pakaian seperti ini," dia menggedikan ke arah baju yang dipakai Maila.
"Kenapa?" perempuan itu terlihat begitu lucu dan kekanakan saat menatap Rei seperti sekarang.
Karena pakaian seperti itu bisa memancing serigala 'lapar' Nona. "Karena aku tidak suka~"
Maila mengerutkan kening mendengar jawaban Rei yang aneh. Bukankah semua laki-laki akan senang dan suka melihat pacarnya berpakaian seksi dan cantik?
"Aku tidak suka jika ada orang lain--terutama laki-laki--melemparkan tatapan m***m padamu karena memakai pakaian seseksi ini. Itu berbahaya."
Bukannya kamu juga m***m dan berbahaya? Maila ingin mengatakan ini. Tapi tertahan di ujung lidahnya. "Jadi?" hanya itu yang bisa dia katakan.
"Jadi pakai saja baju biasa yang nyaman untukmu. Jins atau kamus misalnya. Jangan pakai gaun yang mempertontonkan tubuhmu seperti ini."
Maila muda cemberut. Dia merasa seperti anak kecil yang dimarahi orang tuanya saat mendengar ucapan sang pacar. Lagipula sekali-kali pakai gaun kan tak apa.
"Maila?" ucap Rei dengan nada memperingatkan.
"Iya. Iya," jawab Maila ogah-ogahan.
Rei mendengus geli. "Kalau jawab yang ikhlas. Jangan ketus begitu." Dia membalikan perkataan Maila.
"Iya ReiKU Sayang," jawab Maila sok manis.
Rei muda tersenyum tipis mendengarnya.
***
Rei Bramastya tersenyum tipis mengingat salah satu kenangan masa mudanya dengan Maila. Ah. Seandainya dulu ayahnya tidak membuka cabang usaha di Jakarta dan sukses. Mungkin sekarang dia masih berada di Nusa Tenggara, tetap bersama Maila, dan bahagia.
Dulu Maila (nama aslinya Mikailla) begitu manis dan kekanakan. Rei ingat betul bagaimana ekspresi Maila saat menangis, setelah tahu bahwa dia akan pindah keluar kota dan tidak mungkin bisa bertemu gadis itu lagi. Dia tidak terisak pelan seperti gadis-gadis lain, dia menangis kencang dengan wajah jelek sambil menghentak-hentakan kaki. Tak peduli bahwa mereka sedang berada di tengah jalan dan menarik perhatian orang.
Pertemuannya dengan Maila kemarin malam, membuat Rei kembali teringat tentang masa lalunya bersama gadis itu. Pacar satu-satunya sebelum dia menikah dengan Stella.
Semua kenangannya bersama Maila terasa begitu manis. Kecuali kemarin malam. Dimana dia melihat Maila menjadi perempuan malam. Melucuti pakaiannya satu-persatu dan melakukan hal tak senonoh dengan Raditya dan Sammy. Walau akhirnya kemarin malam Rei melakukan hubungan intim dengan Maila, tapi membayangkan perempuan itu disentuh dan berhubungan seksual dengan laki-laki lain (kemungkinan banyak laki-laki, mengingat profesinya) entah kenapa membuat hati si bungsu Bramastya itu panas. Dia tak terima.
Yang mengganggu pikiran Rei saat ini adalah penyebab kenapa mantan pacarnya itu bisa berakhir seperti sekarang? Menjadi perempuan malam, atau istilah kasarnya p*****r, yang menjajakan tubuhnya untuk dinikmati lelaki hidung belang. Seingat Rei, keluarga Maila di Nusa Tenggara cukup berada. Ayahnya seorang pegawai negeri sipil yang bekerja di dinas pendidikan. Walaupun ibunya hanyalah ibu rumah tangga biasa, tapi keluarga mereka tidak pernah memiliki masalah soal keuangan.
Menghela napas keras, Rei mengerutkan kening untuk berpikir sebentar. Dia lalu meraih ponselnya dan memencet beberapa nomor.
Nada tunggu terdengar selama sepuluh detik. Lalu terdengar suara berat nan parau seorang pria di seberang.
"Tonny, aku ingin kamu mencaritahu tentang seorang perempuan bernama Mikailla," kata Rei tanpa basa-basi. Dia mendengus sebal ketika mendengar jawaban malas tangan kanannya Anthonny di seberang. Ingin rasanya dia menggetok kepala landak Tonny menggunakan palu.
"Hm. Ya. Aku tidak peduli tentang siapa yang kamu tiduri sekarang. Yang aku inginkan adalah berkas info tentang Mikailla ada di mejaku besok pagi. Kalau tidak ... akan kupastikan testismu berada di piring." Rei segera memutuskan sambungan telponnya, sebelum Tonny mengatakan sesuatu yang menyebalkan.
Dia kemudian bersandar pada kursi kerjanya. Mengingat kembali perlakuan kasarnya pada Maila kemarin malam, membuat dia merasa bersalah. Kalau saja perempuan itu mau mengatakan hal yang sebenarnya dan tidak keras kepala, dia mungkin akan mencoba memahami apa yang terjadi pada Maila.
Dia tiba-tiba merindukan perempuan mantan pacarnya itu dan masa lalu mereka.
Pintu kantornya yang tiba-tiba terbuka membuat Rei kembali ke dunia nyata. Dia mengernyit saat melihat seorang perempuan anggun berambut gelap dan memiliki wajah hampir serupa dengan Rei, berjalan masuk ke ruangan. Ibunya yang biasa berwajah manis dan ramah, terlihat menyeramkan hari ini. Apa dia sedang kesal? Marah pada seseorang?
"Ibu?" bangkit dari kursi, Rei berjalan menghampiri Hana Bramastya. "Apa yang terjadi? Kenapa ibu kemari?"
"Kita akan pergi makan siang dengan keluarga Harimurthi, orang tua Stella. Ibu juga sudah menyuruh istrimu untuk pergi kesana."
Rei mendesah. Ibunya pasti bertengkar lagi dengan Stella.
"Kenapa kita harus bertemu keluarga mereka, Bu?"
"Ibu ingin tahu, seberapa jauh perempuan sialan itu mempertahankan keinginannya untuk tetap tidak memiliki anak. Apa orang tuanya akan membiarkan hal itu? Ibu bosan melihat dia lebih memilih karirnya daripada kamu. Itu seperti merendahkanmu," gerutu Hana.
Rei menghela napas lagi.
"Kalau dia masih tidak mau memiliki anak darimu, ceraikan saja perempuan tak berguna itu."
Oh ya ampunnn~
***
Berkali-kali Mikailla menghela napas berat. Duduk menjauh dari kerumunan ibu yang tengah menjemput anak-anaknya di sekolah dasar. Dia lebih memilih menyendiri di salah satu ayunan—untuk orang dewasa—di halaman.
Pagi ini dia merasa tidak bersemangat. Semalaman Maila kurang tidur karena banyak pikiran, belum lagi perlakuan kasar percintaannya dengan Rei membuat tubuhnya masih terasa sakit hingga sekarang. Beruntung disela kesibukan, kedua sahabatnya, Santy dan Farid tadi pagi menyempatkan diri mengantar Raina ke sekolah. Setelah semalam Maila menitipkannya di rumah mereka.
Bel tanda pelajaran selesai berbunyi. Maila bergeming, dia memejamkan mata. Dan anak-anak riuh, terlihat berlari keluar dari kelas masing-masing.
Seulas senyum tipis menyungging di bibir Maila, ketika merasakan punggung tangan mungil nan hangat menempel di keningnya.
"Mama sakit," komentar Raina datar.
Senyum Maila melebar.
"Badan Mama panas."
"Eumh." Dia mengerang dengan suara parau yang dibuat-buat.
"Muka Mama juga pucat."
"Hu'um."
"Cepat ke dokter."
Membuka matanya, Maila terkekeh menatap ekspresi khawatir sang anak. Oh Tuhan gadis kecilnya ini benar-benar menggemaskan. Melihat kelakuannya yang sok dewasa dan pintar, membuat Maila yakin kalau Raina akan tumbuh menjadi orang hebat dengan masa depan yang bagus.
"Mama tidak sakit, Sayang. Mama baik-baik saja," katanya sambil mengacak pelan surai gelap sang anak.
Raina menyipitkan mata, memasang ekspresi tak percaya.
Maila mendesah geli. "Percaya deh. Mama baik-baik saja, Mama cuma lelah."
"Hn."
Agar putrinya tidak khawatir, Maila mencoba mengalihkan topik.
"Mama menjemputmu kemari untuk mengajakmu ke Toko Hewan peliharaan Paman Owen."
Kening Raina berkerut. "Untuk apa kesana, Ma?"
"Kamu bilang menginginkan anak anjing untuk hadiah ulang tahunmu. Jadi ...."
"AKU SAYANG MAMAAAA!" Pekikan gembira Raina yang memeluk erat sang Mama di depan ayunan, menarik perhatian beberapa guru yang akan pulang. Mereka tersenyum tulus melihat adegan itu. Sementara Maila hanya bisa tertawa lepas.
"Sudahlah Nak, ayo kita pergi."
Detik berikutnya pasangan ibu dan anak itu tampak berjalan keluar sekolah, sambil bergandengan tangan.
***
"Ini bagus, binatang melata seperti ular lagi ngetren."
Maila kenal Paman Owen. Pemilik toko hewan peliharaan yang rumahnya tak jauh dari tempat mereka tinggal. Orangnya baik dan menyenangkan, cuma sayang kelakuan dan pemikirannya ekstrim. Dia suka mengacau, membuat sakit gendang telinga orang sekitar kompleks dengan mengadakan konser dangdutnya yang payah. Cara bicaranya juga seperti orang yang ngedangdut tapi rada medok.
Maila meringis saat mendengar Paman Owen menawari putrinya hewan peliharaan ular bahkan buaya. Dia segera menghampiri mereka, sebelum Paman Owen menawarkan hewan berbahaya yang aneh-aneh, dan sebelum Raina berubah pikiran, dari ingin kado ulang tahun anak anjing menjadi anak serigala atau anak macan. Itu gawat.
"Kami mencari anak anjing Paman Owen," kata Maila sambil merangkul Raina, yang mulai tertarik pada salah satu hewan melata yang memiliki kulit cantik tersebut.
"Oh. Anak anjing ya, bukan bajing? Kalau begitu ikuti aku."
Dengan cepat Maila menyeret putrinya mengikuti Paman Owen, sebelum Raina mulai merengek minta dibelikan ular.
Raina Setyani memperhatikan anak-anak anjing lucu dari berbagai ras, dalam kurungan, dengan seksama. Matanya kemudian tertumbuk pada seekor anjing kecil berbulu hitam dengan mata sekelam malam. Mirip jenis anjing yang pernah ditontonnya di tivi, dalam film Underdog. Tak seperti anjing lain yang menggonggong ribut, anjing kecil yang satu itu malah tampak mendengus angkuh, seolah yakin akan dipilih.
Raina langsung berimajinasi, memiliki anjing super dengan pakaian keren dan sayap (dia akan meminta Mama menjahitkannya pulang nanti) seperti Underdog.
"Aku mau itu!" kata Raina gembira sambil menunjuk anjing kecil yang sejak tadi dia perhatikan.
"Anjing hitam menyebalkan itu?" Paman Owen cemberut melihat pilihan Raina. "Anjing itu jarang menggonggong, padahal dia berasal dari ras yang bagus. Dia juga pemilih. Setiap ada pembeli yang ingin membelinya dia selalu bertindak sesuka hati, tak mau ikut dengan orang yang membelinya. Sudah berkali-kali dia dikembalikan." Paman Owen menghampiri anjing pilihan Raina, lalu melotot cemberut ke arahnya. "Dasar hitam," makinya tak sadar kalau kulitnya juga hitam.
Maila terkikik. Yeah, jika bertemu atau berbicara dengan Paman Owen. Dia selalu tidak tahan untuk tertawa, sangat lucu mendengar orang bicara dengan nada rap payah seperti itu.
Namun Paman Owen tertegun saat melihat anjing hitam kecil itu merespon Raina baik. Dia tampak tenang, memejamkan mata, ketika anak Maila itu mengelus kepalanya. Dan si kecil hitam itu juga menjilat Raina penuh sayang sebagai tanda perkenalan.
"Owh baiklah-baiklah," Paman Owen tertawa, "sepertinya Rei menyukaimu. Aku akan menjualnya pada kalian."
Eh? Apa? Maila melongo mendengar nama anjing itu. Rei? Anaknya memilih anjing yang memiliki nama yang sama seperti bapaknya? Pertanda apa ini? Dan kalau saja Rei yang manusia ada disini. Maila pasti akan menertawainya habis-habisan.
"Mama, aku mau Rei," rajuk Raina manja sambil melemparkan tatapan imut.
Maila mendesah. Dia kemudian mengangguk. Ah, nak, seandainya kamu tahu kalau Rei itu nama Papamu. Maila lalu mengikuti Paman Owen untuk membayar Rei dan membeli beberapa bungkus makanan anjing.
***
Hari ini Maila sengaja meminta pelanggan lebih awal pada Mami Renata, agar dia bisa cepat pulang untuk menjemput dan menjaga Raina. Setelah selesai membeli anjing Rei di toko Paman Owen. Raina minta ijin pada ibunya untuk pergi ke rumah seorang teman, katanya dia ingin mengerjakan tugas kelompok, membuat kerajinan tangan berupa bunga dari kertas origami. Kata Raina, ibu temannya yang bernama Bintang dan Raffi, sangat jago membuat bunga dan berbagai macam hewan lain dari kertas. Dia ingin belajar.
Tadi Maila sudah mengantarkan Raina ke rumah Bintang menggunakan kendaraan umum. Rumah Bintang teman Raina letaknya lumayan jauh, berada di kompleks perumahan mewah.
Sesudah mengantar Raina, diapun kembali ke rumah dan bersiap. Berdandan, memilih pakaian dan menyiapkan kebutuhan Rei agar bisa tenang di rumah selama dia pergi bekerja (Maila masih tidak tega memanggil anjing itu dengan nama Rei. Kasihan Rei asli katanya).
Dia berharap semoga pekerjaannya hari ini akan selesai cepat. Sebagian uang yang diberikan pelanggan bisa digunakan untuk membayar cicilan hutang harian pada Mami Renata. Pasalnya kalau sehari saja Maila tidak membayar, bunganya akan naik dua kali lipat. Mana jumlah bunga yang harus dibayar Maila perhari adalah dua puluh persen dari nominal hutang awal. Benar-benar pemerasan, tapi dia tidak punya pilihan.
'From : Febri
Subject : JOB.
Tempat Karaoke Mandasari jam lima. Kujemput sepuluh menit lagi.'
Maila mendesah membaca email dari Febri. Tempat Karaoke, itu berarti hari ini dia akan berakhir di salah satu kamar hotel murah, dan was-was terhadap razia yang dilakukan aparat. Dia hanya minta satu pelanggan, dan berharap permainannya berlangsung cepat, agar dia bisa menjemput Raina di rumah Bintang sebelum makan malam.
"Semangat Maila," gumamnya lesu. Dia masih merasa tak enak badan.
Memastikan penampilannya sudah cukup cantik, Maila kemudian menoleh ke arah anjing hitam yang duduk manis di samping sofa ruang tamu. "Jaga rumah ya Rei. Aku dan Raina akan segera kembali," katanya.
Si anjing menatap Maila malas. Lalu merebahkan diri untuk tidur dengan posisi menyamping.
Kini aku tahu kenapa dia dinamakan Rei, batin Maila meringis. Tapi kok bisa kebetulan ya?
Sambil membaca majalah bisnis edisi terbaru yang memamerkan wajah putra bungsunya sebagai sampul, Anton Bramastya memperhatikan menantu dan para cucunya yang tengah bersenang-senang di ruang keluarga sambil membuat prakarya origami. Ana dan ketiga anak itu, dua cucu angkat dan satu anak perempuan yang katanya teman kedua cucunya, tampak serius memperhatikan gerakan tangan Ana dalam melipat kertas warna-warni untuk membuat bunga.
"Seperti ini ... Bibi?" si gadis kecil berkacamata memperlihatkan hasil perkerjaannya pada Ana. Origami kertas cantik berwarna pink dengan bentuk bunga. Dia anak yang cepat belajar.
Ana tersenyum tulus, mengangguk dan bertepuk tangan untuk mengapresiasinya. "Ini bagus. Kamu pintar Raina."
Bintang dan Raffi juga terlihat kagum. "Wah Raina, kamu hebat," kata Raffi. Bintang mengangguk mengiyakan.
Raina tersipu. Rona merah samar menjalari pipi putihnya. "Terimakasih," kata gadis kecil itu sopan.
Ana yang gemas melihat tingkah laku gadis kecil pintar itu mencubit pipinya. Raina tertawa malu. Sementara Raffi dan Bintang berpura-pura ngambek, karena sang ibu tidak mau mencubit pipi mereka juga.
Anton tidak mengerti kenapa dia jadi tertarik untuk memperhatikan berbagai ekspresi, yang diperlihatkan gadis kecil teman cucu angkatnya. Ada perasaan hangat yang menjalari hati pria tua itu saat melihat senyum yang tersungging di bibir Raina.
Segala kelakuan Raina mengingatkan dia pada kelakuan Rei saat masih seusia gadis kecil itu. Mata, hidung, dan mulutnya mirip Rei. Dia seperti Rei mini versi perempuan.
Anton kemudian menghela napas, lalu kembali fokus pada bacaannya.
Dia merutuk dalam hati. Keinginan untuk memiliki cucu kandung cukup kuat, sehingga membuatnya menganggap anak orang lain mirip dengan anak bungsunya ketika masih kecil. Ah. Seandainya Raina memang anak kandung Rei, pria tua itu pasti akan sangat bahagia.
Anton berharap Rei dan Hana bisa membujuk Stella, agar mau hamil dan memiliki anak dari suaminya. Apa gunanya pernikahan tanpa seorang anak? Dan apa gunanya mengumpulkan harta banyak jika tidak memiliki cucu kandung yang menikmati, dan garis keturunan Bramastya terputus sampai disini.
"AKU TIDAK MAUUU!" suara lengkingan perempuan yang terdengar dari ruang tamu, membuat lima kepala itu tersentak dan menoleh. Stella, Rei, dan Hana masuk melewati pintu. Dari wajah mereka, seperinya sesuatu yang buruk telah terjadi. "SUDAH BERAPA KALI KUBILANG, AKU TIDAK MAU PUNYA ANAK! AKU TIDAK MAU BERUBAH GENDUT DAN JADI MENGERIKAN!"
"MEMANGNYA APA GUNANYA KAMU MENIKAH KALAU TIDAK MEMILIKI ANAK PEREMPUAN SOMBONG?" Hana balas berteriak. Saat ini dia sangat jauh dari kata anggun.
"AKU MEMILIKI KARIR YANG BAGUS. DAN AKU TIDAK INGIN MERUSAKNYA DENGAN KEHAMILAN DAN BAYI! BERHENTILAH MENJADI MERTUA YANG EGOIS!"
"JANGAN MENERIAKI IBUKU SEPERTI ITU SIALAN!" teriak Rei kesal sembari berdiri diantara ibu dan istrinya. Dia dan Stella saling memelototi dengan penuh emosi.
Kemudian makian yang tak pantas didengar anak-anak keluar dari mulut kedua orang dewasa tersebut.
Panik, Ana segera mengungsikan anak-anak ke ruangan lain. Tidak baik untuk perkembangan mereka, jika Raina, Bintang, dan Raffi melihat orang dewasa bertengkar. Saling caci maki.
Menghela napas berat. Anton bangkit dari kursi untuk melerai pertengkaran anak, menantu, dan istrinya. Demi Tuhan, sekarang dia benar-benar menyesal karena sudah menjodohkan Rei dengan Stella. Pendidikan bagus tak berarti bisa membuat kelakuan dan pola pikir seseorang jadi bagus juga. Semua tergantung individu.
Ketika Anton hendak berjalan menghampiri Stella dan Rei. Suara teriakan Stella menggema di seantero ruangan.
"AKU MAU CERAI!"
"BAIK. AKU AKAN MENCERAIKANMU!"
Melangkah marah, perempuan cantik berambut brunette itu melangkah melewati Anton lalu naik ke lantai dua, menuju ke kamarnya dan Rei.
Anton menatap istrinya datar. Hana hanya mendesah sambil menggeleng. Sementara Rei tampak berjalan mondar-mandir, berusaha mengendalikan emosi.
***
Gelap. Itulah yang Maila rasakan sekarang. Matanya ditutup menggunakan selembar kain hitam, sementara kedua tangan dan kakinya diikat di empat tiang sudut tempat tidur. Tubuh perempuan itu sekarang sudah sepenuhnya telanjang.
Dalam hati mengutuki Mami Renata karena memberikan dia pelanggan seorang yang sadis. Maila benci b**m. Dia pernah berakhir dirumah sakit selama beberapa hari karena mendapat pelanggan seperti seorang Donni Alvian, yang sekarang tengah memilih dildo dan beberapa jenis cambuk yang ada di nakas samping tempat tidur.
"Akhh. Unhh ...," Maila mengerang keras dan menggeliat saat merasakan sebuah dildo berukuran besar memasuki liangnya secara tiba-tiba.
"Mmmph. Kamu menyukainya kan, Sayang?" tanya Donni disertai tawa jahat yang keluar dari mulutnya.
Tak menjawab, Maila hanya mendesah.
"Ah. Jangan khawatir, aku masih memiliki sesuatu yang bagus untukmu."
Mata Maila di balik kain hitam penutupnya membeliak ngeri, saat merasakan sesuatu yang keras dan dingin menempel di pintu lubang duburnya.
Kepala ... Botol? Tidak. Tidak. Tidak. Dia menggeleng keras dan berusaha berontak, namun usahanya sia-sia.
Detik berikutnya suara teriakan kesakitan Maila menggema di seantero playroom dokter muda itu.
***